Tuesday, 16 June 2015

Mendadak Anyer Banten

Ceritanya saat liburan , Kamis – 14 May 2015, 9 anggota keluarga besar saya berkumpul. Makan siang, belanja cantik dan ngerumpi di Loka Cibubur. Kami menggunakan 2 mobil (New Xenia-nya Seno dan Mazda 2-nya Mbak Wien yang kedua-nya baru dibeli beberapa hari yang lalu). Setelah meninggalkan Loka Cibubur saya yang berada di Mazda 2 di telpon oleh Sekar di Xenia. Dia menawarkan apakah saya ingin ikut ke Anyer Banten. Hadeuuuh, kenapa nggak bilang dari tadi supaya saya ikut mobil Xenia? Karena sudah berada di tol Cijago, maka saya turun di ujung jalan toll dan menanti mobil Xenia muncul. Hehehe, sempet diklaksonin mobil dibelakangnya tuh. Duh, maap.

Seno and his family beserta saya kembali memasuki jalan toll dan kami menuju toll Tangerang. Rencana mau ngejar sunset, sekalian ngabisin kilometer mobil baru gitu. Sempat berhenti di rest area, saya dan Seno’s Mom melaksanakan shalat di masjid. Sedangkan Seno dan Sekar membeli beberapa minuman di Starbucks. Perjalanan di lanjutkan. Kami mengambil jalan yang berbeda ketika saya terakhir kali menuju Carita yang ceritanya DISINI.

Pukul 5 sore kami tiba di Anyer Area. Ramai...walaupun nggak sampai macet. Mobil kami memasuki “Pantai Pasir Putih SIRIH Tanpa Karang Anyer”. Membayar tiket masuk sebesar Rp 50,000/mobil. Untuk parkir di pantai ini dikenakan tiket masuk, yaitu : Rp 15,000/orang bagi pejalan kaki, Rp 20,000/motor (Berarti kalau kamu jalan kaki ke pantai ini, mendingan masuknya numpang motor orang supaya lebih hemat :D), mobil kecil/minibus Rp 50,000 hingga bis besar Rp 600,000.


Untuk fasilitas rekreasi dikenakan biaya :
Lesehan Besar Rp 350,000 – Lesehan Kecil Rp 50,000 (Harga antara yang besar dan kecil tidak “proposional” yach?) – Banana Boat Rp 150,000/4 putaran - Parasailing Rp 200,000 – Donat Boat Rp 150,000/4 putaran – Perahu wisata Rp 10,000/orang – Motor ATV Rp 50,000 /15 menit – Jetsky Rp 150,000/15 menit – Selancar Rp 20,000/buah (Hah? Maksudnya buah apa sih?!)

Biaya Wisata Per-Paket Menuju Ke : Pulau Sangiang Rp 2,500,000 – Pulau Krakatau Rp 3,500,000 – Pulau Panaitan Rp 5,000,000 dan keliling tepi pantai Rp 150,000. Sungguh saya nggak mengerti apa yang dimaksud dengan “paket” di selebaran ini, dan rasanya kalau tidak dijelaskan bikin orang melongo gitu. Lah secara nominal kenapa sangat jauh lebih sedikit apabila kita plesiran di Singapore atau Vietnam yak?
Sedangkan roomrate losmen-nya berkisar dari harga Rp 150,000 (TV, Kipas angin) sampai Rp 1,200,000. Jiaah, namanya losmen kenapa sampai ada tariff Rp 1 juta? Hihihi, biar jelasnya silakan hubungi “sales” yang namanya tercantum di selebaran foto copy-an yang saya terima ketika membayar tiket masuk deh.
Di Pantai Pasir Putih Sirih ini kami hanya memarkir mobil sekitar 10 menit, saya hanya berfoto sejenak. Sedang ramai dan kami merasa kurang nyaman di sini. Dengan tagline “Keselamatan, Kenyamanan dan Ketertiban” kami sempat cekikikan melihat ada pengunjung parasailing dengan parasut yang bolong/sobek, kemudian saya hanya bisa nyengir bebek begitu melihat jetsky meluncur diantara pengunjung yang berenang. Meleng dikit yang renang bakalan kepentok jetsky dah!

