Showing posts with label semarang. Show all posts
Showing posts with label semarang. Show all posts

Wednesday, 14 September 2022

Kota Lama Semarang Sekarang Cemerlang

Hallooo....

Untuk membaca cerita saya jalan-jalan di Kota Lama Semarang, silakan baca di halaman Kompasiana saya. Klik aja tulisan di bawah ini :

Kota Lama Semarang Sekarang Cemerlang



Friday, 15 July 2016

Ketika Aku Mengelilingi Bumi Pertiwi (4)

Sudah lama saya nggak update mengenai perjalanan saya berkeliling Indonesia. Jabodetabek saja banyak daerah baru yang harus saya sambangi. Ingat ya, bahwa saya berniat jalan-jalan ke Indonesia benar-benar menelusuri setiap kelurahannya. Bukan sekedar berwisata yang mainstream :) Tetap, saya selama berwisata juga mengutamakan kebersihan - misalnya wisata kulinernya dan lingkungannya harus bersih. Demikian pula orang-orang disekitarnya. Dengan kebersihan hal yang sederhana juga bisa menjadi nyaman. Ingat saja bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman! Hayo apakah kamu sudah bersih-bersih? Hahaha....

 Lebaran tahun ini saya nggak mudik. Secara gitu Ibu saya orang yang dituakan yang masih ada di dunia, sehingga hari pertama lebaran rumah saya rame banget dengan tamu-tamu yang berdatangan. Bahkan lebaran tahun ini saya tidak ziarah ke makam Ayah di TMP Kalibata karena menerima banyak tamu sampai sore. Baru di hari ke-2 saya ziarah ke Kalibata.
Tahun 2008 kami "mudik" ke Jogjakarta. Saya bersama beberapa kakak dan keponakan 2 hari sebelum lebaran dengan kendaraan pribadi melalui jalur Selatan berangkat dengan santai ke Jogjakarta. Alhamdulillah, perjalanan lancar,santai dan sekaligus berwisata. Kami mampir ke Raja Polah Tasikmalaya yang banyak menjual produk kerajinan daerah. Saya membeli beberapa diantaranya. Kemudian kami berbuka puasa di Sate Ambal Kebumen - Jawa Tengah. Malam hari sampailah kami di Jogjakarta, di tempat tinggal Galuh yang saat itu kuliah di FE UGM. Disana sudah ada orang tua Galuh. Keesokan harinya kami shalat Ied di halaman kantor post dekat perumahan tempat tinggal Galuh. Siangnya diantara kami menjemput Ibu dan Kakak pertama  ke Adi Soecipto Airport. Mereka berdua ke DIY seusai shalat Ied di Jakarta.

Mengambil air wudhu juga merupakan cara utama kita membersihkan diri. Sayangnya banyak orang yang sekedar mengambil air wudhu untuk sekedar basah! Berwudhu tetapi membuat sekelilingnya menjadi kotor. Pasti ini bukan kamu! :) Kamu pasti orang yang mencintai kebersihan yang membuat sampah pada tempatnya, rajin memotong kuku, tidak meludah sembarangan, menyiram toilet setelah buang air dan tidak meletakkan/membuang tissue bekas pakai sembarangan. Iiih, bersih deh kamu!
Mari kita jaga rumah ibadah ini (foto saya di Masjid Agung Jawa Tengah - Semarang) sebaik-baiknya. Belum pernah ke Masjid Agung Jawa Tengah? Mushola di sekitarmu sekarang saja kita ikut jaga kebersihannya :) 

Di desa wisata di Lombok Nusa Tenggara Barat tahun 2012. Ini kedua kalinya saya berkunjung ke desa ini. Pertama kalinya di tahun 1999. Memang di beberapa rumah lantainya dilapisi dengan kotoran sapi, sesuai dengan adat istiadat mereka. Tetapi 'penampakan' di jalanan dan lingkungannya bersih dan terawat. So soal kebersihan? Hihihihi....silakan menilai sendiri yach :)

Tuesday, 18 June 2013

Ketika Aku Mengelilingi Bumi Pertiwi (1)

  



                    
Perjalanan dari Cengkareng Banten ke Makassar SulSel bisa dibaca : Landing @ Sultan Hassanuddin Airport (Oh Sukhoi...)

