Sunday, February 5, 2017

Social Traveling To Lampung Timur

Bahagia banget deh mendapat undangan menghadiri suatu acara di Lampung. Apalagi kali ini menggunakan transportasi darat + ferry dari Pelabuhan Merak hingga Bakauheni. Yippiiii...mengulang pengalaman beberapa tahun lalu (Nggak perlu dijelasin kapan tepatnya, ntar ketahuan umur deh :p ), yang pasti saat itu sama di bulan January - beberapa hari sebelum keberangkatan ke New Zealand (Karena setelah kembali Ke Jakarta pihak Kedutaan Besar NZ nyari2 saya). Sebelum meninggalkan Indonesia saya khan mau maen dulu ke belahan Indonesia, so saya en Jeng Dion dengan pede-nya menuju Lahat Sumatera Selatan (Sumpe,Jeng, gw kagum sm diri kita yang kok yach tahan amat Lahat (Sumsel) naek kendaraan darat non AC. Sumpeee, skrg andai dibayar-pun msh mikir2 dah 😂

Kali ini, 20 January 2017 saya berangkat dari Filantrophy Building dengan mobil milik Dompet Dhuafa. Kami berenam dlm 1 mobil (AC ya,Buuuuk...). Melalui BSD kami menuju Pelabuhan MerakBanten , mampir bertemu dengan rombongan media di RM Berkah Bhayangkara. Makan siang, rombongan pria melakukan shalat Jumat.
Ampun deh, toilet yang hrs bayar Rp 2000 terlihat tidak terawat. Haloooo...Pak, daripada tidur njagain bayaran toilet gitu lebih baik lebih aktif membersihkan semuanya. Percaya deh, kebersihan sebagian dari iman dan bila kita semakin bersih maka rezeki juga semakin banyak berkah. Aamiin...😊🙏

Ferry Keberangkatan : Farina Nusantara
Kami masuk ke dalam kapal. Banyak cowok2 yang menawarkan diri untuk terjun ke laut asalkan di bayar dengan uang kertas. Huh, saya mah nggak peduli yang seperti itu! Lain halnya dengan teman seperjalanan saya yang "meladeni" ocehan orang-orang itu. Saya justru merasa terganggu sebenarnya, tetapi setelah dicuekin orang-orang itupun menyingkir dari hadapan saya.
Ternyata bener khaaaan, teman seperjalanan pada kena tipu. Sudah menyerahkan uang, tapi cowok2 itu malah kabur. Ya iyalah, secara kalau mereka terjun trus sampai nggak muncul lagi ke permukaan air atau kepentok besi kapal ,bisa2 kita loh yang bertanggung jawab. Secara mereka menawarkan dirinya dengan kalimat,"Ayolah Teh/Mbak/Bu Haji, untuk hiburan di kapal bayar pakek uang kertas, nanti saya nyebur." Jiaaah, boro2 kehibur kalau saya mah... mending ke laut sono,Bang!!
Peringatan aja nih buat kamu2 yang naik ferry menyebrangi Selat Sunda. Nggak usah ditanggepin kalau ada tawaran seperti ini. Justru yang harusnya ditanggepin adalah Abang Penjual Empek2 yang menawarkan 1 potongnya Rp 3000. Awalnya saya underestimate terhadap kelezatan Empek2 yang ia jual. Karena mondar-mandir dan nggak ada yang berminat beli, maka saya niatkan sedekah dengan membelinya. Cuma beli 1 potong sih, secara saya masih kenyang. Setelah saya gigit...duh saya kaget!!! Dengan kondisi kenyang, saya masih merasa Empek2 itu enak, ikannya terasa di lidah. Jualannya juga bersih, dengan plastik baru. Huaaa, sayangnya saya mengetahui hal ini terlambat. Kalau sejak awal saya coba,pastinya saya beli lebih banyaklah. Ini faktor selera ya, secara dengan harga Rp 3000 saya pikir cuma terasa kanji. Jadi jangan juga dibandingkan dengan Empek2 yang harga Rp 15.000 -  30.000/potong.
Kalau ferry Farina Nusantara ini ukuran kapalnya tidak terlalu besar, dan sepertinya kapal lama. Di cafetaria dan ruang lesehannya luas dan ada televisi-nya, tetapi...puaaannaaas, jadi mending kami berdua duduk di luar kapal sambil menikmati pandangan ke laut. Untungnya kapal angkutan tersebut tidak terlalu ramai, tetapi tetap aja kami merasa sudah nggak nyaman dan langsung ke ruang VIP yang full AC. Ruangannya biasa saja, di layar televisi tampak film jadul yang nggak ada selera untuk kami tonton. Jeng Yanti sempat tertidur, dan saya membaca surat Kahfi – kebetulan khan hari Jumat.

