[Sulsel 2009] TransStudio Makassar


Dibuka untuk public tanggal 09.09.09 menurut info yang saya dengar dan baca bahwa inilah pusat permainan dalam ruangan terbesar di Asia (bahkan ada info terbesar di dunia). Kesempatan untuk datang ke TransStudio Makassar justru bareng dengan Mr.Ardian Yunianto tanggal 08.11.09, lebih cepat dari perkiraan karena saya dan keluarga sebenarnya sekelebatan berencana ke Makassar sekitar bulan December 09 atau ....kalau ada kesempatan. Hehehe, Mas Tunggal dan keluarga bahkan berencana ke Makassar sejak mertuanya masih ada – mungkin mengajak mertuanya untuk bernostalgia. Mbak Rita dan ke-2 adiknya lahir di Makassar. Tetapi hinggal 07.07.07, meninggalnya Sang Ayah, Mbak Rita dan Mas Tunggal belum sempat mengajak Sang Ayah ke Makassar kembali. Ibu saya juga udah “pesan tempat” andai kami ke Makassar. Beliau sih sudah pernah ke Makassar, ketika salah satu keluarga terpandang Makassar memiliki hajat.
Selesai menonton film ‘Perjaka Terakhir’ di Mall Ratu Indah 21, saya berdua Mr.Ardian Yunianto langsung naik taksi ke TransStudio Malassar di bilangan Tanjung Bunga. Waktu nonton sih ber-5, tapi kemudian rekan-rekan Mr.Ardian Yunianto itu makan dulu di salah satu cafe yang ada di mall tersebut.
Kebayang gak sih ke tempat permainan ini cuma berduaan??? Huuuaah, mau teriak – teriak juga gak seru kaliiii....Kalau nggak di Makassar mah gue ogah banget, apalagi pengunjungnya termasuk kalem-kalem. Nggak “liar” seperti daku , or saudara-saudara kalau udah ngumpul. Hahaha....Permainan yang kami berdua rasakan pertama kali adalah kincir angin...itu tuh permainan standard yang ganti-gantian diatas dibawah dengan putaran yang super santai. View-nya mentok tembok! Duuuh, posisinya gak ada seru-serunya banget dah! Si Kodok dengan santai-nya bilang bahwa seumur hidup dia baru 2x naik permainan tersebut, pertama saat dia masih kecil dan berikutnya ya saat di TransStudio bareng aku itulaaah....Syeeet daaah, selama hidup kerjanya ngapa’in aja, Om!?
Permainan “gratis” yang tersedia dalam sekejap kami coba. Khas anak-anak deh, untuk saya yang senang bermain dengan permainan adrenalin tinggi (walaupun terkadang sambil merem atau teriak histeris.) wahana di StudioTrans termasuk super santai....Tiket masuknya @ Rp 100.000 ,- (Kalau udah punya Kartu Studio Pass jadi @ Rp 90.000 ,-). Dan setelah itu jam 20, kami menuju salah satu theater, ada pertunjukan theater...siapa mencari Cinta gituh....Usaha Floor Director-nya untuk melibatkan penonton sudah sangat baik. Khas banget FD TransTV dan Trans 7 saat kami tapping or live di Studio Jakarta gituh, tapi penonton di Makassar terlalu besar “jaim”-nya...hehehe, padahal kalau di Jakarta penontonnya spontan – antusias en dikasih hadiah!
Selesai nonton, saya dan Mr.Ardian Yunianto melihat – lihat toko souvenir di dekat pintu masuk.keluar theater. Saya beli buku kecil (notes), sticker dan sampul kado. Plastik belanjaannya so kyuuutt.....senang deh lihatnya! Kalau gak terlalu tipis bisa buat goodie bag nan keren! Sampai saya sayang-sayang, khawatir lusuh! Hahaha...
Sebelum malam melarut, kami berdua mampir ke Rumah Makan Khayangan dekat Pantai Losari. Kepiting en Udang-nya mantap euy! Sampai kenyang....dan dengan perut yang full kami berdua berjalan kaki ke hotel...

Read Users' Comments (0)

Taman Sari [DIY]

Taman Sari Jogkajarta merupakan salah satu must see di Pulau Jawa. Entah berapa kali saya berkunjung ke Taman Sari. Untuk keterangan lebih lanjut bisa di dapatkan di aneka website yang tersebar di dunia maya. Atau check ke Mr.Wiki....
Idul Fitri tahun lalu, 2 Syawal 1429 H, saya sempat berkunjung ke Taman Sari kembali, setelah beberapa tahun absen ke sana.

Sekedar perbandingan, I’m presenting my picture at this blog.
The first picture I took in 1997, when I visited here with Dian.



Next picture......
Mas Tunggal yang memotret pada 2 Syawal 1429 H atau 2 October 2008. Berbeda dengan kunjungan bersama Dian di tahun 1997 dimana hanya kamilah pengunjung ketika itu, maka di tahun 2008 Taman Sari penuh dengan wisatawan domestik maupun mancanegara. Menurut informasi, pada gempa bumi Jogjakarta 27 Mei 2006 terdapat beberapa bagian yang turut hancur, namun kini telah diperbaiki – hingga Taman Sari kembali bersinar.....




