Sunday, 11 July 2010

(Spa) Nyalon yuuukk...


Berapa tahun ya saya off sebagai “cewek salon”?! Mungkin setelah pakai jilbab? Ah ,tapi tahun 2000 saya sempat “keluar masuk” salon saat tinggal di Kuta BALI. Beberapa salon di Denpasar yang memiliki pelayanan mandi susu sempat saya coba. Sebelum memakai jilbab setidaknya 2 – 3kali perminggu saya ke salon – dari catok rambut sambil memberi nuansa burgundy pada rambut...minimal ngoles Proteline ..hahhaha.

Tahun 2010 saya bertekad untuk menjadi ‘cewek salon/spa’ kembali. Positif? Pemborosan?! Gak tuh! Justru menguntungkan karena saya bisa menambah wawasan tentang service dan teknik pegembangan usaha kesehatan dan kecantikan yang sedang saya jalani.
Menggigil di Salon
Sabtu, 19 Jni 2010 sepulang lunch dari Sate Blora Cirebon di Rawamangun saya dan Galuh menuju salon yang jaraknya sekitra 500 meter dari rumah saya. Jalan kaki?! No,dengan gaya princess-nya kami berdia naik Toyota Altis yang dikendarai Galuh. (Maafkan kami,Bumi...)
‘Body Fresh Salon & Reflexology’ : kami langsung dilayani dengan sigap. Saya en Galuh langsung ke masing-masing bilik bercat ungu dengan tirai kain ala Pekalongan bermotif kupu-kupu pink. Chick deh...Saya ganti baju dengan kemben untuk creambath dan Galuh body massage.
Saya pilih creambath menggunakan susu yang konon dapat menghaluskan rambut. Hahaha..baru saya coba neh ‘creambath susu’. Dulu sih saya biasa coba dengan kemiri yang menghitamkan ramput atau alpukat. Plus Proteline! Tidak terlalu aneh dibanding ibu sahabat saya yang kalau creambath “semua isi dapur” nemplok di kepalanya (alpukat, kemiri, ginseng, telor ayam,dan sebagainya.Asli, bukan cream olahan pabrik.) Sapai saya pernah bilang,”Tambahin minyak goreng, nggak sekalian digoreng tuh kepala,Tante?!”
Coba kali ini tanpa hair steamer (Ini yang kusuka! Emangnye kepala gue boneless chicken?! ;-p). Rambut ditutup dengan handuk hangat lalu saya langsung ke bilik ungu tempat ganti kemben tanpa dicuci rambutnya. Selesai? Nggak dong karena berikutnya saya dilulur. Masih dengan therapist yang sama,pijatannya mantap. Therapist menanyakan lulur apa yang sya inginkan. Saya pilih lulur coklat...hiiiyyaaa..keluar dari salon rasa gue ‘susu coklat’ dung!? ;-p
Ritual pijat dan lulur selesai. Saya digiring ke ruang steam seukuran 1 KBU wartel berisi mesin body steam. Hhhmmm..beneran dimasak neh body. Brrr...sebelum saya masuk steam, saya menggigil antara kedinginan dan ngebayangin nanti saya bakal diuber sama kucing di rumah neh. Saya wanti-wanti agar tak terlalu lama di alat steam. Keluar dari alat steam masih menggigil...langsung mandi. Selesai mandi body saya lumri dengan milk goat lotion. Galuh yang sudah selesai di blow catok menanti gelisah, takut kehabisan nonton...deeeuuu!

Saturday, 10 July 2010

Postcard Indonesia...Dimana Gerangan?

