Friday, 12 December 2014

Taman Narmada : Sepercik Surga di Lombok

Pagi itu (December 2012) saya dan keluarga kakak saya berangkat dari hotel yang terletak di tengah kota Mataram untuk berwisata di Lombok dan sekitarnya. Tujuan obyek wisata kami adalah Taman Narmada. Menarik, karena di sini terbukti bahwa kita dapat menikmati keindahan Pulau Bali di Pulau Lombok. Informasi yang kami dapatkan dari sopir yang kendaraannya kami sewa seharian adalah Taman Narmada adalah pura Hindu. Hanya pura-kah yang terdapat disana??? Mobil langsung menuju ke lokasi.....nguuuung....*eh emangnya bajaj ;-p

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEDevm56saoDh39uufIUHDOf5lkSFlG-6tPvOgnAyOZ6ZBKD8MYLBWyqRDY2n-XGo8vIc03wEQ7J7iObAmrMIL5tgO_7-Vmy92-DkyqjH31dcHVXG77_NBFGZcOMVSmQd6AdqL_P1iCFES/s1600/WisataNarmada.jpg
Taman Narmada terletak di Desa Lembuah, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Nggak terlalu jauh dari pusat kota Mataram, sekitar 10 km. Begitu menurunkan kami di pintu gerbang area taman, mobil terparkir dan kakak saya membeli tiket masuk. Kami juga menerima tawaran salah satu tour guide yang menyambut kami di pintu gapura. Iyaaa dong, sebaiknya khan kita menerima tawaran baik-nya. Selain kita mendapatkan informasi lebih pasti, maka kita dapat berbagi dengan penduduk asli yang baik hati  :)
Memasuki area taman seluas 2 ha, disisi kiri gapura berdiri satu bangunan yang dahulunya digunakan oleh raja untuk beristirahat di musim kemarau. Boleh dikatakan area ini merupakan istana bagi Raja Karang Asem ketika bertahta di Lombok Barat. Beliau, Anak Agung Ngurah Karang Asem membangun area Narmada untuk memudahkan penyelenggaraan upacara Pakelem di Segara Anak yang dipimpinnya. Dikarenakan faktor "U" kondisi fisik beliau menurun hingga akhirnya beliau membuat replika Gunung Rinjani di area ini, dan mengadakan upacara-nya di sini.
Beberapa bangunan atau bagian yang berada di sekitar Taman Narmada, diantaranya : Bale Terang, Bale Loji, Bale Bancingah, Bale Pamerajan, Telaga Padmawangi, Telaga Kembar dan Pura Narmada yang merupakan 1 dari 8 pura tertua di Lombok. Taman ini pernah beberapa kali direnovasi, tetapi semuanya tetap dipertahankan keasliaannya.
           