Let’s promoting Indonesia to the world!

Read Users' Comments (0)

Bandung,I'm Coming...(Jabar 2009)

5 Syawal 1430
Setelah melakukan wisata modern di metropolitan, 24 September 2009 saya berencana ikutan Mas Tunggal dan keluarga ke Pengalengan Bandung Selatan, menikmati suasana perkebunan teh masa lalu,niaaaattnyaaa…
Untuk mempermudah dan menghemat waktu malam sebelumnya saya dan Owien menginap di rumah Amelia, menjajal kamar yang serba baru….hhmmm setara dengan kamar hotel berbintang-lah. Hahaha…dalam beberapa bulan lagi kwalitas kerapihannya diragukan…maklumlah Bimo yang baru saja diwisuda jadi sarjana teknik, kemampuannya di dunia hospitality belum teruji…xixixix…
’20 Menit lagi tiba di Antam.’ : SMS dari nomer 0888xxxxx Mas Tunggal sampai di nomer 08888xxxx di kantong jeans saya pada pukul 10:56. Sebelum berangkat saya dan Owien menyantap Mie instant gelas dan susu cair kaleng dari kulkas Amel dan keluarga…wuikikikik…mumpung penghuninya masih pada menikmati keindahan dreamland. Sementara Mbak Lien, sang nyonya rumah sudah mulai berangkat bekerja.
Saya dan Owien menunggu Tavera tepat di depan pintu masuk gedung Antam TB Simatupang. Lebih dari waktu yang ditentukan, tetapi Tavera belum juga muncul. Saya langsung menghubungi Sekar, dan ternyata mereka masih di Radar Auri Cimanggis !
Mobil datang, kami langsung masuk – travel bag kami masukkan ke dalam bagasi. Langsung masuk ke jalan tol, melaju dan sempat mampir di Km.57. Saya, Owien dan Sekar membeli beberapa makanan dan minuman di KFC yang ada di area tersebut.
Perjalanan lancar, hingga akhirnya…..tidak sesuai rencana kami ke Pengalengan, mobil keluar di Padalarang Kab.Bandung Barat dikarenakan kondisi mobil yang tiba-tiba drop. Kami berhenti di salah satu deretan ruko di Padalarang. Ada tukang bakso tahu dan es cendol+cincau. Mas Tunggal dan Seno mencari tukang oli, sedangkan 4 cewek (plus Mbak Rita) memesan bakso tahu seharga Rp 3000,- s/d Rp 5000,- (pakai telor rebus utuh) serta memesan es cendol dan cincau yang satu gelasnya Rp 2000,-. Tukang cincau-nya bangga banget cincau-nya gak pakai pengawet, saya mah percaya-percaya ajah, tetapi kebersihan dan kehalalan sebenarnya masalah yang utama. Selezatnya makanan kalau gak bersih en gak halal mah sama aja bohong! Kalau makanan “gak sehat” masih bisa saya lawan dengan liquid chlorophyll deh….Tapi kalau gak bersih??! Huh, ngelihatnya aja dah gak selera. Lagipula kebersihan sebagian dari iman.Soal kehalalan?? Haruskah hal ini saya jabarkan? ;-)
Untuk memperkecil resiko terjadinya sesuatu , siang itu kami membatalkan rencana ke Pengalengan. Kami berbelok ke Bandung City. Di toll menjelang Bandung kami memperhatikan billboard2 hotel, langsung memencet nomer hotel – jika sudah nyambung bertanya roomrate dan ketersediaan kamar yang bisa kami pakai malam ini.


Sore ini, kami check-in di Garden Permata Hotel. Memasuki lobby masih terasa nuansa Ramadhan dan Lebaran, serta nuansa Indonesia juga terasa kental. Terdapat mini gamelan dan furniture yang juga menampakkan kekhasan Nusantara. Masuk ke kamar 320, connection door-nya unik. Hamparan kolam renang terpampang di jendela kamar yang saya tiduri bersama Owien, dan kamar tersebut terhubung di living room alias ruang tv dan meja kerja tanpa dibatasi oleh daun pintu! So, begitu Om Fakih beserta keluarga visit ke kamar, kami tidak bisa bersembunyi deh…hahahaha…Yup Om Fakih yang baru saja mendarat di Indonesia dari Jeddah menyusul kami ke Bandung. Cepat banget euy! Padahal saat anaknya, Raihan d isms oleh Sekar dan kami memberitakan bahwa kami dalam perjalana ke Bandung anaknya memberitahukan bahwa Om Fakih baru akan landing di Bandara Soekarno Hatta. Dari luar negeri coy!Loh kok tiba-tiba jam 5-an sudah ada di hotel Bandung.
Kedatangan Om Fakih dan keluarga berkah juga seh, karena mobil Tavera masih belum diperbaiki, jadi saat makan malam kami menumpang mobil yang dibawa Om Fakih. Untungnya lagi yang dibawa Om Fakih mobil Xenia, bukan Timor seperti biasanya. Jadilah kami ber-sepuluh berjejalan di Xenia tersebut. Berasa deh lebarannya…hahahaha..
Dinner ayam goreng serta gurame di belakan Gedung Sate yang ramai oleh banyak rombongan keluarga. Tempat makannya model warung berderet seperti di Blok S Jakarta, dan yang datang-pun bermobil pribadi (Halah kalau nyewa kita juga gak ngerti?! :-D). Di warung sebelahnya saya, Owien, Mas Tunggal dan Om Fakih sempat minum Badsus. Badsus = Bandrek Susu. Yang biasanya disajikan panas, kali ini saya minta ke pedagangnya untuk menyajikan dengan es.
Sebelum balik ke hotel kami mampir ke Rumah Makan TenToTen, beli Cap Cay dan Nasi Goreng untuk “mengemil” di kamar hotel. Melewati Grand Serela Hotel yang 2 tahun lalu tempat saya menginap bersama ibu dan Mas Tunggal keluarga. 2 tahun yang lalu itu kami ke Bandung di bulan September juga, sambil mengambil buku ‘I Love Cooking’-nya Sekar di Penerbit Mizan.
Malam sebelum tidur Seno sempat mencoba wifi dari kamar. Hiks…belum bisa tuh. Sebenarnya asyik juga nih hotel full-WIFI sampai kamar, tetapi kenapa gak connect giniii seeeh…

