Friday, 4 February 2011

Surabaya Heritage Track


Tahun baru China, Imlek saya masih berkutat di Surabaya - sementara Bimo malah ke Jakarta. Sedangkan Fajar yang beraktifitas di bandara masuk dari pagi sampai jam 2 siang. Jadilah saya menuju House of Sampoerna seorang diri. Dari majalah pariwisata saya mendapatkan informasi mengenai 'Surabaya Heritage Track', semacam tram yang digunakan untuk turis dan gratis. Oleh karenanya sehari sebelumnya saya sudah booking untuk 3 orang.

Pagi hari saya cari-cari info akses menuju ke lokasi House of Sampoerna. Menurut Oom Aan nggak banyak orang yang mengerti daerah sana. Saya katakan bahwa menurut petugas yang kemarin saya telpon katanya di area Jembatan Merah. Oom Aan menyarankan saya naik bis kota yang melewati depan tempat saya menginap. Yang bener aja loe?! Niat plesiran dengan santai mosoq di suruh naik bis kota?! Alternatif berikutnya naik taksi. Memang taksi di Surabaya nggak mahal, nggak sampai 5 juta-lah dari Jl.A.Yani hingga Jembatan Merah. Saat menunggu taksi yang lewat di depan saya justru bis kota...ya sudahlah, iseng naik aja deh, kalau kepanasan khan bisa turun di jalan kemudian melanjutkan naik taksi.
Tetapi akhirnya saya menumpang (eh bayar tapinya!) hingga dekat JMP. Waktu bayar Rp 3000,- sempat nanya ke Mas Kenek-nya,"Mas, kalau mau ke Jembatan Merah turun dimana ya?" Yang langsung dijawab si Mas,"Loh, JMP iku podo karo Jembatan Merah, Mbak'e..." Ooo...gitu, ternyata JMP adalah kepanjangan dari Jembatan Merah Plaza. Sorry,Bro...I'm tourist gratisan...hahaha...;-p

Belum sampai di JMP saya melihat papan penunjuk arah 'House of Sampoerna'...yup, langsung turun dan naik becak Rp 5000 ,- Yiiiihhhaaa, naik becak! Dengan berbaik hati si Tukang Becak menurunkan saya tepat di depan HoS. Surabaya Heritage Track terdapat di depan bangunan timur. Saya langsung mendaftar ulang dan mendapatkan tiket untuk tour yang jam 13 plus dikasih Surabaya Heritage Map.

Sambil menanti waktu saya berkeliling museum dan gallery yang terdapat disana. Ah, andaikan semua industri lokal berkwalitas international memiliki fasilitas seperti ini, pastilah dunia pariwisata Indonesia dapat lebih baik lagi.
Selain itu saya sempat menikmati minuman "Ice Chocolate" di cafe-nya.


SHT : Lunar Track


Singkat cerita, saya sudah harus berkeliling kawasan kota lama Surabaya. Kawasan pecinan di masa lalu, kawasan Eropa, kawasan Arab...betapa kaya-nya negeri-ku ;-) Hingga akhirnya kami berhenti dan singgah di satu klenteng tertua (Didirikan tahun 1830) di Surabaya - yakni Klenteng Hok An Kiong, tepatnya di Jln.Coklat. Sekitar 15 menit kami singgah. Mereka sembahyang, merayakan tahun baru Imlek.

Tak terasa waktu tour selama 1 jam telah selesai, diantara-nya kami melintasi Jln.Bunga Jepun dan beberapa jalan yang dipenuhi oleh bangunan bersejarah Surabaya yang masih terawat, termasuk jam "bigben"-nya Surabaya.
Nostalgia juga bagi saya, karena di masa kecil saya beberapa kali melintasi kawasan ini bersama papie tercinta ;-)

Sambil menunggu tour berikutnya (jam 15) saya menuju lantai atas 'HoS', terdapat toko souvenir yang barang-barangnya sangat menarik dengan harga lumayan terjangkau. Saya-pun membeli beberapa postcard bergambar, khusus postcard bergambar 'Jalan Kembang Jepun di Masa Lampau' saya kirimkan dengan perangko Surabaya Heritage Track ke tujuan rumah saya di Jakarta. Biasa...untuk koleksi ;-)

