Tuesday, 20 October 2015

Menyusuri 4 Propinsi di Pulau Jawa Dengan Kereta “dalam rangka” Hari Kereta Api Nasional

Hari Kereta Api Nasional diperingati setiap tanggal 28 September, dan di tahun 2015 ini Kereta Api Indonesia memperingati hari ulang tahunnya ke-70 . Kebetulan kerabat saya menikah dan merayakannya di Kebumen Jawa Tengah. Horaaay, longtime saya tidak menggunakan moda transportasi kereta api non-commuter line! Terakhir kali saya menggunakan moda trasportasi kereta api Argo Parahyangan bulan May 2014 saat berangkat menghadiri pernikahan Echa di Bumi Sangkuriang Bandung. Pulangnya sih naik shuttle travel.
Berkaitan dengan hari ulang tahun PT KAI ke-70 saya menaiki kereta api  pada tanggal 26 September 2015 (Stasiun Senen – Stasiun Kutoarjo) dan tanggal 1 Oktober 2015 (Stasiun Tawang – Stasiun Jatinegara) dan 4 Oktober 2015 (Stasiun Manggarai – Pondok Ranji PP). Berarti dalam masa seminggu sebelum dan sesudah tanggal 28 September. Menyusuri 4 Propinsi (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah plus Banten), bahkan di tanggal 28-29 September saya menginap di DI Jogjakarta dengan menggunakan mobil pribadi milik kakak, Toyota Altis dengan rute Kebumen Jateng – DI Jogjakarta serta dilanjutkan keesokan harinya rute DI Jogjakarta – Semarang saya tempuh dengan menggunakan shuttle travel Joglo Semar. Jadi dalam kurun waktu 10 hari saya menyusuri 5 propinsi di Pulau Jawa.

Dalam seumur hidup saya naik kereta api ekonomi dapat dihitung dengan jari! Lebih sering saya terbang Jakarta – Singapore – Jakarta dibandingkan menggunakan moda trasportasi kereta api ekonomi jarak jauh. Wait saya akan mengingat kembali berapa kali-nya. Seingat saya dalam masa kuliah saya tidak pernah naik kereta api ekonomi jarak jauh. Yang saya ingat :

  • Bersama teman untuk liburan rute Jakarta – Semarang. Balik ke Jakarta-nya naik travel yang full AC gara-gara saya tidak tahan berkereta non-AC dengan menembus propinsi.
  • Kemudian Kebumen – Jakarta sendirian saat SMA karena saya harus secepatnya masuk sekolah. Ini juga pertamanya saya berkendaraan jarak jauh seorang diri. Itu-pun saudara saya langsung membelikan 3 seat agar saya bisa tiduran dan tempat tidak diisi oleh penumpang lain. Dahulu bisa membeli tiket tanpa tempat duduk.
  • Rute Jakarta – Purwokerto bersama kakak saya yang ketika itu kuliah di Universitas Jendral Soedirman. Saya masih duduk di kelas 1 SMP dan menggantikan kakak saya mengajar menari penduduk desa Karangpucung, tempat kakak saya KKN. Kembali ke Jakarta saya berdua naik kereta dengan pacar kakak saya...ketika itu mereka LDR. Pacar kakak saya sih sok baek njemput saya di Purwokerto, padahal ada maksud ketemuan kakak saya tuh...hahaha...Kini mereka baru memiliki cucu pertama.
  • Terakhir yang saya ingat, ketika saya masih SD. Rute Surabaya – Kebumen (Atau Kutoarjo yach?). Saya berdua kakak yang sedang kuliah di Universitas Airlangga.

Wohooo, hanya sebatas itu pengalaman saya menggunakan jasa transportasi ekonomi jarak jauh non-AC. Bagaimana dengan pengalaman kali ini, dimana kereta ekonomi jarak jauh semua telah full AC??? Begini pengalaman saya :

Stasiun Senen Jakarta Pusat  >>> Kutoarjo Purworejo (Sabtu, 26 September 2015)

Kereta berhenti sejenak di Purwokerto Jawa Tengah. Sempat memesan Nasi Goreng seharga @ Rp 20.000,-
Kereta KUTOJAYA UTARA akan berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 05.30 pagi. Beruntungnya saya karena saya tinggal hanya sekitar 5 km dari stasiun ini. Sedangkan kakak dan kerabat tinggal hanya sekitar 1 km dari stasiun Senen. Usai shalat Shubuh saya memesan ojeg melalui aplikasi GrabTaxi. Alhamdulillah di pagi hening itu dengan lancar ada driver yang merespon dari kawasan Kelapa Gading. Tepat waktu saya tiba di stasiun Pasar Senen, dan langsung menuju gerbong 6. Seat yang saya dapatkan 19E. Sesuai dengan apa yang saya harapkan, pas di dekat jendela.
Saya, kakak nomer 5 dan anaknya, Ika – kerabat saya dan balita-nya menduduki 4 seat yang saling berhadapan. Perjalanan pagi hari terasa cepat. Kami transit di Cirebon, Purwokerto dan beberapa stasiun kecil lainnya. Pemandangan sawah di Jawa Barat tampak kering dan meranggas kurang air. Begitu memasuki wilayah Jawa Tengah mulai terlihat sawah-sawah menghijau. Oh Indonesia-ku, dahulu kulihat ijo royo-royo dari balik jendela di setiap perjalanan keluar kota di pulau Jawa - Bali. Dimanakah sekarang pemandangan subur makmur itu?