*poto diambil dari website Garden Permata Hotel.

Read Users' Comments (0)

Wisata Religi 2 Masjid Indonesia

Lebaran sebentar lagi....masjid – masjid banyak sekali....*nyanyi dengan alunan seperti lagunya Bimbo yang dijadi’in jingle salah satu partai menjelang pemilu beberapa tahun yang lalu.
Yap,kenyataannya masjid di Indonesia memang bertaburan dimana – mana, dan suatu keharusan bagi umat Nabi Muhammad SAW memakmurkan dan “menghidupkan” masjid – masjid tersebut dengan kegiatan positif dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Jadi masjid tersebut nggak sekedar megah bangunannya. Dimanfaatkan secara positif dong, dijadikan base sebagai agen kebaikan gituuuuhhh....Ngebangunnya secara fisik ajah udah mengeluarkan biaya yang pastinya nggak kecil.
Trend yang beberapa tahun ini terjadi adalah masjid – masjid megah ini menjadi area wisata religi. Dua diantara masjid megah tersebut adalah : Masjid Kubah Mas di Cinere Depok Jawa Barat dan Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang.

MASJID KUBAH EMAS

Begitu memasuki jalan utama menuju masjid ini, terlihat bus-bus besar rombongan Majelis Ta’lim dari berbagai kota di seputaran Jawa. Ramai karena saya dan keluarga datang ke sana ketika liburan. Saya dan keluarga datang dengan mengendarai 2 mobil. Mobil kami parkir di tempat parkir yang telah disediakan. Masih jalan menyusuri jalanan yang ramai dari pelataran mesjid yang menjadi salah satu mesjid termewah di Asia tersebut. Pedagang berjajar menawari dagangannya, dari berjualan makanan sampai mainan anak. Lengkap, sehingga mirip pasar kaget! Cenderung semrawut, tetapi memasuki pagar pembatas mesjid semuanya tertata rapi dan bersih. Pintu masuk mesjid untuk pria dan wanita dipisahkan dengan ketat, bahkan mengalahkan “keketatan” pintu masuk di Masjidil Haram. Anak balita tidak diperkenankan memasuki area mesjid, namun pengelola mesjid menyediakan semacam aula yang digunakan untuk anak – anak bermain serta menunggu orang tua mereka memasuki mesjid.
Memasuki mesjid para jemaah wanita diwajibkan mengenakan kerudung/jilbab. Harga mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Saya memasuki masjid, memandang ke atas – nampak ‘cegokan’ kubah bergambarkan awan putih kebiruan langit digelendoti oleh lampu kristal yang konon harga-nya juga selangit.
Jujur, saya tidak merasakan “nyes” di hati ketika memasuki kemewahan tersebut. Atau memang saya yang saat itu tengah bebal sehingga tidak merasakan kemewahan di dalam mesjid yang kubahnya berlapis logam mulia. Tetapi pastinya bukan karena selera saya terhadap barang mahal sedang mengendur......