Welcome to Sumatera
Barangkali sekitar jam setengah 4 sore kami tiba di Pelabuhan Bakauheni - Lampung Selatan. Kemudian mampir sejenak di Indomaret Menara Bakau (Siger) membeli cemilan dan minuman, kemudian melanjutkan perjalanan. Pemukiman warga di sekitar situ banyak berdiri pura di depan rumahnya. Saya malah jadi ngerasa mendarat di Negara Bali...hahaha...Namun traffic-nya berbeda sih. Di Lampung banyak truck dan kendaraan besar yang ngebut, kendaraan pribadi jarang berpapasan dengan kami. Tak tampak pula kendaraan umum sejenis angkot. Wiiih, penduduknya pada kemana yach?
Jam 5an kami tiba di RS AKA Medika Sribhawono Dompet DhuafaLampung Timur yang sedang dipersiapkan untuk diresmikan keesokan harinya. Kami khan diundang ke Sribhawono Lampung Timur memang untuk meliput dan menyebarkan info program ini. So plis yach untuk yang niatnya plesiran gratis....jangan kebangetan deh .


Ferry Sekembalinya ke Pulau Jawa :

Sebelum menceritakan tentang RS AKA Medika Sribhawono Dompet Dhuafa dan Kunjungan ke Taman Nasional Way Kambas , sekilas saya ingin menuliskan tentang kapal penyeberangan alias ferry yang membawa kami kembali ke Pulau Jawa.
Ba’da Maghrib, 21 Januari 2017 kami tiba di daerah Pelabuhan Bakauheni dan langsung menuju Rumah Makan Padang (yang saya tidak ingat namanya). Saya memesan nasi rendang. Maaf tidak tuntas saya habiskan karena saya melihat kondisi rumah makan dan kebersihannya relatif kurang “sehat”.
"Lobby" Portlink 3
Usai makan kami beserta mobil masuk ke kapal. Begitu turun dari mobil dan masuk ke ruang kapal ferry bernama Portlink 3 kami sempat terpana “semi norak”. Kami kira kapal yang akan kami tumpangi mirip kapal ferry saat berangkat. Ternyata ferry Portlink 3 ini memiliki ruang-ruang kamar privat. Jadi malah berasa masuk lorong hotel deh...hehe...trus ada ruang karaoke, ruang pijat dan berbagai ruang lainnya. Ruang duduk cafetaria-nya juga seperti lobby hotel berbintang. Kami naik ke lantai 3 untuk shalat, dan di lantai tersebut ternyata ada masjidnya! Keren euy! Ada tempat wudhu khusus pulak, mukena-nya banyak dan ada mimbar masjid. Kami melaksanakan shalat Isya berjamaah. Uniknya nih, begitu shalat ingin dilaksanakan kami diminta untuk menghadap ke arah pintu masuk masjid (bukan ke mimbar masjid seperti biasanya). Tentunya ini dikarenakan kita shalat harus menghadap kiblat, nah kapal ferry khan arahnya tergantung kemana berlayarnya, jadi mimbar tidak selalu berada sama dengan arah kiblat...hehehe..unik!

Masjid di dalam ferry (Dok.Pribadi)
Menurut cerita yang kami peroleh kapal ferry Portlink 3 ini yang digunakan oleh Jokowi ketika ke Lampung beberapa waktu lalu. Mungkin ini eks kapal pesiar kali yak? Waktu saya iseng browsing, sempat terbaca bahwa kapal ini dirakit di tempat yang sama dengan kapal pesiar termewah Titanic. Termewah dimasanya sih, lebih dari 100 tahun lampau....😁😀


Cerita selanjutnya selama di Lampung??? Next yach...yang pasti malam itu saya bobo di Hotel Cempaka Indah Sribhawono Lampung Timur...zzzZZZzzzZ 😴😴😴

💭 Kalau untuk cerita mengenai peresmian RS-nya, silakan dibaca di : RS Aka Medika Dompet Dhuafa Sribhawono, RS Berbasis Wakaf 

