Monday, 20 June 2011

Wayang Orang Indonesia??? Kweeerreeeen....!


Saya siap menarikan Tari Golek di Anjungan JaTeng TMII

Hari gini gak mendukung wisata,seni,budaya Indonesia?! Ih, ndak gaul deh you! ;-p Kemane aje? Udah selesai gaul di mancanegara? Sempat cerita ke bulek-bulek kalau di Indonesia ada pagelaran wayang orang yang keren banget?? Bahkan salah 1-nya di selenggarakan di mall modern dengan harga tiket Rp 1 juta untuk kelas VIP-nya. Keren khan? Rakyat Indonesia jan sugih tenaaan...;-)

Hah?! Nggak ngerti? Weleh-weleh...please deh ah,Indonesia itu negeri yang diciptakan Tuhan dengan kekayaannya tidak tertandingi oleh negeri manapun. Sayangnya banyak masyarakatnya gak mensyukuri nikmat-Nya ini. Karena kaya-nya sampai kakak saya yang sudah puluhan tahun tinggal di Belanda "teriak" begitu melihat eskalator imut di pintu masuk Senayan City,"Hah??Ini khan pemborosan listrik! Siapa yang mau pakai eskalator sependek itu? Ini pasti satu-satu-nya di dunia ada eskalator sependek ini...". Dan kakak saya sempat bergidik begitu melihat seorang cowok muda kekar yang masuk ke Senayan City dengan menggunakan eskalator tersebut. Hehehe...

Setelah menyaksikan wayang orang modern yang ceritanya bisa dibaca disini, 3 minggu kemudian (Sabtu, 18 Juni 2011) saya dan keluarga menyaksikan Wayang Orang Bharata di Senen Jakarta Pusat - naik APV yang lumayan mudah mendapatkan parkir pada malam itu. Jalan Kalilio Senen juga tampak tenang - tak sesemraut di siang hari.
Lakon kali ini adalah "Wisanggeni Lahir". Pagelaran dibuka dengan tari "Gambyong Pareanom". ................Ya Allah nan maha Indah, kuteringat masa kecilku yang gemar menari Jawa ;-)

CANDRADIMUKA Untukmu, Gatot Kaca dan Wisanggeni


Sungguh,ini bukan bayi Gatot Kaca atau Wisanggeni saat saya membawakan Tari Bondan di Anjungan JaTeng TMII

Nonton 2x pementasan wayang orang dalam waktu gak sampai 1 bulan, keduanya lakon kelahiran 2 tokoh. Serunya lagi kedua-nya di cemplungin ke kawah candradimuka.
Disini saya baru 'ngeh' kalau Wisanggeni itu adalah anak dari Arjuna dan Dersonolo.
3 jam menyaksikan wayang orang tak terasa lama untuk saya yang mengerti bahasa Jawa. Apalagi banyak adegan kocak dari Batara Narada, Punakawan dan Wisanggeni. Namun untuk pengenalan wayang orang ke remaja saat ini sebaiknya lebih di persingkat. Bagi yang gak bisa boso Jowo...tenang aja, ada running text tentang masing-masing adegan kok ;-)

Join aja di FB Group : WO Bharata

My Dream :
  • Saya ingin turis-turis mancanegara memasukkan pementasan wayang orang merupakan kewajiban jika berkunjung ke Indonesia. Bharata Jakarta, Ngesti Pandhowo Semarang dan Sriwedari Surakarta bagai panggung Broadway yang dipenuhi oleh pecinta seni dan budaya dunia.
  • Walau 3/4 dunia sudah saya kelilingi, namun sekarang saya tidak ingin bermimpi menjadi duta pariwisata. Setidaknya impian saya kini "hanya" ingin agar wisata, seni dan budaya traditional Indonesia menjadi tuan rumah di bumi Nusantara.
My Past :
  • Hari Minggu 12 Juni 2011 saya , Mbak Lien, Ibu dan Mbak Nana menghadiri pernikahan di Sasono Adiguno TMII. Kami berempat justru hadir pada saat akad nikah - makan malam kami justru di Hema TIS. Hubungannya dengan wayang orang??? Ketika almarhum papie masih ada saya pernah diajak beliau menyaksikan wayang orang di lokasi ini. Kalau gak salah lakonnya : "Shinta Obong". Pertunjukan di siang hari.
  • Ketika SD saya aktif menari traditional Indonesia dari berbagai daerah. Sekarang saya merasa perlu aktif berolah raga, namun setelah saya pikir lagi , lebih baik saya kembali aktif berlatih tari Bali dan tari Jawa sebagai salah 1 cara untuk menjaga kesehatan. Ketika SD saya beberapa kali pentas di TMII . Oleh karenanya tanggal 12 Juni 2011 saya bernostalgia ketika usai menghadiri akad nikah tersebut kami berempat (dengan Hyundai Avega milik ibu dan dikendarai Mbak Lien) berkeliling TMII ;-)

Dulu belum ada camdig,jadi gak ngerti kalau hasil fotonya blur total.Tapi masih tetap terlihat khan saya menarikan Tari Golek di pernikahan Mbak Nti di Kebumen JaTeng?