Ini cerita tentang kekesalan kakakku yang 11 - 28 Juni 2010 berlibur ke Indonesia setelah 17 tahun bermukim di negeri yang tahun ini masuk final Worldcup...halah ngomong negeri Belanda aja kok muter-muternya pakek ke Worldcup segala? hehehe...
Sejak kecil kami sekeluarga memang gemar menulis, at least menulis postcard dan dikirim ke kerabat , teman-teman atau sahabat pena yang belum pernah bertemu. Jikalau kami berlibur ke suatu tempat, dipastikan kami akan mengirim postcard bergambar destinasi kami. Kebiasaan ini terkikis oleh kemajuan zaman, dimana orang-orang banyak yang lebih memanfaatkan email, sms atau network social lain yang lebih "canggih".
Hohoho...karena inilah kakak saya "ngamuk-ngamuk" ketika dia ingin mengirimkan postcard bergambar keindahan Jakarta ke teman-temannya di negeri kincir angin tersebut. Sekedar 'say hello' dan mengabarkan bahwa dia telah berada di Indonesia tercinta. Kami membantunya mencari postcard tersebut di beberapa toko buku terbesar di Indonesia (bahkan salah satunya toko buku terbesar se-Asia Tenggara!), tetapi dengan kecewanya kami mendapat jawaban yang tidak kami harapkan. Jangankan menemukan postcard bergambarkan kota Jakarta yang sedang berulang tahun, para penjaga toko tersebut saja kebingungan dan tiada mengerti apa yang namanya postcard!!! Kami diantar ke bagian 'post it' alias kertas-kertas kecil, biasa untuk menulis pesan singkat yang di tempel.
Oooohh, God...kata kakak saya masyarakat Indonesia umumnya sudah banyak yang keblinger oleh teknologi! Seharusnya bisa memilah-milah mana yang harus dilestarikan dan mana yang tidak....Negara-negara di Eropa saja tetap mempertahankan kebiasaan berkiriman postcard bergambar keindahan negeri mereka ke teman atau kerabatnya. "Bagaimana dunia pariwisata Indonesia dapat berkembang secara pesat kalau gini caranya?!"
Ketika kami menginap di hotel berbintang-pun lagi-lagi kami tidak menemukan postcard yang diharapkan oleh kakak saya. Ketika kami katakan bahwa "Toch, kamu lebih dulu sampai ke Belanda dibandingkan postcard yang kamu kirim....", kakak saya tetap tidak peduli. Ia sangat geregetan dengan hal ini...demikian pula dengan saya.
Aaaarrghhh...saya jadi ingat kebiasaan saya dahulu, mengoleksi aneka postcard yang dikirimkan oleh teman-teman atau sahabat pena. Sebagian masih saya simpan, bahkan jika saya menginap disuatu tempat, maka saya akan mengirimkan postcard bergambar tempat tersebut ke diri saya sendiri yang saya tuliskan sekelumit pengalaman saya di tempat tersebut- di kirim melalui post. Sehingga disaat saya sudah sampai di tempat tinggal, dan menerimanya, saya tersenyum-senyum mengingat kenangan indah selama saya traveling di tempat tersebut.
Apabila saya menerima kiriman postcard dari teman atau kerabat...ah alangkah gembiranya, wawasan saya tentang tempat tersebut bertambah dari perangko dan goresan tulisan yang ditulis dengan perasaan.
Memang teknologi telah canggih...tetapi postcard masih tetap dibutuhkan. Kalau kita memiliki impian, tulislah impianmu dengan tulisan tangan...yaaah, energi melalui tulisan tangan memang berbeda dengan ketikan di keyboard komputer atau keypad handphone.
Kini...saya mengirim PM atau YM ke banyak teman saya yang berada di luar negeri, meminta agar mereka mengirimkan postcard melalui post. Alhamdulillah mereka mengirimkannya dengan ketulusan. Mulai saat ini saya akan mengirimkan postcard ke teman-teman serta berkirim surat melalui post...dan lebaran nanti saya akan ke Pasar Baru, memesan kartu lebaran untuk mengucapkan lebaran dan permohonan maaf ke kerabat dan teman-teman.
Berkirim surat dan postcard juga bisa memajukan pariwisata Indonesia...Yuk kirim-kirim postcard bergambar keindahan Indonesia ke teman-teman di luar negeri! Biar Pak Post mereka juga bisa melihat keindahan Indonesia...kalau via internet khan hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya.
Tukeran postcard yuuk!! ;-)

http://copicopi.wordpress.com/2008/03/09/koleksi-postcard-qu/
Oh ya...saya lihat ada lagi nih cewek Indonesia yang koleksi postcard.Foto koleksinya saya cantumin sementara disini deh, sebelum saya memotret koleksi postcard yang saya miliki ;-)


http://firabas.multiply.com/journal/item/189
Fira Basuki yang penulis itu juga koleksi postcard. Artikelnya bisa dibaca di multiply-nya.


