Sunday, 16 May 2010

Parahyangan, Riwayatmu Duluuu....



Anna memang bukan orang yang rutin ke Bandung, dan juga bukanlah orang yang gemar dengan kota Bandung. Memang sih di tahun 1999 Anna sempat laju Jakarta - Bandung bersama Titis, Dian dan Erni karena kami sempat menjadi salah satu suplier bed cover di depstore terkenal di kota tersebut, dan kendaraan yang kami pakai adalah Kereta Api Parahyangan yang tanggal 27 April 2010 menghentikan operasionalnya. Banyak orang yang sedih, khususnya yang menyimpan kenangan dalam kereta tersebut. Saya memang tidak memiliki banyak kenangan di kereta tersebut, namun Anna memiliki beberapa kesan kenangan terhadap kereta Parahyangan ini.
Terakhir kali Anna menggunakan jasa transportasi Parahyangan adalah 5 tahun lalu, dibulan Mei 2005, Jakarta - Bandung - Jakarta bersama Wawan, pengurus FLP. Ketika itu kami ke Bandung dalam rangka Musyawarah Kerja FLP Pusat.
Alhamdulillah, ternyata kenangan tersebut masih tersimpan dalam tiket kereta api 'Parahyangan'. Foto ini adalah tiket kami berdua.....
Parahyangan,,,,riwayatmu duluuu....

Saturday, 8 May 2010

1st Indonesian Hot Air Balloon Adventure


Tanggal 28 Maret 2010 seusai acara di Pasar Rebo, Anna,Ibu, Mbak Lien, Mbak Nana dan Owien ke Sentul. Bukan berniat nengok ruko yang lagi dikontrakkin ke Een, tapi di Sentul lagi ada acara 1st Indonesian Hot Air Balloon Adventure. Acaranya tanggal 26 - 28 Maret 2010. Rameee banget. Mobil kami parkir di depan Mesjid Andalus , masih di kawasan Sentul City. Daerahnya sendiri bagi Anna nggak "asing" karena beberapa waktu Anna pernah tinggal disini.
Acara gede dan pertama di Indonesia ini sayangnya tidak maksimal. Banyak pengunjung yang kecewa dengan ketiadaannya aneka baloon tersebut. Katanya sih faktor cuaca yang menghalangi. Anna aja cuma bisa nyengir doang gak kebagian jatah menyaksikan baloon tersebut, tapi malah tambah cengar cengir mengingat aneka kejadian bersama Mr.AY dan Mr.Di disekitar Sentul City....Ah, Sentul City,tempat yang pada tanggal 26 - 28 Maret 2010 macet dan padat itu ternyata dapat "menyembunyikan" aneka kejadian antara saya dan 2 manusia itu...hehehe...
Selametlah si Owien karena baloon-nya gak terbang...di mobil tadi Anna ngomong ke dia,"Win, nanti aku mau motret kamu dengan gaya seperti Russel di film animasi UP yaaa....". Pastinya Owin ogahlah. Ngerti khan gayanya si Russel, anak pramuka di film UP??? Film yang Anna tonton berdua Rahyudhy di La Piazza Kelapa Gading.



Sunday, 14 March 2010

Wisata (nganter) Belanja


Anchee..Ktemuan di tamini yuks jm 1an.bisa ga?Skalian jln2. (SMS dari Dian Sadewa pukul 11.20) yang merupakan susulan dari SMS : “Ance aku pesen jam time piece set 198.900 (ref.CPU 1) sama tas lonie 159.900 (ref.lt 557k)” yang semalam dikirim.
Pesenan produk Sophie Paris, salah satu brand MLM Fashion No.1 di Indonesia yang aku masuki. Sophie Paris memang memiliki 3 showroom di Jakarta, di Plasa Semanggi Jakarta Selatan, Tamini Square Jakarta Timur dan Citraland Jakarta Barat. Setekah “kasak kusuk” dengan Dian dan Gege yang sedang di Bintaro, akhirnya kami sepakat bertemu di Plasa Semanggi. Hhhmmm..mereka naik mobil pribadi dari Bintaro dan melaju duluan ke Plasa Semanggi, sedangkan aku yang harus ‘memakai jilbab’ plus naik busway dari Rawamangun beberapa menit setelah mereka melaju justru sampai 10 di Plangi lebih cepat dibanding mereka.
Setelah sejenak melihat kondisi showroom yang lumayan luas, kami menyodorkan barang pesanan yang akan dibeli. Saya membeli Sophie Lipstick Ice Pink, sedangkan Dian membeli sepasang jam tangan untuk pria dan wanita. Sekalian beli Bienvenue Sophies Kit alias starter kit untuk mendaftar sebagai member Sophie Paris. Hari itu juga Gege bergabung menjadi member Sophie Martin. Dian belanja lagi deh, tas, setelah saya menikmati makan siang Soup Ikan Batam di foodcourt Plangi. Menuju parkiran mobil, kami mampir ke Giant – Dian en Gege belanja belanji,khususnya untuk keperluan Hana. Di Giant Bimo sempat menelpon dan menawari saya sambil menyuruh saya agar merayu Gege untuk mau diajak ke pameran komputer dan Islamic Book Fair di Senayan. Gege nggak bisa ikutan, karena meninggalkan Hana dengan mertuanya. Sedangkan saya jika ikutan mobilnya Bimo juga gak memungkinkan karena Bimo membawa mobil Starlet dan sudah ditumpangi oleh Fajar, temannya Bimo, Mbak Nana dan Owien.Kata Bimo,”Makanya ajak Gege,Nce, supaya muat orangnya, khan kalau di APV muat banyak tuh.”
Sore itu saya ikutan APV menuju Buaran. Niat hati seh mau ber-spa ikan di Buaran Plaza – tapi keasyikan ngenet pakai Mobie di Blok Z and maen sama Kany...nggak jadi deh!