Curcol : Pengen banget nonton live 'Matah Ati'. Karena pas pementasan di TIM saya lagi hectic sama kerjaan...Ada lagiii duuung ..

Sunday, 19 June 2011

Gaya Hidup Modern : Cinta Seni Traditional Indonesia


Gaya hidup modern?! Mencintai seni dan budaya traditional Indonesia dong....Itu nama-nya sosialita sejati! Hidupkan budaya dan wisata Indonesia yang melimpah ruah dan tiada yang menandingi. Tuhan menganugrahkan bumi Indonesia dengan kelimpahan keindahan yang tiada tara.

Salah satu cara adalah mendukung seni budaya Indonesia. Wayang orang! Alhamdulillah, keluarga saya adalah pecinta wayang Jawa. Tanggal 27 - 28 Mei 2011 bertepatan dengan hari ulang tahun saya, Seni dan Budaya Indonesia menghadiahkan kepada saya sebuah pertunjukan spektakuler pertama di dunia. Memadukan elemen hiburan,yakni sinema, wayang orang, wayang kulit, sinema dan orkestra. Wayang modern "Jabang Tetuko" : The Birth of The True Superhero hadir di Senayan City Ballroom Lantai 8. Tiket seharga @ Rp 1000.000 ,- sampai @ Rp 100.000 ,- terjual laris oleh masyarakat Indonesia. Ehmmm...saya ditraktir oleh kakak saya,Mbak Wien dengan tiket seharga @ Rp 250.000 ,-/orang . Kami ber-8 ( Mas Tunggal,Mbak Rita,Sekar,Seno,Ibu,Mbak Wien dan Mbak Dien yang sehari sebelumnya datang dari Belanda) menyaksikan hiburan yang musik-nya ditata oleh Deane Ogden, gak tanggung-tanggung Deane adalah penata musik film-film Hollywood, diantara hasil karyanya bisa didengar dalam film Surrogates (yang sungguh bukan adaptasi film Malam 1 Suro-nya Susana ;-D), Tron dan The Hitlist. Penata laga-nya juga dari "sono", Benjamin Rowe yang menata laga film Fast & Furious dan Transformer 3. Para pemain, tentunya dari Wayang Orang Bharata plus Ki Dalang Agus Sambowo pastinya berperan besar dalam lakon ini.

Melihat Gatot Kaca dan Batara Surya yang benar-benar melayang-layang (pakai tali pastinya) asyik banget.Keren! Nilai lebih lainnya di pementasan kali ini??? Di kanan kiri stage terdapat giant screen.Jadi saat Arjuna dan Karna (Putra Surya) rebutan alat pusaka mereka bertarung di stage, kemudian saat berlarian...di giant screen mereka juga tampak bertarung di outdoor alias semacam hutan gitu deh ;-D

Pertunjukan berlangsung hanya 1 jam. Agak risih sih menyaksikan wayang orang yang sedemikian keren namun tidak menggunakan bahasa Jawa. Tetapi pertunjukan ini sangat baik untuk generasi (sangat) muda untuk mengenal budaya traditional Indonesia. Hihihi,dalam hati saya ngomong : "Duuh,dari kemarin gue kerja keras semalam suntuk.Pulang dari kantor aja sampai jam 11-an gara2 FGD.Hiburannya cuma sejam dengan menyaksikan wayang.Biasanya sih orang pada nonton wayang semalam suntuk.Kerjanya???....hihihi,gak tau deh!"