Makan Malam di Club Bali Resort

Sementara hanya foto ini yang bisa saya pajang :D

Akhirnya kami menikmati sunset dari resto yang berada di Hawaii Club Bali Resort. Sekalian makan malam gaya barbeque. Gak usah cerita yak, soalnya foto-fotonya di tab yang lagi ngadat :D Doa'in aja supaya saya bisa memperoleh tablet dan camera yang oke supaya motret-motretnya asyik saat traveling. Sekalipun traveling dadakan :)

Thursday, 5 March 2015

Semalam di The Falatehan Hotel by Safin

Nggak ada prediksi bahwa suatu saat saya bermalam di hotel berbintang 3 yang terletak di kawasan Blok M Jakarta Selatan. Bermula dari My Lovely  yang datang dari negeri seberang ingin menikmati waktu-nya di salah satu hotel. Saya mempertimbangkan hotel di Kemang dan Menteng, hotel berbintang 3, dia memberi alternatif hotel di Puri Indah Jakarta Barat, Tendean dan The Falatehan Hotel by Safin. Karena Puri Indah sulit saya akses jika tidak membawa kendaraan pribadi dan saya pernah menginap di hotel yang terletak di Tendean – itupun belum sampai 2 bulan yang lalu. Akhirnya saya menuruti-nya untuk booking di The Falatehan Hotel by Safin, walaupun saya agak jiper melihat lokasi lingkungannya. Hihihi, bisa juga ya saya jiper? Ya bisa-lah, karena ada pengalaman yang tidak diharapkan terjadi di area itu beberapa tahun yang lalu. Karena My Lovely  merasa lebih minat di hotel tersebut, maka saya booking melalui internet, survey antara Agoda dan booking.com – jadilah tanggal 18 February 2015 saya booking untuk tanggal 20-21 February 2015.
Tumben ya saya “ngalah” dengan kemauan seseorang? Yap, karena soal waktu, waktu saya bersama My Lovely terasa sangat mahal. Kedua dia yang bayar...hehehe, bukan karena saya nggak mampu loh ya, saya bertekad kok akan membayar-nya suatu saat nanti di suatu tempat yang pastinya pernah saya impikan. Ketiga, warna biru yang menjadi ornamen tempat tidur-nya terlihat fresh.
Jumat, 20 February 2015 – setelah saya menyelesaikan berbagai amanah, saya menuju ke hotel. Hanya menyebut nama-tanpa memperlihatkan voucher hotel. Saat diminta KTP saya kelimpungan karena sepertinya KTP tertinggal di tas kerja. Membayar deposit Rp 100.000 ,- yang saya bayarkan menggunakan debet card, kemudian diberikanlah key card kamar 336 dengan catatan saat My Lovely sampai hotel harus registrasi menyerahkan KTP-nya. Saya wanti-wanti agar memberikan KTP Indonesia-nya agar tidak dikenakan tariff turis asing...hehe, tadinya dia berniat memakai driver license dari negeri tempat tinggalnya sekarang.

Kamar Tanpa Jendela
Ingat cerita saya tentang KamarTanpa Jendela? Kali ini terjadi kembali. Front Officer sudah mengatakan bahwa kamar yang kami tempati di lantai 2 tidak memiliki akses lift. Saya harus bisa melalui tangga, melewati rest room dan pintu kitchen resto hotel. Dikatakan juga bahwa kamar tidak memiliki jendela. Hadeuh, di internet memang tertulis di keterangannya “no view”, saya pikir sekedar view mentok tembok, jadi gak kebayang deh tuh kalau tanpa jendela. Kalau mau jendela saya bisa up grade ke kamar deluxe dengan menambah Rp 100.000,-. Ah, sudahlah...malam ini justru kami tidak memerlukan jendela bukan? ;D
Akses ke kamar memang “nggak banget” seperti yang saya tulis di atas. Ada 8 kamar yang kondisi-nya seperti itu. Kami mendapat kamar di pojok.
Bersyukur begitu membuka kamar saya melihat kamar-nya bersih dan rapih. Nggak terlalu “melenceng” dengan yang ada di foto website promo-nya. Luas kamar-nya pas. Terdapat lemari berpintu lengkap dengan gantungan baju dan safe deposit box, coffee/tea maker dilengkapi 2 air mineral ukuran kecil merk Oasis (Disediakan juga air mineral ukuran 1.5 liter yang jika kita membuka-nya dikenakan biaya Rp 20.000,-), cermin ukuran seluruh badan tergantung di dinding dengan desk untuk sepatu atau koper, tv flat dan cermin dinding yang lebih sebagi hiasan. Ada sofa baca di sisi tempat tidur, selain desk untuk menulis/makan.
Bathroom-nya nggak ada bathub ya J . Tidak ada tube di shower, hanya ada tirai. Relatif bersih dan walaupun bukan dari material yang nomor 1 tapi kondisi dan model-nya baru.