Posting tentang perjalanan daerah ini di Bumi Khatulistiwa : Pontianak

Friday, 4 March 2011

Tour of Duty : Semarang


Foto : Di depan Gereja Blendug - berjarak 200mtr dari Hotel Raden Patah
Difoto oleh Fika dari atas becak yang berhenti di seberangnya.Hihihi...udah pesan ke Fika : "Aku gak kelihatan gak apa-apa kok,yang penting bangunannya."


Seharusnya dari Surabaya saya dipersilakan untuk pulang ke Jakarta dengan pesawat terbang.Hanya 2 hari di Jakarta saya harus berangkat lagi ke Semarang. Daripada "resek" , lebih praktis dari Surabaya saya lanjut Semarang, tanpa pulang ke Jakarta. Toh Semarang juga merupakan "tanah air" orang tua dan sanak saudara saya.

Transportasi pilihan Surabaya - Semarang :
- Pesawat Terbang : Jarak "dekat", kelamaan di perjalanan dari/ke bandara + check in + bagage claim. Apalagi Bimo lagi di Jakarta, nggak ada yang nganter ke airport.
- Kereta Api : Hanya ada 1 KA eksekutif perhari-nya yang sampai di Sta.Tawang Semarang masih dalam keadaan terang benderang. Kalau sampainya tengah malam sih sebenarnya ada yang bisa menjemput, tapi...maleslah kalau harus celingak-celinguk cari orang yang njemput.
- Bus Eksekutif : Bukan favorit saya! Crowded!
- Pilihan : Travel Shuttle-lah! Beberapa tahun silam ( = > 10thn) saya seringkali melakukan perjalanan Surabaya - Semarang - Surabaya - Semarang dengan jasa transportasi ini. Kali ini saya ingin bernostalgia.

Shuttle Tak Sesuai Harapan
Namuuun...Perjalanan Surabaya - Semarang dengan travel tidak saya nikmati sempurna. Travel dengan 2 pax melewati jalur tengah, Blora - Cepu. Malam hari semua gelap.Yang harusnya mobil KIA Pregio baru, namun rusak, akhirnya diganti L 300 tanpa seatbealt. Walaupun AC berfungsi baik namun saya merasa mikrolet-mikrolet baru di Jakarta masih lebih baik. Di Blora pukul 1 - 2 malam masih berhenti di warung makan,tapi saya lebih memilih tidur di mobil. Sebelum berangkat saya sudah makan masakan Jepang di Royal Plaza Surabaya. Di Blora juga kami menjemput 1 pax.
Ah,ini sudah merupakan pilihan saya menggunakan jasa transportasi ke Semarang, so saya harus terima resiko, termasuk saat saya muntah (Justru saat sudah sampai Plamongan Indah Semarang!). Untungnya saya belum booking hotel berbintang, dengan pertimbangan check in pukul 12 - 14 sedangkan saya tiba di Semarang pada hari masih gelap - Shubuh, jadi saya berniat transit dulu di Hotel Raden Patah sambil menunggu waktu check ini hotel berbintang.
Semalam saya hubungi Hotel Raden Patah untuk memesan kamar favorit. Nah, rencananya saya mau booking hotel berbintang dari travel agent 24 jam yang berada di seberang Hotel Raden Patah.
Dikarenakan saya merasa tidak total fit (sepertinya saat tidur di perjalanan, sopir membuka kaca jendela sehingga membuat saya agak masuk angin) saya memutuskan untuk stay di Hotel Raden Patah dengan pertimbangan kalau "ada apa-apa" saya bisa memanggil petugas-petuugas hotel yang sudah saya kenal atau menelpon saudara-saudara yang tinggal tidak jauh dari hotel.
Hotel Raden Patah boleh dikatakan sebagai hotel terawal beroperasi di Semarang. Hotel melati bersejarah di pusat kota lama Semarang yang pernah masuk list Lonely Planet, hanya sejengkal dari Gereja Blenduk yang sangat populer. Sayangnya Hotel Raden Patah saat ini tidak dikelola secara profesional total, andai iya pastinya bisa jadi hotel butik bersejarah. Tapi harganya pasti melonjak jauh, jadi lebih baik seperti sekarang aja dah...supaya daku bisa transit bebas dan numpang cuci baju atau minta tolong ke petugas-petugas secara kekeluargaan jika ada keperluan (misalnya : Order taksi/becak, beli makanan...sayangnya, kemarin saya gak bisa order Mbok-mbok pijat.Yang tersisa tukang pijat cowok...waduh kalau urusannya kaku terkilir sih masih bisa kaaallliiii...Mbok pijat "langganan" saya di Hotel Raden Patah sudah meninggal dunia beberapa waktu lalu...hiks.)