Ke Senayan??Olah Raga??!
Keesokan harinya, Ahad 07.03.10 Galuh dan Mbak Yoen bersama Altis Hitam-nya sudah “membuat keributan” di depan rumah Pulo Mas. Benerannya Mbak Yoen udah nelpon ke hape saya,tapi saya yang sedang di toilet tidak dengar. Maksudnya Mbak Yoen nelpon, memberitahu bahwa mereka mau menjemput ibu dan saya untuk mengajak ke Plasa Senayan. Jadinya saya dan ibu “heboh” berganti baju, dari baju rumah ke baju yang lebih layak untuk jalan-jalan! Repotnya saya adalah memadu padankan baju en jilbab, karena beberapa baju en jilbab masih di laundry! Aaarrrgghhh...cuek dah, toh gue bukan Miss Indonesia yang harus tampil “layak” (meskipun saya beberapa kali masuk finalis en menang di kompetisi yang membutuhkan performance total seh! ;-p). Begitu pinggul mendarat di jok belakang Altis, Galuh dari balik kemudi komentar : “Jilbab loe kok megar-megar gituh sih,Nce?!”...Yaaa,gimana dung, emang belum sempet disetrika secara baik dan benar.Tuh jilbab juga tadi masih ada label ‘Rabanni’-nya....hiiii,alias belum pernah dipakek!
Di parkiran Plasa Senayan, dengan mudah kami menemukan tempat parkir. Masuk ke Plasa Senayan dan masuk ke showroom Kate Spade. Saya seneng lihat produk Kate Spade yang full colours dan segar (ruuujjjaaaakkk kaleeee segar!). Dari Kate Spade, kami menuju ke Metro. Di Metro beraneka ragam tas bertumpuk-tumpuk di-discount hingga 50%, ada yang merek-nya Guess,Toscano,Nine West, les Catino, Pere Cardin, dan aneka brand level “menengah” yang harganya sekitar 1 juta hingga 3 juta rupiah belum termasuk discount. Semula ibu saya berminat membeli salah satu tas yang ada disana,eh tapi justru saya komporin untuk membeli tas Sophie Paris yang saya pasarkan...whehehe....or mendingan beli emas aja dah,Bu, supaya bisa diwarisin ke kami nanti..whihihihihi....*dikutukjadibatu.com, Malin Kundang aja gak gini-gini banget. Perjalanan dari Metro berlanjut ke showroom Zara sambil melirik-lirik aneka showroom brand, seperti LV dan sejenisnya (baca : merek “menengah keatas”). Di showroom Zara saya sempat mupeng dengan beberapa dress. Bahannya itu looooh, nyaman banget kalau untuk witness Interviewer saya ke responden! Sorry dah kalau cuma buat gaya-gaya-an di kantor. Buat apa tampil modis kalau harus “sadis” terhadap diri ndiri?! Justru kalau kerja di lapangan dress yang kita kenakan sebaiknya yang nyaman.
Galuh membeli 2 t-shirt di showroom Zara, dan dikomentarin oleh ibu,”Kaos seperti itu di (pasar kaget) Pacuan Kuda pagi2 harganya limabelas ribu dapet dua.” Bwahahaha....Galuh nyengir kuda dah kaos Zara-nya disama’in sama yang di Pasar Kaget. Dosqi “bela diri” bahwa bahannya berbeda dengan yang murah, dan dia suka dengan bahan seperti itu (baca : kaos Zara). Saya mah santai aja nyahutin,”Aku dulu kaos Esprit, Beneton, Guess,Naf Naf aku pakai untuk tidur. Original loh.”. Hhmmm..emang “surga” banget deh dulu, bahkan kakak saya yang di Belanda pernah ngirim produk ber-brand hingga berkoper-koper!!! Saya sih cuek aja memakainya, lah parfum original Chanel No.5 aja saya pakai untuk senam pagi...hihihi...”norak” gak seeeh????