Kondisi kereta : Cukup bersih. Penumpang juga terlihat cukup tertib, tidak ada yang berisik walaupun beberapa anak kecil terlihat. Yang pasti tidak ada yang merokok. AC-nya juga terasa dingin dari tempat duduk kami, menggunakan AC split namun karena kami duduk tepat dibawahnya sehingga dinginnya pas dan tidak membuat kepanasan. Namun saya belum “berani” menengok toilet-nya. Menurut Ibu Ika yang buang air kecil sih toilet pesing dan air-pun hanya mengalir sedikit kemudian habis ketika Ika ingin mencuci tangannya. Oh ya, ini kereta bersubsidi dengan harga tiket Rp 80,000 ,- Jakarta – Purworejo tentunya lebih mahal ongkos taksi Senen – Bintaro...hehehe...

Di stasiun Kutoarjo banyak resto terlihat relatif bersih dengan menu dipajang nampak mengundang dan harganya itu loh...muraaah meriah! Semua menu harganya di bawah Rp 20.000,- dengan tempat yang menurut saya lumayan bersih.

Sesampainya di Kutoarjo Jawa Tengah, kami dijemput oleh kerabat dengan mobilnya, Suzuki Panther. Perjalanan Stasiun Kutoarjo - Mirit Kebumen sempat membuat saya agak meringis. Jalannya ngebut euy! Hadeuuuh, nih keponakan sepupu sepertinya mending jadi pembalap aja deh...hahaha

Stasiun Tawang Semarang - Stasiun Jatinegara Jakarta Timur (Kamis, 1 Oktober 2015)

Cabin Argo Sindoro yang kami naiki relatif lebih nyaman dibandingkan penerbangan LCC

Kereta ARGO SINDORO keberangkatan dari Stasiun Tawang Semarang pukul 06.00 pagi. Ontime keren! Pukul 05.58 pluit panjang berbunyi dilanjutkan suara bel khas kereta yang akan jalan. Tepat waktu menunjukkan 06.00 roda kereta beranjak dari rel stasiun kereta bersejarah di Indonesia ini. Satu jam kemudian kereta tiba di Pekalongan. Kereta berhenti di Stasiun Pekalongan, Tegal dan Cirebon. Stasiun di Cirebon berbeda dengan stasiun Cirebon yang saya berhenti ketika berangkat dengan Kutojaya.
Dengan harga tiket @ Rp 310.000 ,- saya merasa lebih nyaman dan cepat dibandingkan jika kami (Saya dan kakak sulung) menggunakan transportasi udara LCC yang landing di Soekarno Hatta Airport.
Kami tiba di Stasiun Jatinegara sebelum waktu menunjukkan pukul 12 siang. Tujuan akhir kereta Argo Sindoro adalah Stasiun Gambir Jakarta Pusat, namun karena tempat tinggal kakak saya lebih dekat dengan Stasiun Jatinegara maka kami turun dan dijemput oleh suami kakak sulung saya. Sampai gak inget, waktu itu dijemputnya pakai mobil apa ya??? Yang pasti salah satu mobil dari 5-6 yang ada di rumah kakak saya :D
Sekedar kritik untuk stasiun Jatinegara nih...untuk pintu keluar kereta eksekutif tolong dipisahkan dengan Commuter Line dong, dan pintu keluarnya juga yang mempermudah penjemput. Mosoq begitu keluar dari kereta langsung trotoar pejalan kaki. Repot banget menuju parkiran!! Atau saya yang belum ngerti pintu keluar khusus penumpang eksekutif atau pintu keluar menuju parkiran yach?!

Thursday, 1 October 2015

Suatu Pagi di Pantai Lembupurwo Kebumen

Nama Lembupurwo bukanlah nama yang asing bagi saya. Bukan sekedar assisten rumah tangga saya berasal dari daerah ini. Lembupurwo merupakan desa/kelurahan, terletak di kabupaten Kebumen dan kecamatan Mirit.
Ketika saya masih kecil - di Syawalan (Seminggu setelah Idul Fitri) - Ayah seringkali mengajak keluarga besar kami berwisata menikmati pagi di daerah ini. Berperahu di Rowo dan bermain di pantai Lembupurwo Kebumen. Ketika itu yang berkesan bagi saya justru berperahu-nya :) Karena ada keindahan pantai yang lebih berkesan di masa kecil saya, yakni pantai Selatan yang terletak tidak jauh dari Lembupurwo, yakni di kelurahan Tlogo Depok. Suatu saat saya akan menceritakan mengenai pantai penuh kenangan tersebut.


Ahad pagi tertanggal 27 September 2015 saya kembali ke pantai ini. Berangkat dari rumah sepupu saya di kelurahan Mangunranan (masih) kecamatan Mirit. Kami pergi bertujuh (Saya, Mbak Nana, Owien, Mbak Ninuk dan anaknya, Mbak Yuli dan anaknya yang mengendarai mobil). Kemudian dari kelurahan Tlogo Depok (masih) kecamatan Mirit turut serta Ika dan anaknya, Puri dan Arki yang baru tiba dari Jogjakarta.

Memasuki pagar perbatasan yang nampaknya dibangun oleh militer yang (menurut informasi) berlatih perang di pantai tersebut kami memarkir mobil. Kemudian saya dan beberapa kerabat memilih meninggalkan sepatu di mobil dan ke pantai dengan menyeker!