Dinner & Breakfast @ Hotel
Awalnya saya berniat membelikan My Lovely makanan “Ceker Ayam” di resto China Muslim yang terletak di Pasaraya. Melihat lingkungan kehidupan malam di sekitar hotel membuat saya mengurungkan niat tersebut. Sebenarnya saya sudah lapar, demikian pula dengan My Lovely  yang masih dalam perjalanan. Akhirnya dia menyarankan saya memesan di “Room Service” 5 menit menjelang dia datang. Tapi jadi-nya pesan justru saat dia sudah sampai di kamar....
My Lovely  memesan Rawon dan untuk saya Nasi Goreng Seafood. Yang menerima pesanan dia, ternyata sekalian bayar. Rasa makanannya termasuk lezat untuk ukuran hotel. Atau memang karena saya lapar ya? Hehehe...
Untuk makanan Room Service tidak sempat diambil foto-nya, keburu di makan dalam sekejab habis :D
Pagi jam 7-an kami menuju resto hotel untuk breakfast. Baru 1 meja yang terisi. Sebelumnya kami berputar  melihat makanan yang tersedia. Saya hanya mengambil Bubur Ayam, Cereal dan secangkir kopi. Sedangkan dia sudah memenuhi piring-nya dengan Nasi Kebuli, Sosis...entah apa lagi! Kenapa jadi terbalik gini sih “sistem” makanannya?! Dia yang sudah lebih dari 20 tahun di negeri bulek justru sarapan yang bikin para bulek mendelik, sedangkan saya yang sudah lama meninggalkan negeri itu justru pilih yang ringan.
Usai sarapan kami kembali ke kamar. Pukul setengah 12-an kami check out, saya mengambil uang deposit, sementara dia ke lounge khusus. 

Friday, 23 January 2015

Weekend Time : Sentul City

Mobil yang kami beli saat IIMS September lalu akhirnya sampai juga akhir December. Lama juga ya, karena kami beli-nya cash jadi agak tidak diprioritaskan. Duh mak, dunia emang udah kebalik yak, pembeli yang pembayaran kredit justru lebih diprioritaskan dibandingkan cash. Seolah riba diutamakan...hiiii...thank's, Allah, yang memberikan kelancaran rezeki berkah kepada kami :)
Setelah hajatan keluarga, yakni pernikahan Fajar tanggal 11 Januari 2015 maka kami-pun segera "refreshing" menjajal mobil baru yang dibeli memakai uang Ibu ...hihihi.... Mobil kecil, harga terjangkau dan ternyata muat untuk 4 orang di seat belakangnya. Lega pula! Tapi saya nggak akan menuliskan merek mobil-nya ya, lah khan nggak dibayar untuk ngiklan :D Kami berlima berangkat dari rumah bilangan Jakarta Timur (Saya, Ibu, Kakak pertama saya beserta cucu pertamanya dan Kakak saya ke-5) menuju area Pasar Minggu menjemput kakak ke-4 saya. Setelah berunding akhirnya kami memutuskan untuk ke Sentul!
Di Sentul City kami melongok ruko Ibu yang masih disewa oleh teman SMP saya. Beberapa tahun lalu saya tinggal di ruko tersebut bersama dengan sepupu saya. Ihiy, sebenarnya ruko tersebut membawa kenangan bersama 2 teman cowok, MR.A di tahun 2006-2007 dan Mr.D di tahun 2009. Insya Allah Mei 2015 saya mau tinggal di ruko ini kembali sambil membesarkan usaha saya (Yang mau kerjasama bisnis silakan...)

Keliling Sentul City...waaaw, daerah ini sekarang ramaiiii! Berbagai fasilitas sudah tersedia, berbeda dengan saat saya masih tinggal di area ini. Jadi inget waktu saya terpaksa makan gratis bersama dengan Mr.A di salah satu townhouse yang ada di sana. Rumah sakit international, gedung level international dan hotel berbintang sudah beberapa yang buka. Mall sudah beroperasi sejak dulu, tahun 2009 saya dan Mr.D pernah makan malam dan belanja melintas di kegelapan.


Lanjut, kami berenam dengan mobil baru mengarah ke Jungleland Themepark. Cuaca mendung, dan berhubung kali ini jalan bersama Ibu, jadi kami tidak masuk ke Jungeland. Cukup mengerti tempatnya, sehingga jika saya kembali tinggal atau menginap di Sentul City saya bisa bermain kemari dengan bersepeda...hehehe, biar lebih sehat dan bugar. Alhamdulillah....
Buat yang mau naik kendaraan umum, ternyata ada APTB dari Blok M dan Grogol pada jam tertentu. APTB tersebut mangkal nggak seberapa jauh dari lokasi theme park ini.
Hanya saya dan Kany turun dari mobil untuk berfoto di bola icon Jungleland....hehehe....padahal sering orang "nyinyir" tentang berfoto di icons macam ini. Eeeeit, tapi waktu di Universal Studio dan beberapa icon seperti icon Hard Rock Cafe Bali saya beneran menginap di hotel-nya loh yaaa...


