Wednesday, 14 September 2022

Kota Lama Semarang Sekarang Cemerlang

Hallooo....

Untuk membaca cerita saya jalan-jalan di Kota Lama Semarang, silakan baca di halaman Kompasiana saya. Klik aja tulisan di bawah ini :

Kota Lama Semarang Sekarang Cemerlang



Wednesday, 23 March 2022

Telaga Cicerem - Jawa Barat : Healing Itu Bukan Traveling

Sekarang istilah "healing" sering kita dengar atau baca di dunia nyata maupun maya. Banyak yang menganggap healing adalah traveling. Hahaha mereka berharap sepulang dari traveling maka kepala tak pening karena sudah healing. Eh malah banyak yang pusing karena uang mereka nggak "mencling" sepulang healing yang mereka thinking .... hahaha

Alhamdulillah, sejak July 2021 daku justru sering real healing dengan melakukan self therapy. Dengan mengikuti training Hujan Rezeki dilanjutkan "Quantum Miracle Mastery"... Yess real healing justru dilakukan di rumah. Bersih-bersih rumah justru jadi salah satu cara healing buatku 😊

Selama tahun 2021 daku banyak melakukan traveling. Masih yang dekat-dekat saja, bahkan seputaran Jabodetabek, namun tempat-tempat tersebut banyak yang baru kukunjungi atau telah direnovasi setelah masa pandemi.

Setahun lalu , 22 - 23 Maret 2021 daku piknik ke Majalengka , Telaga Cicerem Kuningan dan makan siang di Cirebon. Sebagian ceritanya kuambil dari medsosku yaa karena selama tahun 2021 daku gak nulis di blogspot 🙏😁

Tuesday, 5 May 2020

Caturday Cat Cafe, Tempat Asyik Pecinta Kucing

Bangkok Thailand terdapat berbagai cafe yang menarik dan unik. Pastinya instagramable! Ah sayangnya pandemi covid-19 terjadi melanda dunia, sehingga kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana wajah pariwisata dunia paska pandemi. Daripada memusingkan hal itu, lebih baik saya melakukan hal yang bisa dilakukan sekarang. Di rumah saja, minum di teras ditemani oleh kucing-kucing yang berkeliaran di halaman rumah . Tidak saya rawat secara khusus, tetapi mereka bersih, bagus dan menyenangkan. Secara berkala saya memberinya makan. Seru melihat mereka berebutan makanan, sampai saya yang teriak-teriak antara kegirangan dan mengingatkan.


Di masa pandemi ini saya juga menorehkan kenangan bersama kucing-kucing di Bangkok Thailand, yakni saat berkunjung ke Caturday Cat Cafe yang terletak di 89/700 Phayathai Rd, Thanon Petchaburi, Ratchathewi . Tepat di depan Asia Hotel Bangkok, tempat saya dan Erny makan malam di bulan Oktober 2019. Ketika kami makan malam di Asia Hotel Bangkok, ceritanya bisa dibaca di : All You Can Eat di 3 Hotel Thailand Dalam 1 Hari

Monday, 20 April 2020

Palembang : Dari Al Qur'an Al-Akbar ke Pasar Durian Kuto

Palembang merupakan kota yang cukup akrab untuk saya, karena Almarhum Ayah pernah ditugaskan beberapa tahun di ibu kota Sumatera Selatan. Saat itu saya masih balita, tidak banyak yang saya ingat mengenai kota ini selain bayang-bayang Jembatan Ampera dan Sungai Musi.
Bersyukur di pertengahan bulan Februari 2020 saya mendapatkan kesempatan kembali ke kota berlangsungnya Asian Games 2018. Ya, tentunya kita masih ingat bahwa pesta olah raga terbesar di Asia itu terselenggara di 2 kota negeri tercinta, yakni : DKI Jakarta dan Palembang.
Saya tiba di Bandara Sultan Sultan Mahmud Badaruddin II pada pukul 13.00. Ada seseorang yang berbaik hati akan menemani hari-hari saya di Palembang. Maulana, yang entah berapa ratus purnama kami tidak bercengkerama hari ini menjemput di bandara dengan mobil dinasnya.


Al-Qur’an Al-Akbar Palembang
“Kita langsung ke Al-Qur’an Al Akbar terlebih dahulu ya, An,” Kata Maulana dibalik kemudi. Saya setuju.
Maulana baru sebulan bertugas di Palembang, ia belum mengenal jalan kota ini. Kami berjalan dengan mengikuti arahan Google Maps. Tak sampai 1 jam kami sudah tiba di parkiran Pondok Pesantren Al Ihsaniyah Gandus Palembang. Disinilah terdapat Al-Qur’an terbesar dan pertama di dunia. Terbuat dari kayu jenis tembesu. Terdapat 30 jus ayat suci Al-Quran yang terpahat khas Palembang di lembaran kayu. Masing-masing lembaran tersebut berukuran 177 x140 x 2,5 sentimeter dan tebalnya mencapai 9 meter.
Al-Qur’an diresmikan pada hari Senin, 30 Januari 2011 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bersama delegasi konferensi parlemen Organisasi Konferensi Islam (OKI).
Memasuki bagian Al-Qur’an raksasa ini kami diharuskan membuka alas kaki dan mengisi buku tamu yang telah disediakan. Kemudian seorang pria menyambut dan menjelaskan mengenai area wisata religi ini. Setelah kami berbincang-bincang dengan pria yang merupakan salah satu pengurus dari Al-Qur’an Al Akbar, kami pamitan untuk berkeliling dan berfoto di area sana.
Menjelang petang kami berdua baru sempat makan siang di Rumah Makan Pagi Sore yang terletak di Jln Jend. Sudirman No 3008, 20 Ilir Palembang. Seusai makan siang (yang kesorean) saya check in di Fave Hotel Palembang. Beberes dan istirahat sejenak, kemudian kami ke daerah Banyuasin. Maulana harus kembali ke kantor, dan saya menunggu di rumah dinasnya.