Jajan Undur Undur (Jalannya Mundur)
Hanya beberapa meter dari parkiran kendaraan dapat terlihat hamparan laguna. Disana banyak pengunjung dari berbagai usia berenang. Di sebelah kanan nampak beberapa perahu seperti di tempat wisata air lainnya. Sayang, ketika saya berkunjung ke sana tidak sedang beroperasi sehingga ketika Shiva, anak Ibu Ika yang berusia 2,5 tahun merengek minta naik "bebek2an" kami hanya menemaninya untuk duduk di "bebek2an" yang tidak beroperasi....hehehe...buat foto-foto aja deh!
Sebelum kami berjalan menuju laguna dan pantainya kami jajan terlebih dahulu di warung yang berderet disana. Warung tersebut menjual juga "Undur2 Goreng" yang begitu saya cicipi...wah renyah, mirip kepiting soka di resto besar di Jakarta - bahkan lebih berdaging. Kakak sepupu saya sampai memesan 50 keping gorengan undur2 yang akan diambil ketika kami kembali dari pantai.


Setelah melewati laguna dan pepohonan kami menuju pinggir pantai. Di sana juga berjejer warung-warung. Kami memesan kopi (susu) serta menikmati jajanan yang tadi kami beli. Duduk-duduk di warung sambil memperhatikan keria-an orang-orang yang bermain ombak. Seringkali sepupu saya menyapa orang-orang yang datang, katanya mereka itu tetangga dan saudara-saudara saya.

Suasana dan Kegiatan di Pantai
Suasana pantai Lembupurwo memang saat ini sudah begitu ramai, khususnya di hari libur. Pantai menjadi salah satu hiburan dan tempat liburan utama bagi warga di sekitar. Ombaknya bagus, tetapi sayangnya kebersihan pantai dan sekitarnya kini kurang terjaga. Memang belum ada petugas khusus yang bertugas membersihkan pantai. Sayangnya lagi kini pesisir pantai Kebumen menjadi tempat latihan perang militer!! Oh noooo....bapak-bapak, please dong, latihannya jangan disini. Biarkan anak-anak dan penduduk di sini bermain di pantai dengan damai dan gembira seperti saya ketika kecil - bermain di desa sekaligus pantai yang sulit saya temukan situasi dan kondisinya di kota besar. Bersih dan bebas polusi beberapa tahun lalu kami berperahu bersama keluarga besar yang kini menyebar di penjuru dunia.
Kementrian Kehutanan dengan Kelompok Tani Cemara sebagai pengelola mengadakan kegiatan pembuatan kebon bibit rakyat. Nah yang ini baru oke! Kawasan hutan-nya juga keren dijadikan lokasi foto pre-wedding seperti yang keponakan saya lakukan beberapa minggu lalu.
Pada periode Maret - Oktober kegiatan penyu bertelur juga berlangsung di pantai ini.



Yuuuk ach, jaga kebersihan dan kelestarian pantai kita....
Pantai Lembupurwo
Kelurahan : Lembupurwo - Kecamatan : Mirit
Kebumen - Jawa Tengah

Monday, 24 August 2015

Menikmati Keindahan Gili Trawangan dan Menanti Duyung di Pulau Buton

Salah satu tempat favorit saya untuk berwisata adalah Pulau Lombok, terutama Gili Trawangan. Saya pernah menceritakannya di blog ini. Diantaranya adalah Taman Narmada dan Gili Trawangan. Bahkan saya pernah menuliskan cerpen bersetting Pulau Lombok yang kemudian diterbitkan bersama dengan beberapa penulis terkenal Indonesia, seperti Pipiet Senja, Gola Gong, dll. Cerpen dengan judul : Pudar Kabut Gunung Rinjani.


Pada kunjungan pertama ke Pulau Lombok saya menggunakan transportasi laut dari pulau Bali, kapal ekspres bertarif dollar. Pada kunjungan berikutnya kembali saya berangkat dari Bali dengan pesawat Merpati Nusantara Airlines. Karena Lombok NTB saat ini menjadi salah satu destinasi tujuan wisata international, sudah dapat dipastikan banyak maskapai penerbangan yang mendarat di Lombok International Airport, pelabuhan udara yang masih gress ini terdapat maskapai penerbangan (Dari Jakarta) : Garuda , Batik dan Lion.

Flight saya dari Bali ke Lombok

Flight saya dari Jakarta - Surabaya, kemudian lanjut dengan perjalanan darat Surabaya - Banyuwangi - Bali

Kini saya memiliki destinasi wisata yang ingin saya kunjungi untuk berwisata berikutnya.Nah destinasi yang ingin saya kunjungi berikutnya adalah : Pulau Buton Sulawesi Tenggara. Kenapa saya ingin sekali mengunjungi Pulau Buton. Baca deh penuturan saya ini :D

Sumber foto Google

Tinggal di kota sudah dapat dipastikan akan menjumpai jalanan beraspal hitam. Kemanapun kita pergi di kota Jakarta maka aspal tidak dapat lepas dari kehidupan kita. Tetapi di tengah kesibukan aktifitas  kita di kota besar masih ingatkah kita akan pelajaran SD dahulu? Pelajaran IPS atau Geografi berulangkali menjelaskan bahwa daerah penghasil aspal terbesar di Indonesia adalah Pulau Buton. Bahkan Pulau Buton adalah penghasil aspal terbesar di dunia (600 juta ton!) Wohooo…keren yak!?

Ada apalagi di Pulau Buton selain tambang aspal? Check yuk list yang membuat saya ingin ke sana!