Dari Jungleland kami melintas ke Taman Budaya. Semula berniat makan siang disana, tapi macet. Di Ah Pong juga nggak dapat parkir. Ada sih parkiran di gedung parkir, tetapi untuk ibu saya terlalu jauh jalan menuju tempat makannya dari tempat parkir tersebut.
So akhirnya kami makan siang di Cimanggis.
"Tabungan" tempat wisata saya bertambah....Jungleland Adventure Theme Park *Masukin ke Dream Box :)

Monday, 29 December 2014

Hotel Neo Tendean : Kesegaran Warna Hitam Putih

Pada 3 November 2014 seusai Bali Massage di ZEN Spa  saya melintasi hotel yang terletak di Jl. Wolter Monginsidi. Saya mengamati-nya dan masuklah nama hotel ini dalam “Dreams Box”. Woooho, Mahabenar janji-Mu, Ya Mu’min...1 December 2014 ketika sedang project briefing di kantor  Field Devision saya menerima telepon yang menawarkan kamar di hotel ini. Harus malam ini juga! Dengan mantap saya mengiyakan tawaran tersebut. Pas banget keesokan pagi-nya saya mendapat tugas notulensi dari Kemenhunkam.Ternyata perpaduan warna hitam, putih dan abu-abu bisa juga terkesan fresh di Hotel neo Tendean Jakarta by Aston.

Kamarnya tidak terlalu besar, tetapi nggak sempit sih. Ada safe deposit box plus kulkas mini transparant kosong dibawah gantungan pakaian. Tanpa lemari.
Bagus-nya nih hotel petunjuk keamanannya boljug, soale diantara perlengkapan di desk terdapat pamflet “In Case of Earthquake”. Indonesia khan sekarang sering banget terjadi bencana tuh, jadi berguna banget pamflet seperti ini dipelajari, supaya nggak panik bikin cilaka :D

Pada desk juga terdapat menu “Relaxing Service” yang pelayanannya bisa dipanggil ke kamar, yakni :
Perawatan Tubuh Rp 250rb nett (120 menit), Perawatan Peremajaan Tubuh Rp 200rb (100 menit), Perawatan Lulur Tubuh Rp 175rb (75 menit) dan Pemijatan Traditional Aromaterapi Rp 140rb (60 menit), Pemijatan Kaki Rp 140rb (60 menit), Penyegaran Wajah Rp 100rb (45 menit)


Sedangkan "Room Service Menu" berasal dari Clay's Resto & Cafe juga jelas di desk kamar. Diantara menu tersebut adalah  :
Appetizers , al : Caesar Salad, Thai Beef Salad, Rujak Buah.
Thailand : Pad Thai 21rb blm tax, Penang Fried Noodles, Java Fried Noodles, Chicken Hainan (35rb), Kampoeng Fried Rice (25rb),
Unik : Hot Stone Rice Gindara & Hot Stone Rice Chicken (35-36rb) yang dimasak dalam batu panas.Nasi Campur Dinamika (Rp 38rb) : Nasi dibungkus daun pisang dengan ayam goreng, tempe goreng, ikan asin dan sayuran disajikan dengan sambal.

Kolam renang ada di luar sisi Clays's Resto. Nggak terlalu besar kolam renangnya. Eh, tetapi sebaiknya jangan buang air dan berganti pakaian di kamar kecil yang atapnya terbuka karena terlihat dari kamar..hehe...

Pagi, saat check out tanpa terencana saya ketemu dengan anak sepupu saya di lobby. Di lobby juga ada desk travel agent, kalau berminat mengikuti travel - misalnya ke kepulauan seribu kalian bisa menggunakan jasa travel agent tersebut.

Sunday, 14 December 2014

Alangkah Indahnya Pesta Pernikahan Indonesia

Sekarang saya semakin gembira menghadiri resepsi pernikahan loh! Hihihi....Alhamdulillah, punya kerabat beragam dari berbagai kalangan membuat saya sering di undang atau diajak menghadiri undangan pernikahan. Beberapa tahun lalu saya sempat jadi Penari, MC Resepsi Pernikahan, Penerima Tamu, Pagar Ayu sampai Pembaca Terjemahan Al Quran saat akad nikah berlangsung :) Pernah ditawarin jadi Pembawa Acara saat Akad Nikah, tapi saya tolak dengan histeris (bukan halus lagi...) karena duh, nanti yang deg deg-an justru saya, bukannya kedua mempelai :p Wong kalau saya yang nikahan aja  justru sembunyi di ruang rias...hahaha....
Kembali berbicara tentang Resepsi Pernikahan, pesta pernikahan beragam deh. Kali ini saya akan menceritakan tentang pernikahan traditional Indonesia. Weekend ini saya menghadiri 3 resepsi pernikahan dengan menggelar budaya Indonesia. (Weekend lalu khan nonton di 3 film Indonesia D)

