Friday, June 23, 2017

Day Tour to Cirebon Bersama ILDI dan Big Bird

Cirebon bukanlah kota asing bagi saya. Saat kecil, orangtua sering mengajak plesiran di kota ini. Rata-rata dalam setahun bisa 2 - 3x saya berkunjung ke Cirebon sebagai kota yang kami lalui jika orang tua ingin menjenguk kakek nenek kami di Jawa Tengah. Jika telah tiba di Cirebon maka kami akan bersorak gembira karena merupakan tanda bahwa kami telah menempuh setengah perjalanan dari Jakarta. Tugu perbatasan Jawa Barat - Jawa Tengah merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Ketika kecil saya seringkali difoto dan di-shot video oleh camera Ayah. Oleh karenanya tidak heran jika orang tua sekarang sering melakukan hal yang dilakukan Ayah lebih dari 25 tahun lalu. Jika telah sampai Cirebon pula, Ayah seringkali mampir bersilaturahmi dengan kerabatnya yang tinggal di kota udang ini. Sekejap, hanya bersalaman, menanyakan kabar dan saya dipersilakan untuk numpang buang air kecil di toilet-nya...hahaha...
Tahun 1997 saya dan keluarga kakak juga "terpaksa" bermalam di Cirebon selama 2 malam karena mobil mengalami kerusakan, sedangkan bengkel resmi brand mobil tersebut tidak beroperasi di hari Minggu, sehingga kami harus menginap di salah 1 hotel di Cirebon. Selama menunggu mobil di service saya dan keponakan berwisata keliling Cirebon dengan menyewa becak. Sungguh bahagia!
Tahun 2007 kunjungan ke Cirebon untuk kesekian kalinya. Mengantar sepupu lamaran ke keluarga calon istrinya,beberapa waktu kemudian kunjungan berikutnya saya hadir ke resepsi pernikahannya yang berlangsung di Hotel Patra Jasa Cirebon. Saya dan beberapa kakak dengan mobil pribadi berangkat pagi dari Jakarta, kembali ke Jakarta setelah resepsi siang hari.
Tahun 2017 kunjungan ke Cirebon tanpa bermalam kembali saya lakukan. Kali ini tidak bersama keluarga, namun bersama members Indonesia Lifestyle Digital Influencers serta difasilitasi oleh Big Bird.


Kami berkumpul pukul 6 pagi di Blue Bird Headquarter yang terletak di Mampang Jakarta Selatan. Rombongan terbagi dalam 2 Big Bird yang masing-masing berkapasitas 25 orang. Awal 2017 saya mengetahui informasi program Big Bird Jalan Jalan ke berbagai daerah di Indonesia. Saya mengetahui program tersebut dari media social, kota Bandung dan Cirebon adalah 2 kota yang masuk dalam program ini. Ketika menaiki Big Bird saya menemukan lembaran kertas putih, notebook hitam dan pulpen di setiap seat yang akan kami duduki. Ternyata kertas berukuran HVS A4 tersebut memaparkan program Big Bird Jalan Jalan tujuan Jogjakarta.


Makan Siang : Nasi Jamblang Ibu Nur
Perjalanan  memakan waktu hingga 5 jam karena tersendat di toll Cikarang - Krawang. Memasuki kota Cirebon waktu telah mendekati jam makan siang, Big Bird mengantar kami ke Nasi Jamblang Ibu Nur.
Ya ampuuun, penuh dan masih banyak pula tamu antri berbaris mengambil makanan. Metode-nya memang semi self service ala Indonesia. Kami berbaris sambil mengambil makanan yang diinginkan dan diujung antrian seorang kasir mencatat makanan yang kami ambil. Kami hanya menyebutkan "Rombongan Mbak Widya Blue Bird" , tanpa mengetahui harga yang harus dibayarkan.
Ciri khas Nasi Jamblang Cirebon adalah disajikan dengan berlapiskan daun Jati, secelumit nasi pulen serta berbagai lauk pauk khas daerah. Untuk lauk pauk saya memilih Tauco Hitam, Sate Telor Puyuh, Pepes Tahu, Telor Dadar , Sambal Merah dan Pepes Rajungan. Ada lauk unik berwarna hitam, yakni Cumi Balakutak yang hitam pekatnya berasal dari tinta cumi . Saya tidak memilihnya, irisan cumi-nya terlalu besar , dan saya memfavoritkan Pepes Tahu serta Pepes Rajungan. Pepes Tahu yang lembut menyentuh langit-langit mulut, dan Pepes Rajungan yang empuk serta sulit ditemukan di warung makan di Jakarta.  Semua rasa terasa pas, tidak ke asinan dan tidak terlalu gurih. Tahu Sayur konon menjadi ciri nasi Jamblang, tapi saya sudah "kepentok" dengan lauk yang sudah termakan.
Sayangnya udara yang panas tidak dapat "dipadamkan" oleh AC di warung makanan ini. Saya bergegas kembali ke Big Bird setelah makanan habis. Selain karena masih banyak tamu yang menunggu kursi dan meja kami, saya ingin cepat-cepat menyejukkan diri. Masjid Sang Cipta Rasa dan Keraton Kasepuhan.