Masjid Agung JAWA TENGAH

Mesjid ini membuat saya penasaran ingin berkunjung. Melihat foto-foto di berbagai media sih memang membuat tertarik, dikarenakan kompleks mesjid ini memang menjadi basis kegiatan Islamic Centre yang terbuka bagi siapapun yang berniat baik. Tidak penuh prosedural kaku dan melayani masyarakat yang ingin mendapatkan info mengenai dunia Islam. Pada kunjungan saya ke Jawa Tengah akhir tahun 2007 saya hanya sempat memandang atap dan menara mesjid ini dari jalan tol di sepanjang tol Semarang. Barulah di Oktober 2008 saya singgah sejenak di area Masjid Agung Jawa Tengah. Memang hanya singgah sejenak, karena matahari demikian terik dan keluarga sudah ingin melanjutkan perjalanan. Mereka pernah ke mesjid ini sebelumnya.
Dari bahan mesjid ini memang tidak terkesan bahan bangunan bermutu maksimal, namun saya melihat aura keeksotisan muncul dari masjid besar ini. Memang sih kita tidak perlu mubazir membangun dengan bahan bangunan yang mahal, namun kalau awet dan bertahan lama, tentunya itu lebih hemat sehingga menghemat biaya perawatannya juga.
Dari menara mesjid ini pengunjung dapat memandang kota Semarang dari ketinggiannya, terdapat perpustakaan, area bermain anak-anak, penginapan alias hotel dan saat saya kesana menurut kabar akan ada cafe yang view-nya memandang kota Semarang. Semoga saja pihak pengelola dapat menangani area ‘Islamic Centre’ ini secara profesional, sehingga wisata religi di Semarang dan sekitarnya dapat berkembang secara baik dan terarah.
Ayo Indonesia, wujudkan wisata yang bersih sehat lahir dan bathin berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa serta mengenalkan budaya traditional bangsa. Biar gak diaku bangsa lain juga seh.....;-)

Read Users' Comments (0)

Hotel Manohara Magelang [Jateng 2008]

Saat media banyak menjadikan ‘Manohara’ sebagai subjek berita, saya menjadi teringat akan sebuah hotel di Magelang yang kami inapi ketika liburan paska lebaran 1430 H, tepatnya 3 – 4 Oktober 2008. Ketika itu saya sempat menanyakan apa arti nama ‘Manohara’, ada yang menjawab bahwa Manohara adalah nama burung – seperti layaknya nama Cendrawasih dan ada pula yang menyatakan bahwa Manohara adalah nama tokoh yang ceritanya terdapat dalam relief candi Borobudur. Kalau sekarang sih saya ngertinya ‘Manohara’ itu salah satu judul sinetron di tipi....huuuu....;-p

Menginap di Hotel Manohara Magelang membawa kesan sendiri bagi saya, dikarenakan hotel milik pemerintah setempat dan berbintang 4 ini merupakan satu-satunya hotel yang berada di dalam the Borobudur Archaelogical Park. Petugas hotel (mirip Tora Sudiro euy!) yang membawa tas/koper kami ke kamar menjelaskan kepada saya bahwa Amanjiwo Resort, tempat bermalamnya para mega selebrities dunia tidak seberapa jauh dari kamar kami. Memang tidak terlihat, apalagi ketika itu hari sudah gelap. Petugas itu menceritakan juga bahwa David Beckham dan sang istri yang mantan personel Spice Girl sempat “bocor” berita-nya saat akan berkunjung kesana. Dan sang pemain bola tersebut “selundupkan” ke terminal cargo oleh orang-orang di bandara karena “kebocoran” berita tersebut ke public. Yup...para mega bintang dunia itu memang seringkali mengendap di sekitar Candi Borobudur dikarenakan privasi-nya yang tidak mau terganggu, bukan saja mega bintang di dunia hiburan/olah raga, bahkan mendiang Lady Diana pernah menginap di group ‘Aman...’ yang bagi rakyat Indonesia umumnya membuat isi dompet menjadi tidak aman...hehehe....Tarif menginap di Amanjiwo ini paling murah Rp 7 juta untuk 2 orang ,sedangkan yang termahal US$ 2,600 ,- permalam! (Halooo...itu rates belum termasuk tax yak!).Saya-pun langsung nongkrong di teras kamar yang ‘menghadap’ resort tersebut, ketika kakak saya menanyakan apa yang saya lakukan disana...saya menjawab dengan cuek,”Lagi menghirup dan menikmati udara Amanjiwo....” Hehehe...belum sempat menginap disana, setidaknya sudah merasakan udara disekitarnya.

Saya, kakak + kakak ipar dan keponakan (berempat) makan malam di restaurant hotel Manohara. Suasana Jawa traditional terasa kental, model restaurant juga ala pendopo Kraton lengkap dengan karawitan-nya. View-nya??? Candi Borobudur mengintip kami yang sedang upper dinner....namun kami belum dapat menikmati kemistisan candi terbesar di dunia tersebut dikarenakan malam menghalangi pandangan kami. Baru-lah saat breakfast kami melumati keindahan lanskap sekeliling candi.