Thursday, February 2, 2017

Al Azhar Memorial Garden, Terminal Terakhir di Dunia

Temu Blogger di Al Azhar Memorial Garden Krawang

Beberapa tahun lampau pemakaman dianggap sebagai suatu tempat yang menakutkan, angker alias banyak setan-nya. Padahal kematian merupakan kehidupan abadi yang sesungguhnya, dan pastilah kematian adalah menuju keindahan abadi bagi kita yang beramal ibadah baik karena Allah swt selama kehidupannya di dunia. 
Merupakan fardhu kifayah, kewajiban bagi umat memandikan dan mengkafani jenazah sesama muslim. Memakamkannya di tempat yang baik, karena inilah peristirahatan terakhir bagi jasad untuk berikutnya mencapai tahap menghadap kembali kepada Sang Pemilik. Tidak perlu mewah, tetapi sangat dianjurkan makam tersebut indah. Sederhana dan indah.
“Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci. Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan,Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan...” (HR Tirmidzi)

Keindahan peristirahat terakhir ini juga dapat menjadi syiar Islam dengan mengajak peziarah untuk mengingat hari akhir, sekaligus dengan memandang indahnya taman, mengajak peziarah untuk menginat hari akhir, sekaligus  dengan memandang indahnya taman, mengajak peziarah untuk mengingat kebesaran, keagungan, kemuliaan dan keindahan Allah SWT yang telah menciptakan alam dengan sempurna.
Al Azhar Memorial Garden melalui Yayasan Pesantren Islam Al Azhar menyediakan lahan pemakaman yang memenuhi unsur keindahan tersebut, tentunya dengan menuruti syarat makam syariah.
·         Areal pemakaman hanya ditujukan untuk memakamkan dan ziarah saja, tidak  ada fasilitas lain yang dapat menimbulkan tindakan pemborosan dan berlebihan dalam pemakaman.
Berdasarkan syarat makam syariah tersebutlah maka makam di Al Azhar Memorial Garden berbentuk sederhana, tidak dibuat beraneka model dan tidak dibangun apapun, hanya gundukan tanah setinggi 10 cm yang ditanami rerumputan. Diantara makam satu dengan lainnya diberi jalan setapak agar peziarah dapat berjalan tanpa menginjak-injak atau melangkahi makam. Perawatan dan pengelolaan makam hanya dibayarkan pada awal pemakaman.
Terdapat beberapa tipe di kompleks pemakaman berlokasi di Karawang Timur seluas 25 hektar ini, yakn tipe : single, double dan family. Diharapkan dapat melayani kaum muslim se-Jabodetabek, Karawang hingga Bandung. Saat ini sudah dalam tahap kelima sekitar 5 hektar dan sudah terjual 95%. Masing-masing tipe memiliki harga  dari Rp 25.500.000 ,- untuk tipe single ukuran 1,5m x 3m hingga Rp 431.000.000 harga cicilan tipe Super Family yang berukuran 7.0m x 7.5m dan diperuntukkan untuk maksimal 4 liang lahat.
Selain itu Al Azhar Memorial Garden memiliki program pemakaman untuk kaum dhuafa. Dimana para pembeli makam dapat mewakafkan dana-nya untuk kaum dhuafa yang meninggal dunia dan dimakamkan di kompleks pemakaman tersebut.
Dengan menghindari tindakan pemborosan dan berlebihan dalam pemakaman maka tidak ada fasilitas lain yang tersedia di Al Azhar Memorial Garden, selain jasa pemulasaran jenazah (termasuk Ambulan) dengan biaya Rp 3,500.000 ,-, Prosesi Pemakaman Rp 5,000.000 dan batu nisan Rp 3,190.000,- . Biaya ini tentunya dibayarkan pada saat kita atau keluarga kita sudah meninggal dunia dan akan segera dimakamkan yaa....
Jangan berharap menemukan area wisata di Al Azhar Memorial Garden, sekalipun pintu gerbangnya begitu indah dan terlihat asri seperti memasuki cluster perumaham elite. Sungguh kesederhanaan dan asri terkesan saat memasuki area ini, sekalipun cuaca Karawang Timur siang itu begitu terik saat saya dan para Bloggers Jabodetabek dan Bandung hadir di Al Azhar Memorial Garden. Merupakan terminal terakhir dunia menuju keabadian memang harusnya mengesankan indah, teduh dan syahdu...seperti niat saya berziarah ke pemakaman, agar ada motivasi meninggalkan dunia ini dengan keindahan dan kesucian. Semoga kita semua mendapatkan keindahan abadi tersebut di dunia, di alam kubur dan di akhirat....Aamiin...