Hotel Raden Patah - Candi Plaza - JOG(lo)SEMAR


Yup...akhirnya rute saya tiap pagi adalah HRP - Candi, dengan taksi yang saya order hanya Rp 20.000 ! Gara-gara ini saya jadi malas diantar/jemput klien...hahaha,ntar ketahuan kalau saya nggak nginap di hotel berbintang khan bisa "diprotes".


4 malam di Semarang, dilanjutkan ke Jogjakarta by Travel Shuttle Joglosemar...nah kali ini perjalanan nyaman, mobil Suzuki Elf baru dan penanganan profesional. Yang memesankan tiket travel-nya....resepsionis Hotel Raden Patah, termasuk yang mengantar saya ke Semarang Tourist Information Office di Jl.Pemuda Semarang pada saat Shubuh.Saya menitipkan sebagian barang di Hotel Raden Patah untuk ditinggal selama 3 malam ke Jogjakarta dan Magelang. Setelah bertugas di Jogjakarta dan visit to SMA Taruna Nusantara saya kembali ke Semarang. Sayangnya dari Jogjakarta 'Joglosemar Jogjakarta Office' tidak dapat memastikan apakah ada shuttle yang bisa mengantar saya ke Magelang dikarenakan banjir lahar dingin di Muntilan yang susah diprediksi. Akhirnya saya-pun memakai jasa travel lain yang sudah sejak lama eksis di dunia transportasi. Pfuuuh, mosoq gak ada seat bealt dan gak ada AC perjalanan Magelang - Semarang...tetapi untunglah tiket office-nya dapat memberikan saya seat samping sopir dan dekat jendela, selain itu ketika saya katakan bahwa saya minta diturunkan di Hotel Raden Patah pak sopir-nya langsung mengerti dan mengantar saya.Dan tanggal 14 February 2011 berangkat ke Denpasar Bali. Berangkat dari Hotel Raden Patah jam 5-an pagi, di-orderin taksi sama Tutur yang lagi tugas sebagai front office. Naik taksi dari Hotel Raden Patah ke A.Yani Airport sekitar Rp 35 ribu-an dengan perjalanan yang sangat lancaaarr....

Friday, 3 September 2010

Obat Pening Bernama Rawa Pening




Sebagai anak yang seringkali diajak berpetualang ke daerah Jawa Tengah dan memiliki basecamp di Semarang dan Kebumen, maka sejak kecil saya seringkali melewati area wisata 'Rawa Pening' yang terletak di Jalan Raya Semarang - Salatiga di Ambarawa Kabupaten Semarang.
Saya tak ingat untuk keberapa kalinya saya berkunjung ke daerah ini. Memang seringkali melewati tetapi jarang menyempatkan diri untuk menikmati Rawa Pening lebih lama. Area wisata ini terasa mistis - apalagi ditambah dengan legenda-nya yang berhubungan dengan naga. Aaah, kaya rayanya negeriku!
Tahun 2008 saya dan Mas Tunggal keluarga sempat mampir ke area wisata ini. Menyewa perahu dan berkeliling di danau...or rawa kali yaaa, yang kenikmatannya justru jitu sebagai obat pening. Nggak percaya?!...Coba aja.Nggak ampuh?!...nyebur ajah! ;-D


Sunday, 5 July 2009

Oleh Oleh : Semarang, Pekalongan, Brebes, Kuningan, Sumedang [2007]


Breakfast di Malabar Resto yang terletak di Lt.4 Hotel Horison Semarang. Menunya kaya variasi, karena memang ini keunggulan Horison Semarang dibandingkan Horison di beberapa kota Indonesia. Nasi liwet, Dim Sum, Ayam Panggang, Bubur Ayam, Spaghetty, Sandwich, Sapi Lada Hitam, Ikan Tenggiri Asam Manis....aaaah pokoknya banyak banget deh! Selain prasmanan juga digubug-gubugin seperti kalau datang kondangan gituh deh. Selama daku makan dari hotel ke hotel sepertinya breakfast kali ini termasuk variasi menu-nya oke. Setelah breakfast langsung kita kabur ke kamar 713. Pagi itu Mas Tunggal dan Mbak Rita mau ke Mlati Hardjo dulu untuk ketemu Mas Edy. Ely ikutan pulang. Daku en Sekar nonton Amazing Race Asia di AXN ajah sambil nunggu waktu check out.

