Thursday, 10 December 2015

Merasakan Kelezatan F & B Best Western Premier The Bellevue

Batik dan Hospitality Industry merupakan bagian dari peminatan yang besar dalam diri saya. Karena itulah saat Kompasiana mengadakan acara di Best Western Premier The Bellevue Jakarta Selatan dengan pembahasan “Pameran Batik Betawi” saya segera mendaftar, sekalipun terlihat terlambat dan kuota seperti sudah terpenuhi oleh Kompasianers. Beruntung pagi pada hari H – Kamis, 7 Oktober 2015 saya mendapatkan telepon dari Kompasiana dan menanyakan apakah saya masih berminat dan bisa hadir dalam acara tersebut. Wooow, tentuuuuu...bela-belain deh dateng mengingat materi pembahasan dan tempatnya yang bikin saya super penasaran!
Pameran Batik Betawi di Best Western Premier The Bellevue
Batik Betawi adalah batik yang sudah langka, dan Best Western adalah The World’s Largest Hotel Chain yang terdiri atas lebih 4000 hotel di 100 negara dan wilayah di dunia. Saya-pun pernah menginap di salah satu hotel Best Western di New Zealand. Keingetan banget, karena saya menginap sekitar seminggu di hotel tersebut. Ini pula yang menarik bagi saya untuk hotel tour – syukur2 menginap di Best Western di Indonesia.
Karena antusias-nya maka tanpa saya sadari saya terus melakukan tweetlive pada acara berlangsung, dan begitu diumumkan pemenang tweetlive terbanyak, saya menjadi pemenangnya! Mendapatkan hadiah voucher F & B pada hotel tersebut....yeaaay!

Diserahkan hadiah sbg Livetwit Terbanyak oleh MS.Eleine Koesyono,Marketing Communication Manager
Hari Minggu, 6 December 2015 saya berdua dengan Mama Dion memanfaatkan voucher senilai Rp 250.000 tersebut. Parkir motor di lantai B2 kemudian kami menuju lantai 1 melalui lift ke Kedaton Coffee Shop.

Hadiah Voucher F & B dan hadiah boneka Best Western Premier The Bellevue yang kini berada di tempat tidur saya :)
Kami datang di luar jam makan siang, sekitar jam 4-an sore sehingga Kedaton Coffee Shop hanya 1 – 2 meja yang terisi tamu. Assesoris natal sudah terlihat menghiasi ruangan. Waitress langsung menyodorkan saya map menu makanan dan minuman. Tidak terlalu banyak pilihan menu makanan yang bisa kami pilih, sepertinya yang banyak tersedia justru minuman beralkohol. Ketentuan voucher adalah tidak berlaku untuk minuman alkohol. Ya, kami juga nggak bakalan memesan minuman beralkohol sih...hehehe...

Mie Goreng Special

Mie Goreng  Special Tanpa Sayur


Kung Pao + Steam Rice
Sore itu saya memilih 1 porsi Mie Goreng Spesial (harga Rp 60,000) dan Mama Dion yang semula ikut-ikutan memesan dengan menu yang sama buru-buru saya arahkan untuk memesan Kung Pao Chicken (Rp 75,000) . Pakek acara nggak ngerti lagi menu macam apa, langsung saya jawab dengan nada terselubung “norak loe” ,”Masakan Thailaaand. Gue mah doyan banget!” Lah, terus kenapa nggak loe aja yang mesen,An? ;p Minumnya baru deh kita sama-an yang Es Teh Tawar seharga Rp 30.000 pergelas-nya belum termasuk 21% dan nggak bisa di-refill. Hiks! *Halah, makan pakek voucher hadiah aja pakek baper banget pas lihat harga Es Teh Tawar seharga itu :p


Menu makanan yang tersedia lainnya di Kedaton Coffee Shop dan sepertinya dari sini pelayanan Room Service jika tamu kamar hotel memesan, diantaranya :
Soup : Creama Di Funghi (Mushroom Cream Soup) dan Oriental Wonton Soup yang harganya masing-masing Rp 50,000. Ada juga Tom Yam Talay seharga Rp 60.000.
Sedangkan “Grilled Di Carne” terdapat : Grilled Sirloin (Rp 220.000) hingga termurah Grilled Chicken Breast (Rp 135,000). 
Pesanan kami di deretan Asian Delight bersamaan dengan : Oxtail Soup (Rp 120,000), Nasi Goreng Special (Rp 75,000), Tongseng Kambing (Rp 85,000) dan Rawon Jawa Timur (Rp 85,000).
Semua harga disini belum termasuk tax yang 21  % itu loh yaa. Biasa deh, government tax and service charge. Nah kalau sudah termasuk service charge sebenarnya kita tidak perlu memberi tips lagi.
Kedaton Coffee Shop masih menggunakan sebagian ballroom hotel, dikarenakan permanen-nya masih dalam tahap pembangunan. Nantinya sih akan berada di rooftop hotel, bakal keren nih! 
Ada 1 tempat lagi yang melayani F & B di hotel ini, yakni : Angsana Lounge & Wine Bar, tempat saya dan Kompasianers berkumpul saat acara Kompasiana pada talkshow bersama Sanggar Batik Betawi Terogong. Best Western Premier The Bellevue memang mendukung pelestarian warisan budaya batik Indonesia – dari berbagai daerah,khususnya daerah sekelilingnya. Oleh karena itu hal yang patut diacungkan jempol melihat berbagai ornamen interior hotel ini, dari dinding hingga karpet bermotif batik.
Berhubung hari sudah mulai gelap karena mendung dan kami berdua bermotor ria maka kami segera beranjak dari resto. Listrik mengalami kepadaman, lift juga otomastis tidak beroperasi. Dengan ramah Pak Security hotel menunjukkan jalan ke parkiran tanpa menggunakan lift.