[Wisata Sejarah & Budaya} Benteng Keraton Buton. Dibangun pada zaman penjajahan Portugis yang di tahun 2006 tercantum dalam Guiness Book of Record sebagai Benteng Terbesar di Dunia. Luas area benteng  adalah 23,375 hektar dengan panjang 2,7 kilometer yang menurut kabar terlintas bahwa ini yang nomor 2 tembok terpanjang di dunia setelah Tembok Raksasa di China. Benteng ini terbuat dari tumpukan karang yang direkatkan dengan putih telur dan batuan kapur. Dari sini kita dapat melihat kecantikan pemandangan Pulau Buton dari ketinggian dan menuju Masjid Agung Wolio yang berusia 300 tahun

[Wisata Budaya & Laut/Pantai] Desa Wabula di pesisir laut dengan penduduk 3000 jiwa dan jumlah rumah yang berdiri 400 – 500 rumah. Bentuknya adalah Rumah panggung , di bawah rumah tersebut jika siang hari digunakan untuk menenun kain oleh perempuan-perempuan penduduk tersebut. Kain tersebut dapat kita beli, dengan harga dari Rp 150 ribu/kain. Desa Wabula ini berada di pesisir pantai putih. Pernah berlangsung Pesta Adat Wabula dengan pertunjukan yang unik bernama : Pedole – Dole yakni memandikan 100 Balita dalam upacara tersebut. Wadooow seru banget tuh! Yang pasti di desa ini kita yang suka wisata pantai dan budaya (anthropologi) nggak bakalan “rebut” pengen cepet-cepet pulang. Kalau mau ke Pusat Kebudayaan Wolio dan Masjid Quba.

• [Wisata Laut] Pantai Nirwana yang banyak berpendapat seperti di nirwana. Pantai berpasir putih sepanjang 1 kilometer, terdapat gua karang dengan kedalaman 70 – 80 meter. Bagi yang suka diving, disinilah salah 1 tempat yang dapat digunakan untuk diving.

[Wisata Gunung/Hutan] Air Terjun Tirta Rimba . Terletak 6 kilometer sebelah Barat Bau Bau tepatnya di Kelurahan Lakologou Kecamatan Wolio. Air terjun ini berada dalam kawasan hutan lindung.

[Wisata Pantai/Kuliner] Pantai Lakeba. 7 kilometer dari Bau Bau.Di daerah ini kita dapat membeli kue tradional Pulau Buton, yakni : Kasumi dan Tuli Tuli

[Wisata Gunung/Hutan] Samparong. 13 kilometer dari Bau Bau Kecamatan Sorawolio. Sebelum sampai di air terjun yang memiliki ketinggian 100 meter dengan pemandangan sekitarnya yang menakjubkan maka kita akan menelusuri sawah dan kebun penduduk serta hutan tropis yang cukup lebat.

[Kuliner] Seafood adalah salah 1 kuliner yang asyik di pulau ini, bahkan di Jakarta saja jika teman saya yang berasal dari Bau Bau Pulau Buton datang maka saya akan menyambut Ikan Terbang dan beberapa jenis ikan lainnya dari pulau ini…hahaha…Selain itu kita dapat berkunjung ke Café Outdoor, tempat hangout paling gaul di Bau Bau. Namanya Talalikua di Pasar Wajo. Kalau di Talalikua jangan terlewatkan “Saraba” alias Susu Jahe Khas Buton beserta gorengan yang bumbu-nya berbeda dengan daerah lain. Dapat juga nongkrong di Pujaserata di alun-alun Betoambari.

  [Lain-Lain] Mau wisata ke Goa? Kita dapat ke Lakasa, Ntiti atau diving di Gua Moko (Gua Bawah yang memiliki keramik berumur ratusan tahun). Air  kemudian juga mandi di Pemandian Alam Bungi.

[Menanti Duyung] Tahun 1776 Peneliti Kelautan Muller menyatakan bahwa laut di kawasan Indonesia Timur merupakan kawasan laut yang paling banyak dilalui oleh Ikan Duyung. Paling banyak dilalui oleh Ikan Duyung ini adalah laut di Desa Lasalimu Pulau Buton, terbanyak bulan Februari dan Juli. Bukan suatu hal yang mustahil jika icon Indonesia bertambah dengan Ikan Duyung ini selain Komodo, Badak Jawa dan beberapa satwa lainnya. Super duper kaya raya sekali ya Indonesia?
TRANSPORTASI : Dari Jakarta  naik pesawat terbang Makassar atau ke Kendari. Dari Makassar atau Kendari kita dapat terbang ke Pulau Buton dengan penerbangan transit. Bisa juga dengan kapal ferry, tetapi memerlukan waktu 13 jam dari Makassar dan 5 jam dari Kendari. Maskapai Jakarta – Kendari adalah : Lion Air, Sriwijaya, Wings Air dan Garuda. Saya berencana memilih tiket penerbangan Garuda agar direct, tanpa transit. Sssst, ada #TiketGratisAirpaz loh :) Untuk lebih jelas mengenai tiket pesawat ke Kendari, bisa di-check dan booking di airpaz.com/id

http://blog.airpaz.com/id/lomba-menulis-airpaz-tulis-keinginanmu-menangkan-10-tiket-pesawat-gratis-keliling-nusantara/

Tuesday, 16 June 2015

Mendadak Anyer Banten

Ceritanya saat liburan , Kamis – 14 May 2015, 9 anggota keluarga besar saya berkumpul. Makan siang, belanja cantik dan ngerumpi di Loka Cibubur. Kami menggunakan 2 mobil (New Xenia-nya Seno dan Mazda 2-nya Mbak Wien yang kedua-nya baru dibeli beberapa hari yang lalu). Setelah meninggalkan Loka Cibubur saya yang berada di Mazda 2 di telpon oleh Sekar di Xenia. Dia menawarkan apakah saya ingin ikut ke Anyer Banten. Hadeuuuh, kenapa nggak bilang dari tadi supaya saya ikut mobil Xenia? Karena sudah berada di tol Cijago, maka saya turun di ujung jalan toll dan menanti mobil Xenia muncul. Hehehe, sempet diklaksonin mobil dibelakangnya tuh. Duh, maap.