Jam ½ 2 kami check out. SMS ke Bang Ronald dulu : “Aku udh check out dan mau keluar dr Smrg.Mlm ini mungkin aku nginep di Cirebon,jd no.esia ini gak tpakai lg ya.Kabaqr2i aku soal Mb Henny ya klau ktemu.Trimaksh.” (Repotnya Pakai esia Mode : ON). Praktis selama di Semarang hanya Bang Ron ngehubungi CDMA-ku.

OLEH – OLEH KHAS SEMARANG
Kami ke Jalan Pemuda, seberang Sri Ratu untuk membeli Lumpia “Mbak Lien”. Harga lumpia-nya @ Rp 7,000 ,- boleh pilih yang basah atau goreng. Rasa rebung-nya bikin daku jadi sering kangen dengan lumpia Semarang. Dari Jln Pemuda kami meluncur ke salah satu jalan (waduh lupa nama jalannya!) untuk membeli Ayam Tulang Lunak yang juga khas Semarang. Tak lupa kami ke Jln Pandanaran yang banyak menjual oleh-oleh khas Semarang. Pedagang kaki lima sampai toko – toko menjual lumpia, wingko babat, Bandeng duri lunak dan aneka makanan lainnya. Lumpia di Jln Pandanaran banyak juga yang harganya lebih murah.
“Urusan” di Semarang beres, kami meninggalkan kota Semarang. Rencananya sih February daku balik ke kota ATLAS ini lagi.

SHOPPING DARI BATIK SAMPAI “EMBER”

Mas Tunggal menyetir mobil dengan santai. Emang sengaja jalan santai. Melihat deretan kios duren di Kabupaten Batang membuat mobil berhenti sejenak. Mau makan duren dulu. Tetapi sayangnya duren yang kami makan tidak semanis duren yang kita lahap di Jepara. Oh iya, waktu di Jepara kami makan duren di Jln Jend.Hoegeng Imam Santoso (Daku baru menemukan nama beliau dijadikan nama jalan. Saat beliau meninggal dunia 3 tahun yang lalu aku sempat melayat di rumah keluarganya di Pesona Khayangan Depok. Kebetulan anak bungsu dan cucu-nya satu sekolah denganku. Saat ayah-ku meninggal dunia beliau juga melayat ke rumahku, dan kami memiliki satu lukisan hadiah dari beliau.). Di Jln Jend.Hoegeng Imam Santoso ini pula terdapat monumen berbentuk duren. Memang Jepara juga kota penghasil duren.

Di Pekalongan kami “tergoda” mampir ke salah satu toko batik yang besar. Daku sempat naksir batik seharga Rp 22.500 ,-. Murah meriah, warnanya juga funky dan yang pasti gak bakal ada saingannya kalau kita jalan2 ke Paris – Milan or New York! Eh tetapi justru Sekar yang beli rok batik berwarna hitam. Sampai di Pasar Batik Setono – Pekalongan daku justru “meringis2” karena batik yang aku taksir di toko tadi tidak ada di pasar ini. Selama perjalanan hape memang aku silent total, tp kali ini aku berhasil menjawab panggilan telepon dari Mbak Hen yang juga lagi plesiran di Blitar. Mbak Hen baru besok ke Surabaya dan janji mau bertemu dengan Mas Al dan Bang Ron sebelum Mbak Hen balik ke Singapore.

Alhamdulillah akhirnya daku bisa membeli baju “you can see”. Kalau dilihat sekilas motifnya tidak kelihatan seperti batik, tapi itu batik kok.

Perjalanan dilanjutkan setelah kami shopping batik Pekalongan. Dinner kali ini kami memilih satu resto bernama : D’Pawon Seafood & Fastfood di Jln Kolonel Sugiyono – Tegal.Tempatnya asyik, resto tapi terbuka gitu deh, pengunjungnya juga kebanyakan bermobil pribadi dan family...namun pelayanannya luuuaaaammmaaaa. Kami hampir mati lemas kelaparan euy! Kasihan juga sih sama mbak yang ngelayanin karena menurutnya teman2nya lagi pada pulang kampung dan saat itu pengunjung sedang banyak. Orang Tegal pulang kampungnya kemana yak?! Rasa makanan sebenarnya lumayan enak, apalagi nasi bakar yang daku pesan. Gurih dan wangi. Nasi bakar tersebut digulung di dalam daun pisang, sebelumnya dikasih bumbu dan kemudian dibakar.