Sunday, 8 November 2015

Grand Zuri Hotel BSD City, The Second Home for My Family

Sebagai “Horeca Addict” saya mengetahui informasi tentang Grand Zuri Hotel BSD City sejak pertama kali hotel ini beroperasi dari berbagai advertising di media. Sedangkan saya mengenal Grand Zuri Hotels dari kakak pertama yang seringkali menyodorkan amenities (sabun,shampo,pasta gigi,dll) hotel tersebut apabila saya main ke rumahnya karena sang suami yang seorang pilot seringkali menginap di Grand Zuri Hotel di Pekanbaru.
Che, sudah pernah menginap di hotel Grand Zuri yang di Serpong?” tanya keponakan dari kakak ke-7 saya. Keluarga sangat mengetahui kebiasaan saya bermalam di hotel-hotel baru, sekalipun hotel tersebut masih berada di seputaran Jakarta. Ketika itu saya menjawab bahwa belum pernah menginap di Grand Zuri Serpong. Keponakan saya-pun menceritakan pengalamannya menginap di Grand Zuri BSD dengan seru. Tampak ia terkesan. Ada aura “Feels Like Home” di nada suara, ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya.”Khususnya swimming pool Grand Zuri Serpong,Che’...posisinya diatas, outdoor dengan view Serpong area. Asyiknya lagi nih, dari posisi kamar kita ke swimming pool dekat sekali sehingga kita berasa di rumah sendiri. Nggak risih jalan menuju kolam renangnya...

Swimming Pool-nya laksana di awang-awang :)
Setelah cerita itu pertama kalinya, maka terdengar cerita-cerita berikutnya tentang Grand Zuri BSD dari anak-anak kakak saya ke-7. Yap, mereka merasakan bahwa hotel ini merupakan rumah kedua mereka. Mengapa demikian? Karena kakak ipar alias ayah mereka berprofesi sebagai dokter kandungan di beberapa hospital di kota Tangerang dan Tangerang Selatan. Keponakan saya yang tadi bercerita tentang Grand Zuri BSD saat ini kuliah di fakultas Kedokteran di sebuah universitas negeri Purwokerto, adiknya kuliah di fakultas psikologi universitas negeri di Depok dan si bungsu masih SMA kelas terakhir. Sedangkan ibu mereka,kakak kandung ke-7 saya sehari-hari sibuk mengajar di fakultas kedokteran universitas negeri di Jakarta dan fakultas kedokteran swasta di Depok. Kebayang khan kesibukan mereka? Sehingga apabila liburan kuliah mereka menginap di Grand Zuri BSD. Itu merupakan pilihan terbaik berlibur mereka, karena ayah mereka sebagai dokter spesialis kandungan tidak mudah memiliki waktu liburan khusus. Rumah mereka di Cibubur Jakarta Timur, sewaktu-waktu ayah mereka dihubungi oleh pihak hospital yang pasien-nya tiba-tiba ada yang akan melahirkan. Nggak bisa khan kakak ipar saya memasang jam praktek melayani kelahiran dengan membatasi waktu. Nggak peduli jam 2 siang atau jam 2 malam beliau harus siap membantu kelahiran bayi-bayi tersebut ke dunia.
Nah, saat liburan keluarganya “pindah rumah” ke Grand Zuri Serpong agar dekat dengan lokasi hospital-nya. Jadi mereka dapat menikmati liburannya di sekitar hotel, diantaranya dengan berkunjung ke : Ocean Park Water Adventure, Modern Land Lake, Cup Island (Pulau Cangkir), Masjid Seribu Pintu, Masjid Al-Adzom, Teras Kota Mall, Living World,Ikea, serta banyak tempat lainnya di seputaran Tangerang. Apabila di tengah liburan keluarga itu pihak hospital menghubungi Ayah mereka dikarenakan ada pasien yang segera membutuhkan pertolongan, maka dengan cepat mereka tiba di hospital. Atau terlebih dahulu Ayah mereka “memulangkan” kakak dan keponakan-keponakan saya ke hotel, tanpa harus memulangkan mereka ke rumahnya di Cibubur. Praktis, tidak macet, hemat waktu, hemat BBM bukan? Apalagi dengan janji,”We Know How To Please You” maka mereka dapat berlibur namun seakan tidak meninggalkan rumah karena layanannya, Ayah mereka-pun dapat bekerja sambil menikmati liburan anak-anaknya.
Keuntungan lainnya dari Grand Zuri BSD ini adalah akses-nya yang dekat dengan Soekarno Hatta International Airport, dekat dengan golf course, dengan dengan pintu toll Jakarta-Merak serta Outer Ring Road ke Bintaro dan Pondok Indah Jakarta Selatan. Mau ke mall? Keponakan-keponakan saya dapat berjalan kaki ke Teras Kota atau nonton di bioskop favorit mereka hanya dengan berjalan kaki dari hotel. How Heaven!!!