Sabtu, 13 December 2014
Balai Sudirman - Jakarta Selatan
Panti Perwira
Siang dan Malam hari saya dan Mbak Lien menghadiri resepsi pernikahan di ruangan yang sama dengan mempelai yang berbeda. Siang hari mempelai mengenakan nuansa adat dan busana Sumatera Barat, sedangkan malam hari mempelai mengenakan nuansa adat dan busana Sulawesi Selatan.
Catering-nya sama-sama menggunakan Alfabet, catering yang digunakan pada resepsi pernikahan keponakan saya di Balai Samudera Kelapa Gading bulan September 2011

Sebelum duduk di pelaminan mempelai dan ortu-nya berdiri sampai penari menuntaskan tariannya. 

Nuansa Sumatera Barat. Tulisan kanji yang ada di foto ini ignore aja ya, saya belum sempet nanya artinya ke keponakan saya yang ngerti bahasa ini :p

Pesta Pernikahan Nuansa Bugis - Sulawesi Selatan. Bupati Pangkep Sulsel turut hadir malam tadi. Mantan Bupati Tapanuli Selatan juga hadir, karena mempelai pria orang tua-nya bermarga Hasibuan dan Harahap



Ahad, 14 December 2014
Taman Mini Indonesia Indah - Jakarta Timur
Anjungan Nusa Tenggara Barat


Kangeeen sama Lombok Nusa Tenggara Barat!! Alhamdulillah, salah satu kerabat mengundang keluarga besar saya untuk menghadiri Resepsi Ngunduh Mantu keponakannya. Melalui ta'aruf, ketemuan hanya 2x sambil menunduk malu, pernikahannya sudah dilaksanakan tanggal 6 December 2014 di Semarang Jawa Tengah, kemudian Tante dan Oom si Mempelai pria mengadakan acara Ngunduh Mantu di TMII Anjungan Nusa Tenggara Barat yang saya hadiri ini. Tante si Mempelai pria memiliki catering dan sanggar rias, jadi bukan suatu hal yang berat-lah untuk membiayai "ngunduh mantu" ini. "Sekalian syukuran...." menurut Sang Tante. Upacara adat NTB lengkap dengan tariannya di Anjungan Nusa Tenggara Barat. Ketika Tari Gandrung ditampilkan maka tamu yang diberi kipas oleh Penari harus memberi saweran dan ikut menari...hahaha...Boss Mempelai Pria yang orang Korea jadi "korban", demikian pula dengan Suami-nya Riska (Anak sepupu saya). Tetapi berhubung suami-nya Riska lulusan Universitas Mataram, jadi dia udah lumayan lancar joged gandrungnya....hahaha. 


Tanggal 20 Januari 2015 akan diselenggarakan Resepsi Ngunduh Mantu di Ampenan Mataram. Kali ini yang punya hajatan adalah orang tua kandung mempelai pria. Mbak Moel, sepupu saya tadi menanyakan apakah saya akan ke Lombok bulan depan. Hihihi....pengen banget sih ke Lombok lagi, apalagi saya sudah jatuh cinta dengan bumi Allah yang juga berjulukan "Pulau Seribu Masjid". Lihat situasi kondisi bulan depan deh, karena bulan Januari 2015 keluarga besar saya juga ada hajatan pernikahan di Jakarta, dan itu bersamaan dengan keponakan sepupu saya juga menikah di Bukit Tinggi Sumatera Barat *Sebenarnya yang ini saya juga minat datang loh...hehehe...tapi palingan datang kalau ada Ngunduh Mantu-nya di Jakarta dskt-nya.

Emang keren banget ya budaya kita, Indonesia. Bahkan di Jakarta saja kita bisa menikmati sebagian dari kebudayaan tersebut. Ini bisa berperan untuk pengembangan wisata kita di mancanegara! Sepupu saya di Kebumen Jawa Tengah melaksanakan adat pernikahan Jawa Tengah lengkap di dokumentasikan oleh orang Jepang, kemudian dokumentasi tersebut ditayangkan di negeri Matahari terbit. Ketika itu Bupati Kebumen Ibu Rustriningsih turut hadir. *Sayangnya saya nggak hadir di acara tersebut *>

Semalam di Hotel Horison Bekasi

Kamis, 19 April 2012 : Berangkat sama Mbak Lien ke Horison Hotel Bekasi. Valet Parking di sana Rp 10.000 ...muuurraaah ;D
Saya di kamar 518, Mbak Lien di kamar 525 dan Mbak Wien di kamar 417. Sedangkan kamar 516 dibiarkan tak berpenghuni. Tetapi saat saya SMS-an dengan beberapa saudara pada protes tuh karena nggak kami ajakin nginep di sini. Yeee...makanya kalau diajak-ajak sebelumnya jangan kebanyakan alasan sampai orang ogah ngajakin lagi!