Semalam (Sabtu, 18 Juni 2011) kami bertujuh (Saya, Ibu saya, Mbak Wien, Mas Yono, Arum,Fajar,Kany) menyaksikan kembali pagelaran di Gedung Kesenian Bharata Senen, dengan lakon "Wisanggeni Lahir". Ulasan-nya menyusul di tulisan saya berikutnya ya ;-)

Friday, 11 March 2011

Lembah Tidar Suatu Hari di Februari 2011

Selama bertugas di 7 kota besar Indonesia saya sempat memanfaatkan jeda waktu sehari untuk visit ke keponakan saya yang sedang menuntut ilmu di SMA Taruna Nusantara Magelang Jawa Tengah.
Kalau mengikuti itinerary perusahaan yang menugaskan : 7 - 9 February 2011 saya bertugas di Semarang, 10 - 12 February 2011 di Jogjakarta. Malam tanggal 12 February 2011 saya kembali ke Jakarta dan pagi hari tanggal 14 February saya sudah harus berada di Denpasar Bali. Wuuiii...please deh, lebih baik saya langsung ke Denpasar atau Semarang saja!
Ketika saya berada di Jogjakarta saya ditelpon kakak dan mengarahkan saya bagaimana agar saya dapat mencapai ke SMA Taruna Nusantara.

Check out dari Amaris Hotel pukul 11. Dengan menumpang becak saya menuju Malioboro Plaza, membeli paket J.Co dan Hoka Hoka Bento untuk diberikan ke Asti, keponakan saya. Ya, sekolah di Taruna Nusantara makanan sehari-harinya memang selalu tersedia makanan yang memenuhi syarat 4 Sehat 5 Sempurna. Oleh karenanya mereka jarang mengonsumsi jenis fastfood ;-)

Magelang by Rama Travel
Sekitar jam 14 saya berangkat dari markas travel yang terletak hanya beberapa langkah dari Amaris Hotel, Jln Diponegoro. Duduk di seat depan bersama Pak Sopir dan seorang cewek muda keturunan China yang juga dosen di Unika Atmajaya Jogjakarta. Dari obrolan kecil kami saya menjadi tahu bahwa dia tinggal di Magelang dan mengajar seminggu 2x di Jogjakarta. Melepas dari Jln Raya Magelang - Jogjakarta Pak Sopir kasak kusuk menelpon mencari informasi mengenai banjir lahar di jalan yang harusnya kami lintasi.Hhhmmm,sebelumnya gak terbayangkan saya harus dekat dengan lokasi bencana Merapi. Petualangan yang mengasyikkan ;-) Sedangkan Ibu Dosen disebelah saya sibuk juga membantu mencari informasi dari Blackberry-nya. Info Merapi di Twitter.
Hujan nan deras membuat kami akhirnya memotong jalan. Masuk ke pedesaan-pedesaan yang ketika Merapi meletus daerah tersebut salah satu yang terkena bencana, dekat dengan lokasi Mbah Maridjan. Posko bantuan dari perusahaan multinasional dan station TV masih terlihat dan masih terlihat "aktif".

Friday, 4 March 2011

Tour of Duty : Semarang


Foto : Di depan Gereja Blendug - berjarak 200mtr dari Hotel Raden Patah
Difoto oleh Fika dari atas becak yang berhenti di seberangnya.Hihihi...udah pesan ke Fika : "Aku gak kelihatan gak apa-apa kok,yang penting bangunannya."


Seharusnya dari Surabaya saya dipersilakan untuk pulang ke Jakarta dengan pesawat terbang.Hanya 2 hari di Jakarta saya harus berangkat lagi ke Semarang. Daripada "resek" , lebih praktis dari Surabaya saya lanjut Semarang, tanpa pulang ke Jakarta. Toh Semarang juga merupakan "tanah air" orang tua dan sanak saudara saya.

Transportasi pilihan Surabaya - Semarang :
- Pesawat Terbang : Jarak "dekat", kelamaan di perjalanan dari/ke bandara + check in + bagage claim. Apalagi Bimo lagi di Jakarta, nggak ada yang nganter ke airport.
- Kereta Api : Hanya ada 1 KA eksekutif perhari-nya yang sampai di Sta.Tawang Semarang masih dalam keadaan terang benderang. Kalau sampainya tengah malam sih sebenarnya ada yang bisa menjemput, tapi...maleslah kalau harus celingak-celinguk cari orang yang njemput.
- Bus Eksekutif : Bukan favorit saya! Crowded!
- Pilihan : Travel Shuttle-lah! Beberapa tahun silam ( = > 10thn) saya seringkali melakukan perjalanan Surabaya - Semarang - Surabaya - Semarang dengan jasa transportasi ini. Kali ini saya ingin bernostalgia.