Grand Zuri BSD Hotel Tour 
Lobby Grand Zuri BSD (Pic : Grand Zuri Hotel)

Hanya mendengarkan cerita dari keponakan-keponakan, pada akhirnya saya baru mendapatkan kesempatan melakukan tour hotel di Grand Zuri BSD pada acara “Launching Jakarta Corner dan Blogger Gathering” . Posisi hotel yang tidak tepat di pinggir jalan raya seakan menguatkan aura “Feels Like Home” karena letak-nya yang seakan menjadi bagian cluster perumahan. Desain bangunan yang merupakan perpaduan mediteranian dan kolonial justru membuat saya merasa disambut dengan rasa “adem”,welcome dan tidak terkesan formal seperti business hotel umumnya. Masuk ke lobby laksana masuk ke dalam ruang tamu sebuah rumah, banyak kursi tamu tersedia yang tertata seperti ruang tamu rumah tinggal. Di hadapan lobby juga langsung terlihat susunan meja makan alias CERENTI Restaurant. Sedangkan Receptionist/Front Office berada di sisi kanan pintu masuk. Dari lobby apabila kita melongok ke atas akan nampak di lantai 2 adalah Zuri Lounge, area yang dapat digunakan untuk meetup sambil "minum-minum cantik" bersama rekanan. Semacam ruang tamu kalau di rumah gitu deh...

Zuri Lounge, Tempat kongkow sambil minum cantik. Anggap-lah ruang tamu rumah kita sendiri (Pic : Grand Zuri Hotel Website)

Pembicara utama Mr. Teguh Sudarisman yang buku-nya : Travel Writer Diaries 1.0 : Catatan Perjalanan Unik,Seru dan Luar Biasa Tentang Indonesia telah saya baca berulangkali. Sayangnya saya tidak membawa buku tsb saat acara sehingga nggak bisa minta tanda tangan di bukunya deh :)
Saat acara Jakarta Corners berlangsung di Function Room Mulia kami memanfaatkan wifi yang tersedia. Keren euy! WiFi-nya kenceeeng, walaupun kami menggunakannya beramai-ramai. Saat makan siang Blogger dipersilakan menikmati hidangan yang ada di CERENTI Restaurant. Wow, mantap nih, jadinya kami khan bisa membuat review kuliner tersendiri selain review hotel dan event blogger gathering-nya.
(Cerenti Restaurant offerswide selections of meals for breakfast, lunch and dinner; from local Indonesian dishes to international fares, with Korean and Japanese cuisine specialties. Interiors are designed to create a professional yet welcoming ambience.)


Usai makan siang, kami melaksanakan tour hotel. Saya membuktikan cerita-cerita dari keponakan saya, mengenai swimming pool yang benar-benar seakan berada di rumah sendiri. Beberapa kamar memiliki akses ke kolam renang langsung sehingga dengan membuka pintu kamar maka sudah langsung berada di halaman kolam renang. Yeaah, untuk saya hal yang demikian surga banget tuh! Sudah menggunakan pakaian renang, tanpa melapisi dengan handuk dan pakaian lainnya sudah bisa langsung nyebur ke kolam renang begitu membuka pintu kamar. Selesai renang juga kita bisa langsung masuk kamar dan mandi. Yap,”Feels Like Home” deeeh..Swimming pool ini merupakan bagian dari 'Wellness Center" mendampingi Gym dan Spa.
(The wellness center is a harmonious cocoon where every imaginable indulgence awaits. In house spa offers combination of international treatments with a uniquely Indonesian spa philosophy; while the gym is equipped with a range of exercise equipments. Facilities also include a swimming pool, sauna and whirlpool.)


Namun memang tidak semua kamar berada di pinggir kolam renang. Total kamar yang tersedia di Grand Zuri BSD adalah 132 kamar. Terdiri dari tipe Superior berjumlah 115 kamar dengan luas 24 sqm hingga Presiden Suite berjumlah 1 kamar dengan luas area 78 sqm. Memiliki room amenities yang lumayan lengkap, dan keunggulan Zuri Dream – yakni high quality beds for a guaranteed good night sleep by King Koil. You know-laah...bobo di bed dengan brand satu ini dengan berbagai fasilitas “We Know How To Please You”.  
(The hotel houses 132 rooms. All rooms are modern in design, combining classic contemporary look with exceptional comfort and convenience. All suites feature a separate living area, a spacious work desk, a large bathroom with bathtub and are complemented by WiFi, 32-inch LCD TV and minibar. Sleep easy on customized Zuri Dream by King Koil bedding with a plush pillow and duvet blanket)

Fasilitas Yang Tersedia :
Laundry & dry cleaning service
Nonsmoking Floor
Wireless internet access
24 hours room service
24 hours operator
All major creditcards accepted
Pick up and drop off service to
International airport, Soekarno Hatta (fees apply)
Bilingual hotel staff
Business center
Doctor on Call
Guest praying room/musholla (Alhamdulillah, sempat memanfaatkan untuk shalat Dzuhur di lantai 3)
7 meeting/ function rooms with a
Spacious pre function area
Parking Area