Kunjungan berikutnya adalah Keraton Kasepuhan. Saya dan beberapa rekan melaksanakan shalat Dzuhur di Masjid Sang Cipta Rasa yang terletak di depan sisi kiri kompleks Kraton Kasepuhan. Hhhmmm, jujur aja nih...sebenarnya masjid dan sekitarnya dapat lebih terawat dan dibuat nyaman untuk beribadah.
Masuk ke gerbang Kraton Kasepuhan pengunjung dewasa dikenakan tiket masuk seharga @ Rp 20.000. Kami ditemani oleh tour guide yang ramah, dan asyik menjelaskan sejarah dan kondisi keraton. Pria tersebut mengenakan beskap...eh apa yach namanya kalau di Cirebon? Kalau di Jawa Tengah dan Jawa Timur sepengetahuan saya disebutnya ya beskap.


Banyaknya pengemis di sekitar kraton sungguh sangat mengganggu. Entahlah,,,bahkan beberapa pria yang mengenakan kaos sama (seperti seragam) tidak jengah menadahkan tangan dan bibirnya terucap harapan agar kami memberikan uang untuknya. Ah,ternyata di Cirebon masih banyak pengemis dari berbagai kalangan usia. Ketika saya berkunjung di Makam Sunan Gunung Jati belasan tahun lalu, tak segan anak berusia sekitar 10 tahun membuntuti kami agar diberi uang. Hingga saya bertanya,"Ibu dan Bapak kamu kemana? Kalau minta uang untuk makan, minta saja makan ke Ibu kamu." Mereka menatap saya, tapi tatapannya justru tidak menimbulkan iba. Sungguh justru saya memiliki empati dan ingin mendidik mereka. Janganlah berjiwa peminta yang memohon belas kasihan. Bekerjalah karena bekerja adalah ibadah, dan agar orang tua mereka menjalankan amanah yang dititipkan Allah kepadanya. Belum mampu? Loh bukankah "menikahlah maka kamu akan menjadi kaya"? Buktikan itu...!

Makan Sore di Empal Gentong H.Apud Lalu Belanja


Sore menjelang, kami menuju Rumah Makan Empal Asem Empal Gentong H.Apud. Ini bukan pertama kali saya makan Empal Gentong khas Cirebon. Tetapi seingat saya, ini pertama kalinya saya makan Empal Gentong langsung ke tempat penjualnya. Saya tidak pernah membeli makanan ini, tetapi saya makan Empal Gentong saat ada acara khusus, termasuk saat resepsi pernikahan sepupu di Hotel Patrajasa Cirebon. Ternyata Empal Gentong H.Apud memiliki cabang juga di Jakarta....hooo


Ba'da Maghrib kami menuju Toko Oleh Oleh. Saya membeli beberapa kudapan, salah satunya adalah Tape Ketan. Saya baru ngeh melihat tape ketan tersebut. Waktu saya pamit ingin ke Cirebon dan menawarkan Ibu ingin dibelikan apa, Ibu saya menjawab,"Tape." Yang segera saya sahutin,"Tape mah klau ke Puncak atau Bandung. Peyeum mah adanya disitu..." Oooh, ternyata di Cirebon juga ada tape, tape ketan di ember. Inget deh waktu saya di Kuningan dan membeli tape di ember...hehe...yg ini nih,..... Oleh Oleh : Semarang, Pekalongan, Brebes, Kuningan, Sumedang [2007]



Pada akhir perjalanan kami mampir di Batik Trusmi. Di toko tersebut saya hanya membeli celana model balibol. Untunglah gak terlalu lama disini karena ternyata banyak barang yang saya taksir...hehe...selamat deh limit kartu kredit...hihihi...
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih banyak untuk Blue Bird yang telah menjadi fasilitator jalan-jalan, makan-makan dan belanja ke Cirebon. Selanjutnya saya akan ikut jalan-jalan yang diselenggarakan oleh Blue Bird lagi deh...Tenang, argonya nggak gerak kok. Tarifnya flat untuk jalan-jalan ke luar Jakarta menggunakan Big Bird.

No comments:

Post a Comment