Tuesday, 14 January 2020

Shiroi Koibito Park, Surga Coklat di Sapporo

Dua keponakan saya berkeinginan untuk berkunjung ke Shiroi Koibito Park di kota Sapporo Hokkaido. Menurut mereka ini adalah pusat industri atau pabrik coklat terkenal di Hokkaido. Katanya lagi coklat ini wajib dibeli jika traveler berkunjung ke Hokkaido. Baiklah, setelah kami berkunjung dan berjalan-jalan di Hokkaido University , JR Tower dan Sapporo Tower, maka kami naik subway menuju Shiroi Koibito Park. Tidak seperti saat di pulau Honshu, maka disini kami membeli tiket subway untuk seharian. Kami turun di Stasiun Miyanosawa (Jalur Tozai) dan melanjutkan berjalan kaki ke Shiroi Koibito Park.


Perjalanan sekitar 10 menit kami tempuh dengan menahan gigil. Asli dingin! Tadi di Sapporo Tower suhu menunjukkan minus 6 derajat celcius. Saya berlari-lari kecil agar dingin ini dapat sedikit terhalau. Sekedar mengelabui tubuh bahwa suhu di luar tidak membuat tubuh menjadi beku...hehehe...
Dari beberapa meter, saya melihat bagian bangunan Shiroi Koibito Park. Saya merasakan kemiripan suasana dan bangunan-bangunan yang ada di sana seperti saat saya berada di Eropa dan New Zealand. Jika tidak memperhatikan orang-orang disekitar, barangkali saya mengira bahwa saya berada di Eropa atau New Zealand.
Lampu bertebaran di Shiroi Koibito Park belum dinyalakan, tetapi dapat diduga bahwa jika lampu-lampu ini menyala pasti sangat indah. Terlihat di depan menara jam Automaton Sapporo atau Gran Meister yang merupakan landmark taman ini.  Masih berthema Christmas Winter, dan saat kami berkunjung ke sana memang saat itu tanggal 31 Desember 2019. Berarti hari terakhir di tahun 2019 dan nanti malam adalah malam tahun baru yang di beberapa negara dirayakan secara gemebyar dengan kembang api dan aneka mapping laser. Perayaan keramaian itu tidak ada di Sapporo, kota terbesar dan teramai di Hokkaido. Sapporo yang juga merupakan ibukota Hokkaido sunyi di malam tahun baru. Hujan salju yang meramaikan kota tersebut.


Tidak seperti di luar pagar, Shiroi Koibito Park telah ramai oleh turis berbagai negara. Ternyata traveler yang datang kebanyakan adalah grup traveler dari Indonesia. Akhirnya kami bertemu dengan banyak traveler dari Indonesia, setelah selama di Tokyo kami relatif jarang berjumpa dengan traveler Indonesia. Herannya ketemu dengan traveler Indonesia banyak di tempat belanja...hahaha...Sejak dahulu traveler bangsa kita memang terkenal senang berbelanja hingga di beberapa kota dunia, pedagang di pusat perbelanjaan dapat berbahasa Indonesia khusus untuk berkomunikasi transaksi belanja!

 
Saat saya sedang berfoto, difoto’in kakak yang cowok (sementara yang lainnya sedang berada di tokonya – belanja coklat), kami antri dengan turis-turis asal Indonesia yang meminta kami memotretkannya. Dari logat bertuturnya mereka sih bukan asal Jakarta. Demikian pula saat saya duduk di kursi yang berderet di depan toko, tiba-tiba beberapa lansia menghampiri saya dan meminta sedikit space untuk salah satu diantara mereka duduk. Melihat tampilan mereka yang sudah seusia oma opa saya langsung memberikan mereka duduk. Mereka agak terkejut ketika mengetahui saya berasal dari Indonesia. Setelah sedikit perbincangan akhirnya diketahuilah bahwa mereka rombongan tour keluarga dari Surabaya yang berwisata ke Hong Kong kemudian  langsung terbang Sapporo Hokkaido  tanpa melakukan perjalanan ke Tokyo atau daerah di pulau Honshu. Keluarga crazy rich Suroboyo  kelihatannya...hahaha

Tuesday, 31 December 2019

The Posh Phayathai, Luxury Hostel in Bangkok

Keberangkatan kami berlima ke Seoul membuat kami singgah di Bangkok Thailand. Keempat anggota keluarga yang akan bepergian dengan Saya ternyata masih masuk kerja di hari Jumat. Mereka berangkat seusai jam kerja di hari Jumat (20 Desember 2019), tiba di Bangkok Thailand tengah malam dan menyewa penginapan kemudian kami berangkat ke Seoul Korea keesokan harinya (Sabtu, 21 Desember 2019).