Tour berikutnya dimulai pukul 15.00. Surabaya yang semula terik tiba-tiba berubah menjadi hujan deras. Kami-pun hanya melintasi Tugu Pahlawan, tanpa turun dari tram. Kemudian tram menuju ke PTPN XI.
Saya merasa pernah berkunjung ke tempat ini beberapa kali, terakhir tahun 2005. Setelah saya ingat-ingat saya-pun menelpon Mbak Nana di Jakarta untuk konfirmasi.
Saya : "Mbak, Mbak Hera tuh kerjanya di PTPN XI khan ya?"....bla...bla...bla...ternyata benar, bangunan bersejarah nan megah ini merupakan kantor Mbak Hera - adik iparnya Mbak Nana (kakakku ke-5). Yup, tahun 2005 saya dan beberapa kerabat menjemput Mbak Hera di gedung ini.

THEME TOUR*
"Lunar Track", on 28 Jan - 27 Feb 2011
Weekend Fri to Sun
Hok An Kiong Temple - Boen Bio Temple -
Kampung Kapasan Dalam
1. 09:00 - 10:30
2. 13:00 - 14:30
3. 15:00 - 16:30

*Others tours will follow regular schedules

All tours depart from House of Sampoerna

Saturday, 22 January 2011

Traveling # Holiday


Rasanya baru kemarin terpikir,"Ih, pengen deh menikmati suasana kerja baru..."
Rasanya baru kemarin berharap,"Keliling Indonesia..."

Rasanya baru kemarin menggerutu,"Kalau mau nugasin kerjaan yang jauh sekalian dong, jangan cuma Bogor!" (Waktu ditugasin observasi project Ammusement.)


Taaarraaa...12 January 2011 ada telepon dari nomor tak dikenal, yang ternyata eks-Field Manager di tempat saya beraktifitas sekarang, menawarkan pekerjaan dengan kondisi dan situasi seperti yang tercetus diatas! Serba cepat! Hari itu juga saya bertemu dengan Business Director perusahaan yang menawarkan pekerjaan tersebut. Keesokan hari-nya, jam 10 harus mulai mendapat jadwal mewawancara investor di Jakarta Barat! Wawancara dilakukan di J.Co St.Moritz...hehehe, berhubung saya Interviewer Profesional jadi saya tidak mengatakan bahwa saya juga menjual apartment mewah tersebut, padahal Responden tersebut begitu antusias menceritakan kenyamanan berada di PX St.Moritz. Tanggal 23 November 2010 saya Seminar Motivasi di lantai 5 PX St.Moritz ;-)

Setelah tugas Jakarta selesai, maka saya segera keliling 6 kota di Indonesia, yaitu : Bandung - Surabaya - Semarang - Jogjakarta - Denpasar - Medan. Biarpun saya bukan tipikal orang yang menyukai bekerja sambil traveling, tapi saya akan melakukannya. Nggak ada salahnya-lah! Sebenarnya hanya Medan yang belum pernah saya kunjungi.Hehehe,padahal "Sang Mantan" lahir di daerah ini.

Tadi sore saya sudah booking 'Day Trans' untuk ke Bandung pada tanggal 24 January 2011. Untuk transportasi udara dan akomodasi saya lebih memilih agar perusahaan yang mengaturnya. Lah khan lagi kerja, bukan lagi jadi Independent Traveler....jadi biar aja perusahaan yang mengatur...hehehe.

Kesampai'an juga deh plesiran di bulan February 2011 yang pernah saya ungkapkan di : blog Never Ending Journey . Disana khan saya mengungkapkan keinginan untuk plesiran di bulan February 2011. Memang sih tidak plesiran murni, tp Alhamdulillah namanya rezeki mosoq sih ditolak...apalagi anggarannya puluhan juta ;-D

Wednesday, 10 November 2010

Bantimurung : Dimana Kupu Kupu Mengalir Sampai Jauh

Setahun yang lalu, tepatnya 7 November 2009 – saya berkunjung ke Bantimurung yang terkenal dengan air terjun dan pendaran kupu-kupu cantik yang beterbangan. Teringat lagu saat kanak-kanan nan indah...