PAGI DI BOROBUDUR.
Usai shalat Shubuh Mas Tunggal, Mbak Lien, Sekar dan Seno bergegas mengejar matahari. That’s true! Mereka akan menikmati kebesaran-Nya dengan menyaksikan sunrise on the top of Borobudur. Borobudur belum dibuka bagi public, namun bagi tamu Hotel Manohara mendapat keistimewaan boleh berada di puncak candi disaat matahari belum muncul (Public/non tamu Hotel Manohara diperkenankan ikut dengan membayar Rp 250.000,-/person).Oh ya, malamnya dari theater hotel kami menyaksikan film mengenai Candi Borobudur. Sedangkan saya dan Mbak Rita lebih memilih menikmati sekeliling candi dari bawah. (Saya masih ingat benar berada di puncak candi Borobudur beberapa tahun yang lalu, walaupun bukan pada sunrise...hehehe, ingat panas-nya yang ampun-ampunan dan bergaya ala pemain film India tapi ‘ngojek payung’. ) Saat itu Mbak Ritha memang sedang mengalami masalah dengan kaki-nya, sehingga kemungkinan untuk mendaki candi sangat kecil. So kami berdua menyewa 2 sepeda yang disediakan oleh pihak Hotel Manohara. Kemana??? Mengelilingi Candi Borobudur tanpa “diganggu” orang lain.....!!! Berasa deh tuh candi kita yang punya...hihihi....Sepeda kami kayuh dengan santai. Kami singgah di kandang Gajah yang siang nanti akan “bertugas” di kawasan tersebut. Mereka masih menikmati makan pagi-nya. Kemudian kami menghentikan sepeda kami ke beberapa wahana di sekitar candi, diantaranya beberapa museum yang terdapat disana. Belum dibuka untuk umum, mereka masih bersiap-siap – namun dengan ramahnya mereka mempersilakan kami masuk dan melihat-lihat begitu mengetahui kami adalah tamu Hotel Manohara.
Dari kejauhan kami menyaksikan calon pengunjung Candi Borobudur yang belum diperkenankan masuk ke kawasan tersebut. Sangat ramai! Maklumlah libur lebaran, syawalan. Beberapa diantaranya melihat kami yang dengan santai-nya berkeliaran di dalam kawasan. Heran melihat tampilan kami yang dijamin bukan penampilan petugas dan bukan pula penampilan warga desa setempat, namun dapat wara wiri di dalam lokasi tanpa ada yang melarang. Mudah-mudahan sih mereka nggak mengira kami makhluk penampakan atau lebih kejamnya mengira kami adalah bagian dari ‘peliharaan’ atraksi kawasan wisata..hehehe...

Kami berdua kembali mengayuh sepeda ke arah Hotel Manohara. Meletakkan sepeda di depan lobby, dan langsung menuju tempat makan pagi.Breakfast sambil memandang keindahan Borobudur dan lanskap-nya. Menunggu mereka yang baru turun menyaksikan sunrise. Tak lama mereka muncul dan bergabung bersama kami berdua.

Selesai breakfast saya dan Mas Tunggal berkeliling sekitar hotel sambil mengamati aneka tumbuhan yang ada disekitar kami, ada pohon Bodie – yang dianggap keramat bagi umat Budha, dan ditanam oleh ‘orang-orang khusus’ serta pohon Maja yang buahnya mirip buah Semangka namun tidak diperkenankan dimakan. Kata-nya buah ini yang ‘disumpah2in’ oleh Gajah Mada, yang menyatakan ogah makan buah ini sebelum Nusantara bersatu. Masaq iya seh???!! Ada juga pohon bunga yang sebelumnya tidak pernah kami temukan di tempat lain, bahkan ketika kami meminta penjelasan orang disekitar sana mereka tidak mengetahui nama bunga-nya. Dengan meminta izin, kami membawa beberapa bibit bunga tersebut untuk dibawa dan kami tanam di Jakarta. Bahkan kami juga membawa beberapa buah Maja. Bukan maksud kami merusak loh, justru kami berniat menanam dan mengembang biakkan tanaman-tanaman tersebut di sekitar tempat tinggal kami.
Siang itu kami kembali ke Jogjakarta, menjemput ibu di rumah Galuh dan langsung menuju ke Semarang (lewat Magelang lagi deh!) – singgah sebentar di Eva Coffee House.....( http://odysseygemini.blogspot.com/2008/10/eva-coffee-house-jawa-tengah.html ) dan malam ini kami terlelap di Grand Candi Hotel, hotel berbintang 5 di Semarang.

Read Users' Comments (0)

Losari Coffee Plantation Resort & Spa, Magelang [Jateng 2008]





Losari Coffee Plantation Resort dan Spa, yang menurut kabar digunakan oleh Presiden SBY untuk “memanggil” para menteri dan mereka-pun melakukan meeting disini. Daku mah nggak peduli apa yang mereka meeting-in, tetapi bikin daku penasaran juga kenapa seorang presiden harus memanggil para pembantunya ke ‘daerah terpencil’ ini? Perhatian dengan daerah terpencil ini??? Huehehehe.....menginap disini boleh dikatakan sangat tidak murah!
Suatu hari setelah merayakan lebaran di Jogjakarta, saya dan Mas Tunggal sekeluarga singgah di kawasan perkebunan kopi seluas 20 hektar ini. Lokasi-nya di Magelang Jawa Tengah. Memasuki kawasan Losari Coffee Plantation Resort & Spa justru mengingatkan saya pada jalan masuk rumah Mbah saya di pinggir Kebumen Jawa Tengah lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Akhirnya kami menemukan lokasi Losari Coffee Plantation Resort. Di luar terlihat berbagai kendaraan “kota” , kendaraan yang harganya diatas duaratusjutaan. Dari nomer dan performa-nya ketahuan banget kalau pemiliknya tinggal di kota.
Mobil kami memasuki area resort, dan langsung disambut dengan keramahan khas hospitality industries. Ketika kami akan turun pintu mobil dibukakan oleh karyawan berseragam (yang pasti seragam khas hospitality, bukan seragam tentara!), dipersilakan masuk ke resepsionist and ditawarkan vallet parking. Secara halus kami tidak menerima tawaran untuk vallet parking, kami menjelaskan bahwa kami sedang ‘survey’ agar suatu hari kami dapat bermalam dan memanfaatkan aneka fasilitas yang ada disini.
Kami-pun memasuki bangunan di hadapan kami. Station Mayong, sebuah station kereta api kuno peninggalan zaman dahulu (namanya juga kuno...) yang kini berubah fungsi sebagai resepsionis hall. Nah, disini dipasang foto ketika Presiden SBY berada disini.
Di Losari terdapat 32 villa yang unik. Aneka bangunan yang terdapat disini merupakan paduan arsitektur Eropa lama kolonial dan arsitektur Jawa. Unsur modern terpoles sedikit....ada manfaatnya kok, mengingatkan bahwa kita tidak sedang terlempar oleh lorong waktu...hehehe...karena disini juga terdapar bangunan yang dibangun tahun 1828 yang memiliki perabot antik traditional Jawa.