Bale Petirtan, Sumber Air Awet Muda
“Penyakit” yang banyak diidap oleh banyak orang, khususnya wanita adalah awet muda. Banyak yang berlomba-lomba ingin kelihatan lebih muda dari usia aslinya...hehe,padahal sesungguhnya khan kecantikan yang baik/ideal adalah sesuai dengan usia dan pastinya normal atau sewajarnya. Oleh karenanya bagi yang terobsesi untuk memiliki “penyakit” awet muda, dapat berkunjung ke Bale Petirtan yang berada di Taman Narmada ini. Bale Petirtan terdapat pertemuan 3 sumber mata air, yakni sumber air Suranadi, Lingsar dan Narmada. Umat Hindu memiliki keyakinan bahwa sumber air ini merupakan air suci.
Bagi saya yang tidak memiliki obsesi awet muda, maka saya tidak “mengejar” air ini untuk membuat wajah saya awet muda. Tetapi saya memiliki keinginan untuk selalu awet sehat di segala usia. Zaman sekarang sih anak usia 10 tahun saja banyak yang memiliki penyakit berat, jadi sangat lebih baik untuk awet sehat daripada awet muda khan? J Secara logika air tersebut tentu saja memiliki khasiat untuk menyehatkan tubuh dikarenakan bersumber dari daerah yang belum banyak polusi dan banyak didoa-kan oleh umat yang pastinya berdoa kepada Sang Pencipta dengan suci dan maksud baik. Nah pengunjung yang memeluk agama Hindu dapat bersembahyang di Bale Petirtan dengan dikenakan donasi sebesar Rp 50 ribu untuk uang banten. Setelah mengenakan selendang berwarna kuning di pinggang pengunjung memasuki pintu ke ruang kecil dimana sumber air tersebut mengalir. Inilah Bale Petirtan. Saya yang kebetulan berkunjung ke sana dalam kondisi berhalangan bulanan tidak dapat masuk ke Bale Petirtan tersebut tetap mengenakan selendang di luar bale, untuk gaya foto-fotoan...hehehe.
Eh, nggak lama keponakan saya membawakan segelas air suci tersebut kepada saya yang sedang asyik berfoto-foto ria. Orang-orang disekitar menyarankan agar saya membasuh wajah serta meminumnya agar awet muda. Waaaduuuh, nanti semakin banyak yang menyatakan cinta dong??? Malah bikin repot nolaknya...hahaha...bikin dosa. Kalau dibuang juga khan menyakiti hati mereka yang ada disana. Oleh karena-nya setelah saya berdoa agar senantiasa sehat serta berkah sesuai dengan keyakinan saya maka saya-pun meminum air tersebut. Segar! Dan semoga memang menyehatkan jiwa dan raga saya di segala usia. Amin.
Oke, Anda siap berwisata ke taman yang menurut informasi mirip dengan Taman Soekasada Ujung, Karangasem, Bali?? Dengan mengendarai kendaraan pribadi Anda dapat melalui rute dari Mataram ke arah Cakranegara – Sweta – Bertais dan tibalah di Narmada. Taman Narmada terletak di seberang Pasar Narmada. Di sekitar object wisata tersebut kita juga dapat membeli aneka souvenir dengan harga terjangkau. Harga tiket masuk Taman Narmada juga sangat terjangkau, masih dibawah sepuluh ribu untuk perorangnya. Jika ingin menggunakan jasa tourguide dapat ditemui dekat counter tiket masuk. Anggaplah bersedekah kepada masyarakat sekitar dengan membayar tiket,tips tourguide dan membeli souvenir di Taman Narmada. Selain itu di Taman Narmada juga tersedia musholla bagi umat Islam yang ingin melaksanakan shalat. Ketenangan dan kesejukan air di Taman Narmada benar-benar laksana percikan dari nirwana. (Penulis : Anna R.Nawaning S - Twitter : @balqis57)

Saturday, 29 November 2014

Rezeki Wanita Sholeha, Stay at Amaroossa Grande Hotel

Gimana lagi ya daku harus bersyukur? Malam sebelumnya saya browsing hotel dan membaca review di blog tentang Amaroossa Grande Hotel di Bekasi. Jadi kepengen stay di hotel tersebut! Subhanallah, hanya dalam tempo 12 jam, saat lagi di kantor saya mendapat telpon dari Mama Hana menanyakan keberadaan saya. “Lagi kerja dong?” Aku jawab,”Iya, kenapa?”...ternyata oh ternyata Mama Hana menawarkan kamar di hotel yang baru semalam saya masukkan ke dreams box milik saya! Secepat ini impian-ku terwujud!???
Saya-pun cepat-cepat pulang dari kantor,untung banget deh nggak lagi pegang project, jadi ke kantor sekedar laporan beberapa project yang saya melaksanakan di-lapangan. Oh, my GOD, baru kemarin saya ber-spa ria di spa kelas hotel berbintang, sekarang “harus” menginap di hotel berbintang lagi?? Alhamdulillah, barangkali ini rezeki wanita sholeha seperti saya yaaa *huuuuuu....


Kesan mewah terlihat jelas ketika saya memasuki lobby hotel yang ternyata bernaung dalam Kagum Hotel. Jadi-lah saya kagum juga dengan hotel ini...hihihi...lobby dan front office yang juga luas. Btw sebelumnya saya pernah menginap di Grand Serella Hotel Bandung yang ternyata bernaung di grup Kagum. Memang sih, kamar yang kami tempati ketika itu berbeda dengan hotel berbintang kebanyakan.
Saya mencari-cari pesawat telepon di lobby, untuk menelpon ke kamar Mama Hana en family.Petugas resepsionis menunjukkan pesawat telepon yang terletak di meja, seperti meja Guest Relation Officer-nya. Nggak nyambung ke kamar, dan kemudian petugas FO memanggil saya dan mempersilakan saya menggunakan telepon yang ada di desk.

Dinner Time
Saya menuju lantai 9. Untuk menuju lantai atas tidak diperlukan keycard pada lift. Ngerti gitu sih tadi saya langsung naik ke atas aja! Kok nggak pakek keycard ya, padahal sini termasuk hotel baru? Di dalam lift terdapat sofa berwarna ungu yang terkesan elegant. Setelah ngerumpi kecil dengan Hana , her Grandma  and her parents kami menuju resto untuk makan malam. Dari kamar 902 bergabung dengan kami kakak pertama saya dengan suami-nya plus Fajar. Berdelapan kami turun ke Ground Floor.