♪“Kupu Kupu yang lucu...kemana engkau terbang...hilir mudik mencari bunga-bunga yang kembang..........................................Tidakkah sayapmu merasa lelah?”♫

Berlatar Taman Nasional Bantimurung
Dari Jln Sultan Hasanuddin Makassar menuju lokasi Bantimurung buat ukuran orang yang terbiasa tinggal di wilayah Jabotabek tidaklah terlalu jauh. Sekitar 45 kilometer dari pusat kota Makassar. Saya mendapat pinjaman Daihatsu Taruna dari rekan kakak saya, salah seorang Kepala Dinas Daerah Takalar. Kami bertiga, Ardian Y dan Laode dalam satu mobil belum ada yang pernah kesana, sedangkan kami bertiga juga pendatang dari Jakarta, Bekasi dan Surabaya. Tanpa peta pemandu apalagi GPS kami hanya nekad mengikuti petunjuk dari rekan sekerjanya Ardian dan Laode. Sempat juga bertanya ke satu warung sekalian membeli minuman.
Melalui tol dalam waktu yang tidak memakan waktu 1.5 jam kami tiba di lokasi, kecamatan Bantimurung – Kabupaten Maros. Terpampang jelas di dinding bukit nama taman wisata Bantimurung. Wah, nampaknya mau menyamakan dengan tulisan Holywood di Amrik sana nih...hehehe. Dengan mudah pula menemukan tempat parkir di depan pintu gerbang masuk lokasi wisata. Tiket masuk juga relatif murah, @ Rp 5,000 ,- untuk dewasa dan @ Rp 4,000 ,- untuk anak – anak. Begitu melintasi pintu gerbang kami langsung membaca papan pengumuman dan peta lokasi wisata. Wahana utama adalah Air Terjun Bantimurung yang letaknya tidak terlampau jauh dari peta lokasi, kemudian ada beberapa goa – yakni Goa Mimpi dan Goa Batu yang jaraknya hampir 1 kilometer. Tetapi sebelumnya kami mampir ke Museum Kupu Kupu yang terdapat tak jauh dari tempat kami berjalan. Sayang sekali, ruang museum yang hanya seruangan tersebut kurang terawat secara baik. Deretan jenis kupu – kupu cantik tampak dibiarkan begitu saja. Padahal kalau ditata dengan seksama dan didesain dengan benar kupu – kupu tersebut maka ruangan museum tersebut dapat menimbulkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ada kupu – kupu yang bermotif aneka batik, biru dan hijau toska...aaaiiih cantik sekali deh!

Didekat pintu masuk terdapat barang dagangan dihamparkan, ada t-shirt, gantungan kunci kupu – kupu dan beberapa benda lagi khas Bantimurung. Ditata ala kadarnya. Padahal kalau di tata secara apik seperti toko souvenir profesional ruangan tersebut dapat memiliki nilai jual juga khan. Jelas, bahwa sesungguhnya Bantimurung memiliki prospek yang bagus dalam bagian pengembangan pariwisata nusantara, diantaranya tercetus oleh Alfred Russel Wallace (1823 – 1931) dalam bukunya ‘The Malay Archipelago” menyebut bahwa Bantimurung adalah “The Kingdom of Butterfly” pada kunjungannya ke sini di tahun 1857. Konon Bantimurung yang terletak 12 kilometer dari ibukota kabupaten Maros ini memiliki kurang lebih 150 species kupu – kupu. Bayangkan....hal yang seharusnya kita jaga kelestariannya. Kekayaan yang mewarnai keindahan nusantara ini terasa kurang disadari oleh kita sehingga berangsur beberapa jenis spesies kupu – kupu itu musnah.
Keluar dari ruangan museum kupu – kupu seorang pedagang gantungan kunci menawarkan barang dagangannya ke kami. Saya memang berminat untuk membelinya tetapi saya pikir lebih baik nanti saja setelah saya menjelajah kawasan wisata Bantimurung ini. Tanpa memaksa membeli dagangannya pedagang tersebut mengikuti kemanapun kami berjalan. Kami sih tidak merasa terganggu, apalagi sekali – sekali kami sempat bertanya beberapa hal kepadanya sesuatu yang kami tidak mengerti, termasuk lokasi pasti dan isi dari goa – goa yang terdapat disana.