Awalnya Mas Tunggal mau laju dan istirahat di Cirebon, tetapi Sekar, Mbak Rita dan daku lebih memilih kami istirahat di Tegal. Jadilah kami malam itu check in di Hotel Pasific (*3). Walau hanya berlantai 3 hotel ini memiliki lift yang tembus pandang, baik pintunya maupun “dinding” disekitarnya sehingga kalau kita berada di lift kita dapat melihat jalanan, dan orang di jalan juga bisa melihat kita. Hotel berbintang 3 ini baru ada 3 tahun yang lalu. Pelayanannya top banget deh, bahkan petugas-nya cepat tanggap, khususnya petugas saat kami breakfast. Seno saja komentar,”Harga minimum pelayan maksimum!”. Rate menginap disini nggak sampai Rp 300.000 ,-/malam. 200ribu aja sih lebih! Kamar AC, TV Cable...nggak kalah deh dengan hotel bintang 3 di kota besar. Bahkan ada Karaoke dan Mini Theater-nya pula. Room service-nya muraaaahhhhh, masih banyak yang dibawah Rp 30.000 per-porsi makanannya. Usai breakfast dengan kepuasan tersendiri kami check out.

Mampir Brebes untuk beli telor asin khas Brebes. Telor asin zaman sekarang variant-nya juga macem-macem. Bayangin dah...ada Telor Asin Rasa Udang! Konon itu telor dari bebek yang makanannya udang. Wuuuiiiihh...kalau tuh bebek makanannya gado-gado mungkin rasa telor asinnya juga rasa gado-gado dong? Kata Mbak Rita di televisi pernah ada info tentang telor asin rasa jeruk atau strawberry loh. Lucu juga ya, kalau mau telor asin rasa jeruk or strawberry bukannya lebih enak makan buah jeruk or strawberry-nya sekalian???

Mbak Rita beli Telor Asin Rasa Udang dan daku beli Telor Asin Bakar. Perjalanan berlanjut ke arah Kuningan. Kami tidak melewati jalur Utara karena mau nengok lokasi wisata pemandian air panas dan spa di Kuningan.

KUNINGAN – SUMEDANG

Siang hari kami tiba di Kuningan. Mbak Rita ingin melihat Grage Hotel Spa yang seringkali diliput oleh media. Namun belum sampai lokasi kami tertarik dengan satu area, yakni Resort Prima Sangkanhurip.Di resort ini terdapat Perkampungan Wisata Cilimus 1928 yang merupakan replika perkampungan Kuningan di tahun 1928. Yang sejarah Indonesia-nya jago pasti ngerti deh “apa dan bagaimana” Kuningan di tahun 1928. Perjanjian Linggar Jati masih ingat dooonnnggg...Pelajaran SD gitu looohh....

Kami menanyakan roomrate menginap di resort tersebut, dengan tekad liburan mendatang kami menginap di sini. Suasana khas Indonesia-nya asyik banget!

Barulah kami menyusuri jalan Sangkanhurip, yang diujungnya terdapat obyek wisata Sangkanhurip Alami. Pemandian air panas dengan harga terjangkau. Kami hanya melewati obyek wisata tersebut, berbelok ke kanan...dan barulah mampir ke Grage Sangkan Hotel Spa yang memproklamirkan diri sebagai ‘The Best Aquamedic Spa in Java’. Daku dan Mbak Rita sempat masuk ke area spa yang air-nya kehijauan dan hangat. Dia atas kolam renang biasa (Teratai Pool Side) telah berdiri panggung dan disekitar kolam renang juga sudah tersusun meja dan kursi untuk acara tahun baru nanti malam. Hotel tersebut mengadakan : ‘New Year 2008 Hawaiian Nite’ – dinner – live band – dance – hawaiian dance. Kenapa nggak menampilkan perayaan khas Indonesia aja siiiiiihhh??????

Perjalanan berlanjut. Di sepanjang jalan kami melihat penjual ember. Toko makanan menjual ember??? Untungnya Mbak Rita “cepat tanggap, ingat bahwa itu adalah salah satu oleh-oleh khas Kuningan yang pernah diceritakan temannya. Tape ketan dibungkus daun jambu yang kemudian dimasukkan kedalam ember! Karena Mas Tunggal juga senang dengan tape, kami-pun berhenti dan membeli ember, eh makanan khas tersebut. Aku bilangnya,”Beli tape gratis ember!” hahaha...