Sunday, 16 May 2010

Parahyangan, Riwayatmu Duluuu....



Anna memang bukan orang yang rutin ke Bandung, dan juga bukanlah orang yang gemar dengan kota Bandung. Memang sih di tahun 1999 Anna sempat laju Jakarta - Bandung bersama Titis, Dian dan Erni karena kami sempat menjadi salah satu suplier bed cover di depstore terkenal di kota tersebut, dan kendaraan yang kami pakai adalah Kereta Api Parahyangan yang tanggal 27 April 2010 menghentikan operasionalnya. Banyak orang yang sedih, khususnya yang menyimpan kenangan dalam kereta tersebut. Saya memang tidak memiliki banyak kenangan di kereta tersebut, namun Anna memiliki beberapa kesan kenangan terhadap kereta Parahyangan ini.
Terakhir kali Anna menggunakan jasa transportasi Parahyangan adalah 5 tahun lalu, dibulan Mei 2005, Jakarta - Bandung - Jakarta bersama Wawan, pengurus FLP. Ketika itu kami ke Bandung dalam rangka Musyawarah Kerja FLP Pusat.
Alhamdulillah, ternyata kenangan tersebut masih tersimpan dalam tiket kereta api 'Parahyangan'. Foto ini adalah tiket kami berdua.....
Parahyangan,,,,riwayatmu duluuu....

Saturday, 8 May 2010

1st Indonesian Hot Air Balloon Adventure


Tanggal 28 Maret 2010 seusai acara di Pasar Rebo, Anna,Ibu, Mbak Lien, Mbak Nana dan Owien ke Sentul. Bukan berniat nengok ruko yang lagi dikontrakkin ke Een, tapi di Sentul lagi ada acara 1st Indonesian Hot Air Balloon Adventure. Acaranya tanggal 26 - 28 Maret 2010. Rameee banget. Mobil kami parkir di depan Mesjid Andalus , masih di kawasan Sentul City. Daerahnya sendiri bagi Anna nggak "asing" karena beberapa waktu Anna pernah tinggal disini.
Acara gede dan pertama di Indonesia ini sayangnya tidak maksimal. Banyak pengunjung yang kecewa dengan ketiadaannya aneka baloon tersebut. Katanya sih faktor cuaca yang menghalangi. Anna aja cuma bisa nyengir doang gak kebagian jatah menyaksikan baloon tersebut, tapi malah tambah cengar cengir mengingat aneka kejadian bersama Mr.AY dan Mr.Di disekitar Sentul City....Ah, Sentul City,tempat yang pada tanggal 26 - 28 Maret 2010 macet dan padat itu ternyata dapat "menyembunyikan" aneka kejadian antara saya dan 2 manusia itu...hehehe...
Selametlah si Owien karena baloon-nya gak terbang...di mobil tadi Anna ngomong ke dia,"Win, nanti aku mau motret kamu dengan gaya seperti Russel di film animasi UP yaaa....". Pastinya Owin ogahlah. Ngerti khan gayanya si Russel, anak pramuka di film UP??? Film yang Anna tonton berdua Rahyudhy di La Piazza Kelapa Gading.