Shuttle Tak Sesuai Harapan
Namuuun...Perjalanan Surabaya - Semarang dengan travel tidak saya nikmati sempurna. Travel dengan 2 pax melewati jalur tengah, Blora - Cepu. Malam hari semua gelap.Yang harusnya mobil KIA Pregio baru, namun rusak, akhirnya diganti L 300 tanpa seatbealt. Walaupun AC berfungsi baik namun saya merasa mikrolet-mikrolet baru di Jakarta masih lebih baik. Di Blora pukul 1 - 2 malam masih berhenti di warung makan,tapi saya lebih memilih tidur di mobil. Sebelum berangkat saya sudah makan masakan Jepang di Royal Plaza Surabaya. Di Blora juga kami menjemput 1 pax.
Ah,ini sudah merupakan pilihan saya menggunakan jasa transportasi ke Semarang, so saya harus terima resiko, termasuk saat saya muntah (Justru saat sudah sampai Plamongan Indah Semarang!). Untungnya saya belum booking hotel berbintang, dengan pertimbangan check in pukul 12 - 14 sedangkan saya tiba di Semarang pada hari masih gelap - Shubuh, jadi saya berniat transit dulu di Hotel Raden Patah sambil menunggu waktu check ini hotel berbintang.
Semalam saya hubungi Hotel Raden Patah untuk memesan kamar favorit. Nah, rencananya saya mau booking hotel berbintang dari travel agent 24 jam yang berada di seberang Hotel Raden Patah.
Dikarenakan saya merasa tidak total fit (sepertinya saat tidur di perjalanan, sopir membuka kaca jendela sehingga membuat saya agak masuk angin) saya memutuskan untuk stay di Hotel Raden Patah dengan pertimbangan kalau "ada apa-apa" saya bisa memanggil petugas-petuugas hotel yang sudah saya kenal atau menelpon saudara-saudara yang tinggal tidak jauh dari hotel.
Hotel Raden Patah boleh dikatakan sebagai hotel terawal beroperasi di Semarang. Hotel melati bersejarah di pusat kota lama Semarang yang pernah masuk list Lonely Planet, hanya sejengkal dari Gereja Blenduk yang sangat populer. Sayangnya Hotel Raden Patah saat ini tidak dikelola secara profesional total, andai iya pastinya bisa jadi hotel butik bersejarah. Tapi harganya pasti melonjak jauh, jadi lebih baik seperti sekarang aja dah...supaya daku bisa transit bebas dan numpang cuci baju atau minta tolong ke petugas-petugas secara kekeluargaan jika ada keperluan (misalnya : Order taksi/becak, beli makanan...sayangnya, kemarin saya gak bisa order Mbok-mbok pijat.Yang tersisa tukang pijat cowok...waduh kalau urusannya kaku terkilir sih masih bisa kaaallliiii...Mbok pijat "langganan" saya di Hotel Raden Patah sudah meninggal dunia beberapa waktu lalu...hiks.)

Hotel Raden Patah - Candi Plaza - JOG(lo)SEMAR


Yup...akhirnya rute saya tiap pagi adalah HRP - Candi, dengan taksi yang saya order hanya Rp 20.000 ! Gara-gara ini saya jadi malas diantar/jemput klien...hahaha,ntar ketahuan kalau saya nggak nginap di hotel berbintang khan bisa "diprotes".


4 malam di Semarang, dilanjutkan ke Jogjakarta by Travel Shuttle Joglosemar...nah kali ini perjalanan nyaman, mobil Suzuki Elf baru dan penanganan profesional. Yang memesankan tiket travel-nya....resepsionis Hotel Raden Patah, termasuk yang mengantar saya ke Semarang Tourist Information Office di Jl.Pemuda Semarang pada saat Shubuh.Saya menitipkan sebagian barang di Hotel Raden Patah untuk ditinggal selama 3 malam ke Jogjakarta dan Magelang. Setelah bertugas di Jogjakarta dan visit to SMA Taruna Nusantara saya kembali ke Semarang. Sayangnya dari Jogjakarta 'Joglosemar Jogjakarta Office' tidak dapat memastikan apakah ada shuttle yang bisa mengantar saya ke Magelang dikarenakan banjir lahar dingin di Muntilan yang susah diprediksi. Akhirnya saya-pun memakai jasa travel lain yang sudah sejak lama eksis di dunia transportasi. Pfuuuh, mosoq gak ada seat bealt dan gak ada AC perjalanan Magelang - Semarang...tetapi untunglah tiket office-nya dapat memberikan saya seat samping sopir dan dekat jendela, selain itu ketika saya katakan bahwa saya minta diturunkan di Hotel Raden Patah pak sopir-nya langsung mengerti dan mengantar saya.Dan tanggal 14 February 2011 berangkat ke Denpasar Bali. Berangkat dari Hotel Raden Patah jam 5-an pagi, di-orderin taksi sama Tutur yang lagi tugas sebagai front office. Naik taksi dari Hotel Raden Patah ke A.Yani Airport sekitar Rp 35 ribu-an dengan perjalanan yang sangat lancaaarr....