Read Users' Comments (0)

PT DI & Savoy Homan Hotel Bandung [Jabar 2006]

Subuh, 26 Agustus 2006
Depart to Bandung.
Vehicle : PKWTO’s Car
Captain : Wijayanto
Flight Officer : Anna R.Nawaning S
Pax : Maherda, Yongis and Endi.



Baru saja mobil meluncur di tol arah Bekasi, Haryo dan Edo menelpon protes karena kami tinggal. Kami jalan santai kok, kecepatan hanya 80 km/jam. Tak lama mobil kami bertemu.

Anna langsung sms Mas Dani :
PKWTO’s Flight and Edo’s Flight depart from Jatiwaringin, Destination Bandung. Posisi saat ini Bekasi Timur.
Dibalas Dani :
Roger.Adrenalin flight preparation for departing.

Meluncurlah mobil kami di tol menuju Cikampek.
Tak lama Om Dani menghubungi handphone-ku. Menawarkan jalan bareng. Konvoy gituh…tapi flight-nya masih di Cilangkap.
“Oke…maintain 80 ya kendaraan lo! Supaya kita bisa nyusul.” Om Dani memberi instruksi laksana ATC yang ditinggal kabur pesawat terbang yang sudah take off saat petugas tower ketiduran.

Tak sampai 3 jam kendaraan yang kami tumpangi tiba di pekarangan Masjid Habiburrahman PT Dirgantara Indonesia Bandung. Mas Subuh (shp) menyambut kami. Disusul rekan – rekan Bandung lainnya. Mas Wijayanto mengeluarkan radio receiver-nya, “nguping” ke ATC supaya memantau lalu lintas udara Indonesia. Langsung kami berkerumun. Satu hal yang tidak biasa bagi manusia yang tidak tergila – gila pada dunia penerbangan.

Setelah kendaraan dari Jakarta dan Bandung tiba, rekan – rekan Bandung memberikan tanda panitia ke beberapa orang, termasuk aku. Sebenarnya aku nggak ngerti soal job desc panitia kali ini. Duuuhhh…harus ngapa’in nih? Tetapi begitu melihat nama Anna di cetak di name tag panitia Tri Dasa Warsa PT Dirgantara Indonesia aku langsung manggut – manggut. Lumayan,,,name tag-nya bisa nambahin koleksi pribadi. Hehehe…apalagi keluaran PT DI. Cita – cita lama tuh….bisa bekerja menjadi ahli pesawat terbang. Waktu aku ngerja’in project-nya BJ Habibie khan gak sempat ke IPTN. Beberapa tahun kerjanya justru ngatur tamu – tamunya BJ Habibie ke IPTN tapi aku hanya “mupeng” karena tamu lainnya banyak yang minta diurus

Kendaraan rombongan kami masuk ke area PT DI. Barang bawa-an diperiksa satu persatu dengan ketat. Kami langsung berfoto ria. Saat kita pasang ancang – ancang difoto, tiba – tiba pesawat dengan livery Citilink rotate, sangat dekat. Langsung gaya kita bubar histeris…hahaha….
Dua fotografer (kalau gak salah Hendra en Viqie) langsung lompat membalik bermaksud memotret Citylink tersebut, tapi….keburu jauh-lah! Langsung deh pada mengeluh,”Aduuh, kecolongan nih!” Hihihi …dari tadi nguping ATC dapet apa, Om???