Sunday, 14 March 2010

Wisata (nganter) Belanja


Anchee..Ktemuan di tamini yuks jm 1an.bisa ga?Skalian jln2. (SMS dari Dian Sadewa pukul 11.20) yang merupakan susulan dari SMS : “Ance aku pesen jam time piece set 198.900 (ref.CPU 1) sama tas lonie 159.900 (ref.lt 557k)” yang semalam dikirim.
Pesenan produk Sophie Paris, salah satu brand MLM Fashion No.1 di Indonesia yang aku masuki. Sophie Paris memang memiliki 3 showroom di Jakarta, di Plasa Semanggi Jakarta Selatan, Tamini Square Jakarta Timur dan Citraland Jakarta Barat. Setekah “kasak kusuk” dengan Dian dan Gege yang sedang di Bintaro, akhirnya kami sepakat bertemu di Plasa Semanggi. Hhhmmm..mereka naik mobil pribadi dari Bintaro dan melaju duluan ke Plasa Semanggi, sedangkan aku yang harus ‘memakai jilbab’ plus naik busway dari Rawamangun beberapa menit setelah mereka melaju justru sampai 10 di Plangi lebih cepat dibanding mereka.
Setelah sejenak melihat kondisi showroom yang lumayan luas, kami menyodorkan barang pesanan yang akan dibeli. Saya membeli Sophie Lipstick Ice Pink, sedangkan Dian membeli sepasang jam tangan untuk pria dan wanita. Sekalian beli Bienvenue Sophies Kit alias starter kit untuk mendaftar sebagai member Sophie Paris. Hari itu juga Gege bergabung menjadi member Sophie Martin. Dian belanja lagi deh, tas, setelah saya menikmati makan siang Soup Ikan Batam di foodcourt Plangi. Menuju parkiran mobil, kami mampir ke Giant – Dian en Gege belanja belanji,khususnya untuk keperluan Hana. Di Giant Bimo sempat menelpon dan menawari saya sambil menyuruh saya agar merayu Gege untuk mau diajak ke pameran komputer dan Islamic Book Fair di Senayan. Gege nggak bisa ikutan, karena meninggalkan Hana dengan mertuanya. Sedangkan saya jika ikutan mobilnya Bimo juga gak memungkinkan karena Bimo membawa mobil Starlet dan sudah ditumpangi oleh Fajar, temannya Bimo, Mbak Nana dan Owien.Kata Bimo,”Makanya ajak Gege,Nce, supaya muat orangnya, khan kalau di APV muat banyak tuh.”
Sore itu saya ikutan APV menuju Buaran. Niat hati seh mau ber-spa ikan di Buaran Plaza – tapi keasyikan ngenet pakai Mobie di Blok Z and maen sama Kany...nggak jadi deh!