Seno and his family beserta saya kembali memasuki jalan toll dan kami menuju toll Tangerang. Rencana mau ngejar sunset, sekalian ngabisin kilometer mobil baru gitu. Sempat berhenti di rest area, saya dan Seno’s Mom melaksanakan shalat di masjid. Sedangkan Seno dan Sekar membeli beberapa minuman di Starbucks. Perjalanan di lanjutkan. Kami mengambil jalan yang berbeda ketika saya terakhir kali menuju Carita yang ceritanya DISINI.

Pukul 5 sore kami tiba di Anyer Area. Ramai...walaupun nggak sampai macet. Mobil kami memasuki “Pantai Pasir Putih SIRIH Tanpa Karang Anyer”. Membayar tiket masuk sebesar Rp 50,000/mobil. Untuk parkir di pantai ini dikenakan tiket masuk, yaitu : Rp 15,000/orang bagi pejalan kaki, Rp 20,000/motor (Berarti kalau kamu jalan kaki ke pantai ini, mendingan masuknya numpang motor orang supaya lebih hemat :D), mobil kecil/minibus Rp 50,000 hingga bis besar Rp 600,000.


Untuk fasilitas rekreasi dikenakan biaya :
Lesehan Besar Rp 350,000 – Lesehan Kecil Rp 50,000 (Harga antara yang besar dan kecil tidak “proposional” yach?) – Banana Boat Rp 150,000/4 putaran - Parasailing Rp 200,000 – Donat Boat Rp 150,000/4 putaran – Perahu wisata Rp 10,000/orang – Motor ATV Rp 50,000 /15 menit – Jetsky Rp 150,000/15 menit – Selancar Rp 20,000/buah (Hah? Maksudnya buah apa sih?!)

Biaya Wisata Per-Paket Menuju Ke : Pulau Sangiang Rp 2,500,000 – Pulau Krakatau Rp 3,500,000 – Pulau Panaitan Rp 5,000,000 dan keliling tepi pantai Rp 150,000. Sungguh saya nggak mengerti apa yang dimaksud dengan “paket” di selebaran ini, dan rasanya kalau tidak dijelaskan bikin orang melongo gitu. Lah secara nominal kenapa sangat jauh lebih sedikit apabila kita plesiran di Singapore atau Vietnam yak?
Sedangkan roomrate losmen-nya berkisar dari harga Rp 150,000 (TV, Kipas angin) sampai Rp 1,200,000. Jiaah, namanya losmen kenapa sampai ada tariff Rp 1 juta? Hihihi, biar jelasnya silakan hubungi “sales” yang namanya tercantum di selebaran foto copy-an yang saya terima ketika membayar tiket masuk deh.
Di Pantai Pasir Putih Sirih ini kami hanya memarkir mobil sekitar 10 menit, saya hanya berfoto sejenak. Sedang ramai dan kami merasa kurang nyaman di sini. Dengan tagline “Keselamatan, Kenyamanan dan Ketertiban” kami sempat cekikikan melihat ada pengunjung parasailing dengan parasut yang bolong/sobek, kemudian saya hanya bisa nyengir bebek begitu melihat jetsky meluncur diantara pengunjung yang berenang. Meleng dikit yang renang bakalan kepentok jetsky dah!

Makan Malam di Club Bali Resort

Sementara hanya foto ini yang bisa saya pajang :D

Akhirnya kami menikmati sunset dari resto yang berada di Hawaii Club Bali Resort. Sekalian makan malam gaya barbeque. Gak usah cerita yak, soalnya foto-fotonya di tab yang lagi ngadat :D Doa'in aja supaya saya bisa memperoleh tablet dan camera yang oke supaya motret-motretnya asyik saat traveling. Sekalipun traveling dadakan :)

Thursday, 5 March 2015

Semalam di The Falatehan Hotel by Safin

Nggak ada prediksi bahwa suatu saat saya bermalam di hotel berbintang 3 yang terletak di kawasan Blok M Jakarta Selatan. Bermula dari My Lovely  yang datang dari negeri seberang ingin menikmati waktu-nya di salah satu hotel. Saya mempertimbangkan hotel di Kemang dan Menteng, hotel berbintang 3, dia memberi alternatif hotel di Puri Indah Jakarta Barat, Tendean dan The Falatehan Hotel by Safin. Karena Puri Indah sulit saya akses jika tidak membawa kendaraan pribadi dan saya pernah menginap di hotel yang terletak di Tendean – itupun belum sampai 2 bulan yang lalu. Akhirnya saya menuruti-nya untuk booking di The Falatehan Hotel by Safin, walaupun saya agak jiper melihat lokasi lingkungannya. Hihihi, bisa juga ya saya jiper? Ya bisa-lah, karena ada pengalaman yang tidak diharapkan terjadi di area itu beberapa tahun yang lalu. Karena My Lovely  merasa lebih minat di hotel tersebut, maka saya booking melalui internet, survey antara Agoda dan booking.com – jadilah tanggal 18 February 2015 saya booking untuk tanggal 20-21 February 2015.
Tumben ya saya “ngalah” dengan kemauan seseorang? Yap, karena soal waktu, waktu saya bersama My Lovely terasa sangat mahal. Kedua dia yang bayar...hehehe, bukan karena saya nggak mampu loh ya, saya bertekad kok akan membayar-nya suatu saat nanti di suatu tempat yang pastinya pernah saya impikan. Ketiga, warna biru yang menjadi ornamen tempat tidur-nya terlihat fresh.
Jumat, 20 February 2015 – setelah saya menyelesaikan berbagai amanah, saya menuju ke hotel. Hanya menyebut nama-tanpa memperlihatkan voucher hotel. Saat diminta KTP saya kelimpungan karena sepertinya KTP tertinggal di tas kerja. Membayar deposit Rp 100.000 ,- yang saya bayarkan menggunakan debet card, kemudian diberikanlah key card kamar 336 dengan catatan saat My Lovely sampai hotel harus registrasi menyerahkan KTP-nya. Saya wanti-wanti agar memberikan KTP Indonesia-nya agar tidak dikenakan tariff turis asing...hehe, tadinya dia berniat memakai driver license dari negeri tempat tinggalnya sekarang.