Inilah kamar saya : Di lantai 5 Hotel Horison Bekasi

Di kamar , setelah keramas saya utak atik TV : Cartoon Network, Travel and Living , juga saya menemukan mantan cowok saya - Charlie Sheen...hooorreee! ;p

* Ini tulisan kelamaan di draft bikin saya nggak inget pengen nulis apa lagi. Hehehe, karena setelah tanggal tersebut saya masih menginap lagi di hotel ini Bulan July 2012, November 2012 dan Agustus 2013....so ceritanya numpuk-numpuk deh :D

Friday, 12 December 2014

Taman Narmada : Sepercik Surga di Lombok

Pagi itu (December 2012) saya dan keluarga kakak saya berangkat dari hotel yang terletak di tengah kota Mataram untuk berwisata di Lombok dan sekitarnya. Tujuan obyek wisata kami adalah Taman Narmada. Menarik, karena di sini terbukti bahwa kita dapat menikmati keindahan Pulau Bali di Pulau Lombok. Informasi yang kami dapatkan dari sopir yang kendaraannya kami sewa seharian adalah Taman Narmada adalah pura Hindu. Hanya pura-kah yang terdapat disana??? Mobil langsung menuju ke lokasi.....nguuuung....*eh emangnya bajaj ;-p

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEDevm56saoDh39uufIUHDOf5lkSFlG-6tPvOgnAyOZ6ZBKD8MYLBWyqRDY2n-XGo8vIc03wEQ7J7iObAmrMIL5tgO_7-Vmy92-DkyqjH31dcHVXG77_NBFGZcOMVSmQd6AdqL_P1iCFES/s1600/WisataNarmada.jpg
Taman Narmada terletak di Desa Lembuah, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Nggak terlalu jauh dari pusat kota Mataram, sekitar 10 km. Begitu menurunkan kami di pintu gerbang area taman, mobil terparkir dan kakak saya membeli tiket masuk. Kami juga menerima tawaran salah satu tour guide yang menyambut kami di pintu gapura. Iyaaa dong, sebaiknya khan kita menerima tawaran baik-nya. Selain kita mendapatkan informasi lebih pasti, maka kita dapat berbagi dengan penduduk asli yang baik hati  :)
Memasuki area taman seluas 2 ha, disisi kiri gapura berdiri satu bangunan yang dahulunya digunakan oleh raja untuk beristirahat di musim kemarau. Boleh dikatakan area ini merupakan istana bagi Raja Karang Asem ketika bertahta di Lombok Barat. Beliau, Anak Agung Ngurah Karang Asem membangun area Narmada untuk memudahkan penyelenggaraan upacara Pakelem di Segara Anak yang dipimpinnya. Dikarenakan faktor "U" kondisi fisik beliau menurun hingga akhirnya beliau membuat replika Gunung Rinjani di area ini, dan mengadakan upacara-nya di sini.
Beberapa bangunan atau bagian yang berada di sekitar Taman Narmada, diantaranya : Bale Terang, Bale Loji, Bale Bancingah, Bale Pamerajan, Telaga Padmawangi, Telaga Kembar dan Pura Narmada yang merupakan 1 dari 8 pura tertua di Lombok. Taman ini pernah beberapa kali direnovasi, tetapi semuanya tetap dipertahankan keasliaannya.
           