Dinner and Breakfast at Coffee Shop
Makanan dominan makanan Indonesia. Dinner kali ini saya menikmati nasi putih dengan lauk Semur Daging, Tempe Bumbu Merah, Ikan Dabu Dabu, Mie Goreng serta Soto Ayam. Selanjutnya menikmati Cake, Salad (Jamur Merang Mentah dibubuhi mayones dan permesan...yummmiiih!).
Breakfast dilakukan di tempat yang sama. Makanan masih di dominan masakan Indonesia. “Clean Vegetable Soup”-nya saya suka...smooth di mulut :D

Kondisi Kamar Hotel
Saya mendapat kamar 820, di lantai 8. Letak kamar-nya dipojokan. Lorong kamar agak remang-remang yah, walaupun jejeran lampu bermodel elegant ala victoria ada di setiap jeda kamar. Untungnya sih hotel baru dan bersih, sehingga tidak menyeramkan.
Kamar terasa luas, sekitar 2.5 kali lebih besar dari budget hotel. Twin Bed. Kesan pertama masuk adalah mewah, bersih, luas and berasa jadi princess Inggris gitu kalau saya tidur di kamar ini. Meja kerja bisa sekaligus sebagai meja rias karena terdapat cermin lebar. Di dekatnya terdapat sofa baca atau pijat plus bantal2nya.
Bathroom-nya tanpa bathub, tetapi tetap berkesan mewah karena dinding dan lantai-nya marmer, shower-nya “3 in 1”. Oh ya, dinding di sisi shower tube adalah kaca transparan – tembus pandang ke bedroom. Ada tirai-nya sih, jadi bisa ditutup kalau nggak mau “ditonton” orang yang ada di bedroom...hehehe.Ini nih yang bikin Nenek Hana ngomong,”Harus bener-bener yakin nutup, loh ada menantu lanang-ku di kamar tidur gitu.”


Perabotan Kamar
Remote TV, ATK dan map roomservice terbungkus folder ekslusif berinisial huruf “A”....weeei nama gue en pasangan banget nih!Hihihi...untungnya gak punya bakat klepto, jadi gak ada niat sedikit-pun untuk memasukkan ke tas pribadi.
Begitu membuka lemari besar di samping pintu bathroom, terdapat 2 “kimono handuk”, meja setrikaan lengkap dengan alat setrika-nya. Keren nih! Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu liburan ke Bali dan menginap di hotel berbintang 5. Saat itu saya membawa alat setrika dan langsung diketawain oleh kakak-kakak saya...hehehe, mau ngirit laundry ceritanya, tapi disuruh buru-buru ngumpetin setrikaan supaya gak kena teguran pihak hotel di daerah Nusa Dua. Demikian pula saat saya di Singapore, kejebak di hotel “gak jelas”, tapi seru-nya saudara saya bisa pinjam setrikaan ke resepsionis hotel. Begitu kakak saya menyusul ke Singapore dan ngomel-ngomel karena anak batita-nya menginap di hotel “gak jelas” kakak ipar saya “membela diri”,”Eh, walaupun hotel gak berbintang tapi kita bisa pinjem setrikaan loh...”
Wow, banget khan, sekarang ada hotel berbintang dan pastinya “jelas” menyediakan alat setrikaan – tanpa mengenakan charge tambahan. Selain setrikaan, ternyata ada timbangan badan! *Eh, timbangan koper juga kali yak? Good idea nih, karena kita khan kalau mau terbang sering mengira-ngira bawaan kita overweight atau tidak.
Tombol pengatur AC ada di dinding, berapa derajatnya tertera jelas disana.

Sayangnya saya tidak sempat memanjakan diri di Odyseus Spa. Padahal ada menu “Swedish Spa”-nya loh. Mudah-mudahan suatu saat dapat kesempatan melakukan pemanjaan diri “Swedish Massage” di hotel ini atau di tempat lain :D

Thursday, 13 November 2014

Body Treatment at Family Spa

 
Body care di spa adalah satu kenikmatan hidup di dunia yang sangat saya syukuri. Rasanya jadi cewek paling beruntung di dunia deh saat berada di spa atau treatment oleh therapist yang oke banget. Keberuntungan bertubi saat saya mendapatkan 2 gift certificate dari acara FPS Media Workshop yang diselenggarakan Great Eastern Insurance. Pada saat itu saya mendapatkan-nya sebagai “ Peserta Pertama Kehadiran” dan “Penanya Terbaik” (Yang nanya dapat kesempatan bertanya hanya 4 peserta dan penyelenggara memang menyediakan 4 gift certificate Treatment di ZEN Family Spa & Reflexology).Cihuuuy, saya dapat 2!