Air Terjun Bantimurung. Ngebasahin kaki doang..hehe
Akhirnya pedagang gantungan kunci itu menjadi guide tak resmi. Menjelaskan jalan dan obyek yang terdapat di Bantimurung. Kami memutuskan ke goa Batu. Tentunya sebelum ke sana kami ke Air Terjun Bantimurung terlebih dahulu. Memang rute jalannya harus melewati sih.....
Tampak air terjun pendek menyusun di hamparan kami. Memang sayang sekali jika ke Bantimurung tanpa merasakan berenang atau menikmati derasnya air yang mengalir. Waduh, tetapi hari itu benar – benar wardrobe yang sedang saya gunakan adalah wardrobe untuk para window shopper di mall city ...hahaha....Jadilah saya hanya menciprat – cipratkan air dengan tangan. Itu-pun sudah merasa kesegaran air yang mengalir. Di tepi air terjun terdapat karang – karang , seperti pintu masuk gua memanjang, disana terdapat hamparan tikar. Bagi pengunjung Bantimurung yang tidak berenang maka dapat menikmati hidangan yang mereka bawa disana. Kami berfoto sejenak, kemudian melanjutkan jalan setapak ke Goa Batu.

Tak jauh sebelum memasuki goa Batu kami menyewa senter untuk penerang dalam goa. Terlihat ada sebuah makam di dekat sana, ternyata mereka menyatakan bahwa itu adalah makam Raja Bantimurung. Kalau melihat kondisi makam yang seperti tidak dipedulikan berarti berbeda dengan kondisi di beberapa bagian pulau Jawa, yang makam saja bisa dijadikan “wahana wisata”. Di mulut goa juga ada meja yang menyewakan lampu penerang (senter). Yang bikin saya bengong ada rombongan yang membawa petromax...hahaha...Kondisi goa memang gelap pekat andai kita tidak menyalakan lampu penerang.

Penjual gantungan kunci yang sejak di museum kupu – kupu menjelaskan kepada kami mengenai cerita dan kondidsi goa. Di dinding ada batu yang membentuk monyet khas Bantimurung. Oh ya, ketika memasuki lokasi wisata kita memang akan disambut oleh patung besar monyet Bantimurung. Jadi menurut saya, ciri khas Bantimurung adalah Kupu Kupu dan Monyet. Hhmmm...keindahan yang saling melengkapi.

Di dalam goa juga terdapat batu yang konon jika seseorang memohon sesuatu maka akan dikabulkan. Caranya dengan mengikat seutas tali pada batu tersebut. Saya tidak minat untuk mencoba, termasuk tidak minat membasuhkan air ke wajah yang terdapat di dalam goa tersebut yang konon bisa membuat awet muda. Memohon sesuatu dimanapun pasti akan dikabulkan-Nya, asalkan permohonan kita tulus untuk kebaikan. Soal air awet muda, saya percaya saja asalkan membasuhnya tidak hanya saat itu – harus rutin setiap hari. Air tersebut khan tidak terkena polusi kotoran kimia, secara di dalam gua gituh, jadi kebersihannya pasti menyegarkan dan membuat kulit kita bersih alami. Logis khan kalau dikatakan air tersebut membuat kita awet muda?! Di dalam goa kami juga ditunjukkan sebuah cekungan batu yang biasa digunakan Raja Bantimurung untuk melaksanakan shalat.