Saya  memutuskan berangkat sehari sebelum mereka berangkat. Pengen menikmati kembali kota Bangkok sebagai solo traveler ceritanya....hahaha...Berangkatlah Saya hari Kamis (19/12/19) ke Bangkok Thailand dengan penerbangan Air Asia dari Soekarno Hatta ke Don Mueang. Sudah menahun nih nggak jadi solo traveler, so pengen juga njajal (kembali) menjadi solo traveler yang sedang digandrungi millenial. Huhuhu...padahal saat kuliah saya puluhan kali menjadi solo traveler. Terbang dengan penerbangan full services dan hotel berbintang 4 - 5. Sekarang mencoba deh jadi smart traveler yang terbang dengan LCC dan menginap di hostel. Browsing internet tentang penginapan terjangkau, ada pilihan hostel di dekat KBRI di Bangkok. Terlihat instagramable, terkesan seperti co working space yang memang keren terlihat di foto. Testimonial dari tamu yang menginap di hostel tersebut juga baik-baik. Tetapi saya jadi ragu saat melihat foto-foto tamu yang pernah menginap di hostel tersebut. So sorry...kok kesannya penampilan mereka berantakan dan banyak yang menggunakan tas ransel/backpack ya?! Kembali saya telusuri media sosial dan cerita2 netizen yang pernah menginap disana. Wah, akhirnya saya urung untuk bermalam di hostel tersebut. Lebih baik saya menginap di hotel privat sekalian deh...toch tarif hotel berbintang  di Bangkok masih terjangkau oleh kondisi keuangan. Hhhmmm walaupun sebenarnya saya ingin mendapatkan pengalaman, petualangan dan pemandangan berbeda dari traveling sebelumnya.
Alhamdulillah, saat browsing kembali saya menemukan The Posh. The Posh menyatakan bahwa ini adalah luxury hostel. Tampilannya di berbagai foto di web sungguh menarik, dan pemberi testimoni juga smart traveler yang tidak bergaya hemat kebangetan dan juga tidak bergaya sultan. Pokoknya seperti saya deh, liburan aman nyaman terjangkau. Ogah travel sok hemat. Kalau uang ngepas mending piknik di sekitar rumah aja. Traveling tuh harus memberi manfaat buat warga lokal daerah kita berwisata.
 
How to The Posh from Don Mueang International Airport?
Setelah memberi check dokumentasi imigrasi, Saya mengikuti arah keluar yang menunjukkan tempat apabila kita ingin mengendarai umum. Melihat tour guide atau penjemput mengangkat papan nama traveler yang dijemput membuat saya ingat Afee yang menjemput saya 2 bulan lalu. Nggak pakek nunggu, naik ke van yang langsung membawa kami ke hotel. Kini saya menunggu bis shuttle nomor A1 tujuan Mon Chit BTS Stasiun. Kurang dari 10 menit shuttle datang. Mirip dengan bis airport yang mengantar kita ke depan pesawat terbang, namun lebih diperbanyak kursinya. Nyaman. Alhamdulillah, diluar ekpektasi saya yang mengira bis di Thailand tidak lebih baik dari Jakarta. Petugas yang menagih pembayarannya juga ramah serta membantu saya. Seorang wanita bersuara nyaring, memegang kaleng yang dikrecek-krecek berpakaian seragam rapih. Tariff bis adalah 30 bath. Di terminal airport berikutnya bis menjadi penuh banyak yang berdiri. Untungnya saya sudah duduk, travel bag juga berdiri di dekat seat. Setelah sampai Mo Chit, saya menuju BTS Stasiun. Di kaca kasir saya melihat tariff BTS menuju Phaya Thai, yakni 37 bath. Terpampang nyata sehingga tidak perlu menanyakan kembali. Naik BTS dengan menjinjing travel bag beroda 2, akhirnya tibalah di station BTS Payathai. Melalui exit 2 dengan mudah saya temukan The Posh. Langsung terlihat begitu saya turun dari tangga stasiun BTS. Di sebelahnya terdapat Sevel Eleven.


Sunday, 8 December 2019

Perjalanan Singapore Awal 2018

Saya mau bersih-bersih gallery dan lainnya nih, karena Insya Allah bakal digelontor oleh foto-foto baru dari trip yang akan datang :)) Foto ini merupakan trip ke Singapore setelah Ibu saya meninggal dunia. Hanya dalam waktu nggak sampai 24 jam sejak Ibu menghembuskan nafas terakhirnya, Saya "harus" sudah berangkat ke Terminal 3 Soekarno Hatta Airport. Campur aduk dah tuh perasaan....apalagi Singapore merupakan negara terakhir yang dikunjungi Ibu saat beliau traveling. Sudah di dorong kursi roda, sebenarnya beliau masih ingin traveling ke luar negeri seperti saat muda , tetapi kondisi terakhirnya beliau hanya kuat di penerbangan yang tidak lebih dari 5 jam.

Cerita saya tentang travel saya ke Singapore 2018 juga sebagian telah saya tuliskan di postingan dibawah ini :






Di depan patung Rafles, disini ia pertama kali berlabuh di Singapore

Sentosa Island


Masjid Al Falah dekat Orchard Road seusai shalat Ashar. Baru tahu tahun 2019 ternyata Bpk Sandiaga Uno, eks Wakil Gubernur DKI Jakarta menikah di masjid ini.

Thursday, 5 December 2019

DC Mall Bangkok dan Asiatique Waterfront di Bulan Oktober 2019


Wow, nggak terasa ya waktu berlalu begitu cepat. Tepat 2 bulan yang lalu (04/10/2019) saya jalan-jalan dan menikmati kota Bangkok. Ketika itu begitu tiba di hotel, kami harus menanti hingga pukul 14 untuk mendapatkan kunci kamar hotel. Sambil menunggu, saya dan Jeng Erny memanfaatkan waktu untuk berkunjung ke DC Mall Bangkok dan Asiatique Waterfront. Cerita singkatnya saya torehkan di Facebook dan blog ini. Sekedar mengingat kembali, memutar waktu di masa mendatang. Bukan berarti nggak move on. Insya Allah dalam waktu 2 minggu lagi saya akan kembali ke Bangkok. Jalan-jalan lagiiii.... Makanya tulisan ini semoga saja menjadi catatan travelogue saya. Ya, dalam berkunjung ke suatu negara, saya harus berkunjung ke sebanyak mungkin daerah (Jika memungkinkan setiap kelurahan! Hahaha...bukan sekedar daerah wisatanya saja....)