Terbukti-lah, apa yang diceritakan oleh keponakan saya, dan semoga suatu hari saya bisa mengajak Ibu menginap di Grand Zuri BSD. Beliau udah ngerengek minta plesiran ke Tangerang...hehehe, sedangkan kakak saya belum sempat mengajak beliau. Alasannya kalau tiba-tiba suami-nya mendadak mendapat panggilan dari hospital saat jalan-jalan di Tangerang bagaimana? Kakak saya nggak tega membiarkan ibu menunggu di mobil ,hospital atau jalan-jalan lama di mall karena usia ibu yang sudah 70-an. Aaah, padahal khan ada Grand Zuri BSD yach...so kenapa saya baru ‘ngeh’ juga agar ibu saya bisa istirahat di hotel ini apabila harus menunggu menantunya bekerja. Have a Nice Feels Like Home,Mother...hehehe, mudah-mudahan di Hari Ibu nanti bisa terlaksana:)
 Jl Pahlawan Seribu Kavling Ocean Walk
Blok CBD Lot.6 BSD City. Serpong
Tangerang Selatan 15322, Banten- Indonesia
tel. +62 21 2940 4955
fax. +62 21 2940 4966
mail. reservation.bsd@grandzuri.com
Atau silakan booking melalui : Agoda

Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Menulis Blog Jakarta Corners yang disponsori oleh Hotel Grand Zuri BSD City 

Launching Jakarta Corners di Mulia Room Grand Zuri BSD
 

Tuesday, 20 October 2015

Menyusuri 4 Propinsi di Pulau Jawa Dengan Kereta “dalam rangka” Hari Kereta Api Nasional

Hari Kereta Api Nasional diperingati setiap tanggal 28 September, dan di tahun 2015 ini Kereta Api Indonesia memperingati hari ulang tahunnya ke-70 . Kebetulan kerabat saya menikah dan merayakannya di Kebumen Jawa Tengah. Horaaay, longtime saya tidak menggunakan moda transportasi kereta api non-commuter line! Terakhir kali saya menggunakan moda trasportasi kereta api Argo Parahyangan bulan May 2014 saat berangkat menghadiri pernikahan Echa di Bumi Sangkuriang Bandung. Pulangnya sih naik shuttle travel.
Berkaitan dengan hari ulang tahun PT KAI ke-70 saya menaiki kereta api  pada tanggal 26 September 2015 (Stasiun Senen – Stasiun Kutoarjo) dan tanggal 1 Oktober 2015 (Stasiun Tawang – Stasiun Jatinegara) dan 4 Oktober 2015 (Stasiun Manggarai – Pondok Ranji PP). Berarti dalam masa seminggu sebelum dan sesudah tanggal 28 September. Menyusuri 4 Propinsi (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah plus Banten), bahkan di tanggal 28-29 September saya menginap di DI Jogjakarta dengan menggunakan mobil pribadi milik kakak, Toyota Altis dengan rute Kebumen Jateng – DI Jogjakarta serta dilanjutkan keesokan harinya rute DI Jogjakarta – Semarang saya tempuh dengan menggunakan shuttle travel Joglo Semar. Jadi dalam kurun waktu 10 hari saya menyusuri 5 propinsi di Pulau Jawa.

Dalam seumur hidup saya naik kereta api ekonomi dapat dihitung dengan jari! Lebih sering saya terbang Jakarta – Singapore – Jakarta dibandingkan menggunakan moda trasportasi kereta api ekonomi jarak jauh. Wait saya akan mengingat kembali berapa kali-nya. Seingat saya dalam masa kuliah saya tidak pernah naik kereta api ekonomi jarak jauh. Yang saya ingat :

  • Bersama teman untuk liburan rute Jakarta – Semarang. Balik ke Jakarta-nya naik travel yang full AC gara-gara saya tidak tahan berkereta non-AC dengan menembus propinsi.
  • Kemudian Kebumen – Jakarta sendirian saat SMA karena saya harus secepatnya masuk sekolah. Ini juga pertamanya saya berkendaraan jarak jauh seorang diri. Itu-pun saudara saya langsung membelikan 3 seat agar saya bisa tiduran dan tempat tidak diisi oleh penumpang lain. Dahulu bisa membeli tiket tanpa tempat duduk.
  • Rute Jakarta – Purwokerto bersama kakak saya yang ketika itu kuliah di Universitas Jendral Soedirman. Saya masih duduk di kelas 1 SMP dan menggantikan kakak saya mengajar menari penduduk desa Karangpucung, tempat kakak saya KKN. Kembali ke Jakarta saya berdua naik kereta dengan pacar kakak saya...ketika itu mereka LDR. Pacar kakak saya sih sok baek njemput saya di Purwokerto, padahal ada maksud ketemuan kakak saya tuh...hahaha...Kini mereka baru memiliki cucu pertama.
  • Terakhir yang saya ingat, ketika saya masih SD. Rute Surabaya – Kebumen (Atau Kutoarjo yach?). Saya berdua kakak yang sedang kuliah di Universitas Airlangga.

Wohooo, hanya sebatas itu pengalaman saya menggunakan jasa transportasi ekonomi jarak jauh non-AC. Bagaimana dengan pengalaman kali ini, dimana kereta ekonomi jarak jauh semua telah full AC??? Begini pengalaman saya :

Stasiun Senen Jakarta Pusat  >>> Kutoarjo Purworejo (Sabtu, 26 September 2015)