Kamar Tanpa Jendela
Ingat cerita saya tentang KamarTanpa Jendela? Kali ini terjadi kembali. Front Officer sudah mengatakan bahwa kamar yang kami tempati di lantai 2 tidak memiliki akses lift. Saya harus bisa melalui tangga, melewati rest room dan pintu kitchen resto hotel. Dikatakan juga bahwa kamar tidak memiliki jendela. Hadeuh, di internet memang tertulis di keterangannya “no view”, saya pikir sekedar view mentok tembok, jadi gak kebayang deh tuh kalau tanpa jendela. Kalau mau jendela saya bisa up grade ke kamar deluxe dengan menambah Rp 100.000,-. Ah, sudahlah...malam ini justru kami tidak memerlukan jendela bukan? ;D
Akses ke kamar memang “nggak banget” seperti yang saya tulis di atas. Ada 8 kamar yang kondisi-nya seperti itu. Kami mendapat kamar di pojok.
Bersyukur begitu membuka kamar saya melihat kamar-nya bersih dan rapih. Nggak terlalu “melenceng” dengan yang ada di foto website promo-nya. Luas kamar-nya pas. Terdapat lemari berpintu lengkap dengan gantungan baju dan safe deposit box, coffee/tea maker dilengkapi 2 air mineral ukuran kecil merk Oasis (Disediakan juga air mineral ukuran 1.5 liter yang jika kita membuka-nya dikenakan biaya Rp 20.000,-), cermin ukuran seluruh badan tergantung di dinding dengan desk untuk sepatu atau koper, tv flat dan cermin dinding yang lebih sebagi hiasan. Ada sofa baca di sisi tempat tidur, selain desk untuk menulis/makan.
Bathroom-nya nggak ada bathub ya J . Tidak ada tube di shower, hanya ada tirai. Relatif bersih dan walaupun bukan dari material yang nomor 1 tapi kondisi dan model-nya baru.



Dinner & Breakfast @ Hotel
Awalnya saya berniat membelikan My Lovely makanan “Ceker Ayam” di resto China Muslim yang terletak di Pasaraya. Melihat lingkungan kehidupan malam di sekitar hotel membuat saya mengurungkan niat tersebut. Sebenarnya saya sudah lapar, demikian pula dengan My Lovely  yang masih dalam perjalanan. Akhirnya dia menyarankan saya memesan di “Room Service” 5 menit menjelang dia datang. Tapi jadi-nya pesan justru saat dia sudah sampai di kamar....
My Lovely  memesan Rawon dan untuk saya Nasi Goreng Seafood. Yang menerima pesanan dia, ternyata sekalian bayar. Rasa makanannya termasuk lezat untuk ukuran hotel. Atau memang karena saya lapar ya? Hehehe...
Untuk makanan Room Service tidak sempat diambil foto-nya, keburu di makan dalam sekejab habis :D
Pagi jam 7-an kami menuju resto hotel untuk breakfast. Baru 1 meja yang terisi. Sebelumnya kami berputar  melihat makanan yang tersedia. Saya hanya mengambil Bubur Ayam, Cereal dan secangkir kopi. Sedangkan dia sudah memenuhi piring-nya dengan Nasi Kebuli, Sosis...entah apa lagi! Kenapa jadi terbalik gini sih “sistem” makanannya?! Dia yang sudah lebih dari 20 tahun di negeri bulek justru sarapan yang bikin para bulek mendelik, sedangkan saya yang sudah lama meninggalkan negeri itu justru pilih yang ringan.
Usai sarapan kami kembali ke kamar. Pukul setengah 12-an kami check out, saya mengambil uang deposit, sementara dia ke lounge khusus. 

Friday, 23 January 2015

Weekend Time : Sentul City

Mobil yang kami beli saat IIMS September lalu akhirnya sampai juga akhir December. Lama juga ya, karena kami beli-nya cash jadi agak tidak diprioritaskan. Duh mak, dunia emang udah kebalik yak, pembeli yang pembayaran kredit justru lebih diprioritaskan dibandingkan cash. Seolah riba diutamakan...hiiii...thank's, Allah, yang memberikan kelancaran rezeki berkah kepada kami :)
Setelah hajatan keluarga, yakni pernikahan Fajar tanggal 11 Januari 2015 maka kami-pun segera "refreshing" menjajal mobil baru yang dibeli memakai uang Ibu ...hihihi.... Mobil kecil, harga terjangkau dan ternyata muat untuk 4 orang di seat belakangnya. Lega pula! Tapi saya nggak akan menuliskan merek mobil-nya ya, lah khan nggak dibayar untuk ngiklan :D Kami berlima berangkat dari rumah bilangan Jakarta Timur (Saya, Ibu, Kakak pertama saya beserta cucu pertamanya dan Kakak saya ke-5) menuju area Pasar Minggu menjemput kakak ke-4 saya. Setelah berunding akhirnya kami memutuskan untuk ke Sentul!
Di Sentul City kami melongok ruko Ibu yang masih disewa oleh teman SMP saya. Beberapa tahun lalu saya tinggal di ruko tersebut bersama dengan sepupu saya. Ihiy, sebenarnya ruko tersebut membawa kenangan bersama 2 teman cowok, MR.A di tahun 2006-2007 dan Mr.D di tahun 2009. Insya Allah Mei 2015 saya mau tinggal di ruko ini kembali sambil membesarkan usaha saya (Yang mau kerjasama bisnis silakan...)