Ke Senayan??Olah Raga??!
Keesokan harinya, Ahad 07.03.10 Galuh dan Mbak Yoen bersama Altis Hitam-nya sudah “membuat keributan” di depan rumah Pulo Mas. Benerannya Mbak Yoen udah nelpon ke hape saya,tapi saya yang sedang di toilet tidak dengar. Maksudnya Mbak Yoen nelpon, memberitahu bahwa mereka mau menjemput ibu dan saya untuk mengajak ke Plasa Senayan. Jadinya saya dan ibu “heboh” berganti baju, dari baju rumah ke baju yang lebih layak untuk jalan-jalan! Repotnya saya adalah memadu padankan baju en jilbab, karena beberapa baju en jilbab masih di laundry! Aaarrrgghhh...cuek dah, toh gue bukan Miss Indonesia yang harus tampil “layak” (meskipun saya beberapa kali masuk finalis en menang di kompetisi yang membutuhkan performance total seh! ;-p). Begitu pinggul mendarat di jok belakang Altis, Galuh dari balik kemudi komentar : “Jilbab loe kok megar-megar gituh sih,Nce?!”...Yaaa,gimana dung, emang belum sempet disetrika secara baik dan benar.Tuh jilbab juga tadi masih ada label ‘Rabanni’-nya....hiiii,alias belum pernah dipakek!
Di parkiran Plasa Senayan, dengan mudah kami menemukan tempat parkir. Masuk ke Plasa Senayan dan masuk ke showroom Kate Spade. Saya seneng lihat produk Kate Spade yang full colours dan segar (ruuujjjaaaakkk kaleeee segar!). Dari Kate Spade, kami menuju ke Metro. Di Metro beraneka ragam tas bertumpuk-tumpuk di-discount hingga 50%, ada yang merek-nya Guess,Toscano,Nine West, les Catino, Pere Cardin, dan aneka brand level “menengah” yang harganya sekitar 1 juta hingga 3 juta rupiah belum termasuk discount. Semula ibu saya berminat membeli salah satu tas yang ada disana,eh tapi justru saya komporin untuk membeli tas Sophie Paris yang saya pasarkan...whehehe....or mendingan beli emas aja dah,Bu, supaya bisa diwarisin ke kami nanti..whihihihihi....*dikutukjadibatu.com, Malin Kundang aja gak gini-gini banget. Perjalanan dari Metro berlanjut ke showroom Zara sambil melirik-lirik aneka showroom brand, seperti LV dan sejenisnya (baca : merek “menengah keatas”). Di showroom Zara saya sempat mupeng dengan beberapa dress. Bahannya itu looooh, nyaman banget kalau untuk witness Interviewer saya ke responden! Sorry dah kalau cuma buat gaya-gaya-an di kantor. Buat apa tampil modis kalau harus “sadis” terhadap diri ndiri?! Justru kalau kerja di lapangan dress yang kita kenakan sebaiknya yang nyaman.
Galuh membeli 2 t-shirt di showroom Zara, dan dikomentarin oleh ibu,”Kaos seperti itu di (pasar kaget) Pacuan Kuda pagi2 harganya limabelas ribu dapet dua.” Bwahahaha....Galuh nyengir kuda dah kaos Zara-nya disama’in sama yang di Pasar Kaget. Dosqi “bela diri” bahwa bahannya berbeda dengan yang murah, dan dia suka dengan bahan seperti itu (baca : kaos Zara). Saya mah santai aja nyahutin,”Aku dulu kaos Esprit, Beneton, Guess,Naf Naf aku pakai untuk tidur. Original loh.”. Hhmmm..emang “surga” banget deh dulu, bahkan kakak saya yang di Belanda pernah ngirim produk ber-brand hingga berkoper-koper!!! Saya sih cuek aja memakainya, lah parfum original Chanel No.5 aja saya pakai untuk senam pagi...hihihi...”norak” gak seeeh????
Dalam urusan belanja ibu saya dan bapak saya memang “berbeda”. Bapak saya selalu membeli produk dengan brand kelas premium, sedangkan ibu saya gak terlalu peduli dengan brand (kecuali untuk parfum, yang harus beli di luar negeri , brand tertentu dan asli!).
Dari Zara Plaza Senayan kami menyeberang ke Senayan City. Melintasi beberapa toko bermerk, diantaranya Botega yang memajang produk aneka tas yang sempat saya komentarin,”Seperti motif tikar dikasih warna!” Huiiii...pengrajin Indonesia, tingkatkan mutu produk kalian menjadi kwalitas premium dan ciptakan brand kalian! (Belajar deh ke Hermawan Kartajaya ;-D).
Sampailah kami di Debenhams, department import yang jadi favorit pembelanja di Indonesia. Mbak Yoen bolak balik mematutkan diri di cermin dengan tas – tas yang akan dibelinya. Menurut Galuh, emaknya udah bolak balik ke Dabenham untuk nyobain tas yang ditaksirnya itu. Akhirnya terbawa juga satu tas merk Bonia ke kasir, yang pastinya langsung dibayar dengan kartu kredit oleh Mbak Yoen.
Dari Debenham, kami menuju ke lantai atas. Cari makan. Masuklah kami ke Urban Kitchen. Btw saya udah lama juga ya gak ke Urban Kitchen ini, terakhir waktu ketemuan dengan Rinaldi, Pak Aswin, Dani dan Hendra untuk merancang acara penerbangan. Di Urban Kitchen saya memilih makanan Thailand di Thai by Sup Sip. Pelayanannya payah, saya nunjuk makanan eh tanpa melihat pelayannya bilang kalau itu adalah mie apa gituuuuhhh...padahal udah jelas makanan tersebut gak ada mie-nya! Sampai 3x tuh pelayan cewek salah nyebutin nama makanan yang saya tunjuk tanpa mau melihat dulu apa yang saya tunjuk! Huh!
Di tengah keasyikan menikmati makanan saya mengisi form promo yang tadi diberikan kasier Debenhams, undian dapet sepatu “bermerk” dan produk Lancome. Untuk promo Lancome-nya gak jadi kami pakai karena Galuh yang mau nuker harus didandanin dulu, katanya sih supaya ngerasa sensasinya pakai produk tersebut. Laaah, anak umur 20-an kok disuruh nyoba produk untuk orang dewasa. Merek ini justru dulu jadi salah satu favorit ibu saya, tapi sekarang ibu saya jarang pakai kosmetik yang selevel dengan produk tersebut. Kata ibu, kalau pakai kosmetik atau perawatan yang mahal sekarang bikin kulit ibu saya berminyak. Hebat yeee emak gue, usia 70-an aja masih lembab kulitnya....
Sebelum Maghrib kami-pun pulang. Menyeberang ke Plasa Senayan lagi – tempat Altis terparkir. Hhhmmm....olah raga jalan kaki di Senayan sekarang agak sulit ya? Yang ada “olah raga” mata menyaksikan barang branded, menyebrang antara SenCy dan Plasa Senayan aja kita udah kewalahan melihat laju kencangnya kendaraan!