Balinese Relaxation Massage
Masa berlaku gift certificate sampai 15 November 2014. Hanya ada waktu 2 minggu! Duh, sempat gak ya? Lokasi-nya agak jauh gitu dari tempat tinggal saya....
Alhamdulillah ,rezeki gak kemanah...tanggal 3 November (Senin) saya mendapat tugas wawancara di Jln.Wolter Monginsidi yang letaknya hanya beberapa meter dari salah satu cabang spa tersebut! Sebelum berangkat saya reservasi. Siiip, seusai wawancara di NGO saya langsung menuju lokasi bermanja diri!
Masuk ke spa tersebut disambut desk penerima tamu. Setelah men-check buku reservasi 2 petugas memproses, tak lama saya datang muncul 2 ibu cantik pelanggan yang datang terpisah. Saya dipersilakan memilih oil-nya, ada 4 oil tersedia dengan aroma : Sandalwood, Lavender, Jasmine, Lemon Grass. Saya memilih Sandalwood...supaya teringat aroma sabun buatan Fiji yang seringkali saya pakai di Auckland dulu.
Kami bertiga menunggu dipanggil di ruang tunggu  mungil dan banyak bahan bacaan. (Lebih senang ruang tunggu yang tenang dan tidak ada televisi). Oh ya, saat menunggu kami telah menukar sepatu dengan “sandal hotel”.
Tak lama, seorang Therapist memanggil nomer saya (07). Saya masuk ke pintu bertuliskan Balinese Massage.Suasana Bali dengan musik traditional-nya menyambut tamu begitu melalui pintu. Saya menapaki lorong bilik yang jalan setapaknya menyerupai taman di daerah Bali. Hilanglah terik matahari, polusi udara dan suara serta kemacetan Jakarta di ruangan tersebut. Saya masuk ke bilik bernomer 7, dan segera mengganti pakaian dengan kimono batik yang sudah disediakan.

Pertama duduk, kaki dicuci dengan aer kembang. Telapakan disikat. Setelah pembersihan kaki, baru deh tiduran di bed khusus untuk therapy. Yang di bagian kepala-nya ada lobang tuh, sehingga begitu  tengkurap maka kita menghirup aromatherapy yang menenangkan.
Pijatnya dominan memakai jempol, telapak tangan secara penuh serta siku therapist-nya. Mendorong telapakan, pantat, perut secara keseluruhan. Tekanannya cukup, tidak sakit. Ada perbedaan dengan pijat Jawa. Waktu saya tinggal di Bali Cuma sempat pijat sama “Mbok2” Bali yang dipanggil ke rumah. Saya tidak ingat pijat ala mana yang dia pakai. Yang saya ingat waktu itu saya jejeritan kesakitan...hehehe...
Di ZEN mata dimasker dengan kapas penyegar timun ketika dipijat menghadap atas. Rileks. Di akhir “ritual” ini adalah totok wajah. Waaaii, asyeeek,pdhl belum ada 2 minggu saya juga totok wajah di Duren Sawit barengan 2 kakak dan ibu saya. Yup, keluarga saya memang “Massage Adict” dan doyan ke salon or spa. Apalagi kakak saya pertama, begitu pensiun dari PNS kerja-nya nge-spa melulu barengan ibu. Nyetir mobil sendiri pulak! Kebayang deh lihat nenek2 kerja-nya ke spa mulu :D
Setelah 90 menit saya menuju shower room. Mandi. Sweegeeeeuuuur tenan, apalagi begitu kembali ke kamar sudah tersuguh secangkir Jahe.