Di pesawat dan di van jemputan

Ada Bangtan Boy di DC Mall Bangkok


Yang suka boyband or KPop pasti ngerti tentang Bangtan Boy alias BTS . Penggemarnya biasa disebut Army. Nah sesampai di Bangkok, tiba - tiba saya kok kepingin berkunjung ke BTS Brick Live Cafe, salah satu cafe (kabarnya) milik BTS dan 7 Oppa ini pernah nongkrong di cafe ini di April 2017.
Saya utarakan ke Afee (Cowok Thailand  yang menjemput  kami di airport ) bahwa saya akan ke Show DC, tempat cafe tersebut. Afee malah komen,"Mall-nya sepi pengunjung, buat belanja juga gak asyik." Yaaa gak masalah sih, Fee, gw nanya tentang film romantic comedy Thailand yang lagi tayang loe juga gak ngikutin perkembangannya... hahaha, mungkin macam masyarakat Indonesia, banyak yang malas nonton film negeri sendiri . Tapi kalau saya sebagai creative industry enthusiast mah tetap dong memperhatikan creative industry di Tanah air .
Kata Afee mall-nya gak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap di Bangkok. Sampai di hotel masih pukul 12 , dan kunci kamar baru akan diserahkan jam 2 siang. Yowis begitu diberi wejangan dan ditinggal oleh Afee dan driver, Saya en Jeng Erny langsung order Grabcar. Doh, itu apps settingannya aksara Thailand. Itu apps belum di-update sepertinya. 


Alhamdulillah akhirnya kami bisa sampai di lobby utama Show DC. Sopirnya pendiam tetapi melayani dengan baik, bahkan ia menyediakan receh kembalian. Sejenak kami berkeliling mall yg emang tidak sedang ramai, tetapi Arena di depannya tampak sangat ramai - sedang persiapan akan ada show besar sepertinya...

Monday, 25 November 2019

Hotel di Ramkhamhaeng Bangkok Bernama Thomson Huamark Hotel


Hello Wanderlust...
Kali ini saya ingin cerita tentang akomodasi yang saya inapi saat saya dan Jeng Erny berada di Bangkok Thailand. Hotel ini saya dapatkan dari travel agent yang kantor operasionalnya di daerah Duren Sawit Jakarta Timur. Kami membeli paket Bangkok – Hua Hin dengan beberapa pilihan akomodasi dengan harga yang berbeda pula. Kami pilih paket “Super Hemat”. Hemat dengan kualitas hotel berbintang 3 , walaupun sebenarnya selisih harganya tidak tinggi dengan yang kelas diatasnya. Jeng Erny bilang,”Khan kita di hotel tinggal tidur aja, jadi nggak perlu yang harganya tinggi-tinggi deh!” Sedangkan saya justru berpendapat, karena seharian kita berjalan-jalan dan banyak beraktifitas di luar maka saya akan memilih tempat istirahat malamnya yang aman dan nyaman agar istirahat kita berkualitas dan keesokan harinya kita bisa beraktivitas dengan segar, sehat dan nyaman. 

Di Depan Hotel
Saya percaya pihak travel agent memberikan akomodasi yang baik. Walaupun nama paket-nya “Super Hemat” tetapi itu super hemat bagi pangsa pasarnya yang tingkat sosial ekonominya menengah deh. Thomson Hotel Huamark  memang berada tidak di pusat kota dan tidak dekat dengan stasiun BTS tetapi selama di Bangkok kami memang rencananya tidak menggunakan transportasi umum. Kami akan selalu diantar jemput oleh van dari travel agent saat melakukan perjalanan sesuai jadwal. Di sela waktu bebas, kami akan gunakan transportasi mobil online karena saya yakin transportasi online di Bangkok Thailand memiliki tariff  hampir sama dengan tariff  transportasi online di Jakarta. Nggak setinggi di Singapore! 

Lobby Hotel

Monday, 4 November 2019

“All You Can Eat” di 3 Hotel Thailand dalam 1 Hari

Saya ingin cerita saat berwisata di Thailand. Kalian pernah nonton film “Eat, Pray, Love” yang diperankan oleh Julia Robert? Atau barangkali pernah membaca novelnya yang memang diangkat dari kisah nyata penulisnya? Secara singkat seakan saya berperan seperti tokoh film atau novel tersebut. Tetapi ketika di Thailand, saya terkesan lebih banyak makannya! Berdoa sih saya diam-diam saja ya, walaupun singgah dan bertemu dengan banyak orang berdoa – sekalipun di tempat umum, seperti di space antara Siam dan MBK. Mereka berdoa di depan foto atau lukisan Raja Thailand yang terpampang nyata. Alhamdulillah, saya masih bisa mampir shalat Dhuha dan Hajat di Masjid Islamic Centre of Thailand Foundation. Kalau “love” justru terasa banget saat sudah kembali ke Jakarta...duuh, Gusti...daku jatuh cinta dengan Thailand. Nggak ada perbedaan waktu antara Thailand dan Indonesia, tetapi saya berasa “jetlag”...hahaha. Nah, sekarang akan saya ceritakan tentang gaya makan saat di negeri Gajah Putih ini, tetapi hanya saya ceritakan 1 hari saja ya di postingan ini, karena saat tanggal 6 Oktober 2019 berasa banget kenyang sampai mau pingsan (lebay!) makan 3x sehari di hotel berbintang di 2 kota dengan hidangan prasmanan atau buffet (baca : ALL YOU CAN EAT!)