Puas menyusuri kami keluar. Di dalam goa cukup licin, jikalau mau berkunjung dan masuk goa sebaiknya memang menggunakan sepatu yang nyaman untuk menyusuri jalan batu/tanah licin yang tidak rata.

Versi majalah KARTIKA - Sahabat Wanita Muda Edisi Juli 2010 : Pegunungan Karst Bantimurung - Sulsel masuk dalam '50 Tempat Liburan Terindah dan Murah : Must Visit Before You Die!'

Friday, 3 September 2010

Obat Pening Bernama Rawa Pening




Sebagai anak yang seringkali diajak berpetualang ke daerah Jawa Tengah dan memiliki basecamp di Semarang dan Kebumen, maka sejak kecil saya seringkali melewati area wisata 'Rawa Pening' yang terletak di Jalan Raya Semarang - Salatiga di Ambarawa Kabupaten Semarang.
Saya tak ingat untuk keberapa kalinya saya berkunjung ke daerah ini. Memang seringkali melewati tetapi jarang menyempatkan diri untuk menikmati Rawa Pening lebih lama. Area wisata ini terasa mistis - apalagi ditambah dengan legenda-nya yang berhubungan dengan naga. Aaah, kaya rayanya negeriku!
Tahun 2008 saya dan Mas Tunggal keluarga sempat mampir ke area wisata ini. Menyewa perahu dan berkeliling di danau...or rawa kali yaaa, yang kenikmatannya justru jitu sebagai obat pening. Nggak percaya?!...Coba aja.Nggak ampuh?!...nyebur ajah! ;-D


Friday, 27 August 2010

Kenangan dari Anak Gunung Krakatau


Ternyata kemarin (27 Agustus) merupakan perayaan meleduknya Gunung Krakatau di Selat Sunda. Meluduk kok diraya'in yak?! Ya,ada hikmahnya sih bagi dunia pariwisata di Indonesia. Kebayang gak sih kalau ledukannya kedengeran sampai 4.600 kilometer dan didengar oleh seperdelapan penduduk bumi. Itu selevel dengan 200 megaton bom TNT atau 13.000 kali lebih dahsyat dari bom yang meleduk di Hiroshima Jepang. Dalam waktu 2 hari bikin 7 tsunami en meluluh lantakkan 165 desa dan kota sepanjang Lampung dan pesisir Banten. Ini sih katanya paman Simon Winchester ahli geologi dari University of Oxford di Inggris sono. Kok ngerti'an dia daripada kita yang orang Indonesia yak?
Btw saya juga pernah memilih Krakatau sebelum 7 Keajaiban Alam diluncurkan untuk dipilih oleh penduduk dunia. Yang masuk nominasi akhirnya Pulau Komodo.
Saya juga punya tragedi story di daerah ini. Serem-nya sih gak ada apa-apanya dibandingkan saat Krakatau meleduk! Bahkan jika mengenang kisah ini saya suka tersenyum...indah jadinya kenangan itu ;-) Kejadian di tahun 1991 tersebut adalah saat kami ingin berkunjung ke Pulau Gunung Anak Krakatau. Kami bertolak dari Pulau Peucang seberang Ujung Kulon Pulau Jawa dengan kapal motor yang kami carter. Di kapal hanya ada saya, ibu saya, Luthi (teman seperjuangan di Ujung Kulon – Hi Luthi Ismira, dimana kamu sekarang? Terakhir saya mengerti keberadaannya saat ia menjadi pemenang utama Pemilihan Gadis Sunsilk.), Yos (cowok Bogor lulusan FMIPA UI yang sedang saat itu sedang cuti dari pekerjaannya di Sclumberger Oman...Timur Tengah sono!), Pak Ateng (Tour leader kami) dan 2 (or 3) petugas kapal motor.
Kapal motor kami mengalami kerusakan tak seberapa jauh dari gugusan kepulauan Krakatau. Kapal kami mengapung-apung selama 2 hari di hadapan Pulau Gunung Anak Krakatau. Tak ada daratan berpenghuni yang kami lihat, tak ada kapal yang bisa menolong kami. Mutlak hanya Allah swt merupakan Sang Penolong. Malam hari memang terlihat kapal tongkang besar melintas beberapa meter dari kapal kami, namun mereka sepertinya tidak melihat kami. Malam hari begitu pekat...ditengah lautan hanya berpemandangan Anak Gunung Krakatau yang ingin kami jangkau terpatri di hadapan kami berkilau memantulkan cahaya bulan. Ketika ombak mengombang-ambingkan kapal ibu saya muntah-muntah. Alhamdulillah, ada persediaan makanan yang tidak membuat kami kelaparan. Siang hari saya, Luthi (yang saat itu sedang liburan dari Sekolah Menengah Pariwisata) dan Yos duduk di dek kapal sambil mengobrol. Ibu saya beristirahat di ruang kecil kapal, dan para pekerja kapal membenahi mesin motor kapal agar kami dapat kembali ke daratan dengan selamat.
Alhamdulillah, kami bisa kembali ke Labuhan Banten dengan selamat setelah 2 hari mengapung-apung di Selat Sunda walaupun kami tidak menjejakkan kaki di Kepulauan Krakatau.Mobil travel yang menjemput kami telah meninggalkan kami dari Labuhan. Pak Ateng segera mengambil tindakan mencarter angkot untuk mengantar kami ke Jakarta. Memang tidak seimbang dengan fee dollar yang kami bayarkan...bayangin tour bayar pakai dollar US tapi dipulangin naik angkot ke Jakarta?! Ibu saya sempat menggerutu, tapi akhirnya beberapa bulan kemudian ibu saya tertawa senang ketika saya memenangkan Lomba Karya Tulis Pariwisata TMII se-ASEAN kategori Laporan Perjalanan karena saya menulis tentang perjalanan ke Ujung Kulon dengan judul 'Ujung Kulon Menebar Pesona ke Penjuru Dunia' dengan beraneka ragam hadiah yang nilainya lebih dari paket tour ke Ujung Kulon – Krakatau tersebut, termasuk tiket dari Garuda Indonesia Jakarta – Jogjakarta pulang pergi.