Indulgence Foot Relaxing
Gift Certifikate berikutnya saya gunakan di ZEN Family Spa yang terletak di Jl.Pakubuwono VI. Masih di wilayah Kebayoran Baru, tapi akses-nya lebih merepotkan bagi saya. Ah, mungkinkah saya trauma oleh kejadian “dikeliling2in” ketika saya akan berkunjung ke pesta ulang tahun teman saya di daerah sini? Mobil Mercedez orang tua saya yang dikendarai sepupu  terus berkeliling di situ-situ saja sampai beberapa jam. Tidak menemukan “jalan keluar”, tidak ada orang yang bisa ditanyakan padahal kami seringkali melewati area itu di siang hari.
Dengan perjalanan yang tidak semudah ke Jl.Gunawarman akhirnya saya tiba di lokasi. Bangunannya dari luar lebih kental nuansa interior Bali-nya, begitu membuka pintu kaca langsung dihadapkan meja penerima tamu. Mbak Resepsionist-nya menyambut ramah dengan senyuman yang tidak artificial :D Setelah mendapat gantungan kunci bernomer 19 saya menunggu di ruang tunggu. Ganti sepatu dengan sandal hotel bertuliskan nama ZEN. Ruang tunggu-nya hanya “kotakan” kecil dengan 2 sofa. Hanya tersedia beberapa majalah yang ditata kurang menarik. Untungnya seorang Mbak petugas menawari saya minum, sehingga saya langsung memesan air putih. Lagi gak mau minum macem-macem setelah berjalan kaki!
Muncul Therapist menangkupkan ke dua tangannya di dada,”Selamat siang,Bu.Refleksi kaki?” . Saya tercengang, therapist-nya cowok! Dia juga sepertinya tercengang melihat tamu-nya berjilbab “konvensional”...yup saat itu saya memang menggunakan jilbab paris tanpa dimodel-modelin, menutup dada en macam Ustadzah dah! Duh, saya langsung melirik tas transparant berisikan celana pendek.
Saya bukan tipikal cewek yang “ekstrem” menolak therapist cowok kok. Beberapa kali saya refleksi dengan therapist cowok di tempat lain. Tetapi sebaiknya Mbak penerima tamu konfirmasi ke saya sebelumnya atau jika ada menawarkan pilihan kepada saya yang berkerudung apakah saya ingin di-refleksi oleh therapist cowok atau cewek.
Jika saya pergi ke tempat refleksi bersama kakak atau saudara saya memang terkadang saya di-refleksi oleh therapist cowok. Tapi kalau ke spa sendirian seperti saat ini....kok risih yak? :D Saya nggak protes-lah, toch pikiran saya positif!
Saya tidak jadi mengganti dengan celana pendek. Celana panjang saya tarik aja. Toh saat di refleksi menggunakan selimut dan handuk. Di ruangan telah ada beberapa tamu yang hampir selesai di-treatment.
Awalnya kaki di cuci, di rendam dan disikat. Kemudian menuju sofa yang berjejer. Sofa atau kursi dibuat senyaman mungkin, semi posisi tidur. Di tengkuk diletakkan bantal hangat. Wohooo, Mas Therapist-nya refleksi-nya pas banget tekanannya. Mantap,  tapi nggak sakit. Nah, ini salah satu yang bikin saya yakin di-therapy oleh therapist cowok :)
Termasuknya suka banget deh menggunakan jasa layanan di ZEN. Therapist-nya nggak suka ngobrol , musik latarnya traditional Bali...benar-benar jadi relax! Puas banget, 90 menit di-refleksi!


Beneran deh “Spa Can Be Everywhere, But The Best Spa Comes From The Best Therapist”


Wednesday, 29 October 2014

Weekend @ Hotel Salak The Heritage Bogor

Entah berapa kali saya mondar mandir di depan hotel berbintang 4 yang terletak di seberang Istana Kepresidenan Bogor. Pastinya sering! Bahkan saya pernah singgah di salah satu cafe yang terdapat di hotel ini bersama kawan dan adiknya menikmati kudapan ala negeri Belanda seperti Bitter Ballen, Poffertjes, Kroket dan lain-nya.
Yang pasti ada dong keinginan di hati untuk bermalam di hotel papan atas ini setiap melewatinya. Mungkin 9 tahunan keinginan tersebut tertanam, akhirnya tanggal 24 October 2014 hari Jumat keinginan tersebut terwujud! Yes, done! Satu daftar impian saya tercoret lagi, rasanya impian 9 tahun yang lalu – yakni “Menginap di 99 Hotel Berbintang” telah terlampaui dalam hidup saya. Alhamdulillah...
Siang itu saya, Mr.G, Dian,Hana dan nenek kakeknya (so kami berenam) berangkat dari Pondok Gede dengan Ertiga. Awalnya kami mendapat hanya 2 kamar, ini yang membuat saya terbengong-bengong. Lah gue harus tidur sekamar dengan Mr.G and Dian gituh???!! Syukurlah setelah dinner kami mendapat extra 1 kamar. Yes lagi, saya tidur sekamar sendiri. Asyiiiik,,,Bisa malam 1 Suro-an, eh malam tahun baru-an Islam alias Muharram dengan MAHACinta. Love You, Allah....Muaaah...muaaah. Penuh berkahnya kehidupan saya semata karena-Mu.
Saya mendapat kamar di lantai 2, dan mereka mendapat 2 kamar berhadapan di lantai 5. View dari jendela kamar yang saya tempati adalah jalan samping hotel dan parkir mobil,pas dimana mobil Ertiga terparkir. Sempat nyelutuk tuh,”Halaah, jadi aku sekalian jagain mobil nih semaleman?!” Hihihihi...udah bagus banget deh daripada tidur di dalam mobil yang terparkir di hotel. Gak lucu khan impiannya tercapai tapi dengan catatan “Menginap di (mobil terparkir di) 99 hotel berbintang” :p