Friday, 4 February 2011

Surabaya Heritage Track


Tahun baru China, Imlek saya masih berkutat di Surabaya - sementara Bimo malah ke Jakarta. Sedangkan Fajar yang beraktifitas di bandara masuk dari pagi sampai jam 2 siang. Jadilah saya menuju House of Sampoerna seorang diri. Dari majalah pariwisata saya mendapatkan informasi mengenai 'Surabaya Heritage Track', semacam tram yang digunakan untuk turis dan gratis. Oleh karenanya sehari sebelumnya saya sudah booking untuk 3 orang.

Pagi hari saya cari-cari info akses menuju ke lokasi House of Sampoerna. Menurut Oom Aan nggak banyak orang yang mengerti daerah sana. Saya katakan bahwa menurut petugas yang kemarin saya telpon katanya di area Jembatan Merah. Oom Aan menyarankan saya naik bis kota yang melewati depan tempat saya menginap. Yang bener aja loe?! Niat plesiran dengan santai mosoq di suruh naik bis kota?! Alternatif berikutnya naik taksi. Memang taksi di Surabaya nggak mahal, nggak sampai 5 juta-lah dari Jl.A.Yani hingga Jembatan Merah. Saat menunggu taksi yang lewat di depan saya justru bis kota...ya sudahlah, iseng naik aja deh, kalau kepanasan khan bisa turun di jalan kemudian melanjutkan naik taksi.
Tetapi akhirnya saya menumpang (eh bayar tapinya!) hingga dekat JMP. Waktu bayar Rp 3000,- sempat nanya ke Mas Kenek-nya,"Mas, kalau mau ke Jembatan Merah turun dimana ya?" Yang langsung dijawab si Mas,"Loh, JMP iku podo karo Jembatan Merah, Mbak'e..." Ooo...gitu, ternyata JMP adalah kepanjangan dari Jembatan Merah Plaza. Sorry,Bro...I'm tourist gratisan...hahaha...;-p

Belum sampai di JMP saya melihat papan penunjuk arah 'House of Sampoerna'...yup, langsung turun dan naik becak Rp 5000 ,- Yiiiihhhaaa, naik becak! Dengan berbaik hati si Tukang Becak menurunkan saya tepat di depan HoS. Surabaya Heritage Track terdapat di depan bangunan timur. Saya langsung mendaftar ulang dan mendapatkan tiket untuk tour yang jam 13 plus dikasih Surabaya Heritage Map.

Sambil menanti waktu saya berkeliling museum dan gallery yang terdapat disana. Ah, andaikan semua industri lokal berkwalitas international memiliki fasilitas seperti ini, pastilah dunia pariwisata Indonesia dapat lebih baik lagi.
Selain itu saya sempat menikmati minuman "Ice Chocolate" di cafe-nya.


SHT : Lunar Track


Singkat cerita, saya sudah harus berkeliling kawasan kota lama Surabaya. Kawasan pecinan di masa lalu, kawasan Eropa, kawasan Arab...betapa kaya-nya negeri-ku ;-) Hingga akhirnya kami berhenti dan singgah di satu klenteng tertua (Didirikan tahun 1830) di Surabaya - yakni Klenteng Hok An Kiong, tepatnya di Jln.Coklat. Sekitar 15 menit kami singgah. Mereka sembahyang, merayakan tahun baru Imlek.

Tak terasa waktu tour selama 1 jam telah selesai, diantara-nya kami melintasi Jln.Bunga Jepun dan beberapa jalan yang dipenuhi oleh bangunan bersejarah Surabaya yang masih terawat, termasuk jam "bigben"-nya Surabaya.
Nostalgia juga bagi saya, karena di masa kecil saya beberapa kali melintasi kawasan ini bersama papie tercinta ;-)

Sambil menunggu tour berikutnya (jam 15) saya menuju lantai atas 'HoS', terdapat toko souvenir yang barang-barangnya sangat menarik dengan harga lumayan terjangkau. Saya-pun membeli beberapa postcard bergambar, khusus postcard bergambar 'Jalan Kembang Jepun di Masa Lampau' saya kirimkan dengan perangko Surabaya Heritage Track ke tujuan rumah saya di Jakarta. Biasa...untuk koleksi ;-)