Keliling Sentul City...waaaw, daerah ini sekarang ramaiiii! Berbagai fasilitas sudah tersedia, berbeda dengan saat saya masih tinggal di area ini. Jadi inget waktu saya terpaksa makan gratis bersama dengan Mr.A di salah satu townhouse yang ada di sana. Rumah sakit international, gedung level international dan hotel berbintang sudah beberapa yang buka. Mall sudah beroperasi sejak dulu, tahun 2009 saya dan Mr.D pernah makan malam dan belanja melintas di kegelapan.


Lanjut, kami berenam dengan mobil baru mengarah ke Jungleland Themepark. Cuaca mendung, dan berhubung kali ini jalan bersama Ibu, jadi kami tidak masuk ke Jungeland. Cukup mengerti tempatnya, sehingga jika saya kembali tinggal atau menginap di Sentul City saya bisa bermain kemari dengan bersepeda...hehehe, biar lebih sehat dan bugar. Alhamdulillah....
Buat yang mau naik kendaraan umum, ternyata ada APTB dari Blok M dan Grogol pada jam tertentu. APTB tersebut mangkal nggak seberapa jauh dari lokasi theme park ini.
Hanya saya dan Kany turun dari mobil untuk berfoto di bola icon Jungleland....hehehe....padahal sering orang "nyinyir" tentang berfoto di icons macam ini. Eeeeit, tapi waktu di Universal Studio dan beberapa icon seperti icon Hard Rock Cafe Bali saya beneran menginap di hotel-nya loh yaaa...


Dari Jungleland kami melintas ke Taman Budaya. Semula berniat makan siang disana, tapi macet. Di Ah Pong juga nggak dapat parkir. Ada sih parkiran di gedung parkir, tetapi untuk ibu saya terlalu jauh jalan menuju tempat makannya dari tempat parkir tersebut.
So akhirnya kami makan siang di Cimanggis.
"Tabungan" tempat wisata saya bertambah....Jungleland Adventure Theme Park *Masukin ke Dream Box :)

Monday, 29 December 2014

Hotel Neo Tendean : Kesegaran Warna Hitam Putih

Pada 3 November 2014 seusai Bali Massage di ZEN Spa  saya melintasi hotel yang terletak di Jl. Wolter Monginsidi. Saya mengamati-nya dan masuklah nama hotel ini dalam “Dreams Box”. Woooho, Mahabenar janji-Mu, Ya Mu’min...1 December 2014 ketika sedang project briefing di kantor  Field Devision saya menerima telepon yang menawarkan kamar di hotel ini. Harus malam ini juga! Dengan mantap saya mengiyakan tawaran tersebut. Pas banget keesokan pagi-nya saya mendapat tugas notulensi dari Kemenhunkam.Ternyata perpaduan warna hitam, putih dan abu-abu bisa juga terkesan fresh di Hotel neo Tendean Jakarta by Aston.

Kamarnya tidak terlalu besar, tetapi nggak sempit sih. Ada safe deposit box plus kulkas mini transparant kosong dibawah gantungan pakaian. Tanpa lemari.
Bagus-nya nih hotel petunjuk keamanannya boljug, soale diantara perlengkapan di desk terdapat pamflet “In Case of Earthquake”. Indonesia khan sekarang sering banget terjadi bencana tuh, jadi berguna banget pamflet seperti ini dipelajari, supaya nggak panik bikin cilaka :D

Pada desk juga terdapat menu “Relaxing Service” yang pelayanannya bisa dipanggil ke kamar, yakni :
Perawatan Tubuh Rp 250rb nett (120 menit), Perawatan Peremajaan Tubuh Rp 200rb (100 menit), Perawatan Lulur Tubuh Rp 175rb (75 menit) dan Pemijatan Traditional Aromaterapi Rp 140rb (60 menit), Pemijatan Kaki Rp 140rb (60 menit), Penyegaran Wajah Rp 100rb (45 menit)


Sedangkan "Room Service Menu" berasal dari Clay's Resto & Cafe juga jelas di desk kamar. Diantara menu tersebut adalah  :
Appetizers , al : Caesar Salad, Thai Beef Salad, Rujak Buah.
Thailand : Pad Thai 21rb blm tax, Penang Fried Noodles, Java Fried Noodles, Chicken Hainan (35rb), Kampoeng Fried Rice (25rb),
Unik : Hot Stone Rice Gindara & Hot Stone Rice Chicken (35-36rb) yang dimasak dalam batu panas.Nasi Campur Dinamika (Rp 38rb) : Nasi dibungkus daun pisang dengan ayam goreng, tempe goreng, ikan asin dan sayuran disajikan dengan sambal.

Kolam renang ada di luar sisi Clays's Resto. Nggak terlalu besar kolam renangnya. Eh, tetapi sebaiknya jangan buang air dan berganti pakaian di kamar kecil yang atapnya terbuka karena terlihat dari kamar..hehe...