Friday, December 30, 2016

Kampung Wisata Djampang Zona Madina Bogor

Haaaiii....
2 minggu yang lalu, tepatnya hari Jumat tanggal 16 Desember 2016 saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Blogger Trip to Zona Madina Parung Bogor. Kampung Djampang yang menjadi lokasi Zona Madina juga dikembangkan sebagai Kampung Wisata loh!
Selamat membaca dan segera kunjungi Kampung Wisata Djampang (setelah berdonasi melalui Dompet Dhuafa tentunya lebih asyik deh! :) )




Sunday, December 4, 2016

Aula Simfonia di Jakarta, Tempat Konser Musik Klasik Serasa di Austria

Menyaksikan konser musik atau paduan suara di Austria menjadi impian saya sejak TK. Maklum, penggemar berat ‘Sound of The Music’ jadi alam bawah sadar sudah menyatakan harus ke negeri tersebut. Walaupun sudah menjejakkan kaki ke Eropa namun saya belum memiliki kesempatan menyaksikan konser musik di Austria. Malah di Belanda saya menyaksikan bulek-bulek bermain gamelan...hehehe...


Oh kiranya, kini di dekat rumah-pun ada tempat konser musik klasik asyik yang beroperasi sejak Oktober 2009! Tepatnya di Kemayoran Jakarta Pusat yang hanya berjarak sekitar 7 kilometer dari rumah. Jujur, saya kagum pertama kali menyaksikan konser di ruangan ini. Apalagi pertama kali saya menyaksikan orchestra Palestina yang level-nya memang sudah international. Saat datang saya masuk dari ruang parkir bawah, sehingga belum ada kesan khusus selain gedung yang di depannya terlihat kubah serta salib besar. Dari parkiran langsung menuju lift dan keluar dari lift terdapat loket pada umumnya. Bahkan lebih terlihat keren loket tiket nonton di sinema. Barulah setelah memasuki ruangan konser saya terkagum-kagum seperti anak pasar induk yang masuk auditorium hotel berbintang 6....hihihi...


Monday, August 22, 2016

Indonesia Is Me, Kampanye Keren Dari Synthesis Development

Sepanjang Agustus 2016 Syntesis Development menggelar rangkaian acara bertajuk INDONESIA IS ME. Suatu pengaplikasian  strategi pemasaran yang sangat keren dari perusahaan pengembang besar di Indonesia yang memiliki beragam proyek di bidang properti, ritel, apartemen, perumahan, superblok, kantor dan hotel. Penyelenggaraan INDONESIA IS ME yang berlangsung dari tanggal 6 hingga 21 Agustus 2016 merupakan strategi cerdas bagi semua proyek property-nya yang turut terlibat di dalamnya. Tidak hanya itu, Syntesis Development juga melibatkan banyak bloggers dan berbagai komunitas lainnya.

Rangkaian acara inisitaif Synthesis Development ini mendukung program dan kegiatan budaya, pendidikan, kesehatan, sejarah, seni dan kuliner Indonesia  adalah : Local Taste Culinary yang diselenggarakan di Bassura City dan saya hadir pada acara tersebut ( Baca : Petualangan Kuliner INDONESIA IS ME di Mall Bassura ) dan di Synthesis Resicence Kemang pada tanggal 6 Agustus 2016. Tanggal 13 Agustus bertempat di SynthesisSquare Jln Gatot Subroto Jakarta Selatan dan Bassura City bloggers dari Blogger Perempuan diundang untuk menghadiri acara berthema ‘The Art, Beauty and Health’ dimana beraneka kerajinan dan benda seni di pamerkan kepada masyarakat serta beraneka seni gerak di selenggarakan. Suatu hal yang langka mengadakan menari traditional Indonesia  di pusat perbelanjaan di pusat perbelanjaan/mall. Siapapun dapat turut serta menari bersama. Kemudian tanggal 20 Agustus 2016 saya kembali ke Bassura City untuk menyaksikan dan mengikuti creatif talk film Pusaka Prajawangsa, sebuah proyek kreatif pemasaran Prajawangsa City.