Dinner at Raflesia Lounge



Sebelum dinner saya menyaksikan acara televisi di kamar Mr.G sambil menikmati WiFi pada tab. Menuju Raflesia Lounge sudah lebih dari jam 7 malam, tapi belum ada satu-pun tamu yang datang. Pilihan saya untuk makan malam ala prasmanan adalah : Bajigur + Kacang Bogor (Sedaaaap, karena saya sudah lama tidak nemu kacang ini), Asinan Bogor, Nasi Goreng, Cumi Bumbu Bali dan Soup Tom Yam. Itu saja sudah cukup kok, walaupun banyak menu lainnya yang tersedia. Setelah dinner masih ditawarin Klapertaart oleh Dian :D Awalnya saya pilih varian Duren, tapi Bumil yang satu ini protes karena tidak tahan aroma-nya. Saya mau pilih varian lainnya, eh Bumil ini kok pasang tampang gimanaaa gituh. Atas permintaannya saya memilih varian original, saya-pun memberangut (bercanda),”Ngapain nawar-nawarin varian apa yang kumau?! Mendingan tadi langsung aja kamu pilihin aku yang original!” Ibu hamil itu-pun cekikikan sambil membayar pesanan kami.

Sampai di kamar saya menyaksikan televisi (lagi!). Jadi bisa menyaksikan program “Rising Star” di RCTI. Penasaran sama acara ini, tapi selama ini saya memang tidak sempat menonton televisi di rumah. Aaaiiih, seorang kontestan menyanyikan lagu kenangan saya di Auckland, yakni “Teach Me How To Dream”. Nyanyi-nya keren, padahal itu lagu lebih tua dari usia tuh anak yang masih berusia 15 tahun. Top banget deh Pak De Achmad Dhani dan Om Bebby Romeo yang memilihkan lagu ini untuknya.
Pukul 1-an dini hari saya baru tertidur pulas. Good night, Lovely Bogor. ZzzzZZZzzzz....


Breakfast at Binnenhof Restaurant

Biasanya saya breakfast di hotel pada jam 6-7 pagi, tetapi karena Hana en her Mom belum bangun dari tidurnya maka kali ini kami menuju tempat BF saat jam sudah hampir menunjukkan jam 9. Syukurnya makanan masih banyak tersedia, karena kalau di beberapa hotel – khususnya pada saat liburan, jam 8an pagi makanan sudah banyak yang habis.
Berbeda tempat dengan dinner, kali ini kami breakfast di Binnenhof Restaurant.
Saya langsung mengambil Lontong Sayur, kemudian susul menyusul masuk ke perut saya adalah Mie Kocok, Nasi Goreng Udang dan Waffle. Total 4 porsi 4 jenis makanan berbeda...hehehe...Saya ambil porsinya kecil kok, barangkali ¼ porsi ukuran orang ambil umumnya. Jadi pas 1 porsi khan saya makannya pagi itu...hehehe

Seusai breakfast kami menuju seberang hotel. Kali ini membeli wortel dan kangkung untuk disedekahkan kepada hewan Rusa yang berada di taman istana. Pengalaman baru bagi saya...hehehe...ini mah karena ada Hana aja :D
Menyeberang jalan nan ramai kami dibantu oleh petugas hotel yang memberhentikan kendaraan yang melintas untuk memberi jalan kepada kami. Terima kasih,Pak :)
Sampai di kamar jam setengah 11. Masih ada waktu 1,5 jam dari waktu check out. Saya ingin memanfaatkan-nya dengan menonton televisi. Mungkin bagi sebagian orang menonton televisi adalah hal yang biasa, tetapi buat saya....duuuh beneran, saya tidak mudah menyaksikan acara televisi dengan santai di rumah. Di rumah saya lebih senang memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku dan majalah yang jumlahnya beribu-ribu (Banyak yang belum sempat saya baca juga!) atau menulis, berinternet atau mengerjakan bisnis network marketing kecantikan en body care yang sedang saya tekuni. Ikutan yuk! :D Info KLIK. Selain itu televisi di rumah juga gambarnya kurang bagus, televisinya juga nggak canggih sih. Belum minat beli televisi yang canggih. Toh kalau ada acara televisi yang ingin saya saksikan dengan “serius” saya lebih pilih meluangkan waktu dan nonton secara LIVE. Seperti nonton : XFactor, Nguber juri Master Chef, Miss Indonesia, Dahsyat,dll.
Eh, sayangnya televisi di kamar yang saya tempati ketika saya balik seusai BF tidak ada gambarnya. Semut-semut pada berkerumun di layar televisi. Saya hubungi Operator hotel, eh sampai 15 menit tidak ada petugas yang datang. Saya hubungi kembali, eh baru deh ada teknisi yang datang. Ngutak atik remote control, en ternyata petugas tersebut tidak dapat mengembalikan gambar di tv. Petugas itu keluar kamar dan mengatakan,”Akan saya check dari operator pusat, Bu. Sepertinya ini harus di service dari operator.” Tetapi sampai saya check out hotel petugas tersebut tidak kembali ke kamar dan tidak ada berita tentang service televisi kamar. Ya sudah-laaah, emang “nggak boleh” nonton tipi kali ya saya? Hehehe...