Breakfast at Lai Kram Restaurant – City Beach Resort Hua Hin
Pukul 7 saya dan Erny menuju restaurant hotel di lantai 2. Seperti biasa jika akan breakfast di hotel, saya menyisir aneka makanan dan minuman di atas meja. Ternyata menu di hotel ini menyediakan makanan non-halal! Terpisah dan ditandai secara nyata. Saya langsung menyingkir! Masih percaya jika di hotel, maka secara profesional mereka memisahkan peralatan makan/masak halal dan non halal. Apalagi ini di Thailand yang “kesadaran” terhadap standard makanan minumannya tinggi, dan di area international yang full turis beragam negeri. Dibagian makanan yang non pork dan lard saya membelalakkan mata kegirangan melihat salah satu menu Thailand favorit saya tersaji disitu.Pad Kraprao Gai alias Hot Basil Chicken berhasil saya santap pagi itu. Plus Soup Ayam Bening Thailand...yang saya gak inget nama Thailandnya. Saya juga mengambil telor diacak-acak (omellet or scramble egg), makanan kebangsaan breakfast hotel berbintang diseluruh dunia sepertinya!
“Waaaw...di resto Thailand Jakarta, setidaknya saya harus membayar lebih dari Rp 80.000 untuk beberapa gram makanan ini! Kini makanan ini tersedia berkilo-kilo gram dan dapat daku makan semua....” Yang pasti sih nggak bakal sanggup saya menghabiskan 1 panci menu tersebut. Seandainya sanggup juga saya masih punya malu kok, nggak sudi bikin malu nusa dan bangsa kalau sampai celamitan di negeri orang...hahaha... Sorry yeee, daku mah turis berharga diri tinggi...hihihi...
Saat breakfast di resto hotel ini sepertinya turis dari Indonesianya hanya kami deh. Lirik kanan kiri sepertinya mereka dari Philipina, Jepang dan beberapa negara Asia lainnya. Restaurant di lantai 2 bernama Lai Kram Restaurant yang satu lantai dengan kolam renang. Kemarin sore Jeng Erny sukses berenang di sini. Di lantai bawah dekat lobby juga terdapat restaurant merangkap coffee shop.



Saturday, 19 October 2019

Wisata Semalam di Hua Hin Thailand

Saya memiliki keinginan untuk berkunjung ke Hua Hin Thailand. Alhamdulillah akhirnya keinginan tersebut mewujud pada tanggal 5 - 6 Oktober 2019.

Hua Hin terletak sekitar 200 kilometer Selatan Bangkok, merupakan salah 1 dari 8 distrik di Provinsi Prachuap Khiri Khan. Kota wisata pantai terkenal di bagian utara Semenanjung Malaysia.

Pagi itu kami dijemput Afee – cowok Thailand yang sudah cakap bahasa Indonesia dengan van yang disopiri oleh driver Thailand yang sepertinya hanya bisa berbahasa Siam. Van ini semacam shuttle atau ‘travel car’ di Indonesia. Saya tidak memperhatikan brand kendaraan tersebut, namun dengan kapasitas yang cukup banyak hanya kami berdua, Afee dan driver  yang menaiki van tersebut. Pukul 8 seusai sarapan di Tomson Hotel Huamark Bangkok, van langsung melaju ke Hua Hin. Saya cukup menikmati perjalanan pagi itu, dan sempat tertidur karena semalam kami memanfaatkan waktu makan malam di Asiatique Waterfront Bangkok.
Tak terasa hampir 3 jam perjalanan, sampailah di Hua Hin. Tampak beberapa tempat wisata baru sepanjang jalan saat memasuki kawasan Hua Hin. Tujuan pertama kami adalah Santorini Park. Sebenarnya keinginan utama saya ke Hua Hin memang ke Santorini Park sih, karena saya pecinta theme park di seluruh dunia...hehehe....


SANTORINI PARK, Miniatur ala Santorini Yunani
Kami bertiga di drop di pintu masuk. Sementara Afee membeli tiket masuk, saya dan Jeng Erny berfoto ria deh! Saat tiket masuk diberikan Afee mewanti-wanti agar kami sudah selesai pada pukul 12.30 untuk makan siang dan melanjutkan plesiran kami. Waaah, saya langsung nawar minta perpanjangan waktu dooong....Lumayanlah walaupun hanya dikasih perpanjangan setengah jam karena masih beberapa tempat yang harus kami singgahi.


Tanpa banyak komentar kami berdua berfoto-foto ria di taman wisata yang ceritanya merupakan miniatur Santorini di Yunani sana deh! Hahaha.... Santorini Park Hua Hin ini berderet toko-toko, jadi ya ini sederetan toko/ruko yang didesain ala Santorini, khususnya dalam pemberian warnanya.



Menurut saya lokasinya tidak terlalu besar, pantesan saja Afee memberi waktu tak lama kepada kami. Selain berfoto ria, saya membeli magnet kulkas bertuliskan Santorini Park di Iyara Oriental. Relatif terjangkau kok, hanya 25 bath masih dapat bonus postcard. Kenapa komen yang saya baca mengatakan bahwa harga-harga di sini mahal-mahal yach?! 

Souvenir lainnya juga harganya relatif terjangkau, karena waktu yang tidak banyak saja akhirnya saya nggak banyak berbelanja disini. Dari tiket yang dibeli, kami diperbolehkan memilih 1 wahana permainan dari beberapa yang ada (Hanya ada 1 wahana yang harus beli tiket ekstra). Saya sih pilih naik ferris wheel  dong, khan yang memang menjadi icon theme park ini. Belum lagi puas bermain, kami harus meninggalkan Santorini Park. See You, Santorini Park....sampai jumpa, Insya Allah suatu saat kukembali...




Monday, 15 July 2019

Menyusuri Kepulauan Karimunjawa


Setelah saya posting tentang penerbangan dan hotel berbintang di Karimunjawa , kali ini saya menuliskan tentang kenikmatan berkunjung ke berbagai tempat di Kepulauan Karimunjawa. Karimunjawa sebenarnya memiliki 27 gugusan pulau kecil. Jarak antara 1 pulau dengan pulau lainnya beragam. Ada yang memerlukan waktu tempuh hampir 2 jam dengan menggunakan boat bermesin.