Dalam urusan belanja ibu saya dan bapak saya memang “berbeda”. Bapak saya selalu membeli produk dengan brand kelas premium, sedangkan ibu saya gak terlalu peduli dengan brand (kecuali untuk parfum, yang harus beli di luar negeri , brand tertentu dan asli!).
Dari Zara Plaza Senayan kami menyeberang ke Senayan City. Melintasi beberapa toko bermerk, diantaranya Botega yang memajang produk aneka tas yang sempat saya komentarin,”Seperti motif tikar dikasih warna!” Huiiii...pengrajin Indonesia, tingkatkan mutu produk kalian menjadi kwalitas premium dan ciptakan brand kalian! (Belajar deh ke Hermawan Kartajaya ;-D).
Sampailah kami di Debenhams, department import yang jadi favorit pembelanja di Indonesia. Mbak Yoen bolak balik mematutkan diri di cermin dengan tas – tas yang akan dibelinya. Menurut Galuh, emaknya udah bolak balik ke Dabenham untuk nyobain tas yang ditaksirnya itu. Akhirnya terbawa juga satu tas merk Bonia ke kasir, yang pastinya langsung dibayar dengan kartu kredit oleh Mbak Yoen.
Dari Debenham, kami menuju ke lantai atas. Cari makan. Masuklah kami ke Urban Kitchen. Btw saya udah lama juga ya gak ke Urban Kitchen ini, terakhir waktu ketemuan dengan Rinaldi, Pak Aswin, Dani dan Hendra untuk merancang acara penerbangan. Di Urban Kitchen saya memilih makanan Thailand di Thai by Sup Sip. Pelayanannya payah, saya nunjuk makanan eh tanpa melihat pelayannya bilang kalau itu adalah mie apa gituuuuhhh...padahal udah jelas makanan tersebut gak ada mie-nya! Sampai 3x tuh pelayan cewek salah nyebutin nama makanan yang saya tunjuk tanpa mau melihat dulu apa yang saya tunjuk! Huh!
Di tengah keasyikan menikmati makanan saya mengisi form promo yang tadi diberikan kasier Debenhams, undian dapet sepatu “bermerk” dan produk Lancome. Untuk promo Lancome-nya gak jadi kami pakai karena Galuh yang mau nuker harus didandanin dulu, katanya sih supaya ngerasa sensasinya pakai produk tersebut. Laaah, anak umur 20-an kok disuruh nyoba produk untuk orang dewasa. Merek ini justru dulu jadi salah satu favorit ibu saya, tapi sekarang ibu saya jarang pakai kosmetik yang selevel dengan produk tersebut. Kata ibu, kalau pakai kosmetik atau perawatan yang mahal sekarang bikin kulit ibu saya berminyak. Hebat yeee emak gue, usia 70-an aja masih lembab kulitnya....
Sebelum Maghrib kami-pun pulang. Menyeberang ke Plasa Senayan lagi – tempat Altis terparkir. Hhhmmm....olah raga jalan kaki di Senayan sekarang agak sulit ya? Yang ada “olah raga” mata menyaksikan barang branded, menyebrang antara SenCy dan Plasa Senayan aja kita udah kewalahan melihat laju kencangnya kendaraan!