Monday, 20 October 2014

Ceria di Pantai Carita Bersama Lansia

Setelah beberapa bulan lalu saya ikutan ke Bandung dengan para veteran, kali ini bertiga dengan kakak saya berwisata ke Pantai Carita Banten bersama dengan para lansia terhormat...hehehe. Inget kartun kocak yang cerita tentang manula berwisata dan banyak "kenorak"-an yang terjadi. Kali ini beda! Para sesepuh yang wisata bersama saya adalah para pensiunan pejabat tinggi yang sering wara wiri keluar negeri. Salut dengan semangat mereka!



Senin, 13 Oktober 2014 Bis Big Bird mereka sewa untuk mengantar kami. Kami yang masih muda aja udah ngedrop karena bis terlambat datang, tapi mereka usia 70-an, ada yang 80-an (bahkan ada yang memasuki usia 90!) tetap semangat. Bis melaju di jalan tol, saya tertidur dan terbangun di pintu tol Cilegon. Melewati kawasan industri Krakatau Steel Chandra Asri Semen Padang. Kawasan wisata Anyer, kemudian Karang Bolong. Setelah itu memasuki wilayah Pandeglang Kecamatan Carita. Setelah sempat sedikit bablas akhirnya rombongan kami (total 36 peserta) tiba di villa milik keluarga menteri di era Presiden Soeharto, Presiden RI 2. Villa ini akan menjadi penginapan kami sebagian di hotel di dekat Villa yang terletak pas di pinggir pantai Carita.

Hohoho....lucky me saya beserta 2 kakak, Mbak Yayuk dan Bude Dhani mendapat kamar besar di lantai 2 villa tersebut. Kamar yang luas dan memiliki teras yang menghadap ke lautan dan kolam renang! Mantap! Bude Dhani yang telah menginjak usia 73 tahun tampak duduk di teras memandangi lautan dengan sorot mata penuh arti sambil menghembuskan rokok-nya. Hhhmmm, maklum, suami beliau seorang penerbang tewas ketika tugas dan jenazah serta pesawat terbangnya di temukan di laut. Ketika itu usia beliau 31 tahun dan suaminya 38 tahun. Sampai usia 73 tahun beliau tidak menikah kembali, membesarkan ke-2 anaknya yang kini telah sukses.

Baru ngerti kalau cowok yang berdiri paling kanan adalah Drummer profesional yang dulu sempat sering saya dengar namanya

Selama berada di villa kami makan besar. Berasa pesta deh, semua unsur makanan ada - ayam, daging sapi dan pastinya hampir semua seafood dengan berbagai menu disajikan kepada kami. Dessert dan kue-nya juga buaaanyaaak! Alhamdulillah...puuuaaas, menu restaurant kalah *Restaurant mana ;p
Keesokan hari setelah mandi dan sarapan saya ke pantai. Sekedar main air. Ditawarin berperahu dan banana boat tetapi Mbak Yayuk khawatir dengan ombak yang besaaar. Duh sebenarnya saya sih kepengen berperahu ria ke pulang seberang mengarungi lautan, sekalian berbagi dengan tukang perahu di sana khan. Apalagi mereka mematok harga yang reasonable ) Semoga mereka mendapat keberkahan rezeki selain dari kami deh yaa. Amin.