Kereta berhenti sejenak di Purwokerto Jawa Tengah. Sempat memesan Nasi Goreng seharga @ Rp 20.000,-
Kereta KUTOJAYA UTARA akan berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 05.30 pagi. Beruntungnya saya karena saya tinggal hanya sekitar 5 km dari stasiun ini. Sedangkan kakak dan kerabat tinggal hanya sekitar 1 km dari stasiun Senen. Usai shalat Shubuh saya memesan ojeg melalui aplikasi GrabTaxi. Alhamdulillah di pagi hening itu dengan lancar ada driver yang merespon dari kawasan Kelapa Gading. Tepat waktu saya tiba di stasiun Pasar Senen, dan langsung menuju gerbong 6. Seat yang saya dapatkan 19E. Sesuai dengan apa yang saya harapkan, pas di dekat jendela.
Saya, kakak nomer 5 dan anaknya, Ika – kerabat saya dan balita-nya menduduki 4 seat yang saling berhadapan. Perjalanan pagi hari terasa cepat. Kami transit di Cirebon, Purwokerto dan beberapa stasiun kecil lainnya. Pemandangan sawah di Jawa Barat tampak kering dan meranggas kurang air. Begitu memasuki wilayah Jawa Tengah mulai terlihat sawah-sawah menghijau. Oh Indonesia-ku, dahulu kulihat ijo royo-royo dari balik jendela di setiap perjalanan keluar kota di pulau Jawa - Bali. Dimanakah sekarang pemandangan subur makmur itu?

Kondisi kereta : Cukup bersih. Penumpang juga terlihat cukup tertib, tidak ada yang berisik walaupun beberapa anak kecil terlihat. Yang pasti tidak ada yang merokok. AC-nya juga terasa dingin dari tempat duduk kami, menggunakan AC split namun karena kami duduk tepat dibawahnya sehingga dinginnya pas dan tidak membuat kepanasan. Namun saya belum “berani” menengok toilet-nya. Menurut Ibu Ika yang buang air kecil sih toilet pesing dan air-pun hanya mengalir sedikit kemudian habis ketika Ika ingin mencuci tangannya. Oh ya, ini kereta bersubsidi dengan harga tiket Rp 80,000 ,- Jakarta – Purworejo tentunya lebih mahal ongkos taksi Senen – Bintaro...hehehe...

Di stasiun Kutoarjo banyak resto terlihat relatif bersih dengan menu dipajang nampak mengundang dan harganya itu loh...muraaah meriah! Semua menu harganya di bawah Rp 20.000,- dengan tempat yang menurut saya lumayan bersih.

Sesampainya di Kutoarjo Jawa Tengah, kami dijemput oleh kerabat dengan mobilnya, Suzuki Panther. Perjalanan Stasiun Kutoarjo - Mirit Kebumen sempat membuat saya agak meringis. Jalannya ngebut euy! Hadeuuuh, nih keponakan sepupu sepertinya mending jadi pembalap aja deh...hahaha

Stasiun Tawang Semarang - Stasiun Jatinegara Jakarta Timur (Kamis, 1 Oktober 2015)

Cabin Argo Sindoro yang kami naiki relatif lebih nyaman dibandingkan penerbangan LCC

Kereta ARGO SINDORO keberangkatan dari Stasiun Tawang Semarang pukul 06.00 pagi. Ontime keren! Pukul 05.58 pluit panjang berbunyi dilanjutkan suara bel khas kereta yang akan jalan. Tepat waktu menunjukkan 06.00 roda kereta beranjak dari rel stasiun kereta bersejarah di Indonesia ini. Satu jam kemudian kereta tiba di Pekalongan. Kereta berhenti di Stasiun Pekalongan, Tegal dan Cirebon. Stasiun di Cirebon berbeda dengan stasiun Cirebon yang saya berhenti ketika berangkat dengan Kutojaya.
Dengan harga tiket @ Rp 310.000 ,- saya merasa lebih nyaman dan cepat dibandingkan jika kami (Saya dan kakak sulung) menggunakan transportasi udara LCC yang landing di Soekarno Hatta Airport.
Kami tiba di Stasiun Jatinegara sebelum waktu menunjukkan pukul 12 siang. Tujuan akhir kereta Argo Sindoro adalah Stasiun Gambir Jakarta Pusat, namun karena tempat tinggal kakak saya lebih dekat dengan Stasiun Jatinegara maka kami turun dan dijemput oleh suami kakak sulung saya. Sampai gak inget, waktu itu dijemputnya pakai mobil apa ya??? Yang pasti salah satu mobil dari 5-6 yang ada di rumah kakak saya :D
Sekedar kritik untuk stasiun Jatinegara nih...untuk pintu keluar kereta eksekutif tolong dipisahkan dengan Commuter Line dong, dan pintu keluarnya juga yang mempermudah penjemput. Mosoq begitu keluar dari kereta langsung trotoar pejalan kaki. Repot banget menuju parkiran!! Atau saya yang belum ngerti pintu keluar khusus penumpang eksekutif atau pintu keluar menuju parkiran yach?!

Thursday, 1 October 2015

Suatu Pagi di Pantai Lembupurwo Kebumen

Nama Lembupurwo bukanlah nama yang asing bagi saya. Bukan sekedar assisten rumah tangga saya berasal dari daerah ini. Lembupurwo merupakan desa/kelurahan, terletak di kabupaten Kebumen dan kecamatan Mirit.
Ketika saya masih kecil - di Syawalan (Seminggu setelah Idul Fitri) - Ayah seringkali mengajak keluarga besar kami berwisata menikmati pagi di daerah ini. Berperahu di Rowo dan bermain di pantai Lembupurwo Kebumen. Ketika itu yang berkesan bagi saya justru berperahu-nya :) Karena ada keindahan pantai yang lebih berkesan di masa kecil saya, yakni pantai Selatan yang terletak tidak jauh dari Lembupurwo, yakni di kelurahan Tlogo Depok. Suatu saat saya akan menceritakan mengenai pantai penuh kenangan tersebut.