Tour berikutnya dimulai pukul 15.00. Surabaya yang semula terik tiba-tiba berubah menjadi hujan deras. Kami-pun hanya melintasi Tugu Pahlawan, tanpa turun dari tram. Kemudian tram menuju ke PTPN XI.
Saya merasa pernah berkunjung ke tempat ini beberapa kali, terakhir tahun 2005. Setelah saya ingat-ingat saya-pun menelpon Mbak Nana di Jakarta untuk konfirmasi.
Saya : "Mbak, Mbak Hera tuh kerjanya di PTPN XI khan ya?"....bla...bla...bla...ternyata benar, bangunan bersejarah nan megah ini merupakan kantor Mbak Hera - adik iparnya Mbak Nana (kakakku ke-5). Yup, tahun 2005 saya dan beberapa kerabat menjemput Mbak Hera di gedung ini.

THEME TOUR*
"Lunar Track", on 28 Jan - 27 Feb 2011
Weekend Fri to Sun
Hok An Kiong Temple - Boen Bio Temple -
Kampung Kapasan Dalam
1. 09:00 - 10:30
2. 13:00 - 14:30
3. 15:00 - 16:30

*Others tours will follow regular schedules

All tours depart from House of Sampoerna

Saturday, 22 January 2011

Traveling # Holiday


Rasanya baru kemarin terpikir,"Ih, pengen deh menikmati suasana kerja baru..."
Rasanya baru kemarin berharap,"Keliling Indonesia..."

Rasanya baru kemarin menggerutu,"Kalau mau nugasin kerjaan yang jauh sekalian dong, jangan cuma Bogor!" (Waktu ditugasin observasi project Ammusement.)


Taaarraaa...12 January 2011 ada telepon dari nomor tak dikenal, yang ternyata eks-Field Manager di tempat saya beraktifitas sekarang, menawarkan pekerjaan dengan kondisi dan situasi seperti yang tercetus diatas! Serba cepat! Hari itu juga saya bertemu dengan Business Director perusahaan yang menawarkan pekerjaan tersebut. Keesokan hari-nya, jam 10 harus mulai mendapat jadwal mewawancara investor di Jakarta Barat! Wawancara dilakukan di J.Co St.Moritz...hehehe, berhubung saya Interviewer Profesional jadi saya tidak mengatakan bahwa saya juga menjual apartment mewah tersebut, padahal Responden tersebut begitu antusias menceritakan kenyamanan berada di PX St.Moritz. Tanggal 23 November 2010 saya Seminar Motivasi di lantai 5 PX St.Moritz ;-)

Setelah tugas Jakarta selesai, maka saya segera keliling 6 kota di Indonesia, yaitu : Bandung - Surabaya - Semarang - Jogjakarta - Denpasar - Medan. Biarpun saya bukan tipikal orang yang menyukai bekerja sambil traveling, tapi saya akan melakukannya. Nggak ada salahnya-lah! Sebenarnya hanya Medan yang belum pernah saya kunjungi.Hehehe,padahal "Sang Mantan" lahir di daerah ini.

Tadi sore saya sudah booking 'Day Trans' untuk ke Bandung pada tanggal 24 January 2011. Untuk transportasi udara dan akomodasi saya lebih memilih agar perusahaan yang mengaturnya. Lah khan lagi kerja, bukan lagi jadi Independent Traveler....jadi biar aja perusahaan yang mengatur...hehehe.

Kesampai'an juga deh plesiran di bulan February 2011 yang pernah saya ungkapkan di : blog Never Ending Journey . Disana khan saya mengungkapkan keinginan untuk plesiran di bulan February 2011. Memang sih tidak plesiran murni, tp Alhamdulillah namanya rezeki mosoq sih ditolak...apalagi anggarannya puluhan juta ;-D

Wednesday, 10 November 2010

Bantimurung : Dimana Kupu Kupu Mengalir Sampai Jauh

Setahun yang lalu, tepatnya 7 November 2009 – saya berkunjung ke Bantimurung yang terkenal dengan air terjun dan pendaran kupu-kupu cantik yang beterbangan. Teringat lagu saat kanak-kanan nan indah...