Friday, 4 December 2009

[Sulsel 2009] TransStudio Makassar


Dibuka untuk public tanggal 09.09.09 menurut info yang saya dengar dan baca bahwa inilah pusat permainan dalam ruangan terbesar di Asia (bahkan ada info terbesar di dunia). Kesempatan untuk datang ke TransStudio Makassar justru bareng dengan Mr.Ardian Yunianto tanggal 08.11.09, lebih cepat dari perkiraan karena saya dan keluarga sebenarnya sekelebatan berencana ke Makassar sekitar bulan December 09 atau ....kalau ada kesempatan. Hehehe, Mas Tunggal dan keluarga bahkan berencana ke Makassar sejak mertuanya masih ada – mungkin mengajak mertuanya untuk bernostalgia. Mbak Rita dan ke-2 adiknya lahir di Makassar. Tetapi hinggal 07.07.07, meninggalnya Sang Ayah, Mbak Rita dan Mas Tunggal belum sempat mengajak Sang Ayah ke Makassar kembali. Ibu saya juga udah “pesan tempat” andai kami ke Makassar. Beliau sih sudah pernah ke Makassar, ketika salah satu keluarga terpandang Makassar memiliki hajat.
Selesai menonton film ‘Perjaka Terakhir’ di Mall Ratu Indah 21, saya berdua Mr.Ardian Yunianto langsung naik taksi ke TransStudio Malassar di bilangan Tanjung Bunga. Waktu nonton sih ber-5, tapi kemudian rekan-rekan Mr.Ardian Yunianto itu makan dulu di salah satu cafe yang ada di mall tersebut.
Kebayang gak sih ke tempat permainan ini cuma berduaan??? Huuuaah, mau teriak – teriak juga gak seru kaliiii....Kalau nggak di Makassar mah gue ogah banget, apalagi pengunjungnya termasuk kalem-kalem. Nggak “liar” seperti daku , or saudara-saudara kalau udah ngumpul. Hahaha....Permainan yang kami berdua rasakan pertama kali adalah kincir angin...itu tuh permainan standard yang ganti-gantian diatas dibawah dengan putaran yang super santai. View-nya mentok tembok! Duuuh, posisinya gak ada seru-serunya banget dah! Si Kodok dengan santai-nya bilang bahwa seumur hidup dia baru 2x naik permainan tersebut, pertama saat dia masih kecil dan berikutnya ya saat di TransStudio bareng aku itulaaah....Syeeet daaah, selama hidup kerjanya ngapa’in aja, Om!?
Permainan “gratis” yang tersedia dalam sekejap kami coba. Khas anak-anak deh, untuk saya yang senang bermain dengan permainan adrenalin tinggi (walaupun terkadang sambil merem atau teriak histeris.) wahana di StudioTrans termasuk super santai....Tiket masuknya @ Rp 100.000 ,- (Kalau udah punya Kartu Studio Pass jadi @ Rp 90.000 ,-). Dan setelah itu jam 20, kami menuju salah satu theater, ada pertunjukan theater...siapa mencari Cinta gituh....Usaha Floor Director-nya untuk melibatkan penonton sudah sangat baik. Khas banget FD TransTV dan Trans 7 saat kami tapping or live di Studio Jakarta gituh, tapi penonton di Makassar terlalu besar “jaim”-nya...hehehe, padahal kalau di Jakarta penontonnya spontan – antusias en dikasih hadiah!
Selesai nonton, saya dan Mr.Ardian Yunianto melihat – lihat toko souvenir di dekat pintu masuk.keluar theater. Saya beli buku kecil (notes), sticker dan sampul kado. Plastik belanjaannya so kyuuutt.....senang deh lihatnya! Kalau gak terlalu tipis bisa buat goodie bag nan keren! Sampai saya sayang-sayang, khawatir lusuh! Hahaha...
Sebelum malam melarut, kami berdua mampir ke Rumah Makan Khayangan dekat Pantai Losari. Kepiting en Udang-nya mantap euy! Sampai kenyang....dan dengan perut yang full kami berdua berjalan kaki ke hotel...