Seusai makan siang kami berkemas untuk kembali ke Jakarta, karena pemilik villa - istri mentri era Presiden Soeharto dan anaknya pengusaha property besar ada meeting ba'da Maghrib. Hebat ya, 86 tahun masih energik dan produktif. Beliau menggunakan mobil pribadi dikawal dengan 2 - 3 mobil yang diisi oleh pengawal dan para assisten-nya. Terima kasih, Bu untuk suguhan-nya, Ibu benar-benar memuliakan tamu :)

Wednesday, 15 October 2014

Nonton Bareng : 3 Nafas Likas

Selamat!
Anda memenangkan Sayembara Femina Nonton Bareng 3 Nafas Likas.
Untuk itu Anda berhak mendapatkan 2 (dua) tiket nonton, dengan waktu pertunjukan:
Hari/Tanggal :
Sabtu, 11 Oktober 2014
Waktu             :
Pukul 09.30 WIB (mohon hadir 30 menit sebelum waktu nonton dimulai)
Tempat           : Hollywood XXI
                         Jl. Gatot Subroto Kav. 19 Jakarta Selatan
 Dress Code: Touch of Green
Bawa lembar atau tunjukan email ini, fotokopi kartu identitas (KTP/SIM) pada saat registrasi.
Demikian kami sampaikan, Mohon kehadiran Anda tepat pada waktunya.

Wah, di email saya ada pemberitahuan ini. Baru deh teringat bahwa saya mengirimkan sms untuk Nobar saat di perpustakaan. 
Mengapa pengalaman nobar dari Femina saya posting di 'Cinta Wisata Kita'? Karena nonton di bioskop termasuk berwisata, wisata di Indonesia (Walaupun nonton-nya di Planet Hollywoood yang nama-nya gak ada Indonesia2nya :D). Selain itu film yang saya tonton-pun shooting di beberapa daerah di Indonesia dengan latar alam dan budaya bagian Sumatera Utara. Setting waktu adalah sejak tahun 1930-an sampai 2000-an.
Beberapa lokasi syuting di Sumatera Utara, antara lain ; Bakkara (Kabupaten Humbang Hasundutan), Dolok Sanggul (Kab. Humbang Hasundutan), Berastagi, Kabanjahe, Tebing Tinggi, Pamah Semilir, dan Kota Medan. Tuh, oleh karenanya cocok khan kalau saya posting di blog saya yang ini, bukan di 'Never Ending Journey' .Lokasi syuting lainnya adalah Jakarta dan Ottawa, Kanada.

Film segera ditayangkan untuk publik tanggal 16 Oktober 2014. Nonton deh, aku pribadi sih termasuk suka dengan film ini. Natural! Kisah kehidupan Likas, istri Djamin Ginting yang bervisi walaupun masih anak-anak. Visi menjadi Pengajar, dan akhirnya menjadi istri yang sangat mendukung karier tinggi suami - baik di militer maupun sebagai duta besar. Bahkan kemudian menjadi janda yang bermanfaat bagi banyak umat manusia lainnya. Dari masa belia hingga masa lansia beliau masih terus berprestasi dan berguna bagi nusa dan bangsa. Beliau saat ini masih bernafas di dunia ini, di usia-nya yang sudah menginjak 90-an tahun. Salut untuk Ibunda Likas, Lansia berprestasi :)

Sunday, 5 October 2014

Hotel Bintang 5 di Bandung Untuk Para Directors

Bulan February 2015 Oriflame Indonesia mengadakan Seminar Director kembali. Keberuntungan saya adalah dapat kesempatan mengikuti Seminar Director 2012 yang berlangsung di Jakarta dan menginap di Le Grandeur Hotel Mangga Dua.Gala Dinner-nya di Segarra Ancol serta hiburannya band UNGU.
Kemungkinan besar saya mendapatkan (kembali!) tiket semdir, gala dinner dan hotel pada tahun 2016. Semoga! Mau ikutan ? Banyak yang mengatakan bahwa semua didapatkan gratis. Oh no, semua tidak didapatkan gratis, namun kita membayarnya tidak dengan cash money atau kredit. Justru kita membayar-nya semuanya dimuka, bukan dengan uang, tapi dengan kerja cerdas kita selama 1 tahun di bisnis Oriflame. Ingat ya, kalau ingin bekerja sama dengan saya, maka harus bekerja cerdas dan bukan bekerja keras! :)

Tahun 2014 Seminar Director berlangsung di Jogjakarta, hiburannya NIDJI. Untuk Seminar Director 2015 Oriflame telah menyediakan ratusan kamar hotel di kota Bandung Jawa Barat untuk para konsultan-nya yang sudah bekerja keras atau bekerja cerdas. Inilah tempat-tempat tersebut....


Hiburan tahun 2015 adalah band NOAH. Huhuhu...vocalisnya bisa dibawa ke kamar gak ya? ;p hus!
Tentang Seminar Director bisa dibaca di web  Seminar Director nih.Klik sonoh deh biar info-nya jelas :)

Yuk, yang tahun 2016 berminat ikutan Seminar Director dan mendapat fasilitas bintang 5....mariiii kita bekerjasama :)