♪“Kupu Kupu yang lucu...kemana engkau terbang...hilir mudik mencari bunga-bunga yang kembang..........................................Tidakkah sayapmu merasa lelah?”♫

Berlatar Taman Nasional Bantimurung
Dari Jln Sultan Hasanuddin Makassar menuju lokasi Bantimurung buat ukuran orang yang terbiasa tinggal di wilayah Jabotabek tidaklah terlalu jauh. Sekitar 45 kilometer dari pusat kota Makassar. Saya mendapat pinjaman Daihatsu Taruna dari rekan kakak saya, salah seorang Kepala Dinas Daerah Takalar. Kami bertiga, Ardian Y dan Laode dalam satu mobil belum ada yang pernah kesana, sedangkan kami bertiga juga pendatang dari Jakarta, Bekasi dan Surabaya. Tanpa peta pemandu apalagi GPS kami hanya nekad mengikuti petunjuk dari rekan sekerjanya Ardian dan Laode. Sempat juga bertanya ke satu warung sekalian membeli minuman.
Melalui tol dalam waktu yang tidak memakan waktu 1.5 jam kami tiba di lokasi, kecamatan Bantimurung – Kabupaten Maros. Terpampang jelas di dinding bukit nama taman wisata Bantimurung. Wah, nampaknya mau menyamakan dengan tulisan Holywood di Amrik sana nih...hehehe. Dengan mudah pula menemukan tempat parkir di depan pintu gerbang masuk lokasi wisata. Tiket masuk juga relatif murah, @ Rp 5,000 ,- untuk dewasa dan @ Rp 4,000 ,- untuk anak – anak. Begitu melintasi pintu gerbang kami langsung membaca papan pengumuman dan peta lokasi wisata. Wahana utama adalah Air Terjun Bantimurung yang letaknya tidak terlampau jauh dari peta lokasi, kemudian ada beberapa goa – yakni Goa Mimpi dan Goa Batu yang jaraknya hampir 1 kilometer. Tetapi sebelumnya kami mampir ke Museum Kupu Kupu yang terdapat tak jauh dari tempat kami berjalan. Sayang sekali, ruang museum yang hanya seruangan tersebut kurang terawat secara baik. Deretan jenis kupu – kupu cantik tampak dibiarkan begitu saja. Padahal kalau ditata dengan seksama dan didesain dengan benar kupu – kupu tersebut maka ruangan museum tersebut dapat menimbulkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ada kupu – kupu yang bermotif aneka batik, biru dan hijau toska...aaaiiih cantik sekali deh!

Didekat pintu masuk terdapat barang dagangan dihamparkan, ada t-shirt, gantungan kunci kupu – kupu dan beberapa benda lagi khas Bantimurung. Ditata ala kadarnya. Padahal kalau di tata secara apik seperti toko souvenir profesional ruangan tersebut dapat memiliki nilai jual juga khan. Jelas, bahwa sesungguhnya Bantimurung memiliki prospek yang bagus dalam bagian pengembangan pariwisata nusantara, diantaranya tercetus oleh Alfred Russel Wallace (1823 – 1931) dalam bukunya ‘The Malay Archipelago” menyebut bahwa Bantimurung adalah “The Kingdom of Butterfly” pada kunjungannya ke sini di tahun 1857. Konon Bantimurung yang terletak 12 kilometer dari ibukota kabupaten Maros ini memiliki kurang lebih 150 species kupu – kupu. Bayangkan....hal yang seharusnya kita jaga kelestariannya. Kekayaan yang mewarnai keindahan nusantara ini terasa kurang disadari oleh kita sehingga berangsur beberapa jenis spesies kupu – kupu itu musnah.
Keluar dari ruangan museum kupu – kupu seorang pedagang gantungan kunci menawarkan barang dagangannya ke kami. Saya memang berminat untuk membelinya tetapi saya pikir lebih baik nanti saja setelah saya menjelajah kawasan wisata Bantimurung ini. Tanpa memaksa membeli dagangannya pedagang tersebut mengikuti kemanapun kami berjalan. Kami sih tidak merasa terganggu, apalagi sekali – sekali kami sempat bertanya beberapa hal kepadanya sesuatu yang kami tidak mengerti, termasuk lokasi pasti dan isi dari goa – goa yang terdapat disana.