Bale Petirtan, Sumber Air Awet Muda
“Penyakit” yang banyak diidap oleh banyak orang, khususnya wanita adalah awet muda. Banyak yang berlomba-lomba ingin kelihatan lebih muda dari usia aslinya...hehe,padahal sesungguhnya khan kecantikan yang baik/ideal adalah sesuai dengan usia dan pastinya normal atau sewajarnya. Oleh karenanya bagi yang terobsesi untuk memiliki “penyakit” awet muda, dapat berkunjung ke Bale Petirtan yang berada di Taman Narmada ini. Bale Petirtan terdapat pertemuan 3 sumber mata air, yakni sumber air Suranadi, Lingsar dan Narmada. Umat Hindu memiliki keyakinan bahwa sumber air ini merupakan air suci.
Bagi saya yang tidak memiliki obsesi awet muda, maka saya tidak “mengejar” air ini untuk membuat wajah saya awet muda. Tetapi saya memiliki keinginan untuk selalu awet sehat di segala usia. Zaman sekarang sih anak usia 10 tahun saja banyak yang memiliki penyakit berat, jadi sangat lebih baik untuk awet sehat daripada awet muda khan? J Secara logika air tersebut tentu saja memiliki khasiat untuk menyehatkan tubuh dikarenakan bersumber dari daerah yang belum banyak polusi dan banyak didoa-kan oleh umat yang pastinya berdoa kepada Sang Pencipta dengan suci dan maksud baik. Nah pengunjung yang memeluk agama Hindu dapat bersembahyang di Bale Petirtan dengan dikenakan donasi sebesar Rp 50 ribu untuk uang banten. Setelah mengenakan selendang berwarna kuning di pinggang pengunjung memasuki pintu ke ruang kecil dimana sumber air tersebut mengalir. Inilah Bale Petirtan. Saya yang kebetulan berkunjung ke sana dalam kondisi berhalangan bulanan tidak dapat masuk ke Bale Petirtan tersebut tetap mengenakan selendang di luar bale, untuk gaya foto-fotoan...hehehe.
Eh, nggak lama keponakan saya membawakan segelas air suci tersebut kepada saya yang sedang asyik berfoto-foto ria. Orang-orang disekitar menyarankan agar saya membasuh wajah serta meminumnya agar awet muda. Waaaduuuh, nanti semakin banyak yang menyatakan cinta dong??? Malah bikin repot nolaknya...hahaha...bikin dosa. Kalau dibuang juga khan menyakiti hati mereka yang ada disana. Oleh karena-nya setelah saya berdoa agar senantiasa sehat serta berkah sesuai dengan keyakinan saya maka saya-pun meminum air tersebut. Segar! Dan semoga memang menyehatkan jiwa dan raga saya di segala usia. Amin.
Oke, Anda siap berwisata ke taman yang menurut informasi mirip dengan Taman Soekasada Ujung, Karangasem, Bali?? Dengan mengendarai kendaraan pribadi Anda dapat melalui rute dari Mataram ke arah Cakranegara – Sweta – Bertais dan tibalah di Narmada. Taman Narmada terletak di seberang Pasar Narmada. Di sekitar object wisata tersebut kita juga dapat membeli aneka souvenir dengan harga terjangkau. Harga tiket masuk Taman Narmada juga sangat terjangkau, masih dibawah sepuluh ribu untuk perorangnya. Jika ingin menggunakan jasa tourguide dapat ditemui dekat counter tiket masuk. Anggaplah bersedekah kepada masyarakat sekitar dengan membayar tiket,tips tourguide dan membeli souvenir di Taman Narmada. Selain itu di Taman Narmada juga tersedia musholla bagi umat Islam yang ingin melaksanakan shalat. Ketenangan dan kesejukan air di Taman Narmada benar-benar laksana percikan dari nirwana. (Penulis : Anna R.Nawaning S - Twitter : @balqis57)

Saturday, 29 November 2014

Rezeki Wanita Sholeha, Stay at Amaroossa Grande Hotel

Gimana lagi ya daku harus bersyukur? Malam sebelumnya saya browsing hotel dan membaca review di blog tentang Amaroossa Grande Hotel di Bekasi. Jadi kepengen stay di hotel tersebut! Subhanallah, hanya dalam tempo 12 jam, saat lagi di kantor saya mendapat telpon dari Mama Hana menanyakan keberadaan saya. “Lagi kerja dong?” Aku jawab,”Iya, kenapa?”...ternyata oh ternyata Mama Hana menawarkan kamar di hotel yang baru semalam saya masukkan ke dreams box milik saya! Secepat ini impian-ku terwujud!???
Saya-pun cepat-cepat pulang dari kantor,untung banget deh nggak lagi pegang project, jadi ke kantor sekedar laporan beberapa project yang saya melaksanakan di-lapangan. Oh, my GOD, baru kemarin saya ber-spa ria di spa kelas hotel berbintang, sekarang “harus” menginap di hotel berbintang lagi?? Alhamdulillah, barangkali ini rezeki wanita sholeha seperti saya yaaa *huuuuuu....


Kesan mewah terlihat jelas ketika saya memasuki lobby hotel yang ternyata bernaung dalam Kagum Hotel. Jadi-lah saya kagum juga dengan hotel ini...hihihi...lobby dan front office yang juga luas. Btw sebelumnya saya pernah menginap di Grand Serella Hotel Bandung yang ternyata bernaung di grup Kagum. Memang sih, kamar yang kami tempati ketika itu berbeda dengan hotel berbintang kebanyakan.
Saya mencari-cari pesawat telepon di lobby, untuk menelpon ke kamar Mama Hana en family.Petugas resepsionis menunjukkan pesawat telepon yang terletak di meja, seperti meja Guest Relation Officer-nya. Nggak nyambung ke kamar, dan kemudian petugas FO memanggil saya dan mempersilakan saya menggunakan telepon yang ada di desk.