Mobil melaju ke Sumedang. Kotanya penyanyi Rossa, yang kebetulan saat kami sampai di Sumedang tape di mobil lagunya “Atas Nama Cinta”. Kami lunch di ‘Rumah Makan Joglo Sumedang’ yang baru dibuka 3 hari dan bangunannya keren banget, rumah Joglo ala Kraton. Kami makan di gazebo yang berada di pekarangan bangunan. Kami pesan makanan khas-nya Ayam Goreng Spesial Bumbu Kraton.Ckckck...koleksi mobil antik owner-nya okeh banget looowwhh ;-)

Suasana akan tahun baru mulai daku rasakan lagi ketika sudah banyak sms masuk ke hape-ku mengucapkan selamat tahun baru. Pak Aswin, direktur Finance di salah satu BUMN juga sudah mengirimkan sms ke aku. Duh, Pak...maafkan “anakmu” yang kurang ajar ini. Selalu kedahuluan jika ingin mengucapkan selamat ke bapak. Salut daku sama beliau, direktur BUMN ,kerjanya keliling dunia bahkan sampai naik Concorde saja pernah tapi low profile-nya ampun-ampunan.

Jam 7-an malam Mas Alief, leader-ku di Surabaya mengirim sms agar aku membuat keyakinan pada tengah malam nanti mengenai peringkat-ku di Konvensi Nasional tanggal 23 Agustus 2008 di Hailai Restaurant. Yup lebih dari 20 tahun aku melewati tengah malam dengan hingar bingar kemewahan tahun baru, merayakan di hotel mewah, pesta bahkan di Bali seringkali aku lakukan. Oleh karena itu malam ini aku mau mengadakan resolusi 2008 dalam kelelapan malam. Walaupun disekitar rumah Sekar udah jedar jedor kembang api! Bentaaar-lah lihat kembang api.

Saturday, 4 July 2009

Semarang - Jepara - Watu Gong [Jateng 2007]

Jangan tanyakan kemana daku melewatkan malam tahun baru, karena justru akhir tahun daku melewatkannya kemana-mana. Lewat Cirebon, lewat Brebes, lewat Pekalongan...dan malam tahun baru daku melewatkannya di dalam perjalanan tol Bandung – Cimanggis sambil menikmati Ice Coffee gratisan dari Excelso Rest Area Km.62. Ssssrrrrruuuupppp......dan kopi itu melewati tenggorokanku!

SEMARANG, Si Pesona Asia
Dua hari pasca Christmas Mas Tunggal mendadak mengajak ke Semarang. Dua jam sebelum keberangkatan, jadinya hari itu aku cancel rencana hari itu ke Synergy bareng Dian untuk menemui Pak Ali dan Dr.Roy. Ke Semarang juga mau nganterin brosur Synergy ke Ely and kalau memungkinkan bikin home meeting di hotel sekalian. Jadilah siang itu daku bersama Mas Tunggal keluarga dan sopirnya (yang Art Director film Ca Bau Kan – real!) berangkat ke Semarang. Terlebih dahulu makan sore di Rest Area Km 57, RM Padang Sederhana. Di sana aku sms Ely supaya mempersiapkan materi untuk pembahasan Synergy nanti malam.

Shalat Maghrib di rest area toll Kanci Cirebon dan makan malam di KFC Pasifik Mall Tegal – Jawa Tengah, sekalian daku beli pulsa GSM dan Mas Tunggal beli 3 kaset. Wuuiih udah ada KFC, Es Teller 77, Pizza Hut, Dunkin, M Studio, Naughty and Guardian. Tegal sudah bertabur franchise business rupanya ;- Kenapa nggak ada kedai teh poci khas Tegal seh???!!!!
Barulah jam 11 lewat kami sampai di rumah Semarang.