Pulau Geleyang  ⛱
Setelah sarapan pagi di resto hotel ,keponakan saya menuju ke front office hotel untuk mendapatkan informasi penyewaan perahu yang akan kami booking secara privat. Dengan biaya Rp 700.000 kami menyewa boat (perahu bermesin) seharian yang hanya ditumpangi oleh kami berlima (plus juru kemudi kapal tentunya).
Juru kemudi kapal adalah pria paruh baya yang awalnya mengaku berasal dari Bugis namun setelah ngobrol agak panjang dengan saya ternyata berasal dari Bau Bau Sulawesi Tenggara menikah dengan wanita asli Karimunjawa dan kini telah dikaruniai 3 anak yang telah lulus SMK di Karimunjawa.
Dari hotel kami dijemput oleh mobil sewaan menuju pelabuhan. Mampir sejenak di satu toko klontong sekaligus menyewa safety jacket dengan tarif Rp 25rb/jacket.
Tujuan pertama kami adalah Pulau Geleyang. Jarak tempuh antara pulau besar Karimun Jawa dan Geleyang sekitar 40 menit.
Karena air laut sedang relatif surut, maka kapal kami tidak dapat menepi tepat di bibir pantai. Kalau nekad bisa kepentok karang euy! Oleh karenanya kami turun ke daratan harus menempuh jalan kaki dengan ketinggian air setinggi paha. Hhhmmm...sekarang Jakarta sudah aman dari banjir deh, jadi selama 3 tahun saya sudah tidak terpaksa harus berjalan di air setinggi itu...hahaha... Tetapi kali ini saya sedang kedatangan tamu bulanan. Ketika saya coba menapak keluar kapal, ternyata air hampir menyentuh pinggul saya. Saya-pun membatalkan menapakkan kaki ke Pulang Geleyang. Khawatir darah membasahi sekujur pakaian yang saya kenakan. Lain halnya jika saya memang mempersiapkan diri untuk berenang atau olah raga ya.
Akhirnya saya menanti keluarga kakak di kapal berduaan dengan Bapak pengemudi perahu. Ngobrol hampir 1 jam! Ya secara gitu daku gak bawa buku bacaan dan sinyal internet jg lenyap sekejap disekitar pulau tersebut. Tetapi hikmahnya, saya banyak mendapatkan cerita tentang penduduk Karimunjawa darinya. Alhamdulillah, Bapak ini selain mengemudikan perahu juga bekerja sebagai Nelayan. Tak ada keluhan tercetus dari ucapannya walau ia ceritakan suasana akhir-akhir ini sering ekstrim sehingga nelayan tidak mendapatkan banyak hasil di laut. Hanya sayangnya....si bapak kenapa merokok sih? Ayo yang sehat dong, Pak. Lebih baik anggaran rokoknya buat hal-hal yang lebih sehat :)

Monday, 18 March 2019

Wisata Karimunjawa : Penerbangan Dan Hotel Berbintang D'Season



Saya memimpikan berwisata ke Kepulauan Karimunjawa sejak belasan tahun lalu. Berulangkali saya berkunjung ke Jepara, bahkan Semarang merupakan kota 5 dari 7 kakak saya dilahirkan. Kedua kota ini merupakan 2 kota titik keberangkatan wisatawan umum  apabila ingin berkunjung ke Kepulauan Karimunjawa.
Penundaan berwisata ke Kepulauan Karimunjawa dikarenakan kondisi alam yang tidak mengizinkan beroperasinya kapal-kapal air dari Jepara dan Semarang berangkat ke sana. Impian ke Karimunjawa saya ikhlaskan, apalagi di bulan Agustus 2018 impian berwisata kembali ke Kepulauan Seribu terwujud diluar perkiraan saya. Saya sudah merasa bahagia dapat kembali piknik di 7 pulau (Onrust, Kelor, Ayer, Untung Jawa, Tidung, Putri dan Karya)  di Kepulauan Seribu Jakarta yang wisata bahari-nya kini terkelola dengan baik, so “lupakan” deh piknik ke Kepulauan Karimun Jawa yang sungguh hanya dapat saya nikmati “kerumun2” dari pulau Jawa. Sesuai namanya...hahaha...


Hingga akhirnya salah seorang kakak menanyakan rencana saya mengisi liburan hari raya Nyepi yang tepat berlangsung pada hari Kamis (07 Maret 2019). Di hari itu saya memang berencana ketemuan  bernostalgia dengan teman-teman semasa belajar di  New Zealand  di mall yang berada di Senayan. Selain itu di hari raya Nyepi itu saya juga dinyatakan menang kuis nobar oleh komunitas pecinta film . Ternyata kakak menawarkan untuk bergabung ke Karimunjawa. Wow, pilihan yang sebenarnya sulit, karena saya juga sangat ingin berjumpa dengan teman-teman semasa kami tinggal di New Zealand . Bertahun-tahun kami tidak berjumpa di alam nyata. Tetapi impian ke Karimunjawa juga sudah tertunda belasan tahun. Akhirnya saya memilih turut ke Karimunjawa dengan pesan ke teman-teman alumni NZ agar kami mengadakan pertemuan rutin. Menyambung silaturahim dan mentertawakan kelakuan kami yang "ajaib" ketika kami tinggal di sana . (So sad beberapa hari sepulang dari Jawa Tengah kami justru mendapat kabar tak nyaman di WAG dari seorang kawan yang masih tinggal di negeri Kiwi ini.)
Begitu saya meng-oke-kan ajakan itu Kakak langsung membelikan tiket pesawat melalui online. Yess, kami akan ke Karimunjawa melalui New Jenderal  Ahmad Yani International Airport di Semarang. Kami berencana mencoba toll baru Trans Jawa hingga Semarang. 