Friday, 4 December 2009

[Sulsel 2009] TransStudio Makassar


Dibuka untuk public tanggal 09.09.09 menurut info yang saya dengar dan baca bahwa inilah pusat permainan dalam ruangan terbesar di Asia (bahkan ada info terbesar di dunia). Kesempatan untuk datang ke TransStudio Makassar justru bareng dengan Mr.Ardian Yunianto tanggal 08.11.09, lebih cepat dari perkiraan karena saya dan keluarga sebenarnya sekelebatan berencana ke Makassar sekitar bulan December 09 atau ....kalau ada kesempatan. Hehehe, Mas Tunggal dan keluarga bahkan berencana ke Makassar sejak mertuanya masih ada – mungkin mengajak mertuanya untuk bernostalgia. Mbak Rita dan ke-2 adiknya lahir di Makassar. Tetapi hinggal 07.07.07, meninggalnya Sang Ayah, Mbak Rita dan Mas Tunggal belum sempat mengajak Sang Ayah ke Makassar kembali. Ibu saya juga udah “pesan tempat” andai kami ke Makassar. Beliau sih sudah pernah ke Makassar, ketika salah satu keluarga terpandang Makassar memiliki hajat.
Selesai menonton film ‘Perjaka Terakhir’ di Mall Ratu Indah 21, saya berdua Mr.Ardian Yunianto langsung naik taksi ke TransStudio Malassar di bilangan Tanjung Bunga. Waktu nonton sih ber-5, tapi kemudian rekan-rekan Mr.Ardian Yunianto itu makan dulu di salah satu cafe yang ada di mall tersebut.
Kebayang gak sih ke tempat permainan ini cuma berduaan??? Huuuaah, mau teriak – teriak juga gak seru kaliiii....Kalau nggak di Makassar mah gue ogah banget, apalagi pengunjungnya termasuk kalem-kalem. Nggak “liar” seperti daku , or saudara-saudara kalau udah ngumpul. Hahaha....Permainan yang kami berdua rasakan pertama kali adalah kincir angin...itu tuh permainan standard yang ganti-gantian diatas dibawah dengan putaran yang super santai. View-nya mentok tembok! Duuuh, posisinya gak ada seru-serunya banget dah! Si Kodok dengan santai-nya bilang bahwa seumur hidup dia baru 2x naik permainan tersebut, pertama saat dia masih kecil dan berikutnya ya saat di TransStudio bareng aku itulaaah....Syeeet daaah, selama hidup kerjanya ngapa’in aja, Om!?
Permainan “gratis” yang tersedia dalam sekejap kami coba. Khas anak-anak deh, untuk saya yang senang bermain dengan permainan adrenalin tinggi (walaupun terkadang sambil merem atau teriak histeris.) wahana di StudioTrans termasuk super santai....Tiket masuknya @ Rp 100.000 ,- (Kalau udah punya Kartu Studio Pass jadi @ Rp 90.000 ,-). Dan setelah itu jam 20, kami menuju salah satu theater, ada pertunjukan theater...siapa mencari Cinta gituh....Usaha Floor Director-nya untuk melibatkan penonton sudah sangat baik. Khas banget FD TransTV dan Trans 7 saat kami tapping or live di Studio Jakarta gituh, tapi penonton di Makassar terlalu besar “jaim”-nya...hehehe, padahal kalau di Jakarta penontonnya spontan – antusias en dikasih hadiah!
Selesai nonton, saya dan Mr.Ardian Yunianto melihat – lihat toko souvenir di dekat pintu masuk.keluar theater. Saya beli buku kecil (notes), sticker dan sampul kado. Plastik belanjaannya so kyuuutt.....senang deh lihatnya! Kalau gak terlalu tipis bisa buat goodie bag nan keren! Sampai saya sayang-sayang, khawatir lusuh! Hahaha...
Sebelum malam melarut, kami berdua mampir ke Rumah Makan Khayangan dekat Pantai Losari. Kepiting en Udang-nya mantap euy! Sampai kenyang....dan dengan perut yang full kami berdua berjalan kaki ke hotel...

Tuesday, 29 September 2009

Taman Sari [DIY]

Taman Sari Jogkajarta merupakan salah satu must see di Pulau Jawa. Entah berapa kali saya berkunjung ke Taman Sari. Untuk keterangan lebih lanjut bisa di dapatkan di aneka website yang tersebar di dunia maya. Atau check ke Mr.Wiki....
Idul Fitri tahun lalu, 2 Syawal 1429 H, saya sempat berkunjung ke Taman Sari kembali, setelah beberapa tahun absen ke sana.

Sekedar perbandingan, I’m presenting my picture at this blog.
The first picture I took in 1997, when I visited here with Dian.



Next picture......
Mas Tunggal yang memotret pada 2 Syawal 1429 H atau 2 October 2008. Berbeda dengan kunjungan bersama Dian di tahun 1997 dimana hanya kamilah pengunjung ketika itu, maka di tahun 2008 Taman Sari penuh dengan wisatawan domestik maupun mancanegara. Menurut informasi, pada gempa bumi Jogjakarta 27 Mei 2006 terdapat beberapa bagian yang turut hancur, namun kini telah diperbaiki – hingga Taman Sari kembali bersinar.....




Let’s promoting Indonesia to the world!