Ahad pagi tertanggal 27 September 2015 saya kembali ke pantai ini. Berangkat dari rumah sepupu saya di kelurahan Mangunranan (masih) kecamatan Mirit. Kami pergi bertujuh (Saya, Mbak Nana, Owien, Mbak Ninuk dan anaknya, Mbak Yuli dan anaknya yang mengendarai mobil). Kemudian dari kelurahan Tlogo Depok (masih) kecamatan Mirit turut serta Ika dan anaknya, Puri dan Arki yang baru tiba dari Jogjakarta.

Memasuki pagar perbatasan yang nampaknya dibangun oleh militer yang (menurut informasi) berlatih perang di pantai tersebut kami memarkir mobil. Kemudian saya dan beberapa kerabat memilih meninggalkan sepatu di mobil dan ke pantai dengan menyeker!

Jajan Undur Undur (Jalannya Mundur)
Hanya beberapa meter dari parkiran kendaraan dapat terlihat hamparan laguna. Disana banyak pengunjung dari berbagai usia berenang. Di sebelah kanan nampak beberapa perahu seperti di tempat wisata air lainnya. Sayang, ketika saya berkunjung ke sana tidak sedang beroperasi sehingga ketika Shiva, anak Ibu Ika yang berusia 2,5 tahun merengek minta naik "bebek2an" kami hanya menemaninya untuk duduk di "bebek2an" yang tidak beroperasi....hehehe...buat foto-foto aja deh!
Sebelum kami berjalan menuju laguna dan pantainya kami jajan terlebih dahulu di warung yang berderet disana. Warung tersebut menjual juga "Undur2 Goreng" yang begitu saya cicipi...wah renyah, mirip kepiting soka di resto besar di Jakarta - bahkan lebih berdaging. Kakak sepupu saya sampai memesan 50 keping gorengan undur2 yang akan diambil ketika kami kembali dari pantai.


Setelah melewati laguna dan pepohonan kami menuju pinggir pantai. Di sana juga berjejer warung-warung. Kami memesan kopi (susu) serta menikmati jajanan yang tadi kami beli. Duduk-duduk di warung sambil memperhatikan keria-an orang-orang yang bermain ombak. Seringkali sepupu saya menyapa orang-orang yang datang, katanya mereka itu tetangga dan saudara-saudara saya.

Suasana dan Kegiatan di Pantai
Suasana pantai Lembupurwo memang saat ini sudah begitu ramai, khususnya di hari libur. Pantai menjadi salah satu hiburan dan tempat liburan utama bagi warga di sekitar. Ombaknya bagus, tetapi sayangnya kebersihan pantai dan sekitarnya kini kurang terjaga. Memang belum ada petugas khusus yang bertugas membersihkan pantai. Sayangnya lagi kini pesisir pantai Kebumen menjadi tempat latihan perang militer!! Oh noooo....bapak-bapak, please dong, latihannya jangan disini. Biarkan anak-anak dan penduduk di sini bermain di pantai dengan damai dan gembira seperti saya ketika kecil - bermain di desa sekaligus pantai yang sulit saya temukan situasi dan kondisinya di kota besar. Bersih dan bebas polusi beberapa tahun lalu kami berperahu bersama keluarga besar yang kini menyebar di penjuru dunia.
Kementrian Kehutanan dengan Kelompok Tani Cemara sebagai pengelola mengadakan kegiatan pembuatan kebon bibit rakyat. Nah yang ini baru oke! Kawasan hutan-nya juga keren dijadikan lokasi foto pre-wedding seperti yang keponakan saya lakukan beberapa minggu lalu.
Pada periode Maret - Oktober kegiatan penyu bertelur juga berlangsung di pantai ini.



Yuuuk ach, jaga kebersihan dan kelestarian pantai kita....
Pantai Lembupurwo
Kelurahan : Lembupurwo - Kecamatan : Mirit
Kebumen - Jawa Tengah

Monday, 24 August 2015

Menikmati Keindahan Gili Trawangan dan Menanti Duyung di Pulau Buton

Salah satu tempat favorit saya untuk berwisata adalah Pulau Lombok, terutama Gili Trawangan. Saya pernah menceritakannya di blog ini. Diantaranya adalah Taman Narmada dan Gili Trawangan. Bahkan saya pernah menuliskan cerpen bersetting Pulau Lombok yang kemudian diterbitkan bersama dengan beberapa penulis terkenal Indonesia, seperti Pipiet Senja, Gola Gong, dll. Cerpen dengan judul : Pudar Kabut Gunung Rinjani.


Pada kunjungan pertama ke Pulau Lombok saya menggunakan transportasi laut dari pulau Bali, kapal ekspres bertarif dollar. Pada kunjungan berikutnya kembali saya berangkat dari Bali dengan pesawat Merpati Nusantara Airlines. Karena Lombok NTB saat ini menjadi salah satu destinasi tujuan wisata international, sudah dapat dipastikan banyak maskapai penerbangan yang mendarat di Lombok International Airport, pelabuhan udara yang masih gress ini terdapat maskapai penerbangan (Dari Jakarta) : Garuda , Batik dan Lion.