Sunday, 11 July 2010

(Spa) Nyalon yuuukk...


Berapa tahun ya saya off sebagai “cewek salon”?! Mungkin setelah pakai jilbab? Ah ,tapi tahun 2000 saya sempat “keluar masuk” salon saat tinggal di Kuta BALI. Beberapa salon di Denpasar yang memiliki pelayanan mandi susu sempat saya coba. Sebelum memakai jilbab setidaknya 2 – 3kali perminggu saya ke salon – dari catok rambut sambil memberi nuansa burgundy pada rambut...minimal ngoles Proteline ..hahhaha.

Tahun 2010 saya bertekad untuk menjadi ‘cewek salon/spa’ kembali. Positif? Pemborosan?! Gak tuh! Justru menguntungkan karena saya bisa menambah wawasan tentang service dan teknik pegembangan usaha kesehatan dan kecantikan yang sedang saya jalani.
Menggigil di Salon
Sabtu, 19 Jni 2010 sepulang lunch dari Sate Blora Cirebon di Rawamangun saya dan Galuh menuju salon yang jaraknya sekitra 500 meter dari rumah saya. Jalan kaki?! No,dengan gaya princess-nya kami berdia naik Toyota Altis yang dikendarai Galuh. (Maafkan kami,Bumi...)
‘Body Fresh Salon & Reflexology’ : kami langsung dilayani dengan sigap. Saya en Galuh langsung ke masing-masing bilik bercat ungu dengan tirai kain ala Pekalongan bermotif kupu-kupu pink. Chick deh...Saya ganti baju dengan kemben untuk creambath dan Galuh body massage.
Saya pilih creambath menggunakan susu yang konon dapat menghaluskan rambut. Hahaha..baru saya coba neh ‘creambath susu’. Dulu sih saya biasa coba dengan kemiri yang menghitamkan ramput atau alpukat. Plus Proteline! Tidak terlalu aneh dibanding ibu sahabat saya yang kalau creambath “semua isi dapur” nemplok di kepalanya (alpukat, kemiri, ginseng, telor ayam,dan sebagainya.Asli, bukan cream olahan pabrik.) Sapai saya pernah bilang,”Tambahin minyak goreng, nggak sekalian digoreng tuh kepala,Tante?!”
Coba kali ini tanpa hair steamer (Ini yang kusuka! Emangnye kepala gue boneless chicken?! ;-p). Rambut ditutup dengan handuk hangat lalu saya langsung ke bilik ungu tempat ganti kemben tanpa dicuci rambutnya. Selesai? Nggak dong karena berikutnya saya dilulur. Masih dengan therapist yang sama,pijatannya mantap. Therapist menanyakan lulur apa yang sya inginkan. Saya pilih lulur coklat...hiiiyyaaa..keluar dari salon rasa gue ‘susu coklat’ dung!? ;-p
Ritual pijat dan lulur selesai. Saya digiring ke ruang steam seukuran 1 KBU wartel berisi mesin body steam. Hhhmmm..beneran dimasak neh body. Brrr...sebelum saya masuk steam, saya menggigil antara kedinginan dan ngebayangin nanti saya bakal diuber sama kucing di rumah neh. Saya wanti-wanti agar tak terlalu lama di alat steam. Keluar dari alat steam masih menggigil...langsung mandi. Selesai mandi body saya lumri dengan milk goat lotion. Galuh yang sudah selesai di blow catok menanti gelisah, takut kehabisan nonton...deeeuuu!

Saturday, 10 July 2010

Postcard Indonesia...Dimana Gerangan?

Ini cerita tentang kekesalan kakakku yang 11 - 28 Juni 2010 berlibur ke Indonesia setelah 17 tahun bermukim di negeri yang tahun ini masuk final Worldcup...halah ngomong negeri Belanda aja kok muter-muternya pakek ke Worldcup segala? hehehe...
Sejak kecil kami sekeluarga memang gemar menulis, at least menulis postcard dan dikirim ke kerabat , teman-teman atau sahabat pena yang belum pernah bertemu. Jikalau kami berlibur ke suatu tempat, dipastikan kami akan mengirim postcard bergambar destinasi kami. Kebiasaan ini terkikis oleh kemajuan zaman, dimana orang-orang banyak yang lebih memanfaatkan email, sms atau network social lain yang lebih "canggih".