Acara puncak Indonesia IS Me berlangsung tanggal 21 Agustus 2016 dengan diadakannya Synthesis Merdeka Ride. Pecinta olah raga – khususnya komunitas bersepeda merayakannya dengan bersepeda berkeliling sejumlah tik di kota Jakarta. Peserta dimulai di garis start, Synthesis Square Jln Gatot Subroto. Menutut Amelia Prayitno (Corporate Marketing and Communication General Manager Synthesis Development),”Synthesis Merdeka Ride merupakan bentuk dukungan Synthesis Development terhadap pengembangan olah raga sepeda. Synthesis Development ingin menjadi bagian dalam edukasi serta memotivasi masyarakat atas pentingnya olahraga dan gaya hidup sehat selaras dengan lingkungan, sebagai kebutuhan utama yang trendi, menyehatkan dan menyenangkan. Kegiatan ini sekaligus sebagai ajang pecinta olahraga sepeda menjalin komunikasi serta membangun hubungan sosial dengan banyak relasi dan komunitas.”
Saya membaca kepedulian Synthesis Development terhadap lingkungan dan masyarakat pada proyek mereka. Misalkan saja dengan pembangunan Bassura City, saya tidak mendengar kearoganan pihak pembangun terhadap sekitarnya. Terbukti Pasar Gembrong di dekatnya masih tetap beroperasi. Prajawangsa City juga akan membangun hutan kota seluas 7 hektar,  merupakan superblock satu-satunya di Jakarta yang memiliki area hijau atau taman kota seluas ini. Proyek sebelumnya telah sukses, keluarga saya telah membuktikannya dengan membeli unit apartment di Kalibata City. Merupakan investasi yang baik, dan banyak peminat untuk mengontraknya dengan harga yang terus meningkat karena sangat strategis. Melihat lokasi proyek yang dibangun Synthesis Development sudah dapat terlihat prospek-nya saat ini. Sangat jeli, sehingga tidak perlu sesumbar dengan proyek-proyek spektakuler yang dijanjikan kepada calon konsumen, namun kenyataannya hanya harapan semu seperti beberapa developer lainnya.


Synthesis Development justru dengan cerdasnya mengadakan rangkaian acara yang berguna bagi promosi bangsa dan negara ini, seperti Indonesia Is Me. Serta proyek kreatif-nya, film pendek “Pusaka Prajawangsa” merupakan promosi cerdas berkelas yang dilakukan. Melibatkan banyak pekerja kreatif yang reputasinya tidak diragukan lagi, seperti Alexander Thian, yang pernah saya dengar perkataannya bahwa ia tak akan menerima sembarangan tawaran proyek. Memang pada saat creatif talk yang diselenggarakan di Bassura City tanggal 20 Agustus 2016 ia mengatakan pula alasan mengapa dirinya menerima proyek film yang pada dasarnya memasarkan proyek ‘Prajawangsa City’ di Cijantung. 


Ketika saya menyaksikan film pendek tersebut bersama dengan Blogger Perempuan....yes, begitu cerdasnya film ini dibuat. Filofosi yang diambil dari kisah Prabu Prajawangsa yang menitahkan 8 karya digambarkan dalam film tersebut setelah 400 tahun berlalu. 8 masterpiece permohonan Prabu Prajawangsa dari Kerajaan Indraloka tersebut akhirnya akan mewujud beberapa tahun lalu di Cijantung Jakarta Timur dalam bentuk tower apartment.   

Film ini juga yang membuat saya penasaran untuk mengetahui apakah benar ada sejarah, legenda atau cerita pewayangan dari Prajawangsa beserta kerajaan Indraloka-nya. Andaipun tiada, maka hal ini berdampak baik bagi dunia pariwisata Indonesia pula, menambah kekayaan pariwisata dan juga masyarakat Indonesia akan terpatri akan nama Prajawangsa City. Hingga suatu saat apabila orang ditanya, apakah Prajawangsa maka mereka akan tertuju kepada Prajawangsa City dengan 8 masterpiece-nya di Cijantung Jakarta Timur. Sama halnya dengan apa yang kita ingat mengenai ‘Prambanan’ maka kita akan teringat lokasi wisata dengan patung Roro Jonggrang-nya. 