Saturday, 26 September 2009

Bandung,I'm Coming...(Jabar 2009)

5 Syawal 1430
Setelah melakukan wisata modern di metropolitan, 24 September 2009 saya berencana ikutan Mas Tunggal dan keluarga ke Pengalengan Bandung Selatan, menikmati suasana perkebunan teh masa lalu,niaaaattnyaaa…
Untuk mempermudah dan menghemat waktu malam sebelumnya saya dan Owien menginap di rumah Amelia, menjajal kamar yang serba baru….hhmmm setara dengan kamar hotel berbintang-lah. Hahaha…dalam beberapa bulan lagi kwalitas kerapihannya diragukan…maklumlah Bimo yang baru saja diwisuda jadi sarjana teknik, kemampuannya di dunia hospitality belum teruji…xixixix…
’20 Menit lagi tiba di Antam.’ : SMS dari nomer 0888xxxxx Mas Tunggal sampai di nomer 08888xxxx di kantong jeans saya pada pukul 10:56. Sebelum berangkat saya dan Owien menyantap Mie instant gelas dan susu cair kaleng dari kulkas Amel dan keluarga…wuikikikik…mumpung penghuninya masih pada menikmati keindahan dreamland. Sementara Mbak Lien, sang nyonya rumah sudah mulai berangkat bekerja.
Saya dan Owien menunggu Tavera tepat di depan pintu masuk gedung Antam TB Simatupang. Lebih dari waktu yang ditentukan, tetapi Tavera belum juga muncul. Saya langsung menghubungi Sekar, dan ternyata mereka masih di Radar Auri Cimanggis !
Mobil datang, kami langsung masuk – travel bag kami masukkan ke dalam bagasi. Langsung masuk ke jalan tol, melaju dan sempat mampir di Km.57. Saya, Owien dan Sekar membeli beberapa makanan dan minuman di KFC yang ada di area tersebut.
Perjalanan lancar, hingga akhirnya…..tidak sesuai rencana kami ke Pengalengan, mobil keluar di Padalarang Kab.Bandung Barat dikarenakan kondisi mobil yang tiba-tiba drop. Kami berhenti di salah satu deretan ruko di Padalarang. Ada tukang bakso tahu dan es cendol+cincau. Mas Tunggal dan Seno mencari tukang oli, sedangkan 4 cewek (plus Mbak Rita) memesan bakso tahu seharga Rp 3000,- s/d Rp 5000,- (pakai telor rebus utuh) serta memesan es cendol dan cincau yang satu gelasnya Rp 2000,-. Tukang cincau-nya bangga banget cincau-nya gak pakai pengawet, saya mah percaya-percaya ajah, tetapi kebersihan dan kehalalan sebenarnya masalah yang utama. Selezatnya makanan kalau gak bersih en gak halal mah sama aja bohong! Kalau makanan “gak sehat” masih bisa saya lawan dengan liquid chlorophyll deh….Tapi kalau gak bersih??! Huh, ngelihatnya aja dah gak selera. Lagipula kebersihan sebagian dari iman.Soal kehalalan?? Haruskah hal ini saya jabarkan? ;-)
Untuk memperkecil resiko terjadinya sesuatu , siang itu kami membatalkan rencana ke Pengalengan. Kami berbelok ke Bandung City. Di toll menjelang Bandung kami memperhatikan billboard2 hotel, langsung memencet nomer hotel – jika sudah nyambung bertanya roomrate dan ketersediaan kamar yang bisa kami pakai malam ini.


Sore ini, kami check-in di Garden Permata Hotel. Memasuki lobby masih terasa nuansa Ramadhan dan Lebaran, serta nuansa Indonesia juga terasa kental. Terdapat mini gamelan dan furniture yang juga menampakkan kekhasan Nusantara. Masuk ke kamar 320, connection door-nya unik. Hamparan kolam renang terpampang di jendela kamar yang saya tiduri bersama Owien, dan kamar tersebut terhubung di living room alias ruang tv dan meja kerja tanpa dibatasi oleh daun pintu! So, begitu Om Fakih beserta keluarga visit ke kamar, kami tidak bisa bersembunyi deh…hahahaha…Yup Om Fakih yang baru saja mendarat di Indonesia dari Jeddah menyusul kami ke Bandung. Cepat banget euy! Padahal saat anaknya, Raihan d isms oleh Sekar dan kami memberitakan bahwa kami dalam perjalana ke Bandung anaknya memberitahukan bahwa Om Fakih baru akan landing di Bandara Soekarno Hatta. Dari luar negeri coy!Loh kok tiba-tiba jam 5-an sudah ada di hotel Bandung.
Kedatangan Om Fakih dan keluarga berkah juga seh, karena mobil Tavera masih belum diperbaiki, jadi saat makan malam kami menumpang mobil yang dibawa Om Fakih. Untungnya lagi yang dibawa Om Fakih mobil Xenia, bukan Timor seperti biasanya. Jadilah kami ber-sepuluh berjejalan di Xenia tersebut. Berasa deh lebarannya…hahahaha..
Dinner ayam goreng serta gurame di belakan Gedung Sate yang ramai oleh banyak rombongan keluarga. Tempat makannya model warung berderet seperti di Blok S Jakarta, dan yang datang-pun bermobil pribadi (Halah kalau nyewa kita juga gak ngerti?! :-D). Di warung sebelahnya saya, Owien, Mas Tunggal dan Om Fakih sempat minum Badsus. Badsus = Bandrek Susu. Yang biasanya disajikan panas, kali ini saya minta ke pedagangnya untuk menyajikan dengan es.
Sebelum balik ke hotel kami mampir ke Rumah Makan TenToTen, beli Cap Cay dan Nasi Goreng untuk “mengemil” di kamar hotel. Melewati Grand Serela Hotel yang 2 tahun lalu tempat saya menginap bersama ibu dan Mas Tunggal keluarga. 2 tahun yang lalu itu kami ke Bandung di bulan September juga, sambil mengambil buku ‘I Love Cooking’-nya Sekar di Penerbit Mizan.
Malam sebelum tidur Seno sempat mencoba wifi dari kamar. Hiks…belum bisa tuh. Sebenarnya asyik juga nih hotel full-WIFI sampai kamar, tetapi kenapa gak connect giniii seeeh…