Air Terjun Bantimurung. Ngebasahin kaki doang..hehe
Akhirnya pedagang gantungan kunci itu menjadi guide tak resmi. Menjelaskan jalan dan obyek yang terdapat di Bantimurung. Kami memutuskan ke goa Batu. Tentunya sebelum ke sana kami ke Air Terjun Bantimurung terlebih dahulu. Memang rute jalannya harus melewati sih.....
Tampak air terjun pendek menyusun di hamparan kami. Memang sayang sekali jika ke Bantimurung tanpa merasakan berenang atau menikmati derasnya air yang mengalir. Waduh, tetapi hari itu benar – benar wardrobe yang sedang saya gunakan adalah wardrobe untuk para window shopper di mall city ...hahaha....Jadilah saya hanya menciprat – cipratkan air dengan tangan. Itu-pun sudah merasa kesegaran air yang mengalir. Di tepi air terjun terdapat karang – karang , seperti pintu masuk gua memanjang, disana terdapat hamparan tikar. Bagi pengunjung Bantimurung yang tidak berenang maka dapat menikmati hidangan yang mereka bawa disana. Kami berfoto sejenak, kemudian melanjutkan jalan setapak ke Goa Batu.

Tak jauh sebelum memasuki goa Batu kami menyewa senter untuk penerang dalam goa. Terlihat ada sebuah makam di dekat sana, ternyata mereka menyatakan bahwa itu adalah makam Raja Bantimurung. Kalau melihat kondisi makam yang seperti tidak dipedulikan berarti berbeda dengan kondisi di beberapa bagian pulau Jawa, yang makam saja bisa dijadikan “wahana wisata”. Di mulut goa juga ada meja yang menyewakan lampu penerang (senter). Yang bikin saya bengong ada rombongan yang membawa petromax...hahaha...Kondisi goa memang gelap pekat andai kita tidak menyalakan lampu penerang.

Penjual gantungan kunci yang sejak di museum kupu – kupu menjelaskan kepada kami mengenai cerita dan kondidsi goa. Di dinding ada batu yang membentuk monyet khas Bantimurung. Oh ya, ketika memasuki lokasi wisata kita memang akan disambut oleh patung besar monyet Bantimurung. Jadi menurut saya, ciri khas Bantimurung adalah Kupu Kupu dan Monyet. Hhmmm...keindahan yang saling melengkapi.

Di dalam goa juga terdapat batu yang konon jika seseorang memohon sesuatu maka akan dikabulkan. Caranya dengan mengikat seutas tali pada batu tersebut. Saya tidak minat untuk mencoba, termasuk tidak minat membasuhkan air ke wajah yang terdapat di dalam goa tersebut yang konon bisa membuat awet muda. Memohon sesuatu dimanapun pasti akan dikabulkan-Nya, asalkan permohonan kita tulus untuk kebaikan. Soal air awet muda, saya percaya saja asalkan membasuhnya tidak hanya saat itu – harus rutin setiap hari. Air tersebut khan tidak terkena polusi kotoran kimia, secara di dalam gua gituh, jadi kebersihannya pasti menyegarkan dan membuat kulit kita bersih alami. Logis khan kalau dikatakan air tersebut membuat kita awet muda?! Di dalam goa kami juga ditunjukkan sebuah cekungan batu yang biasa digunakan Raja Bantimurung untuk melaksanakan shalat.

Puas menyusuri kami keluar. Di dalam goa cukup licin, jikalau mau berkunjung dan masuk goa sebaiknya memang menggunakan sepatu yang nyaman untuk menyusuri jalan batu/tanah licin yang tidak rata.

Versi majalah KARTIKA - Sahabat Wanita Muda Edisi Juli 2010 : Pegunungan Karst Bantimurung - Sulsel masuk dalam '50 Tempat Liburan Terindah dan Murah : Must Visit Before You Die!'

Friday, 3 September 2010

Obat Pening Bernama Rawa Pening




Sebagai anak yang seringkali diajak berpetualang ke daerah Jawa Tengah dan memiliki basecamp di Semarang dan Kebumen, maka sejak kecil saya seringkali melewati area wisata 'Rawa Pening' yang terletak di Jalan Raya Semarang - Salatiga di Ambarawa Kabupaten Semarang.
Saya tak ingat untuk keberapa kalinya saya berkunjung ke daerah ini. Memang seringkali melewati tetapi jarang menyempatkan diri untuk menikmati Rawa Pening lebih lama. Area wisata ini terasa mistis - apalagi ditambah dengan legenda-nya yang berhubungan dengan naga. Aaah, kaya rayanya negeriku!
Tahun 2008 saya dan Mas Tunggal keluarga sempat mampir ke area wisata ini. Menyewa perahu dan berkeliling di danau...or rawa kali yaaa, yang kenikmatannya justru jitu sebagai obat pening. Nggak percaya?!...Coba aja.Nggak ampuh?!...nyebur ajah! ;-D