Brilliant sekali strategi pemasaran dari Synthesys Development. Sungguh mengangkat ke-Indonesia-an, Indonesia Is Me untuk berbagai pro mo kegiatan promosinya maupun produk-produknya.Untuk mengetahui promo dan aktifitas lainnya, silakan kunjungi link yang saya tuliskan pada tulisan ini :)

Sunday, July 31, 2016

Makan Siang di One Cafe at The Park Lane Jakarta

Saya kepincut dengan One  Cafe – Asian Fusion, All Day Dinning yang merupakan salah satu tempat F & B di The Park Lane Jakarta. Hal ‘ketidak sengajaan’ saya berkesempatan makan siang di cafe ini.


The Park Lane Jakarta adalah hotel berbintang 5 yang nyaris setiap hari saya lewati jika saya ke/dari kantor di Jln Prof Satrio atau Kota Kasablanka. Cowok teman kerja   ada yang bekerja di hotel ini. tetapi saya baru 2 kali masuk ke sini. Pertama kali saat saya akan melakukan body treatment di spa-nya yang terletak di dekat kolam renang, dan kedua kalinya pada tanggal 29 Juli 2016 untuk hadir dalam Temu Blogger 2016 : Sehatkan Anak Indonesia Dengan Imunisasi. Letak ruangan untuk acara tersebut juga di dekat kolam renang. Acara dimulai jam 9 pagi, dan kami para Blogger yang diundang duduk di kursi dengan round table ala fine dinning. Hanya air mineral, gelas dan pulpen berikut kertas catatan yang ada di hadapan kami. Tak lama tersaji snack pagi, yakni potongan chocolate cake  dan pastel.
Saya pikir makan siang dilakukan di round table ruangan seminar, ternyata kami dipersilakan menuju ‘One Cafe Asian Fusion’ yang terletak di bawah lobby hotel. Yess! Petualang kuliner kembali tercatat dalam catatan saya! Selain One Cafe, ada pula Riva yang menyediakan masakan Perancis . Yang terlihat dari jalan hanya nama Riva. Sedangkan One Cafe merupakan All Day Dinning,juga berarti breakfast tamu hotel yang menginap dilakukan di cafe ini.

Ada kerupuk lengkap dengan kalengnya
Siang itu kami lunch dengan system buffet. Kami menyusur melihat-lihat aneka makanan yang di sediakan. Selera makan saya langsung bangkit, di sudut saya melihat beraneka makanan Indonesia. Seru-nya ada pete, jengkol sambal, cumi goreng, ikan teri goreng dan aneka pepes. Hal yang jarang saya temukan di hotel berbintang 4-5. Tanpa ragu saya mengambil makanan tersebut. *Halah, di hotel berbintang 5 kok ngambilnya lauk pasar sih?* Eh, jangan salah loh, justru disini saya ingin menikmati makanan khas Indonesia dengan kondisi tempat yang bersih serta memasaknya pasti berdasarkan standar operasional prosedur. Kebersihan dan kesehatannya pasti terpantau dong. Terbukti, ketika saya makan 3-4 keping jengkol ternyata tidak meninggalkan aroma yang tidak enak. Ini sempat saya katakan kepada seorang blogger yang mengatakan doyan jengkol tetapi khawatir akan aroma-nya, saya katakan,”Pastinya sudah diolah dengan cara tersendiri versi memasak hotel berbintang dong supaya nggak nimbulin aroma yang tidak enak. Mosoq hotel sama dengan warteg sih? Kayaknya nggak deh...hehehe”