Tuesday, 29 September 2009

Taman Sari [DIY]

Taman Sari Jogkajarta merupakan salah satu must see di Pulau Jawa. Entah berapa kali saya berkunjung ke Taman Sari. Untuk keterangan lebih lanjut bisa di dapatkan di aneka website yang tersebar di dunia maya. Atau check ke Mr.Wiki....
Idul Fitri tahun lalu, 2 Syawal 1429 H, saya sempat berkunjung ke Taman Sari kembali, setelah beberapa tahun absen ke sana.

Sekedar perbandingan, I’m presenting my picture at this blog.
The first picture I took in 1997, when I visited here with Dian.



Next picture......
Mas Tunggal yang memotret pada 2 Syawal 1429 H atau 2 October 2008. Berbeda dengan kunjungan bersama Dian di tahun 1997 dimana hanya kamilah pengunjung ketika itu, maka di tahun 2008 Taman Sari penuh dengan wisatawan domestik maupun mancanegara. Menurut informasi, pada gempa bumi Jogjakarta 27 Mei 2006 terdapat beberapa bagian yang turut hancur, namun kini telah diperbaiki – hingga Taman Sari kembali bersinar.....




Let’s promoting Indonesia to the world!

Saturday, 26 September 2009

Bandung,I'm Coming...(Jabar 2009)

5 Syawal 1430
Setelah melakukan wisata modern di metropolitan, 24 September 2009 saya berencana ikutan Mas Tunggal dan keluarga ke Pengalengan Bandung Selatan, menikmati suasana perkebunan teh masa lalu,niaaaattnyaaa…
Untuk mempermudah dan menghemat waktu malam sebelumnya saya dan Owien menginap di rumah Amelia, menjajal kamar yang serba baru….hhmmm setara dengan kamar hotel berbintang-lah. Hahaha…dalam beberapa bulan lagi kwalitas kerapihannya diragukan…maklumlah Bimo yang baru saja diwisuda jadi sarjana teknik, kemampuannya di dunia hospitality belum teruji…xixixix…
’20 Menit lagi tiba di Antam.’ : SMS dari nomer 0888xxxxx Mas Tunggal sampai di nomer 08888xxxx di kantong jeans saya pada pukul 10:56. Sebelum berangkat saya dan Owien menyantap Mie instant gelas dan susu cair kaleng dari kulkas Amel dan keluarga…wuikikikik…mumpung penghuninya masih pada menikmati keindahan dreamland. Sementara Mbak Lien, sang nyonya rumah sudah mulai berangkat bekerja.
Saya dan Owien menunggu Tavera tepat di depan pintu masuk gedung Antam TB Simatupang. Lebih dari waktu yang ditentukan, tetapi Tavera belum juga muncul. Saya langsung menghubungi Sekar, dan ternyata mereka masih di Radar Auri Cimanggis !
Mobil datang, kami langsung masuk – travel bag kami masukkan ke dalam bagasi. Langsung masuk ke jalan tol, melaju dan sempat mampir di Km.57. Saya, Owien dan Sekar membeli beberapa makanan dan minuman di KFC yang ada di area tersebut.
Perjalanan lancar, hingga akhirnya…..tidak sesuai rencana kami ke Pengalengan, mobil keluar di Padalarang Kab.Bandung Barat dikarenakan kondisi mobil yang tiba-tiba drop. Kami berhenti di salah satu deretan ruko di Padalarang. Ada tukang bakso tahu dan es cendol+cincau. Mas Tunggal dan Seno mencari tukang oli, sedangkan 4 cewek (plus Mbak Rita) memesan bakso tahu seharga Rp 3000,- s/d Rp 5000,- (pakai telor rebus utuh) serta memesan es cendol dan cincau yang satu gelasnya Rp 2000,-. Tukang cincau-nya bangga banget cincau-nya gak pakai pengawet, saya mah percaya-percaya ajah, tetapi kebersihan dan kehalalan sebenarnya masalah yang utama. Selezatnya makanan kalau gak bersih en gak halal mah sama aja bohong! Kalau makanan “gak sehat” masih bisa saya lawan dengan liquid chlorophyll deh….Tapi kalau gak bersih??! Huh, ngelihatnya aja dah gak selera. Lagipula kebersihan sebagian dari iman.Soal kehalalan?? Haruskah hal ini saya jabarkan? ;-)
Untuk memperkecil resiko terjadinya sesuatu , siang itu kami membatalkan rencana ke Pengalengan. Kami berbelok ke Bandung City. Di toll menjelang Bandung kami memperhatikan billboard2 hotel, langsung memencet nomer hotel – jika sudah nyambung bertanya roomrate dan ketersediaan kamar yang bisa kami pakai malam ini.