*poto diambil dari website Garden Permata Hotel.

Thursday, 17 September 2009

Wisata Religi 2 Masjid Indonesia

Lebaran sebentar lagi....masjid – masjid banyak sekali....*nyanyi dengan alunan seperti lagunya Bimbo yang dijadi’in jingle salah satu partai menjelang pemilu beberapa tahun yang lalu.
Yap,kenyataannya masjid di Indonesia memang bertaburan dimana – mana, dan suatu keharusan bagi umat Nabi Muhammad SAW memakmurkan dan “menghidupkan” masjid – masjid tersebut dengan kegiatan positif dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Jadi masjid tersebut nggak sekedar megah bangunannya. Dimanfaatkan secara positif dong, dijadikan base sebagai agen kebaikan gituuuuhhh....Ngebangunnya secara fisik ajah udah mengeluarkan biaya yang pastinya nggak kecil.
Trend yang beberapa tahun ini terjadi adalah masjid – masjid megah ini menjadi area wisata religi. Dua diantara masjid megah tersebut adalah : Masjid Kubah Mas di Cinere Depok Jawa Barat dan Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang.

MASJID KUBAH EMAS

Begitu memasuki jalan utama menuju masjid ini, terlihat bus-bus besar rombongan Majelis Ta’lim dari berbagai kota di seputaran Jawa. Ramai karena saya dan keluarga datang ke sana ketika liburan. Saya dan keluarga datang dengan mengendarai 2 mobil. Mobil kami parkir di tempat parkir yang telah disediakan. Masih jalan menyusuri jalanan yang ramai dari pelataran mesjid yang menjadi salah satu mesjid termewah di Asia tersebut. Pedagang berjajar menawari dagangannya, dari berjualan makanan sampai mainan anak. Lengkap, sehingga mirip pasar kaget! Cenderung semrawut, tetapi memasuki pagar pembatas mesjid semuanya tertata rapi dan bersih. Pintu masuk mesjid untuk pria dan wanita dipisahkan dengan ketat, bahkan mengalahkan “keketatan” pintu masuk di Masjidil Haram. Anak balita tidak diperkenankan memasuki area mesjid, namun pengelola mesjid menyediakan semacam aula yang digunakan untuk anak – anak bermain serta menunggu orang tua mereka memasuki mesjid.
Memasuki mesjid para jemaah wanita diwajibkan mengenakan kerudung/jilbab. Harga mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Saya memasuki masjid, memandang ke atas – nampak ‘cegokan’ kubah bergambarkan awan putih kebiruan langit digelendoti oleh lampu kristal yang konon harga-nya juga selangit.
Jujur, saya tidak merasakan “nyes” di hati ketika memasuki kemewahan tersebut. Atau memang saya yang saat itu tengah bebal sehingga tidak merasakan kemewahan di dalam mesjid yang kubahnya berlapis logam mulia. Tetapi pastinya bukan karena selera saya terhadap barang mahal sedang mengendur......