Ada lalapan plus pete bakarnya
Setelah saya mengambil lauk ala pasar, saya mengambil Mie Ayam secara prasmanan. Biasanya khan Mie Ayam  di stall/gubug ya? Tetapi di Cafe One kita meracik sendiri sesuai selera. Pertama kita mengambil mie telur dengan menambahkan topping sesuai keinginan kita. Saya memilih white fish ball, salmon ball , jamur putih berikut cabe ijo iris kecap. Tersedia juga beef ball, berbagai jenis jamur dan sayur beserta beberapa jenis sambal. Kesan awalnya seperti menu Shabu Shabu atau Baso Singapore, sehingga ketika akan diberi kuah saya sempat minta kuah Tom Yam dan Chef-nya langsung mengatakan,”Ini Mie Ayam.” Ooo...oke! Memang setelah di beri kuah kaldu mereka menaburi dengan irisan ayam seperti layaknya mie ayam pada umumnya. Setelah saya coba menu tersebut saya merasa cocok, namun tidak berniat nambah karena ingin mencicipi menu lain yang dihidangkan.
Saya menikmati makanan semeja dengan Mbak Yayat,  Mbak Waya, Mbak Gita dan Kak Resi. Melihat Mbak Gita dan Mbak Waya menikmati Sop Buntut dari salah satu stall maka saya jadi penasaran. Sop Buntutnya terlihat mengundang selera, dan akhirnya saya mengambilnya. Ternyata memang terasa sedap dan bersih , porsi-nya juga pas! Kenapa saya katakan bersih? Karena saya tidak merasakan sop yang terlalu gurih dengan MSG bubuk dan seperti tidak berlemak. Kuahnya cenderung bening namun tetap terasa gurih dengan kaldu asli, daging-nya juga termakan semua . Tomat, wortel ,kentang dan daun bawang bertaburan melengkapi kelezatan sop tersebut. Oh ya, sebelum mengambil Sop Buntut saya juga mencicipi Fish Soup yang tersedia di meja prasmanan dekat nasi, tidak banyak yang Fish Soup yang saya ambil. Sekedar penyegar mulut dengan kehangatan, namun Fish Sop-nya terasa asin di lidah.
Berikutnya saya ingin mengambil Sushi, makanan Jepang. Yang tersaji sejenis Sushi Sashimi Tuna. Karena tidak melihat Sushi Gunkan Tobiko/Ebiko atau telor ikan lainnya maka saya mengurungkan niat ini. Kemudian saya mengambil es krim 2 scoop, 1 coffee cream dan 1 green tea yang di tabur sedikit toping dari berbagai topping yang ada, dan di tambah 1 butir buah zaitun yang diambil dari meja salad. Sebagai penutup saya menikmati asinan buah yang terdiri dari potongan buah belimbing, kedondong dan...apalagi ya? Yang jelas saya memesan tidak pakai bengkoang. Kedondongnya memang kecut, tapi saya justru sukak! 
Yang saya rasakan kurang adalah air putih dan juice buah! Air putih hanya diberikan secangkir dan petugasnya tidak berkala berkeliling refill jika sudah habis. Kami juga tidak menemukan juice buah. Kalau dessert banyak, jenisnya bermacam-macam. Es Buah memang tersedia, tetapi saya lagi mau juice buah tanpa gula.

Harga pastinya saya tidak menanyakannya, tapi melihat harga promo yang tercantum di FB-nya saya kira harga tidak jauh dari harga ini deh :)
Ketika blogger yang shalat Jumat telah berada di Cafe One dan waktu istirahat tersisa 30 menit lagi, saya langsung menuju mushala di lantai 7. Nampaknya mushala ini sebelumnya adalah kamar hotel, tapi salut juga sama The Park Lane Hotel yang menyediakan mushala dengan kondisi yang layak. Bersih, rapi dan mengambil air wudhu-nya juga tanpa harus keluar dari ruangan mushala karena ruang wudhu sepertinya bekas bathroom kamar tersebut.
Semoga di lain kesempatan saya bisa menginap di kamarnya dan menikmati layanan spa-nya. Wifi lobby hotel juga lancar tanpa harus memasukkan password.


Bagaimana cara menuju ke sana?

Kalau saya berangkat dari Pulo Mas Jakarta Timur  jam 7 pagi dengan memesan ojeg online Uber Motor, dikenakan tarif Rp 18.500,- sampai depan gerbang The Park Lane. Sodorin deh Rp 20.000,- tanpa meminta kembalian, walaupun sopir-nya jujur mengingatkan kembalian. Rp 1,500 ,- sebagai pengganti pulsa tadi dia mencari jalanlah.
Pulangnya saya dan Kak Resi jalan-jalan dulu di Kota Kasablanka sampai ba’da Maghrib, karena hujan – jalanan becek dan saya takut naik ojek (dalam kondisi seperti ini) akhirnya saya menyetop Taksi Bluebird di depan Kokas. Sampai depan gerbang rumah Pulo Mas argo yang tertera Rp 49rb-an, saya sodorin deh voucher senilai Rp 50.000,- hadiah menang cerita #SekotakPenuhKesan.

The Park Lane Jakarta
Jln Casablanca Kav 18
Jakarta 12870
Phone : +6221 8282000