Flight saya dari Bali ke Lombok

Flight saya dari Jakarta - Surabaya, kemudian lanjut dengan perjalanan darat Surabaya - Banyuwangi - Bali

Kini saya memiliki destinasi wisata yang ingin saya kunjungi untuk berwisata berikutnya.Nah destinasi yang ingin saya kunjungi berikutnya adalah : Pulau Buton Sulawesi Tenggara. Kenapa saya ingin sekali mengunjungi Pulau Buton. Baca deh penuturan saya ini :D

Sumber foto Google

Tinggal di kota sudah dapat dipastikan akan menjumpai jalanan beraspal hitam. Kemanapun kita pergi di kota Jakarta maka aspal tidak dapat lepas dari kehidupan kita. Tetapi di tengah kesibukan aktifitas  kita di kota besar masih ingatkah kita akan pelajaran SD dahulu? Pelajaran IPS atau Geografi berulangkali menjelaskan bahwa daerah penghasil aspal terbesar di Indonesia adalah Pulau Buton. Bahkan Pulau Buton adalah penghasil aspal terbesar di dunia (600 juta ton!) Wohooo…keren yak!?

Ada apalagi di Pulau Buton selain tambang aspal? Check yuk list yang membuat saya ingin ke sana!

[Wisata Sejarah & Budaya} Benteng Keraton Buton. Dibangun pada zaman penjajahan Portugis yang di tahun 2006 tercantum dalam Guiness Book of Record sebagai Benteng Terbesar di Dunia. Luas area benteng  adalah 23,375 hektar dengan panjang 2,7 kilometer yang menurut kabar terlintas bahwa ini yang nomor 2 tembok terpanjang di dunia setelah Tembok Raksasa di China. Benteng ini terbuat dari tumpukan karang yang direkatkan dengan putih telur dan batuan kapur. Dari sini kita dapat melihat kecantikan pemandangan Pulau Buton dari ketinggian dan menuju Masjid Agung Wolio yang berusia 300 tahun

[Wisata Budaya & Laut/Pantai] Desa Wabula di pesisir laut dengan penduduk 3000 jiwa dan jumlah rumah yang berdiri 400 – 500 rumah. Bentuknya adalah Rumah panggung , di bawah rumah tersebut jika siang hari digunakan untuk menenun kain oleh perempuan-perempuan penduduk tersebut. Kain tersebut dapat kita beli, dengan harga dari Rp 150 ribu/kain. Desa Wabula ini berada di pesisir pantai putih. Pernah berlangsung Pesta Adat Wabula dengan pertunjukan yang unik bernama : Pedole – Dole yakni memandikan 100 Balita dalam upacara tersebut. Wadooow seru banget tuh! Yang pasti di desa ini kita yang suka wisata pantai dan budaya (anthropologi) nggak bakalan “rebut” pengen cepet-cepet pulang. Kalau mau ke Pusat Kebudayaan Wolio dan Masjid Quba.

• [Wisata Laut] Pantai Nirwana yang banyak berpendapat seperti di nirwana. Pantai berpasir putih sepanjang 1 kilometer, terdapat gua karang dengan kedalaman 70 – 80 meter. Bagi yang suka diving, disinilah salah 1 tempat yang dapat digunakan untuk diving.

[Wisata Gunung/Hutan] Air Terjun Tirta Rimba . Terletak 6 kilometer sebelah Barat Bau Bau tepatnya di Kelurahan Lakologou Kecamatan Wolio. Air terjun ini berada dalam kawasan hutan lindung.

[Wisata Pantai/Kuliner] Pantai Lakeba. 7 kilometer dari Bau Bau.Di daerah ini kita dapat membeli kue tradional Pulau Buton, yakni : Kasumi dan Tuli Tuli

[Wisata Gunung/Hutan] Samparong. 13 kilometer dari Bau Bau Kecamatan Sorawolio. Sebelum sampai di air terjun yang memiliki ketinggian 100 meter dengan pemandangan sekitarnya yang menakjubkan maka kita akan menelusuri sawah dan kebun penduduk serta hutan tropis yang cukup lebat.

[Kuliner] Seafood adalah salah 1 kuliner yang asyik di pulau ini, bahkan di Jakarta saja jika teman saya yang berasal dari Bau Bau Pulau Buton datang maka saya akan menyambut Ikan Terbang dan beberapa jenis ikan lainnya dari pulau ini…hahaha…Selain itu kita dapat berkunjung ke CafĂ© Outdoor, tempat hangout paling gaul di Bau Bau. Namanya Talalikua di Pasar Wajo. Kalau di Talalikua jangan terlewatkan “Saraba” alias Susu Jahe Khas Buton beserta gorengan yang bumbu-nya berbeda dengan daerah lain. Dapat juga nongkrong di Pujaserata di alun-alun Betoambari.

  [Lain-Lain] Mau wisata ke Goa? Kita dapat ke Lakasa, Ntiti atau diving di Gua Moko (Gua Bawah yang memiliki keramik berumur ratusan tahun). Air  kemudian juga mandi di Pemandian Alam Bungi.