Kamis (07 Maret 2019) dinihari (pukul 1 malam) berlima berangkat dari Cimanggis dengan Honda BRV yang 2 tahun lalu kami gunakan di toll Trans Jawa yang masih dibangun. Pyuh, walaupun berangkat pukul 1 malam kami masih harus menempuh waktu lebih dari 8 jam sampai di tujuan. Cikarang - Cikampek tetap saja merampas waktu di perjalanan! Hingga tidak sempat beristirahat dan mandi terlebih dahulu di kota Lumpia ini. Khawatir ketinggalan penerbangan. Mobil diambil di airport oleh sepupu yang tinggal di Semarang dan dibawa parkir di Hotel Raden Patah Semarang selama kami berada 3 hari 2 malam di Karimunjawa.

PENERBANGAN SEMARANG - KARIMUNJAWA ISLAND - SEMARANG


Tuesday, 12 February 2019

Hotel Berbintang di Ancol Kini : Mercure Ancol Hotel

Kakak mengajak saya menginap di Mercure Ancol Hotel and Convention Centre Jakarta Utara. Saya menerima ajakan tersebut, sekalian piknik di salah satu pusat wisata legenda di kota Jakarta. Taman Impian Jaya Ancol merupakan tempat wisata paling melegenda di Jakarta, selain Taman Mini Indonesia Indah. Di masa lalu bagi masyarakat Indonesia, belum berwisata di Jakarta jika belum berkunjung di 2 tempat wisata ini.
Berulangkali saya berkunjung ke Sentosa Island Singapore, dan terlihat ada potensi Taman Impian Jaya Ancol menandingi kemeriahan wisata Sentosa Island. Dahsyatnya lagi, area Ancol memiliki marina tempat penyeberangan ke lebih 100 pulau di Kepulauan SeribuJakarta.


Tibalah saya di Taman Impian Jaya Ancol bersama kakak ke-5 di sore tertanggal 5 Desember 2018. Kakak ke-4 telah berada di hotel tersebut sejak pagi. Kami langsung menuju ke kamar di lantai 3 yang menjadi kamar kami bertiga selama menginap di Mercure Ancol Hotel. Hotel ini tidak asing bagi keluarga kami. Sejak kecil saya seringkali diajak menginap di hotel ini bersama Ayah. Dahulu namanya adalah Hotel Horison Ancol. Oleh karenanya agar tidak melebar di seluruh Ancol yang kaya akan wahana wisata, maka di tulisan ini saya akan fokus saat saya menginap selama 3,5 hari 2 malam yaa ...

Kamar yang kami tempati lumayan besar : Dengan ruang tamu bersofa, 2 bed ukuran lebih besar dari single

Friday, 28 September 2018

Pesona Seribu Bahari di Kepulauan Seribu Jakarta



Salah satu wishlist saya adalah "Traveling ke Pulau Seribu", namun saya hanya menginginkan traveling yang aman dan nyaman. Jadi belum terlalu berminat mengikuti open trip dengan harga terjangkau yang sebanding dengan fasilitasnya.
Seingat saya, ketika kecil saya beberapa kali wisata keluarga di Kepulauan Seribu Jakarta. Yang paling berkesan adalah ketika saya berulang tahun ke-9 Ayah merayakannya dengan mengajak kami seharian berwisata di Pulau Bidadari, Pulau Putri dan melewati Pulau Onrust. Ketika itu Ayah men-charter boat dari Marina Ancol untuk keluarga. Saat SMA saya menjadi ketua kelompok penelitian di Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa (Sebagai basecamp kami bermalam). Ketika SMA itu kami berangkat dengan kapal kayu dari Muara Kamal. Kalau gak salah, kami juga men-charter kapal tersebut.
Hingga lebih dari 5 tahun yang lalu saya memasukkan "Traveling ke Kepulauan Seribu" dalam wistlist ...hiks belum juga kesampai-an, walaupun terhibur dengan kesempatan berwisata ke pulau-pulau kecil di seberang Makassar Sulawesi Selatan (Pulau Pelangi, Pulau Lae Lae dan Pulau Samalona)

Kesempatan "Traveling ke Kepulauan Seribu" mewujud 2 hari sebelum tanggal lahir Ayah pada tanggal 6 Agustus. Kesempatan berwisata ke Kepulauan Seribu saya dapatkan dari Sudin Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu DKI Jakarta selama 2 hari 1 malam tanggal 4 - 5 Agustus 2018. Masya Allah...tentunya bukan dengan kapal kayu berangkatnya...hehehe. Kami berangkat dari Dermaga 16 Marina Ancol. Tentunya menggunakan charter speedboat dong. Speedboat Lumba Lumba dengan kapasitas 45 orang yang saya tumpangi. Rombongan Sudin Parbud Kepulauan Seribu menggunakan 2 speedboat, satu speedboat bernama Tidung Express, yang sebagian besar diisi oleh pelajar2 SMA se-DKI  dan pembimbingnya. Dalam perjalanan kami wajib menggunakan live jacket.
Sebenarnya saya terpilih sebagai peserta #SeribuPesonaBahari karena memenangkan giveaway yang diselenggarakan melalui Sudin Pariwisata Budaya Kepulauan Seribu, tetapi ternyata dari 50 peserta komunitas mereka merupakan Finalis Abnon Jakarta dari berbagai wilayah di DKI Jakarta, Duta Wisata berbagai daerah sekitar Jakarta dan Kapal Pemuda Nusantara. Syarat peserta salah satunya adalah memiliki follower minimal 2500. Emang dasar rezeki, ternyata saya bisa lolos sbg peserta.
Nggak tanggung-tanggung, kami akan berkunjung ke 8 pulau di Kepulauan Seribu.