Pagi, saat check out tanpa terencana saya ketemu dengan anak sepupu saya di lobby. Di lobby juga ada desk travel agent, kalau berminat mengikuti travel - misalnya ke kepulauan seribu kalian bisa menggunakan jasa travel agent tersebut.

Sunday, 14 December 2014

Alangkah Indahnya Pesta Pernikahan Indonesia

Sekarang saya semakin gembira menghadiri resepsi pernikahan loh! Hihihi....Alhamdulillah, punya kerabat beragam dari berbagai kalangan membuat saya sering di undang atau diajak menghadiri undangan pernikahan. Beberapa tahun lalu saya sempat jadi Penari, MC Resepsi Pernikahan, Penerima Tamu, Pagar Ayu sampai Pembaca Terjemahan Al Quran saat akad nikah berlangsung :) Pernah ditawarin jadi Pembawa Acara saat Akad Nikah, tapi saya tolak dengan histeris (bukan halus lagi...) karena duh, nanti yang deg deg-an justru saya, bukannya kedua mempelai :p Wong kalau saya yang nikahan aja  justru sembunyi di ruang rias...hahaha....
Kembali berbicara tentang Resepsi Pernikahan, pesta pernikahan beragam deh. Kali ini saya akan menceritakan tentang pernikahan traditional Indonesia. Weekend ini saya menghadiri 3 resepsi pernikahan dengan menggelar budaya Indonesia. (Weekend lalu khan nonton di 3 film Indonesia D)

Sabtu, 13 December 2014
Balai Sudirman - Jakarta Selatan
Panti Perwira
Siang dan Malam hari saya dan Mbak Lien menghadiri resepsi pernikahan di ruangan yang sama dengan mempelai yang berbeda. Siang hari mempelai mengenakan nuansa adat dan busana Sumatera Barat, sedangkan malam hari mempelai mengenakan nuansa adat dan busana Sulawesi Selatan.
Catering-nya sama-sama menggunakan Alfabet, catering yang digunakan pada resepsi pernikahan keponakan saya di Balai Samudera Kelapa Gading bulan September 2011

Sebelum duduk di pelaminan mempelai dan ortu-nya berdiri sampai penari menuntaskan tariannya. 

Nuansa Sumatera Barat. Tulisan kanji yang ada di foto ini ignore aja ya, saya belum sempet nanya artinya ke keponakan saya yang ngerti bahasa ini :p

Pesta Pernikahan Nuansa Bugis - Sulawesi Selatan. Bupati Pangkep Sulsel turut hadir malam tadi. Mantan Bupati Tapanuli Selatan juga hadir, karena mempelai pria orang tua-nya bermarga Hasibuan dan Harahap



Ahad, 14 December 2014
Taman Mini Indonesia Indah - Jakarta Timur
Anjungan Nusa Tenggara Barat


Kangeeen sama Lombok Nusa Tenggara Barat!! Alhamdulillah, salah satu kerabat mengundang keluarga besar saya untuk menghadiri Resepsi Ngunduh Mantu keponakannya. Melalui ta'aruf, ketemuan hanya 2x sambil menunduk malu, pernikahannya sudah dilaksanakan tanggal 6 December 2014 di Semarang Jawa Tengah, kemudian Tante dan Oom si Mempelai pria mengadakan acara Ngunduh Mantu di TMII Anjungan Nusa Tenggara Barat yang saya hadiri ini. Tante si Mempelai pria memiliki catering dan sanggar rias, jadi bukan suatu hal yang berat-lah untuk membiayai "ngunduh mantu" ini. "Sekalian syukuran...." menurut Sang Tante. Upacara adat NTB lengkap dengan tariannya di Anjungan Nusa Tenggara Barat. Ketika Tari Gandrung ditampilkan maka tamu yang diberi kipas oleh Penari harus memberi saweran dan ikut menari...hahaha...Boss Mempelai Pria yang orang Korea jadi "korban", demikian pula dengan Suami-nya Riska (Anak sepupu saya). Tetapi berhubung suami-nya Riska lulusan Universitas Mataram, jadi dia udah lumayan lancar joged gandrungnya....hahaha. 


Tanggal 20 Januari 2015 akan diselenggarakan Resepsi Ngunduh Mantu di Ampenan Mataram. Kali ini yang punya hajatan adalah orang tua kandung mempelai pria. Mbak Moel, sepupu saya tadi menanyakan apakah saya akan ke Lombok bulan depan. Hihihi....pengen banget sih ke Lombok lagi, apalagi saya sudah jatuh cinta dengan bumi Allah yang juga berjulukan "Pulau Seribu Masjid". Lihat situasi kondisi bulan depan deh, karena bulan Januari 2015 keluarga besar saya juga ada hajatan pernikahan di Jakarta, dan itu bersamaan dengan keponakan sepupu saya juga menikah di Bukit Tinggi Sumatera Barat *Sebenarnya yang ini saya juga minat datang loh...hehehe...tapi palingan datang kalau ada Ngunduh Mantu-nya di Jakarta dskt-nya.

Emang keren banget ya budaya kita, Indonesia. Bahkan di Jakarta saja kita bisa menikmati sebagian dari kebudayaan tersebut. Ini bisa berperan untuk pengembangan wisata kita di mancanegara! Sepupu saya di Kebumen Jawa Tengah melaksanakan adat pernikahan Jawa Tengah lengkap di dokumentasikan oleh orang Jepang, kemudian dokumentasi tersebut ditayangkan di negeri Matahari terbit. Ketika itu Bupati Kebumen Ibu Rustriningsih turut hadir. *Sayangnya saya nggak hadir di acara tersebut *>