Masjid Agung JAWA TENGAH

Mesjid ini membuat saya penasaran ingin berkunjung. Melihat foto-foto di berbagai media sih memang membuat tertarik, dikarenakan kompleks mesjid ini memang menjadi basis kegiatan Islamic Centre yang terbuka bagi siapapun yang berniat baik. Tidak penuh prosedural kaku dan melayani masyarakat yang ingin mendapatkan info mengenai dunia Islam. Pada kunjungan saya ke Jawa Tengah akhir tahun 2007 saya hanya sempat memandang atap dan menara mesjid ini dari jalan tol di sepanjang tol Semarang. Barulah di Oktober 2008 saya singgah sejenak di area Masjid Agung Jawa Tengah. Memang hanya singgah sejenak, karena matahari demikian terik dan keluarga sudah ingin melanjutkan perjalanan. Mereka pernah ke mesjid ini sebelumnya.
Dari bahan mesjid ini memang tidak terkesan bahan bangunan bermutu maksimal, namun saya melihat aura keeksotisan muncul dari masjid besar ini. Memang sih kita tidak perlu mubazir membangun dengan bahan bangunan yang mahal, namun kalau awet dan bertahan lama, tentunya itu lebih hemat sehingga menghemat biaya perawatannya juga.
Dari menara mesjid ini pengunjung dapat memandang kota Semarang dari ketinggiannya, terdapat perpustakaan, area bermain anak-anak, penginapan alias hotel dan saat saya kesana menurut kabar akan ada cafe yang view-nya memandang kota Semarang. Semoga saja pihak pengelola dapat menangani area ‘Islamic Centre’ ini secara profesional, sehingga wisata religi di Semarang dan sekitarnya dapat berkembang secara baik dan terarah.
Ayo Indonesia, wujudkan wisata yang bersih sehat lahir dan bathin berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa serta mengenalkan budaya traditional bangsa. Biar gak diaku bangsa lain juga seh.....;-)

Tuesday, 25 August 2009

Hotel Manohara Magelang [Jateng 2008]

Saat media banyak menjadikan ‘Manohara’ sebagai subjek berita, saya menjadi teringat akan sebuah hotel di Magelang yang kami inapi ketika liburan paska lebaran 1430 H, tepatnya 3 – 4 Oktober 2008. Ketika itu saya sempat menanyakan apa arti nama ‘Manohara’, ada yang menjawab bahwa Manohara adalah nama burung – seperti layaknya nama Cendrawasih dan ada pula yang menyatakan bahwa Manohara adalah nama tokoh yang ceritanya terdapat dalam relief candi Borobudur. Kalau sekarang sih saya ngertinya ‘Manohara’ itu salah satu judul sinetron di tipi....huuuu....;-p

Menginap di Hotel Manohara Magelang membawa kesan sendiri bagi saya, dikarenakan hotel milik pemerintah setempat dan berbintang 4 ini merupakan satu-satunya hotel yang berada di dalam the Borobudur Archaelogical Park. Petugas hotel (mirip Tora Sudiro euy!) yang membawa tas/koper kami ke kamar menjelaskan kepada saya bahwa Amanjiwo Resort, tempat bermalamnya para mega selebrities dunia tidak seberapa jauh dari kamar kami. Memang tidak terlihat, apalagi ketika itu hari sudah gelap. Petugas itu menceritakan juga bahwa David Beckham dan sang istri yang mantan personel Spice Girl sempat “bocor” berita-nya saat akan berkunjung kesana. Dan sang pemain bola tersebut “selundupkan” ke terminal cargo oleh orang-orang di bandara karena “kebocoran” berita tersebut ke public. Yup...para mega bintang dunia itu memang seringkali mengendap di sekitar Candi Borobudur dikarenakan privasi-nya yang tidak mau terganggu, bukan saja mega bintang di dunia hiburan/olah raga, bahkan mendiang Lady Diana pernah menginap di group ‘Aman...’ yang bagi rakyat Indonesia umumnya membuat isi dompet menjadi tidak aman...hehehe....Tarif menginap di Amanjiwo ini paling murah Rp 7 juta untuk 2 orang ,sedangkan yang termahal US$ 2,600 ,- permalam! (Halooo...itu rates belum termasuk tax yak!).Saya-pun langsung nongkrong di teras kamar yang ‘menghadap’ resort tersebut, ketika kakak saya menanyakan apa yang saya lakukan disana...saya menjawab dengan cuek,”Lagi menghirup dan menikmati udara Amanjiwo....” Hehehe...belum sempat menginap disana, setidaknya sudah merasakan udara disekitarnya.

Saya, kakak + kakak ipar dan keponakan (berempat) makan malam di restaurant hotel Manohara. Suasana Jawa traditional terasa kental, model restaurant juga ala pendopo Kraton lengkap dengan karawitan-nya. View-nya??? Candi Borobudur mengintip kami yang sedang upper dinner....namun kami belum dapat menikmati kemistisan candi terbesar di dunia tersebut dikarenakan malam menghalangi pandangan kami. Baru-lah saat breakfast kami melumati keindahan lanskap sekeliling candi.