Friday, 26 January 2018

Kilas Morrissey Hotel Jakarta dari Foursquare

2 tahun terakhir ini saya seringkali mengikuti dan diundang acara yang diselenggarakan di hotel Morrisey yang terletak di Jln KH Wahid Hasyim No 70 Jakarta Pusat, padahal tahun 2013 saya sudah mendapatkan rezeki bermalam di hotel yang menurut saya  unik.
Memiliki record aplikasi berkunjung di berbagai tempat sangat bermanfaat bagi kita, setidaknya aplikasi tersebut secara tidak langsung dapat menjadi travelogue dan memberi reminder bahwa kita berkunjung di suatu tempat. Wuuuih,apalagi untuk saya yang antusias untuk memgunjungi setiap sudut daerah di dunia ini. Bukan sekedar di tempat terkenal dan mainstream dikunjungi oleh turis kebanyakan.
Beberapa contoh aplikasi yang saya gunakan untuk mengingatkan dan memberi tanda bahwa kita sudah berkunjung adalah : Swarm (d/h foursquare), Tripadvisor dan googlemaps. Facebook terkadang saya gunakan untuk sekedar check in plus foto , tetapi untuk urusan perjalanan dan kunjungan di banyak tempat saya kurang nyaman menggunakan check in FB. Khawatir menimbulkan fitnah pamer...hehehe,walaupun FB bagi saya salah satu manfaatnya untuk branding. Khan lucu loh kalau saya ngebranding diri sebagai business woman atau writer namun check in-nya lebih sering di swimming pool atau fitness centre. Mending nge-branding jadi instruktur fitness , yogi atau guru renang aja kali yach? Hahaha
Saya bikin review kecil tentang hotel ini deh...Ini masa review per tanggal 16 January 2013 ya dan setelah itu saya belum pernah menginap kembali disini. Justru melakukan pitching serta event seharian .
Saya tiba di lobby Morrissey selepas Maghrib. Kakak ke-4 saya telah tiba di sana sejak pagi karena hari itu ia ada acara bersama instansi-nya. Pandangan saya menyapu ke seluruh ruangan lobby yang seolah tanpa sekat antara lobby, resepsionist dan restaurant-nya. Di beberapa sudut nampak pernak pernik interior unik, salah satunya adalah kendaraan bermotor. Setelah kakak menjemput ke lobby, saya baru bisa masuk ke kamar.

Kamar Morrisey


Kamarnya unik, saya tidak mengetahui tipe kamar apa. Lebih mirip type studio di sebuah apartment. Begitu memasuki kamar, disi kanan pintu masuk adalah pantry yang lengkap dengan peralatan masak dan makannya. Bersejajar dengan meja kerja dan televisi. Berhadapan dengan bed untuk 2 orang. Disisi kanan tempat tidur adalah pintu kamar mandi. Temboknya berwarna putih unfurnised, macam batu bata menumpuk dan di-cat berwarna putih tanpa di tambal semen.

Saturday, 6 January 2018

Aura Kemegahan Borobudur di Plataran Heritage Hotel Magelang

Plataran Heritage Borobudur is design with lashings of colonial charm and a modern pleasure, blending seamlessly in the mystic Borobudur ambience.

Dok. @balqis57
Desember 2017 saya batal traveling to Central Java karena nggak kedapetan tiket transportasi, padahal ada undangan pernikahan kerabat dekat di Semarang tanggal 23 Desember 2017. Huhuhu,padahal saya bersedia loh membayar tiket pesawat Rp 1 juta-an ke Semarang untuk sekali jalan. Tapi tiket memang benar-benar habis bis gimana dong? Uang sih masih bisa di dapatkan di kemudian hari, tapi suatu "moment" khan gak bakal bisa hadir lagi... Kakak-kakak saya lagi ogah nyetir sampai Jawa Tengah...
Tgl 23 Desember 2017 saya sempat ikut ke kantor Batik Air dan Stasiun Gambir, tapi masih aja belum berhasil dapat tiket. Kakak dan keponakan saya sedang cuti dan libur,jadi kekeuh banget untuk dapetin tiket. Kalau saya mah setiap saat liburan, makanya kalau acara udah selesai sih gak terlalu ngoyo, apalagi saya udah puluhan kali ke Jawa Tengah. Yaah, walaupun agak ngenes juga tidak dapat menghadiri kerabat yang sedang berbahagia ini...

Kolam renang difoto dari balkon kamar yang saya tempati (Dok. @balqis57)
Untuk menghibur diri ketidak hadiran di acara pernikahan kerabat , maka lebih baik saya melanjutkan kenangan terakhir kalinya di Jawa Tengah pada bulan Juni - July 2017. Khususnya saat menginap di Plataran Heritage Hotel & Convention Center yang dikelilingi pemandangan dan suasana pedesaan di kaki Bukit Menoreh. Berlokasi 90 menit dari Yogyakarta dan 10 menit dari the world heritage Borobudur Temple. Resepsi pernikahan disini keren banget deh pastinya! :D

Halaman Plataran Heritage Hotel
🌟🌟🌟🌟🌟 

Hotel berbintang 5 ini baru beroperasi di bulan Mei 2017

Kamar 312
29 - 30 Juni 2017 saya menginap di kamar 312, dengan rate perkamar @  Rp 1,200,000 include breakfast, kami menggunakan total 2 kamar (Rp 2,400,000) ,booking melalui internet/travel agent online saat kami masih dalam perjalanan dan menikmati dawet hitam di Purworejo melalui travel agent online yang ada di sisi kanan blog saya ini #CintaWisataKita

Bathroom di kamar 312 yang saya inapi