Paginya Ely baru nongol di depan hidungku. Kami sudah siap – siap berangkat ke Jepara, kota Kelahiran RA Kartini si Pahlawan Emansipasi Wanita. Aku langsung menyodorkan chlorophyll ke Ely. Kebetulan Mbak Rita ngajakin Ely juga, jadi Ely bisa sekalian ikut. Daku gak enak ati kalau yang ngajak daku karena kakinya Mbak Rita khan dalam masa recovery jadi tempat duduk di mobil harus leluasa. Jam 8-an Tavera melaju menyusuri “Little Netherland” yang jadi salah satu obyek wisata unggulan Semarang, start dari yang paling ujung Hotel Raden Patah (Budgeting Hotel – Backpacker Class), Kantor Polisi, Gereja Blenduk, dan berderet bangunan peninggalan Belanda yang seringkali dijadikan shooting film.
Terlebih dahulu kami check in di Hotel Horison (*4) kawasan Simpang Lima Semarang.

JEPARA, Kotanya Ibu Kita Kartini (Jum’at, 28 December 2007)
Hanya meletakkan travel bags kemudian lanjut ke Jepara, melewati Demak tetapi nggak lewat Kudus. Makan siang di RM.Ismun Jln Margoyoso yang kecapnya khas. “Bentuk” kecapnya seperti madu dan rasanya manis banget. Setelah lunch kami hunting furniture ukiran Jepara yang showroom-nya berderet di sekitar Jepara. Masih banyak yang tutup. Mbak Rita dan Mas Tunggal yang sedang merenovasi rumah berencana membeli jendela yang berukir khas Jepara. Salah satu showroom mengaku kalau dia-lah yang mendesain ukiran interior rumah Probosutedjo, artis Roy Marten dan beberapa seleb lainnya, bahkan juga mendesain rumah Joglo Jawa Tengah lengkap dengan ukiran-nya untuk dikirim ke Pulau Karibia. (Awas loh kalau Malaysia sampai ngaku’in ukiran Jepara di resort mewah Karibia asalnya dari Malaysia!!!!).

Kami sempat mampir ke dermaga Pantai Kartini. Dari pelabuhan ini-lah kapal Karimun membawa penumpang ke Pulau Karimun Jawa. Ombak terlihat begitu liar, angin juga bergemuruh. Hal itulah yang membuat kapal Karimun sudah dua hari tidak beroperasi. Daku sih sempet berfoto ria di depan kapal tersebut. Ini salah satu impian daku dan Tary, visit to Karimun Jawa sambil mencari inspirasi novel. Bahkan Ratih Kumala, si penulis novel Tabula Rasa yang bukunya masuk dalam list “The books must read before die” ngerengek minta ikutan kami berdua. Hahaha...

Di Jepara sempat diminta Ronald untuk menelponnya karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Duuuh, Bang, daku lagi di pinggir sawah nih....pulsa gak cukup untuk nelp ke Surabaya. Lah, hape aja daku silent total.Untungnya sih Ronald nelpon duluan. Emang deh, bisnis itu harus dilakukan dimana saja dan kapan saja dan oleh siapa saja. (Chlorophyll is better than Coke...hahahaha)
Sore kembali ke Semarang, ke Hotel Horison. Malamnya kami makan di salah satu rumah makan yang bikin Sekar nggak napsu makan dan akhirnya malamnya harus beli makanan lagi di Pizza Hut yang masih satu area dengan hotel. Hotel Horison Semarang “layout lokasi”-nya mirip dengan hotel – hotel yang ada di Singapore.

Aku en Sekar sempat foto di depan Santa Claus yang terbuat dari permen, dan itu merupakan Santa Claus dari permen terbesar di Indonesia. Pakai masuk MURI segala. Setelah itu permennya nggak boleh dimakan. Duuuhhh...mendingan Santa Claus-nya membagikan permen-permen itu ke anak fakir miskin aja kali yaaa....Jadi masuk MURI-nya : Santa Claus Membagikan Permen Terbanyak ke Fakir Miskin & Korban Banjir Jawa Tengah. Sepertinya itu lebih berguna dan secara Corporate Sok-sial Responsibility juga okeh!

MRAPEN – WATU GONG (Sabtu, 29 December 2007)
Setelah meninjau beberapa rooms yang rencananya mau aku bikin jadi meeting room or ruang aktifitasku untuk meluaskan network dan pasar di Semarang, aku en Ely menuju ke Dorang, warteg bersih yang ada menu andalanku, yakni telor ikan yang gede. Menu warteg ini relatif lengkap dan lezat loh. Tempatnya juga bersih. Yang makan disini banyak yang bermobil pribadi. Mungkin seperti Warmo Tebet, tapi soal kebersihan dan kenyamanan tempat, daku lebih mantap di Dorang. Ini aja daku “bela-belain” nggak breakfast di Hotel Horison lantaran aku ingin menikmati menu Warteg Dorang . Semula ingin dijemput pakai Tavera tetapi karena Seno main PS di hotel (playground Hotel Horison ada PS-nya) dan Mbak Rita creambath di salon mall hotel, jadinya selesai makan daku en Ely berbecak ria ke Hotel Horison. Satu moment bahagiaku adalah naik becak! Hal langka yang bisa terjadi di Jakarta.