PAGI DI BOROBUDUR.
Usai shalat Shubuh Mas Tunggal, Mbak Lien, Sekar dan Seno bergegas mengejar matahari. That’s true! Mereka akan menikmati kebesaran-Nya dengan menyaksikan sunrise on the top of Borobudur. Borobudur belum dibuka bagi public, namun bagi tamu Hotel Manohara mendapat keistimewaan boleh berada di puncak candi disaat matahari belum muncul (Public/non tamu Hotel Manohara diperkenankan ikut dengan membayar Rp 250.000,-/person).Oh ya, malamnya dari theater hotel kami menyaksikan film mengenai Candi Borobudur. Sedangkan saya dan Mbak Rita lebih memilih menikmati sekeliling candi dari bawah. (Saya masih ingat benar berada di puncak candi Borobudur beberapa tahun yang lalu, walaupun bukan pada sunrise...hehehe, ingat panas-nya yang ampun-ampunan dan bergaya ala pemain film India tapi ‘ngojek payung’. ) Saat itu Mbak Ritha memang sedang mengalami masalah dengan kaki-nya, sehingga kemungkinan untuk mendaki candi sangat kecil. So kami berdua menyewa 2 sepeda yang disediakan oleh pihak Hotel Manohara. Kemana??? Mengelilingi Candi Borobudur tanpa “diganggu” orang lain.....!!! Berasa deh tuh candi kita yang punya...hihihi....Sepeda kami kayuh dengan santai. Kami singgah di kandang Gajah yang siang nanti akan “bertugas” di kawasan tersebut. Mereka masih menikmati makan pagi-nya. Kemudian kami menghentikan sepeda kami ke beberapa wahana di sekitar candi, diantaranya beberapa museum yang terdapat disana. Belum dibuka untuk umum, mereka masih bersiap-siap – namun dengan ramahnya mereka mempersilakan kami masuk dan melihat-lihat begitu mengetahui kami adalah tamu Hotel Manohara.
Dari kejauhan kami menyaksikan calon pengunjung Candi Borobudur yang belum diperkenankan masuk ke kawasan tersebut. Sangat ramai! Maklumlah libur lebaran, syawalan. Beberapa diantaranya melihat kami yang dengan santai-nya berkeliaran di dalam kawasan. Heran melihat tampilan kami yang dijamin bukan penampilan petugas dan bukan pula penampilan warga desa setempat, namun dapat wara wiri di dalam lokasi tanpa ada yang melarang. Mudah-mudahan sih mereka nggak mengira kami makhluk penampakan atau lebih kejamnya mengira kami adalah bagian dari ‘peliharaan’ atraksi kawasan wisata..hehehe...

Kami berdua kembali mengayuh sepeda ke arah Hotel Manohara. Meletakkan sepeda di depan lobby, dan langsung menuju tempat makan pagi.Breakfast sambil memandang keindahan Borobudur dan lanskap-nya. Menunggu mereka yang baru turun menyaksikan sunrise. Tak lama mereka muncul dan bergabung bersama kami berdua.

Selesai breakfast saya dan Mas Tunggal berkeliling sekitar hotel sambil mengamati aneka tumbuhan yang ada disekitar kami, ada pohon Bodie – yang dianggap keramat bagi umat Budha, dan ditanam oleh ‘orang-orang khusus’ serta pohon Maja yang buahnya mirip buah Semangka namun tidak diperkenankan dimakan. Kata-nya buah ini yang ‘disumpah2in’ oleh Gajah Mada, yang menyatakan ogah makan buah ini sebelum Nusantara bersatu. Masaq iya seh???!! Ada juga pohon bunga yang sebelumnya tidak pernah kami temukan di tempat lain, bahkan ketika kami meminta penjelasan orang disekitar sana mereka tidak mengetahui nama bunga-nya. Dengan meminta izin, kami membawa beberapa bibit bunga tersebut untuk dibawa dan kami tanam di Jakarta. Bahkan kami juga membawa beberapa buah Maja. Bukan maksud kami merusak loh, justru kami berniat menanam dan mengembang biakkan tanaman-tanaman tersebut di sekitar tempat tinggal kami.
Siang itu kami kembali ke Jogjakarta, menjemput ibu di rumah Galuh dan langsung menuju ke Semarang (lewat Magelang lagi deh!) – singgah sebentar di Eva Coffee House.....( http://odysseygemini.blogspot.com/2008/10/eva-coffee-house-jawa-tengah.html ) dan malam ini kami terlelap di Grand Candi Hotel, hotel berbintang 5 di Semarang.