Setelah pemeriksaan selesai, beberapa diantara kami langsung memasuki ruang mock up N 250, salah satu jenis pesawat terbang bikinan Indonesia. Wuiiihh…keren deh! Etis gak kalau daku bandingin N 250 dengan Fokker 27 – Fokker 28 ?
Masih dengan gaya histeris kami “membongkar” mock up N 250. Puaaasss…seperti bermain sinetron. Music dan lampu – lampu di “N 250” tidak lepas dari keisengan kami. Eitsss…keisengan kami bermanfaat loh. Karena kecintaan kami dengan pesawat terbang maka kami benar – benar menjaga walaupun kita pakai.
“Jumpseat di N 250??? Kapan lageeee???!!!”
Pokoknya lengkap deh (kecuali jadi barang cargo yaaa ;-p)….jadi pax, pramugari/a, co-pilot dan captain N 250 kami coba satu persatu. Ayo adakah cockpit dan cabin crew yang memiliki rating N 250 tahun ini??? Cuma kami yang bisaaaa…hehehe…

Puas bermesraan dengan mock up N 250 aku bergabung dengan rekan – rekan yang tengah demonstrasi. Demontrasi flight simulator yang disambut sangat antusias oleh pelajar – pelajar Bandung. Ramaaaaaiiii….kira’in demo menuntut penurunan harga BBM doang yang ramai.
“Hayoooo….hayooo…siapa diantara kalian yang ingin menjadi pilot?!” Mas Wijayanto demikian komunikatif menjadi narrator.

Malam hari kami berkunjung ke rumah keluarganya Om Rian dan Om Arianda (yang malam itu merupakan malam midadoreni-nya) di Jalan Dipati Ukur. Rumahnya asyiiiik deh, bergaya zaman dahulu…daaaan aku berhasil memotret piano di salah satu sudut rumahnya. Entah kenapa ada chemistry tersendiri saat aku melihat foto piano tersebut di handphone-nya Rian bulan January 2006. Kali ini aku dapat memotret-nya langsung! Pengennya sih memencet – mencet sekalian, tapi lagi banyak tamu euy!

Hari ini aku sukses berat mendapatkan 2 benda yang menurutku terindah di dunia, yaitu : PESAWAT TERBANG dan PIANO.
Cinta tidak harus memiliki namun Cinta pasti dapat dinikmati oleh hati.

Ahad, 27 Agustus 2006

Semalam aku tidur pukul 22.00 karena malam sebelumnya tidak tidur. Thanks a lot untuk Inu yang sudah meminjamkan kamar kost-nya untukku. Sebenarnya aku bisa saja tidur di hotel dengan beberapa rekan lainnya, tetapi nggak enak hati-lah. Lah Mas Wijay yang mobilnya Anna tumpangin saja bermalam di rumahnya Mas Andon.Kebetulan kost Inu yang dilingkungan ITB (Inu kuliah di ITB Teknik Penerbangan) nggak menentukan jenis kelamin penghuninya, so asyik – asyik aja tuh! Inu pindah ke kamarnya Fajri bersama Endi.

Pukul 8-an Inu menghampiri kamarnya.”Che, bangun!”Sejak pagi aku memang sudah bangun dan shubuhan tetapi berhubung udara membuat aku ingin terus meresapi kedamaian, jadilah aku malas keluar kamar.

Jam 10 lewat kami sampai di PT Dirgantara Indonesia. Demonstrasi Flight Simulator telah berlangsung. Pengunjung membludak dengan antusias. Kali ini open house PT DI terbuka untuk umum (family). Kemarin hanya untuk undangan dan sekolah – sekolah di daerah Jawa Barat.


Jam 12 aku ikut Kia Matrix-nya Haryo ke resepsi pernikahannya Arianda dan Farina di Hotel Savoy Homann. Kami berangkat berlima : Haryo, Edo, Yongis dan Rizuki (member IF yang kuliah di ITB Teknik Elektro 2004) dengan mobilnya Haryo. Sementara Inu dan Fajri berboncengan naik motor. Tak lama kami telah sampai di Jalan Asia Afrika Bandung. Parkir di pelataran parkir Hotel Savoy Homann Bidakara (ternyata manajemen-nya sekarang dikelola Bidakara toh??!). Memasuki area resepsi kami harus melewati lorong penuh dengan kain dan pepohonan setelah mengisi buku tamu. Ruang resepsi sengaja ditutup rapat hingga pesta terkesan di malam hari. Tampak Arianda dan Farina menggunakan pakaian daerah masing – masing, Ari memakai pakaian Tapanuli Selatan dan Farina memakai pakaian Sunda. Lah kok yang mendampingi ibunya Arianda Om Rian sih?!


Setelah bersalaman Edo dan Yongis yang siap dengan camera-nya memotret Om Rian. Yang dipotret kok malah Om Rian? Bukannya pengantinnya? Hahaha....Sebelum ‘buffet session’ aku ke ‘makanan gubug’ yang menyediakan ‘Nasi Chicken Hainan’. Catering hotel tersebut lumayan enak buat ukuran catering hotel lain yang biasanya rasanya agak ajaib untuk resepsi.Setelah foto bersama kami kembali ke PT Dirgantara Indonesia.


Jam 16 acara kami di PT DI usai. Mama-nya Adnan mengajak kami menyaksikan Aeromodelling di Bandara Husen Sastranegara. Maaauuuu....Kendaraan kami (ada 6 – 7 mobil) berjalan beriringan. Tiba – tiba mobil yang ditumpangi rekan – rekan Bandung berhenti di sisi runway.