Dari Hotel Horison kami menuju arah Grobogan. Eh udah naik mobil yg dikemudikan Mas Tunggal, bukan naik becak. Kasihan banget tukang becaknya kalau daku minta anter ke Grobogan. Niat awal ke “miniaturnya Sidoarjo”, tetapi karena hujan lumayan deras, akhirnya kami berbelok ke Mrapen yang terletak di pinggir jalan Raya Semarang – Purwodadi Km.36. Melongok peninggalan Sunan Kalijaga, yakni : Api Abadi, Sendang Dudo yang airnya mendidih namun tidak panas dan batu bobot yang sebenarnya merupakan landasan salah satu tiang kerajaan Majapahit yang ingin dibawa ke Demak namun karena berat jadinya ditinggal oleh Sunan Kalijaga, daripada menghambat perjalanan gitu loh!

Api Mrapen ini yang api-nya diambil untuk obor pesta olahraga, dari Ganefo tahun 19963 hingga PON IV 1996. Sayang banget deh area Mrapen ini kurang terawat. Bahkan pengunjung hanya kita. Ada sih cowok – cewek pendatang. Mereka berdua masuk dalam bilik Batu Bobot, kata penjaga warung tempat aku beli teh botol di dekat situ katanya kedua orang tersebut berdoa, dan banyak yang “ngalap berkah” di Batu Bobot. Daku sempat diledekin Mas Tunggal,”An, nggak usah malu-malu tuh....katanya mau minta supaya dagangan-nya laku keras!”


Hahaha...supaya dagangan laku keras mah gelar aja dagangan di alun-alun taon baru’an nanti, bukan berdoa di depan/dekat batu gituh. Lah Sunan Kalijaga ajah sampai ninggalin tuh batu, trus kenapa kite justru “nyembah-nyembah” tuh batu. Nyembah Hajar Aswad yang udah jelas di Rumah Allah aja udah masuk kategori musyrik, apalagi batu lain. Wait...wait...soal ini mah daku pendapat pribadi aja yak, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap toleransi kepercayaan sesama mahkluk ciptaan-NYA.

Dalam perjalanan kami sempat lihat warung dengan spanduk yang menyeramkan loh. Spanduk bertuliskan dan bergambar : ular, biawak dan kodok, tulisannya : Extrem Kuliner. Hiiii...lihat spanduk dan warungnya aja serem gituh. Kalau kita masuk ke warung itu mungkin kita akan lihat ular lagi ngejar-ngejar kodok??! Trus biawaknya tepuk2 tangan ngasih suporter.Nggak sampai 5 km dari warung itu aku melongo lagi membaca spanduk di warung berikutnya, salah satu menunya : Rica Rica Kuda! Waaaw, ternyata Grobogan banyak menawarkan aneka kuliner “ajaib”, dan yang menawarkan adalah warung sekelas kaki lima – bukan restaurant atau rumah makan permanent.

Dari Mrapen kami sempat mampir ke salah satu perumahan baru di Semarang. Ada sih niat punya rumah pribadi di Semarang, yang lokasinya keren dan nyaman. Setelah itu kami meluncur ke Semarang atas, tepatnya ke Watu Gong. Artikel dan foto lengkap mengenai Watu Gong akan aku upload di MP kalau sudah dimuat di media cetak dulu yaaaa......



Dinner hari ini di Kampung Laut Suki, restaurant unik pinggir laut sekaligus tempat rekreasi di Utara Semarang. Soal tempat ini lebih lanjut...nanti daku review. Hehehe...pokoke menu dan tempatnya mantap!
( Sekilas review "Kampung Laut Suki" silakan di-check di blog saya - Berita Kuliner. Tapi sudah mengalami beberapa perubahan ya sekarang )

*Dan keesokan hari-nya kami bertolak dari Semarang. Melakukan “On The Way Travelling” (halah..istilah apa’an pulak!?) Kalau dibikin artikel lagi bakal panjang, so nanti aku tulis lagi ah.