Sore ini, kami check-in di Garden Permata Hotel. Memasuki lobby masih terasa nuansa Ramadhan dan Lebaran, serta nuansa Indonesia juga terasa kental. Terdapat mini gamelan dan furniture yang juga menampakkan kekhasan Nusantara. Masuk ke kamar 320, connection door-nya unik. Hamparan kolam renang terpampang di jendela kamar yang saya tiduri bersama Owien, dan kamar tersebut terhubung di living room alias ruang tv dan meja kerja tanpa dibatasi oleh daun pintu! So, begitu Om Fakih beserta keluarga visit ke kamar, kami tidak bisa bersembunyi deh…hahahaha…Yup Om Fakih yang baru saja mendarat di Indonesia dari Jeddah menyusul kami ke Bandung. Cepat banget euy! Padahal saat anaknya, Raihan d isms oleh Sekar dan kami memberitakan bahwa kami dalam perjalana ke Bandung anaknya memberitahukan bahwa Om Fakih baru akan landing di Bandara Soekarno Hatta. Dari luar negeri coy!Loh kok tiba-tiba jam 5-an sudah ada di hotel Bandung.
Kedatangan Om Fakih dan keluarga berkah juga seh, karena mobil Tavera masih belum diperbaiki, jadi saat makan malam kami menumpang mobil yang dibawa Om Fakih. Untungnya lagi yang dibawa Om Fakih mobil Xenia, bukan Timor seperti biasanya. Jadilah kami ber-sepuluh berjejalan di Xenia tersebut. Berasa deh lebarannya…hahahaha..
Dinner ayam goreng serta gurame di belakan Gedung Sate yang ramai oleh banyak rombongan keluarga. Tempat makannya model warung berderet seperti di Blok S Jakarta, dan yang datang-pun bermobil pribadi (Halah kalau nyewa kita juga gak ngerti?! :-D). Di warung sebelahnya saya, Owien, Mas Tunggal dan Om Fakih sempat minum Badsus. Badsus = Bandrek Susu. Yang biasanya disajikan panas, kali ini saya minta ke pedagangnya untuk menyajikan dengan es.
Sebelum balik ke hotel kami mampir ke Rumah Makan TenToTen, beli Cap Cay dan Nasi Goreng untuk “mengemil” di kamar hotel. Melewati Grand Serela Hotel yang 2 tahun lalu tempat saya menginap bersama ibu dan Mas Tunggal keluarga. 2 tahun yang lalu itu kami ke Bandung di bulan September juga, sambil mengambil buku ‘I Love Cooking’-nya Sekar di Penerbit Mizan.
Malam sebelum tidur Seno sempat mencoba wifi dari kamar. Hiks…belum bisa tuh. Sebenarnya asyik juga nih hotel full-WIFI sampai kamar, tetapi kenapa gak connect giniii seeeh…

*poto diambil dari website Garden Permata Hotel.