Dinner Time
Saya menuju lantai 9. Untuk menuju lantai atas tidak diperlukan keycard pada lift. Ngerti gitu sih tadi saya langsung naik ke atas aja! Kok nggak pakek keycard ya, padahal sini termasuk hotel baru? Di dalam lift terdapat sofa berwarna ungu yang terkesan elegant. Setelah ngerumpi kecil dengan Hana , her Grandma  and her parents kami menuju resto untuk makan malam. Dari kamar 902 bergabung dengan kami kakak pertama saya dengan suami-nya plus Fajar. Berdelapan kami turun ke Ground Floor.

Dinner and Breakfast at Coffee Shop
Makanan dominan makanan Indonesia. Dinner kali ini saya menikmati nasi putih dengan lauk Semur Daging, Tempe Bumbu Merah, Ikan Dabu Dabu, Mie Goreng serta Soto Ayam. Selanjutnya menikmati Cake, Salad (Jamur Merang Mentah dibubuhi mayones dan permesan...yummmiiih!).
Breakfast dilakukan di tempat yang sama. Makanan masih di dominan masakan Indonesia. “Clean Vegetable Soup”-nya saya suka...smooth di mulut :D

Kondisi Kamar Hotel
Saya mendapat kamar 820, di lantai 8. Letak kamar-nya dipojokan. Lorong kamar agak remang-remang yah, walaupun jejeran lampu bermodel elegant ala victoria ada di setiap jeda kamar. Untungnya sih hotel baru dan bersih, sehingga tidak menyeramkan.
Kamar terasa luas, sekitar 2.5 kali lebih besar dari budget hotel. Twin Bed. Kesan pertama masuk adalah mewah, bersih, luas and berasa jadi princess Inggris gitu kalau saya tidur di kamar ini. Meja kerja bisa sekaligus sebagai meja rias karena terdapat cermin lebar. Di dekatnya terdapat sofa baca atau pijat plus bantal2nya.
Bathroom-nya tanpa bathub, tetapi tetap berkesan mewah karena dinding dan lantai-nya marmer, shower-nya “3 in 1”. Oh ya, dinding di sisi shower tube adalah kaca transparan – tembus pandang ke bedroom. Ada tirai-nya sih, jadi bisa ditutup kalau nggak mau “ditonton” orang yang ada di bedroom...hehehe.Ini nih yang bikin Nenek Hana ngomong,”Harus bener-bener yakin nutup, loh ada menantu lanang-ku di kamar tidur gitu.”


Perabotan Kamar
Remote TV, ATK dan map roomservice terbungkus folder ekslusif berinisial huruf “A”....weeei nama gue en pasangan banget nih!Hihihi...untungnya gak punya bakat klepto, jadi gak ada niat sedikit-pun untuk memasukkan ke tas pribadi.
Begitu membuka lemari besar di samping pintu bathroom, terdapat 2 “kimono handuk”, meja setrikaan lengkap dengan alat setrika-nya. Keren nih! Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu liburan ke Bali dan menginap di hotel berbintang 5. Saat itu saya membawa alat setrika dan langsung diketawain oleh kakak-kakak saya...hehehe, mau ngirit laundry ceritanya, tapi disuruh buru-buru ngumpetin setrikaan supaya gak kena teguran pihak hotel di daerah Nusa Dua. Demikian pula saat saya di Singapore, kejebak di hotel “gak jelas”, tapi seru-nya saudara saya bisa pinjam setrikaan ke resepsionis hotel. Begitu kakak saya menyusul ke Singapore dan ngomel-ngomel karena anak batita-nya menginap di hotel “gak jelas” kakak ipar saya “membela diri”,”Eh, walaupun hotel gak berbintang tapi kita bisa pinjem setrikaan loh...”
Wow, banget khan, sekarang ada hotel berbintang dan pastinya “jelas” menyediakan alat setrikaan – tanpa mengenakan charge tambahan. Selain setrikaan, ternyata ada timbangan badan! *Eh, timbangan koper juga kali yak? Good idea nih, karena kita khan kalau mau terbang sering mengira-ngira bawaan kita overweight atau tidak.
Tombol pengatur AC ada di dinding, berapa derajatnya tertera jelas disana.

Sayangnya saya tidak sempat memanjakan diri di Odyseus Spa. Padahal ada menu “Swedish Spa”-nya loh. Mudah-mudahan suatu saat dapat kesempatan melakukan pemanjaan diri “Swedish Massage” di hotel ini atau di tempat lain :D