[Menanti Duyung] Tahun 1776 Peneliti Kelautan Muller menyatakan bahwa laut di kawasan Indonesia Timur merupakan kawasan laut yang paling banyak dilalui oleh Ikan Duyung. Paling banyak dilalui oleh Ikan Duyung ini adalah laut di Desa Lasalimu Pulau Buton, terbanyak bulan Februari dan Juli. Bukan suatu hal yang mustahil jika icon Indonesia bertambah dengan Ikan Duyung ini selain Komodo, Badak Jawa dan beberapa satwa lainnya. Super duper kaya raya sekali ya Indonesia?
TRANSPORTASI : Dari Jakarta  naik pesawat terbang Makassar atau ke Kendari. Dari Makassar atau Kendari kita dapat terbang ke Pulau Buton dengan penerbangan transit. Bisa juga dengan kapal ferry, tetapi memerlukan waktu 13 jam dari Makassar dan 5 jam dari Kendari. Maskapai Jakarta – Kendari adalah : Lion Air, Sriwijaya, Wings Air dan Garuda. Saya berencana memilih tiket penerbangan Garuda agar direct, tanpa transit. Sssst, ada #TiketGratisAirpaz loh :) Untuk lebih jelas mengenai tiket pesawat ke Kendari, bisa di-check dan booking di airpaz.com/id

http://blog.airpaz.com/id/lomba-menulis-airpaz-tulis-keinginanmu-menangkan-10-tiket-pesawat-gratis-keliling-nusantara/

Tuesday, 16 June 2015

Mendadak Anyer Banten

Ceritanya saat liburan , Kamis – 14 May 2015, 9 anggota keluarga besar saya berkumpul. Makan siang, belanja cantik dan ngerumpi di Loka Cibubur. Kami menggunakan 2 mobil (New Xenia-nya Seno dan Mazda 2-nya Mbak Wien yang kedua-nya baru dibeli beberapa hari yang lalu). Setelah meninggalkan Loka Cibubur saya yang berada di Mazda 2 di telpon oleh Sekar di Xenia. Dia menawarkan apakah saya ingin ikut ke Anyer Banten. Hadeuuuh, kenapa nggak bilang dari tadi supaya saya ikut mobil Xenia? Karena sudah berada di tol Cijago, maka saya turun di ujung jalan toll dan menanti mobil Xenia muncul. Hehehe, sempet diklaksonin mobil dibelakangnya tuh. Duh, maap.

Seno and his family beserta saya kembali memasuki jalan toll dan kami menuju toll Tangerang. Rencana mau ngejar sunset, sekalian ngabisin kilometer mobil baru gitu. Sempat berhenti di rest area, saya dan Seno’s Mom melaksanakan shalat di masjid. Sedangkan Seno dan Sekar membeli beberapa minuman di Starbucks. Perjalanan di lanjutkan. Kami mengambil jalan yang berbeda ketika saya terakhir kali menuju Carita yang ceritanya DISINI.

Pukul 5 sore kami tiba di Anyer Area. Ramai...walaupun nggak sampai macet. Mobil kami memasuki “Pantai Pasir Putih SIRIH Tanpa Karang Anyer”. Membayar tiket masuk sebesar Rp 50,000/mobil. Untuk parkir di pantai ini dikenakan tiket masuk, yaitu : Rp 15,000/orang bagi pejalan kaki, Rp 20,000/motor (Berarti kalau kamu jalan kaki ke pantai ini, mendingan masuknya numpang motor orang supaya lebih hemat :D), mobil kecil/minibus Rp 50,000 hingga bis besar Rp 600,000.


Untuk fasilitas rekreasi dikenakan biaya :
Lesehan Besar Rp 350,000 – Lesehan Kecil Rp 50,000 (Harga antara yang besar dan kecil tidak “proposional” yach?) – Banana Boat Rp 150,000/4 putaran - Parasailing Rp 200,000 – Donat Boat Rp 150,000/4 putaran – Perahu wisata Rp 10,000/orang – Motor ATV Rp 50,000 /15 menit – Jetsky Rp 150,000/15 menit – Selancar Rp 20,000/buah (Hah? Maksudnya buah apa sih?!)

Biaya Wisata Per-Paket Menuju Ke : Pulau Sangiang Rp 2,500,000 – Pulau Krakatau Rp 3,500,000 – Pulau Panaitan Rp 5,000,000 dan keliling tepi pantai Rp 150,000. Sungguh saya nggak mengerti apa yang dimaksud dengan “paket” di selebaran ini, dan rasanya kalau tidak dijelaskan bikin orang melongo gitu. Lah secara nominal kenapa sangat jauh lebih sedikit apabila kita plesiran di Singapore atau Vietnam yak?
Sedangkan roomrate losmen-nya berkisar dari harga Rp 150,000 (TV, Kipas angin) sampai Rp 1,200,000. Jiaah, namanya losmen kenapa sampai ada tariff Rp 1 juta? Hihihi, biar jelasnya silakan hubungi “sales” yang namanya tercantum di selebaran foto copy-an yang saya terima ketika membayar tiket masuk deh.
Di Pantai Pasir Putih Sirih ini kami hanya memarkir mobil sekitar 10 menit, saya hanya berfoto sejenak. Sedang ramai dan kami merasa kurang nyaman di sini. Dengan tagline “Keselamatan, Kenyamanan dan Ketertiban” kami sempat cekikikan melihat ada pengunjung parasailing dengan parasut yang bolong/sobek, kemudian saya hanya bisa nyengir bebek begitu melihat jetsky meluncur diantara pengunjung yang berenang. Meleng dikit yang renang bakalan kepentok jetsky dah!

Makan Malam di Club Bali Resort

Sementara hanya foto ini yang bisa saya pajang :D

Akhirnya kami menikmati sunset dari resto yang berada di Hawaii Club Bali Resort. Sekalian makan malam gaya barbeque. Gak usah cerita yak, soalnya foto-fotonya di tab yang lagi ngadat :D Doa'in aja supaya saya bisa memperoleh tablet dan camera yang oke supaya motret-motretnya asyik saat traveling. Sekalipun traveling dadakan :)