“Sepuluh menit lagi Citilink landing!” Mereka memberi informasi kepada kita. Pasti mereka mencuri dengar komunikasi ATC dari radio receiver. Kompak kami turun dari mobil dan menenteng camera. Mirip pejuang yang turun dari kendaraannya, bersiaga dengan senjata karena mendengar musuh siap menyerang. Hahaha....

“Yang membawa camera DSLR dan camera besarnya tolong diumpetin dong! Bisa dilihat provost dan ditegor loh!” Rekan – rekan dari Bandung mengingatkan. Aku yang hanya membawa camera digital Exlim tenang – tenang saja. Mata dan leher kami menengadah ke langit, berputar – putar mencari pesawat yang akan landing. Belum terlihat.

Melihat beberapa rekan memanjat – manjat tembok, aku ikutan memanjat di bantu Azmi. Tak lama dari balik awan muncul pesawat terbang yang seperti berbalik arah menjauh dari runway dihadapan kami.

“Itu diaaaaa....lagi downwind!” teriak seorang rekan.

“Iyaaa....downwind! Siap – siap, sebentar lagi landing!”

Pesawat downwind, justru menghilang dari penglihatan kami. Kalau orang awam pasti sudah meninggalkan lokasi dan mengira bahwa pesawat terbang telah pergi, tetapi buat kami yang sangat mengerti...tentu saja mengerti arti apa yang terjadi jika pesawat downwind.

Tak lama....aku terpaku dan terlena...melongo tak percaya. Pesawat dengan livery Citilink itu dengan gerakan “seksi”-nya mengeluarkan landing gear...menyentuh lembut aspal runway. Aku terpaku, tidak mau melewatkan ‘golden moment’ ini. Pesawat landing, aku langsung memencet tombol camera. Aaaaarrggghhh....pesawat terbang landing hanya berjarak beberapa meter dari tempat kami berdiri. Aku benar – benar takjub. Setiap gerakannya demikian indah...uuuh,,begitu pesawat parkir aku tersadar. Barangkali seperti orang yang orgasme. Lega,,puas...nikmat! hehehe...

Kami segera kembali masuk mobil dan melanjutkan perjalanan ke bandara. Masuk ke “daerah terlarang” TNI AU dengan “menjual” nama mama-nya Adnan yang WARA (Wanita Angkatan Udara).

Waaaawww...mobil – mobil yang kami tumbangi parkir di dalam airport. Dengan leluasa kami menikmati udara sore di taxiway bandara Husen Sastranegara. Mengamati Adnan dan komunitas Aeromodelling menerbangkan pesawat terbang mungilnya. Pesawat terbang mini itu benar – benar takeoff dan landing di taxiway pesawat – pesawat commercial. Tentu saja kami sambil memantau traffic airport melalui radio receiver. Jangan sampai deh kami masuk media massa dan terkenal karena kesamber pesawat terbang disaat kita bermain di landasan pacu pesawat terbang. Ih, kalau dipikir – pikir kami tuh benar - benar nggak waras deh...hehehe....Jadi ingat Hari yang pernah menabrak kambing di airport Adi Sucipto Jogjakarta dengan pesawat Fokker 28 Merpati-nya.

Aku sempat tandem Aeromodelling. Lumayan bermanfaat untuk melatih feeling terbang. Apalagi di real airport. Maherda dan mama-nya Adnan memotret aku yang sedang terbang tandem Aeromodelling,”Nanti kita kirim ke majalah yah!” ujar Mamanya Adnan.Oke deh, Tante,tapi majalah Angkasa dong.Jangan majalah Bobo

Oh iya, pesawat Citilink yang tadi kami tunggu – tunggu saat landing kembali takeoff. Taxi –nya di tempat kami Aeromodelling. Captainnya melambaikan tangan, dadahdadahan kepada kami yang bersorak – sorak melihat pesawat terbang berjalan sangat dekat dengan kami. Pesawat Citilink takeoff menuju Batam. “Have a nice flight, Captaint!!!” teriak kami melambaikan tangan dibalas cockpit crew didalamnya ketika pesawat bersiap rotate.

Memasuki waktu Maghrib kami meninggalkan lokasi airport. Pintu hanggar di hadapan kami terbuka.

“Wah, itu ada Colibri yah!?” Mas Wijay tiba – tiba menunjuk pintu hanggar. Setelah berteriak ke Adnan yang sudah duduk di mobilnya dan Adnan menjelaskan secara detail pesawat dan helicopter apa saja yang ada di hanggar tersebut, mobil kami melaju ke rumah Adnan yang tak jauh dari bandara di PT DI.

Makan malam di rumah Adnan bersama – sama. Pukul 20 lewat pasukan Jakarta kembali ke Jakarta. “Kalau kalian ke Bandung jangan lupa mampir kemari lagi yah!” pesan mama-nya Adnan yang tadi juga menawarkan kami untuk berkunjung ke Lanud Iswahyudi Madiun.

“Terima kasih, Tante ....” Ucap kami, “teman-teman” Adnan yang usianya lebih cocok sebagai Om dan Tante Adnan.

Read Users' Comments (0)