Hohoho...karena inilah kakak saya "ngamuk-ngamuk" ketika dia ingin mengirimkan postcard bergambar keindahan Jakarta ke teman-temannya di negeri kincir angin tersebut. Sekedar 'say hello' dan mengabarkan bahwa dia telah berada di Indonesia tercinta. Kami membantunya mencari postcard tersebut di beberapa toko buku terbesar di Indonesia (bahkan salah satunya toko buku terbesar se-Asia Tenggara!), tetapi dengan kecewanya kami mendapat jawaban yang tidak kami harapkan. Jangankan menemukan postcard bergambarkan kota Jakarta yang sedang berulang tahun, para penjaga toko tersebut saja kebingungan dan tiada mengerti apa yang namanya postcard!!! Kami diantar ke bagian 'post it' alias kertas-kertas kecil, biasa untuk menulis pesan singkat yang di tempel.
Oooohh, God...kata kakak saya masyarakat Indonesia umumnya sudah banyak yang keblinger oleh teknologi! Seharusnya bisa memilah-milah mana yang harus dilestarikan dan mana yang tidak....Negara-negara di Eropa saja tetap mempertahankan kebiasaan berkiriman postcard bergambar keindahan negeri mereka ke teman atau kerabatnya. "Bagaimana dunia pariwisata Indonesia dapat berkembang secara pesat kalau gini caranya?!"
Ketika kami menginap di hotel berbintang-pun lagi-lagi kami tidak menemukan postcard yang diharapkan oleh kakak saya. Ketika kami katakan bahwa "Toch, kamu lebih dulu sampai ke Belanda dibandingkan postcard yang kamu kirim....", kakak saya tetap tidak peduli. Ia sangat geregetan dengan hal ini...demikian pula dengan saya.
Aaaarrghhh...saya jadi ingat kebiasaan saya dahulu, mengoleksi aneka postcard yang dikirimkan oleh teman-teman atau sahabat pena. Sebagian masih saya simpan, bahkan jika saya menginap disuatu tempat, maka saya akan mengirimkan postcard bergambar tempat tersebut ke diri saya sendiri yang saya tuliskan sekelumit pengalaman saya di tempat tersebut- di kirim melalui post. Sehingga disaat saya sudah sampai di tempat tinggal, dan menerimanya, saya tersenyum-senyum mengingat kenangan indah selama saya traveling di tempat tersebut.
Apabila saya menerima kiriman postcard dari teman atau kerabat...ah alangkah gembiranya, wawasan saya tentang tempat tersebut bertambah dari perangko dan goresan tulisan yang ditulis dengan perasaan.
Memang teknologi telah canggih...tetapi postcard masih tetap dibutuhkan. Kalau kita memiliki impian, tulislah impianmu dengan tulisan tangan...yaaah, energi melalui tulisan tangan memang berbeda dengan ketikan di keyboard komputer atau keypad handphone.
Kini...saya mengirim PM atau YM ke banyak teman saya yang berada di luar negeri, meminta agar mereka mengirimkan postcard melalui post. Alhamdulillah mereka mengirimkannya dengan ketulusan. Mulai saat ini saya akan mengirimkan postcard ke teman-teman serta berkirim surat melalui post...dan lebaran nanti saya akan ke Pasar Baru, memesan kartu lebaran untuk mengucapkan lebaran dan permohonan maaf ke kerabat dan teman-teman.
Berkirim surat dan postcard juga bisa memajukan pariwisata Indonesia...Yuk kirim-kirim postcard bergambar keindahan Indonesia ke teman-teman di luar negeri! Biar Pak Post mereka juga bisa melihat keindahan Indonesia...kalau via internet khan hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya.
Tukeran postcard yuuk!! ;-)

http://copicopi.wordpress.com/2008/03/09/koleksi-postcard-qu/
Oh ya...saya lihat ada lagi nih cewek Indonesia yang koleksi postcard.Foto koleksinya saya cantumin sementara disini deh, sebelum saya memotret koleksi postcard yang saya miliki ;-)


http://firabas.multiply.com/journal/item/189
Fira Basuki yang penulis itu juga koleksi postcard. Artikelnya bisa dibaca di multiply-nya.


Sunday, 16 May 2010

Parahyangan, Riwayatmu Duluuu....



Anna memang bukan orang yang rutin ke Bandung, dan juga bukanlah orang yang gemar dengan kota Bandung. Memang sih di tahun 1999 Anna sempat laju Jakarta - Bandung bersama Titis, Dian dan Erni karena kami sempat menjadi salah satu suplier bed cover di depstore terkenal di kota tersebut, dan kendaraan yang kami pakai adalah Kereta Api Parahyangan yang tanggal 27 April 2010 menghentikan operasionalnya. Banyak orang yang sedih, khususnya yang menyimpan kenangan dalam kereta tersebut. Saya memang tidak memiliki banyak kenangan di kereta tersebut, namun Anna memiliki beberapa kesan kenangan terhadap kereta Parahyangan ini.
Terakhir kali Anna menggunakan jasa transportasi Parahyangan adalah 5 tahun lalu, dibulan Mei 2005, Jakarta - Bandung - Jakarta bersama Wawan, pengurus FLP. Ketika itu kami ke Bandung dalam rangka Musyawarah Kerja FLP Pusat.
Alhamdulillah, ternyata kenangan tersebut masih tersimpan dalam tiket kereta api 'Parahyangan'. Foto ini adalah tiket kami berdua.....
Parahyangan,,,,riwayatmu duluuu....